Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 157


__ADS_3

Air mata wanita tua itu, menetes perlahan. Hatinya sakit, tangannya kini hanya bisa memegang dada.


Sisil menunjuk sang ibu untuk segera keluar dari ruangan nya, dia merasa kedatangan sang Ibu membuat dirinya seakan risih. teriakan demi teriakan ya lontarkan begitu saja, tanpa mempedulikan perasaan sang Ibunda yang sudah mengeluarkan air mata.


begitu dalam rasa sakit yang terasa pada hati ibunda Tia, hingga air matanya terus berlinang, mengalir mengenai kedua pipinya. tangannya bergetar seakan tak sanggup lagi mengusap air mata yang terus saja berjatuhan tak terkendali.


"Pergi dari sini. Aku tak mau melihat kamu lagi," hardik Sisil.


Sang ibu hanya bisa menangis, mendengar teriakan Sisil. Perlahan kakinya mulai melangkah pergi dari hadapan sang anak.


Sisil seperti benci akan sang ibu yang datang menghampirinya. Ia mendengus kesal memukul mukul ranjang tempat tidur.


Tia melangkah gontai, kakinya seakan tak sanggup meninggalkan rumah sakit.


"Sisil, kenapa kamu tega sekali pada ibu. Nak."


@@@@@


Ardi yang masih mengawasi Alya dan Pras, hanya bisa menunggu.


"Kapan coba mereka pergi dari penjara."


Hingga setengah jam berlalu, akhirnya Pras pergi begitu pun dengan Alya, mereka berjalan bergandengan terlihat begitu serasi.


"Kalian begitu serasi Alya dan Om Pras." gumam hati Ardi sedikit bernada kesal.


Mobil Pras kini melaju meninggalkan penjara. saat itulah Ardi mulai keluar dari mobil ya. Melihat apakah situasi aman. Setelah melihat ke kanan ke kiri, akhirnya ia bisa bergerak bebas.


"Ardi."


Panggilan suara itu mengangetkan Ardi, membuat Ardi perlahan diam berdiri.


Tangan kanan muncul memegang bahu Ardi. Perlahan Ardi mulai membalikkan badan dan wajahnya ke arah belakang.


Betapa kagetnya saat itu," Jerry. Kamu?"

__ADS_1


"Hai, brow. Kamu lagi ngapain di sini?" tanya lelaki berbadan dengan seragam yang terlihat gagah, memperlihatkan bahwa dirinya seorang polisi.


Ardi tersenyum senang melihat sahabatnya dengan seragam polisi yang begitu gagah, membuat ia bersalaman dengan gerakan seorang sahabat. " Lu jadi polisi sekarang?"


Sang sahabat memukul bahu Ardi dan berkata," Sudahlah jangan pura pura enggak tahu, lu tahukan dari dulu gue sekolah mati matian, cita cita pengen jadi polisi."


"Sory sory, ya gue kan cuman bercanda," balas Ardi.


"Lu ngapain di sini, lu kena masalah di kantor polisi. Atau lu mau di masukin penjara," ucap Jerry kepada Ardi, tentulah Ardi terkejut saat Jerry berkata seperti itu.


"Memangnya lu bisa masukin gue ke penjara?" tanya Ardi. Memajukan bibir bawahnya.


"Apaan sih tuh bibir, enggak seksi ya, pake di maju majukan segala!" balas Jerry.


"Ya, habisnya lu. Pake acara ngomong begitu," ucap Ardi pada Jerry.


"Ya terus apa tujuan lu, datang ke sini?" tanya Jerry dengan sedikit mengerakkan tangannya ke arah pistol.


"Lu mau ngapain, pake acara megang megang pistol segala. Mau nangkap gue?!" jawab Ardi, membuat Jerry tertawa terbahak bahak.


"Rasain lu," ucap Ardi. Ia kini mulai berjalan ke pintu kantor polisi. Hanya saja sang sahabat langsung menarik tanganya.


"Lu mau ke mana?" tanya Jerry.


Ardi langsung menghempaskan tangan sahabtnya itu," gue ada urusan penting."


Ardi mulai berjalan meninggalkan Jerry lagi, melihat Ardi yang seperti itu. pada akhirnya Jerry langsung menarik kerah baju Ardi.


"Apa lagi?"


Jerry dengan sengajanya menarik kerah baju Ardi, untuk segera mengikuti langkahnya. sedangkan Ardi Yang merasa risih menggerutu kesal.


"Lepaskan tanganmu itu, Jerry. Aku ada urusan penting."


Jerry tak mempedulikan ucapan sahabatnya yang terus menggerutu kesal akan tingkahnya yang terlihat keterlaluan, Iya Malah menarik Ardi untuk segera masuk ke dalam kantornya.

__ADS_1


setelah di kantor, saat itulah jaring mulai bertanya kepada sahabatnya.


Jerry bertanya kepada Ardi, dengan begitu sopan.


"Saya lihat bapak datang ke sini seperti orang bingung. Apa ada yang bisa saya bantu."


Terlihat banyak polisi yang berjaga di sana, menatap sekilas ke arah Ardi, membuat Ardi menelan ludah. tak menyangka jika suasana akan menegangkan seperti ini. padahal dari rumah sakit ia begitu yakin datang sendirian ke penjara untuk bertanya tentang lelaki bernama Burhan.


kini tatapan Jerry berbeda sekali kepada Ardi, Jerry terlihat tegas dalam bertanya begitupun menatap Ardi yang terlihat gugup akan apa yang ia katakan.


"Apa ada yang bisa saya bantu."


"Jerry, bisa tidak kamu biasa saja, tidak harus tegas seperti itu," bisik Ardi.


Jerry tetap saja bersikap tegas, ia memperlihatkan ketegasannya sebagai polisi. " Mm. Saya tanya lagi sama bapak, apa ada yang bisa saya bantu?"


saat itulah Ardi mulai memberanikan diri untuk menjawab perkataan Jerry sahabatnya itu, iya menghilangkan rasa takutnya, menonjolkan keberaniannya.


" Saya hanya ingin bertanya? apa di sini pernah ada tahanan bernama Bapak Burhan?"


" Apakah bapak bisa memperlihatkan foto tanggal lahir dan juga kapan, Tahun berapa tahanan bernama Bapak Burhan itu masuk ke penjara?"


pertanyaan Jerry membuat Ardi semakin kebingungan, Iya tidak tahu semua apa yang dikatakan sahabatnya itu. dirinya hanya mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan dan berkata," apa seribet itu ya, hanya bertanya satu nama tahanan saja di sini."


" Maaf Bapak sebelumnya, di penjara ini banyak yang bernama Burhan, apalagi tahanannya begitu banyak dan tak terhitung jumlahnya. Jika Bapak bertanya tentang tahanan bernama Bapak Burhan, Bapak Bisa tunjukkan identitas tahanan itu dan juga fotonya. kami segera mungkin akan mencari data orang tersebut," ucap Jerry. menjelaskan semuanya.


" Saya tidak tahu jelas wajahnya apalagi identitasnya, saya hanya tahu namanya saja. Apa bapak bisa mencarikan data tahanan bernama Burhan?" tanya Ardi. Memperlihatkan wajah memelasnya, agar sang sahabat mau membantunya saat itu juga.


Apalagi, Ardi tidak banyak waktu berdiam diri menunggu kejelasan Pak Polisi, karena sang ibu yang mungkin sudah lama menunggu dari tadi pagi, Di rumah sakit, membuat Ardi merasa tak enak hati.


" bisa saja kita carikan data tahanan bernama Burhan, akan tetapi apa bapak bisa mengenali wajahnya hanya dengan mencari dari setumpukan nama Burhan!?" tanya sang polisi bernama Jerry.


Jerry benar-benar terlihat profesional dalam bekerja, ya Tak pandang bulu siapapun orang itu, dirinya tetap bersikap layaknya seorang polisi yang tengah bertanya.


" benar juga apa yang dikatakan si Jerry, butuh beberapa waktu jam untuk mencari data bernama Burhan itu. Apalagi aku tidak mengenali wajahnya, dan juga indentitasnya yang tak jelas bagi diriku, Harusnya aku membawa Lina ke sini, hanya dia yang tahu, identitas dan juga wajah Tahanan bernama Burhan." Gumam hati Ardi.

__ADS_1


__ADS_2