
Di rumah sakit, Haikal menghampiri sang istri dengan memakai kursi roda. Terlihat wajah Dinda yang begitu pucat membuat Haikal tak tega melihatnya.
Tangan kekarnya perlahan mulai mengusap kepala rambut Dinda, kedua matanya kini meneteskan air mata, membuat Haikal tak sadar.
"Dinda, bangun sayang."
ucapan yang terus terlontar dari mulut Haikal, tak membuat Dinda bangun dari masa kritisnya, Haikal mulai merasa putus asa dengan apa yang sudah terjadi pada Dinda,
"Dinda, ayo bangun sayang."
Hening tak ada suara apa pun, Haikal memukul kepalanya sendiri," Haikal. kamu sangat bodoh."
Haikal mengingat ponsel yang ia ambil dalam mobil, di mana itu akan menjadi barang bukti untuk mengetahui siapa dalang dari semua ini.
"Aku akan membalas orang yang sudah membuat istriku kritis seperti ini."
Kedua tangan Haikal mengepal, menandakan ke marahan.
Haikal hanya bisa menunggu sang istri, dan juga bayi dalam kandungan Dinda. Apakah akan bertahan?
Ada rasa sedih dan kesal, Haikal hanya bisa menangis seorang diri di hadapan istrinya yang terbaring lemah tak berdaya.
@@@@@@
Para suster yang menggiring Lena, kini silih bergantian menghina Lena dengan berkata.
"Heh, Lena aku enggak menyangka ya. Kamu sejahat itu,"
Baberapa suster saling menghakimi satu sama lain, mereka amat kesal dengan Lena. Yang semakin hari semakin menjadi jadi.
"Lena, aku tak menyangka kamu ini begitu keji. Mau mempermainkan suami orang. Apa kamu tidak punya perasaan."
Lena hanya diam, tak memperdulikan perkataan sahabatnya.
"Harusnya kamu ini bisa menjadi wanita lebih baik lagi, setelah musibah menimpa kamu."
Lena seakan merasa biasa saja dengan perkataan sesama suster di rumah sakit itu, ia seakan mengabaikan nasehat yang terlontar dari mulut para suster.
"Sebaikanya kita bawa dia ke ruangan sakit jiwa."
.
Mereka saling bergotong royong, menyalahkan Lena. Untuk memasukkan dia ke ruangan sakit jiwa.
"Ayo kita bawa dia ke ruangan sekarang juga."
Kepala rumah sakit datang melihat kekacauan yang terjadi.
"Ada apa ini?" tanya kepala rumah sakit menenangkan kekacawan.
__ADS_1
Semua suster berhenti saat kepala rumah sakit datang.
"Pak kepala, saya hanya ingin memberi tahu bahwa suster Lena sudah melakukan hal yang tak pantas di rumah sakit ini."
Kepala rumah sakit terdiam, mendengar ucapan yang terlontar dari mulut para suster di rumah sakit.
"Apa maksud kalian ini, suster Lena melakukan hal yang tak pantas?"
Kepala rumah sakit masih merasa kebingungan dengan ucapan para suster," hah, kepala rumah sakit berpikirnya lemot sekali."
Para suster tak tahan, ingin segera menjebloskan Lena ke dalam ruangan sakit jiwa, saat itualah mereka saling berbondong bondong membawa Lena, menyered paksa Lena.
"Pak kepala, tolong saya." Teriak Lena. Berharap belas kasih dari kepala rumah sakit..
Para suster itu semakin menjadi jadi, mereka membulatkan Kedua matanya menatap tajam ke arah Pak kepala agar tidak menolong Lena.
tatapan para suster itu membuat bapak kepala hanya terdiam, nyali Pak kepala itu seakan menciut, dia tak berani menolong Lena.
"Sudahlah Lena, jangan meminta belas kasih kepada Pak Kepala," ucap para suster.
"Kurang ajar kalian," ucap Lena kepada para suster.
Semua suster tak mempedulikan raut wajah kesedihan yang di rasakan Lena, mereka senang melihat Lena di masukkan ke dalam ruangan sakit jiwa.
" Ini ruangan kusus untuk kamu, Lena."
Lena tak mau dimasukkan ke dalam ruangan sakit jiwa itu, Iya tak mau dirinya menderita di ruangan yang begitu kumuh dan lusuh. apalagi ditemani dengan orang-orang yang mempunyai gangguan jiwa.
hati Lena benar-benar kesal melihat para suster meninggalkannya begitu saja, membuat Rasa dandam terukir pada hatinya, kepada para suster di rumah sakit.
"Lihat saja apa yang nanti akan aku lakukan pada kalian semua, kalian boleh sekarang bersenang-senang, tapi nanti kalian akan tahu akibatnya,"
@@@@@
Kemarahan semakin menggebu gebu pada hati orang yang sudah merampas ponsel Dinda, ia kesal dengan perkataan Ardi. Membuat kedua tanganya mengepal.
"Ahk, sial. Kenapa rencanaku gagal."
Beberapa kali menelpon suruhannya, tak ada jawaban sama sekali.
"Kenapa orang yang aku suruh membuang Dinda dan juga Haikal tak menghubungiku, ke mana dia."
Rasa kesal semakin mengebu gebu, membuat lelaki itu meleparkan ponselnya begitu saja.
Lelaki itu menatap pada poto yang terpajang tak jauh dari hadapanya, tanganya mulai mengambil bingkai foto, menatap ke pada foto itu dan berkata," kamu jangan kuatir, aku akan membalaskan dendamku."
Tok .... tok ....
" Masuk."
__ADS_1
Salah satu suruhan datang. Memberi informasi tentang ke adaan Haikal dan Dinda.
"Bagaimana apa ada informasi tentang Dinda dan Haikal?"
"Sejauh ini kami sudah melacak keberadaan mobil yang membawa Haikal dan Dinda, mobil itu kami temukan berada di rumah sakit."
"Rumah sakit, maksud kalian?"
"Ya, suruhan bos ternyata sudah meninggal, dia di temukan tak bernyawa di hutan."
" Jadi, Haikal dan Dinda?"
"Haikal dan Dinda lolos. Dinda tengah keritis sedangkan Haikal masih hidup!"
Lelaki itu menyuruh para suruhan untuk pergi dari ruanganya, karna informasi sudah di dapatkan.
."Hah, pantas saja. Ardi berkata seperti itu di dalam telepon ternyata Dinda dan Haikal selamat."
Kesal yang di rasakan, sudah tak tertahankan lagi, lelaki itu langsung membanting barang barang yang berada di ruanganya.
"Bodoh, pekerjaan begitu saja, dia malah meninggal."
Dreet ....
Pesan datang.
(Om, sedang apa, kenapa om tidak mengangkat panggilan teleponku.)
"Ardi, jelas aku tidak mengangkat panggilan teleponmu, karna aku sedang berteleponan denganmu. Lewat ponsel Dinda."
( Om, ada hal yang aku ingin bicarakan.)
lelaki itu tersenyum sinis, dengan pesan yang ia baca.
( Ya sudah, bagaimana kalau kamu datang ke cafe om sekarang?)
Pesan terkirim, lelaki itu semakin senang dengan permainan yang ia buat, membuat amarahnya kini mereda, masih ada cara lain dengan memanfaatkan Ardi.
( Baik om, Ardi akan datang ke sana dengan membawa Lina. )
"Hahah, keponakanku ini memang pintar, dia mau membawa Lina kehadapanku lagi, rasanya senang sekali. Tinggal menyusun rencana, membuat keluarga Dinda perlahan tiada. Tak tersisa."
( Om, tunggu Ardi. )
Kenapa Sang Om bisa berbuat jahat seperti itu? Apa tujuanya? Apa ada dendam yang melekat pada sang Om. Hingga ia begitu marah dan ingin menghancurkan keluarga Dinda.
Lelaki itu kini mengambil baju untuk menganti bajunya dengan baju cafe yang biasa ia pakai, agar Ardi tak mencurigai semua rencana jahatnya.
Setelah selesai mengganti baju, lelaki itu bergegas naik ke dalam mobil untuk segera pergi ke cafe.
__ADS_1
" Lina, tunggu aku. Apa yang nanti aku akan lakukan padamu, jangan harap kamu bisa lepas dari gengamanku."