Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 14 Apa yang dilakukan Lina


__ADS_3

Lina di seret paksa oleh segerombolan lelaki berotot berbadan kekar. Segerombolan lelaki itu tak lain adalah suruhan Nina. Tubuh gadis berambut pendek itu di bawa masuk ke dalam mobil berwarna hitam, Lina terus menjerit  berharap seseorang mendengar jeritannya, meminta tolong  kepada sang kakak. Dinda masih terdiam pilu. 


 


Entah apa yang di pikirkan Dinda saat itu, bukanya menolong sang adik. Dinda malah menengok ke kiri ke ke kanan.


 


Segerombolan lelaki itu mulai menyobek baju Lina secara perlahan.


 


"Ka Lina mohon!" Jeritan ketakutan terdengar begitu nyaring.


 


"Dinda lihat adikmu dia menjerit-jerit tapi kamu malah diam. Apa yang kamu pikirkan Dinda, menunggu Haikal datang." Tawa Nina begitu renyah. 


 


 Kedua bola mata Dinda malah menatap tajam raut  wajah  wanita di hadapannya, wanita yang selalu berada di sisi Haikal. Nina.


"Dasar kamu perempuan licik."


 


"Kaka." Jeritan itu terdengar terus menerus. Dengan  tawa lelaki semakin terdengar keras, mereka seakan senang melihat tubuh Lina yang sudah mulai terbuka.


 


"Baik aku akan menuruti permintaanmu? Nina. Aku akan menjauhi Haikal." Ucap Dinda  dengan keraguan hatinya. Wanita berbulu mata lentik itu ragu, karna dia masih membutuhkan Haikal untuk menolong dirinya dari ancaman Burhan yang belum tertangkap polisi. Pada saat itulah Nina menyuruh suruhannya untuk menghentikan aksi mereka.


 


"Hentikan semuanya lepaskan wanita itu." Teriak Nina.


 


Kedua adik kakak beradik itu akhirnya di lepaskan dari genggaman erat para lelaki  suruhan Nina.


 Gadis berambut pendek itu masih terisak dalam tangisannya, bajunya yang rapi sekarang terlihat banyak  bekas robekan besar. Membuat tubuhnya terlihat.


 


Dengan sigap Dinda menutup tubuh adiknya. dengan jaket yang ia pakai.


 


"Oh ya Dinda, kamu harus jaga omonganmu. Kalau tidak lihat apa yang akan aku lakukan nanti." Ancam Nina. Wanita berwajah tirus itu  berlalu pergi menaiki mobilnya.


 


Nina seakan senang dan bahagia atas kemenangan yang ia peroleh. Dengan menyetir mobil, Nina segara pergi ke perusahaan sang ayah. 


 


"Tidak butuh berapa lama untuk menghancurkan wanita itu di tanganku." Ucap Nina di dalam mobil. Senyum tipisnya membuat  sifat aslinya terlihat. Wanita yang lugu berparas cantik itu tak lain adalah ular berbisa yang kapan saja bisa membuat musuhnya tergigit oleh bisanya.


 


 


Nina berubah semenjak kepergian sang Ibu, dan tertekan oleh sang ayah. Yang harus selalu menurut padanya, Nina sudah berusaha menurut dan percaya.


 


Tapi ternyata sifat menurut Nina dan rasa percaya Nina pada sang ayah lenyap sudah. Semenjak Pak Andi yang selalu bermain wanita di depan mata Nina. 


 


Nina sudah berusaha menutup kebusukan sang ayah pada sang ibu, tapi tetap saja. Pak Andi tidak ada kapok -kapoknya


 


 


Setelah sampai di Perusahaan Tirta Raharja,  Nina tak sabar  ingin menemui sang ayah dan memberi kabar gembira padanya.


 


Namun, sangat di sayangkan.  Nina malah melihat pertunjukan yang tidak biasa, sang ayah tengah bergulat manja dengan sekretarisnya. Lelaki tua itu seakan menikmati sentuhan sekretarisnya. Sudah berapa kali ayah Nina melakukan itu di depan mata sang anak.


 


"Apa-apaan ini," hardik Nina melayangkan vas bunga pada mereka berdua, tapi lemparan itu malah melayang ke sisi kiri. Membuat sang ayah menarik nafas lega.


 


"Apa papah gila, baru kematian mamah dua hari. Papah sudah bermain gila dengan sekretaris murahan itu," cecar Nina. Membuat sekertaris itu menampilkan wajahnya yang murung.


 


"Ayolah Realita sedikit Nina, hidup ini butuh hiburan. Bukan memikirkan orang mati yang tidak mungkin hidup kembali,"  jawab Pak Andi yang tak lain adalah papah Nina sendiri.


 


Sang anak yang mendengar perkataan papahnya, kini mencabik bibir kesal. Dirinya tak mampu lagi menahan amarah yang menggebu, Nina mulai berani meraih gunting di meja kerja papahnya.


 


"Papah tahu ini apa?" tanya Nina. Memperlihatkan gunting tajam di hadapan papahnya.


 


"Apa kamu gila Nina, mau membunuh papah!" jawab lelaki tua itu. Memberanikan diri menghampiri anaknya.


 

__ADS_1


Nina sudah bersiap-siap melayangkan gunting itu dimana sosok sang ayah menghampiri dirinya. Pak Andi, merebut gunting pada tangan Nina. Karna tenaga Pak Andi yang kuat membuat gunting itu terhempas jatuh entah ke mana.


 


Nina mencari gunting itu entah kemana melayangnya. Tangan Pak Andi mencengkeram  erat lengan Nina anaknya.


 


"Lepaskan aku, aku mau pergi." Teriak Nina. Ia berusaha mengibas-ngibas menyingkirkan tangan kekar yang melekat pada lengan Nina.


 


"Kalau kamu berusaha, membeberkan rahasia papah dengan Dira. Awas saja, nanti fasilitas yang papah beri akan papah tarik kembali."


Ancam Pak Andi melepaskan cengkeraman erat tangan Nina anaknya.


 


"Fasilitas apa? Aku membangun perusahaan ku sendiri bukan dasar karna papah. " Jawaban sang anak tak mau kalah dengan ancaman sang ayah.


 


"Memang itu perusahaan yang bangun kamu, semua kamu. Tami ingat Nina, perusahaanmu tidak akan bangkit kalau papah tidak memberikan beberapa investasi pada perusahaanmu. Ingat itu!" hardik sang papah. Membuat air mata Nina seketika mengalir.


 


Berusaha menjadi wanita yang kuat tanpa air kata ternyata susah. Nina akhirnya menangis juga karna perkataan sang papah.


 


 


"Kamu harus ingat Nina, almarhum ibu kamu sudah meamanatkan agar kamu menikah dengan Rizki."


 


Mendengar kata-kata lelaki di depan Nina. Membuat wanita berumur 27 tahun ini mencabik bibir kesal.


 


 


"Aku tidak peduli. Aku punya pilihanku sendiri ingat itu papah!" kecam Nina. Badannya memutar balik pergi dengan amarah yang menggebu.


 


 


langkah itu semakin menjauh, lelaki tua yang menjadi papah dari Nina. Memanggil mengucap kata satu permintaan.


 


"Baik, jika itu kemauan kamu Nina. Jika benar kamu sudah mempunyai pilihanmu sendiri, papah akan kasih waktu selama sebulan. Jika itu tidak terbukti, jangan harap papah akan membebaskan kamu. Papah akan menikahkan kamu dengan Rizki."


 


"Baik aku akan menyanggupinya. Jangan harap aku mau menikah dengan lelaki pelaboy macam Rizki."


 


 


Mengusap kasar wajah yang sudah mulai menua, Pak Andi seakan stres di buat Nina. Yang tidak mau menurut.


 


"Anak itu benar-benar keras kepala."


 


Dira mendekat mencumbu pipi Bosnya dengan manja.


 


"Sudah jangan di pikirkan, namanya juga anak remaja," ucap Dira sekertaris Pak Andi. Jari tangannya menempelkan pada bibir tua Pak Andi.


 


Menghela nafas panjang berusaha menenangkan hati dan juga pikiran.


 


"Ahk, benar-benar papah egois." Gerutu Nina. Menaiki mobilnya.


 


Sesaat di dalam perjalanan, seseorang menelepon.  Pada ponsel Nina, dengan segera wanita berhidung mancung itu mengangkat panggilan dari ponselnya.


 


"Jek, ada apa?"


 


"Maaf nona, Haikal melarikan diri."


 


"Aku kira apa. Sudah tidak apa-apa jika dia melarikan diri, kerjaanku juga sudah beres."


 


"Oh, ya sudah kalau begitu nona."


 


Telepon pun di matikan oleh sebelah pihak.

__ADS_1


 


"Aku tidak masalah jika Haikal melarikan diri dari suruhanku. Toh semua sudah berjalan lancar, tinggal aku yang mendekati Haikal tanpa penghalang."


 


Tawa Nina di dalam mobil begitu renyah, dirinya seakan merasakan kepuasan.


 


***********


 


Lina masih menangis di pinggir jalan, rasa traumanya seakan teringat lagi. Apalagi gadis yang masih terbilang belum remaja itu, di abiskan dengan waktu hidup yang menyedihkan.


 


 


Beberapa kali Lina hampir saja di perkosa, membuat gadis manis itu. Trauma berat.


 


 


"Lina ayo kita pulang." Ucap sang kakak memegang kedua bahu adiknya. Berharap sang adik berdiri dan mau di ajak pulang.


 


Lina masih terdiam mulutnya begitu keluh, hanya tangisan yang ia keluarkan. Menunduk pandangan seakan enggan melihat raut wajah sang kakak.


 


"Lina ayo." Ajak  Dinda.


 


Lina malah menatap raut wajah kakak nya dengan kebencian. Kedua matanya membulat, begitu pun dengan tangan yang mengepal.


 


"Ayo Lina."


 


"Apa ini caranya seorang kakak menyayangi adiknya?"


 


Pertanyaan itu malah membuat Dinda bingung.  Lina yang susah untuk bangun akhirnya bangun begitu saja.


 


"Kenapa kamu berbicara seperti itu Lina?"


 


"Aku tanya sama kakak. Apa ini kasih sayang kakak pada adiknya?" Ucap Lina memperlihatkan baju yang telah sobek bekas. Suruhan Nina.


 


 


Dinda mulai memeluk sang adik. Namun Lina menepis pelukan itu, gadis itu seakan enggan dengan pelukan kakaknya.


 


 


"Dinda ada apa dengan kamu?"


 


"Harusnya aku yang bertanya pada Ka Dinda, ada apa dengan Ka Dinda. Yang harus berpikir untuk memilih dua jawaban!"


 


 


"Lina Kaka ...."


 


Belum mulut sang Kaka menjelaskan semuanya Nina, menghardik sang Kaka." Aku tidak mau penjelasan dari sang kaka. Semua sudah jelas."


 


 


Lina berjalan meninggalkan Dinda sendiri.


 


Dinda malah terdiam berpikir. "Kenapa semua menjadi begini."


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2