
Haikal kini terbangun dari mimpi buruknya, ia menatap ke sana kemari, hanya ada orang-orang yang berjalan.
" mimpi itu seperti nyata, Sebenarnya apa yang terjadi dengan istriku?"
Haikal bertanya pada hatinya, tentang mimpi buruk yang datang tiba-tiba. membuat keresahan dan rasa takut yang semakin menggebu pada pikiran Haikal.
Iya kini turun dari kursi, menatap ke arah jendela masih tertutup gorden. pikirannya sudah tak nyaman tentang keadaan Dinda istrinya yang masih ditangani oleh dokter dan juga suster.
Iya takut terjadi hal-hal yang tidak ia inginkan," Dinda mudah mudahan kamu tidak kenapa kenapa di dalam sana."
5 menit menunggu akhirnya dokter dan suster keluar juga, Haikal tak sabar ingin menanyakan keadaan istrinya.
"Sus. Bagaimana keadaan istri saya, apa tidak ada yang terjadi pada istri saya?"
pertanyaan Haikal kepada dokter dan juga suster, membuat kedua orang yang menangani istrinya itu menundukkan pandangan, terlihat rasa sedih dari raut wajah mereka.
"Dokter, suster, Kenapa kalian diam saja. Sebenarnya apa yang terjadi dengan istri saya?"
suster dan dokter itu saling menatap satu sama lain, seakan ada kejanggalan yang dirasakan Haikal.
" Maaf Pak Haikal, sebaiknya kita bicarakan di ruangan saya dulu."
"Baik, dok."
kini Haikal mengikuti langkah sang dokter, yang di mana hatinya merasa tak tenang. setelah sampai di ruangan sang dokter, Haikal kini dipersilakan untuk duduk.
ketegangan mulai terasa pada diri Haikal, saat berhadapan dengan Dokter yang sudah menangani istrinya.
dokter yang belum berucap satu patah kata pun, membuat Haikal langsung bertanya dengan nada serius." Sebenarnya apa yang terjadi dengan istri saya dok."
dokter itu langsung menatap ke arah Haikal, memberikan surat yang disuruh dokter untuk dibaca oleh Haikal.
"Surat."
dokter hanya menganggukan kepala dan memberi sebuah pulpen untuk Haikal menandatangani.
perlahan air mata Haikal jatuh mengenai kedua pipinya, ia baru tahu istrinya mengidap penyakit langka.
"Kenapa ini bisa terjadi padamu Dinda."
" Apa istri saya bisa sembuh dok."
__ADS_1
"Kemungkinan sebuhnya sangat minim, jadi saya tidak bisa menebak."
menghelat nafas terasa berat pada dada Haikal saat ini, hinggal di mana salah satu suster datang dengan perasaan panik seperti tadi.
"Dok, pasien mengalami kejang kejang seperti tadi."
"Dinda, apakah itu Dinda."
sang dokter dengan Sigap berdiri untuk segera mengecek keadaan pasien yang dimaksud oleh suster.
Haikal kini mengikuti langkah dokter itu yang berlari untuk segera mengecek pasien, yang di mana ternyata Pasien itu adalah Dinda istrinya sendiri.
Padahal baru tadi Dinda di tangani oleh dokter dan juga suster, dan sekarang Dinda mengalami kejadian seperti tadi lagi.
" sekarang apa yang harus aku lakukan Ya Tuhan, apa aku harus mengikhlaskan Dinda di hatiku untuk engkau ambil."
hati Haikal seakan berat jika Dinda harus pergi begitu saja, hidupnya tak kuasa jika Dinda tiada.
Haikal mencoba menatap sang istri yang penuh dengan perjuangan untuk bertahan hidup, Haikal tak kuasa melihat keadaan Dinda yang begitu semakin memburuk.
"Dinda, Mas Ikhlaskan kamu pergi. Mas tidak mau melihat kamu harus menderita dengan rasa sakit yang kamu rasakan saat ini."
Haikal menutup kedua matanya, saat itulah Dinda berhenti dari kesakitan pada tubuhnya. Alat yang menempel pada Dinda terpaksa di lepaskan oleh para suster.
Haikal sudah kehilangan ibu yang selalu mendukungnya dalam setiap hal, dan sekarang Haikal harus merelakan kepergian Dinda.
Haikal Mencoba membuka kedua matanya, air matanya terus mengalir, membuat ia tak kuat menahan air matanya yang terus keluar dari kedua mata.
dokter kini keluar dari ruangan pasien Dinda.
" bapak yang sabar ya, ikhlaskan kepergian istri bapak. kami sudah berusaha keras menyelamatkan istri bapak, akan tetapi yang maha kuasa berkehendak lain."
bibir Haikal seakan keluh tak bisa menjawab perkataan sang dokter. Ya berusaha menerima segala apa yang sudah dihendaki oleh sang maha kuasa untuk dirinya.
dokter dan suster memperbolehkan Haikal untuk masuk ke dalam ruangan sang istri, perlahan Haikal berjalan masuk ke dalam ruang melihat tubuh kaku sang istri di atas ranjang rumah sakit.
Haikal berusaha tegar untuk menerima kenyataan pahit yang ia lihat, air matanya terus ya Usap dengan kedua tangan. agar tidak ada kesedihan saat dirinya menatap mayat sang istri.
ingin sekali ia menjerit menangis berteriak, dengan apa yang terjadi pada istrinya. akan tetapi itu tak mungkin,
kini Haikal semakin dekat dengan sang istri, tangannya perlahan menyentuh kepala Dinda mengusap pelan dan mencium kening Dinda.
__ADS_1
" aku Sudah ikhlaskan kamu pergi Dinda,"
Entah kenapa Haikal seakan melihat senyuman di mayat istrinya," Terima Kasih Dinda, kamu sudah menemaniku dan juga menjadi istri terbaikku."
Dreet ....
suara ponsel bergetar, Haikal mulai merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya yang terus berbunyi.
terlihat Satu Nama yang tertera pada ponsel Haikal, di mana nama itu adalah Ardi.
apa yang harus dikatakan Haikal pada Ardi dan juga Lina, kalau Dinda sudah meninggal dunia.
Haikal berusaha bersikap Tegar, saat menjawab panggilan telepon dari Ardi.
"Halo, Haikal bagaimana keadaan Kak Dinda, apa ada perubahan dengan Kak Dinda saat ini?"
Haikal berusaha menahan tangisannya, menjawab perkataan yang terlontar dari mulut Ardi dalam sambungan telepon.
"Halo, Haikal. Kenapa kamu diam saja, apa terjadi sesuatu pada Dinda?"
Lina mengerutkan dahi melihat Ardi yang seakan panik saat menelepon Haikal.
"Haikal halo."
kini terdengar suara tangisan dari sambungan telepon, di mana Ardi langsung bertanya." Haikal Kenapa kamu menangis, ada yang terjadi dengan Dinda?"
" Ardi ada apa?" tanya Lina Yang penasaran.
Ardi menggelengkan kepala tak tahu dengan apa yang sudah terjadi di balik telepon yang di mana ia tengah menelepon Haikal.
"Halo, Haikal."
" Entahlah ke kamu dari tadi tidak menjawab ucapanku, aku hanya mendengar suara tangisan."
"Coba kamu matikan panggilan teleponnya, terus kamu telepon lagi kakaku, takutnya jaringan siyalnya jelek."
"Iya juga sih, tapi mana mungkin. jaringan Sinyalnya masih terlihat bagus pada ponselku."
Ardi kini menuruti apa perkataan Lina, ia mematikan panggilan telepon yang terhubung dengan Haikal, setelah itu Ardi mulai menelpon lagi Haikal.
Hinggal di mana kini suara Haikal terdengar begitu jelas, membuat Ardi tentulah senang bisa kembali bertanya kepada Haikal tentang keadaan Dinda.
__ADS_1
"Halo Ardi."
terdengar suara yang begitu Sayu dalam sambungan telepon, membuat Ardi kini bertanya kepada Haikal." kamu kenapa Haikal, suaramu serak begitu seperti habis menangis?"