
Tanpa sadar Lina melepaskan kain yang menempel pada tubuhnya, membuat Ardi semakin penasaran dengan reaksi obat itu.
"Apa obat yang sengaja di tuangkan Lina. Adalah obat perangsang."
"Ardi cepat kembalikan obat itu." Teriak Lina.
Haikal semakin mendekat kearah pintu kamar Lina, Iya langsung mengetuk pintu kamar adiknya. berteriak Memanggil nama Lina.
"Lina, apa kamu di dalam."
Ardi yang berada di dalam kamar Lina, begitu kaget setelah mendengar Haikal berteriak Memanggil nama adiknya.
"Haikal, aku kira dia tidak akan datang ke kamar. Lina."
Tok .... Tok ....
ketukan pintu terus dilayangkan Haikal, yang di mana Lina masih menahan obat yang terus menjalar pada dirinya dan juga tubuhnya.
"Lina, sebenarnya kamu kenapa. Kamu belum makan."
perhatian Haikal, membuat Lina ingin menghampiri Haikal dan memeluk tubuhnya. Namun semua itu Percuma saja, karena ada Ardi yang menghalangi langkah kakinya.
"Ardi, cepat menyingikir. Aku mau menemui Kak Haikal."
Ardi masih tetap saja berdiri di balik pintu kamar Lina, Iya tak mendengarkan ocehan Lina." Tidak akan Lina."
ucapan Ardi membuat Lina begitu sangat kesal, saat itu juga ia mulai melayangkan pukulan untuk Ardi. Namun karena tenaganya yang semakin melemah menahan rangsangan obat yang ia minum, membuat dirinya terkulai duduk di atas lantai.
"Kamu kenapa, Lina sayang." Ucap Ardi. Mulai duduk memegang dagu Lina.
"Cepat kembalikan obat itu," balas Lina. Pelan.
Haikal merasa kuatir dengan keadaan adiknya, beberapa kali ia menggedor pintu Lina. tak ada sahutan ataupun suara Lina yang menjawab panggilannya.
"Kenapa Lina tak membuka pintu kamarnya. Manjawab panggilan pun tidak." Gumam hati Haikal.
Tak Ada cara lain jika Lina tak bisa mendapatkan obat penangkal itu, dengan terpaksa Lina mulai berteriak meminta tolong kepada Haikal. agar Ardi disalahkan dan dikeluarkan dari rumahnya.
saat Lina mulai berteriak, Ardi yang menyadari semua itu langsung membekap mulut Lina dengan perban.
"Mm."
Lina berusaha melawan, tapi tubuhnya terlalu letih. menahan reaksi obat.
__ADS_1
"Kasihan, sekali kamu Lina. padahal aku sudah mengingatkan kamu untuk berubah. tapi ternyata kamu malah semakin menjadi-jadi. ya, dengan Terpaksa aku melakukan semua ini hanya untuk menyelamatkan rumah tangga kakak kamu sendiri." Ucap Ardi.
di luar kamar Lina, Haikal mengusap kasar wajahnya." Kenapa Lina tidak menjawab panggilanku, apa yang terjadi dengan dirinya didalam kamar."
Sedangkan di dalam kamar, Dinda mulai menyadari bahwa Haikal tidak ada disisinya.
membuat ia berjalan dan mencari keberadaan sang suami.
"Ke mana Mas Haikal, baru saja terlelap tidur. Mas Haikal sudah tidak ada di sampingku."
Dinda merasa curiga kepada suaminya, dia penasaran dengan Haikal, saat itu juga yang mencari kamar Lina. Baru beberapa langkah berjalan, dan benar saja Dinda melihatkan Haikal terus menggedor-gedor pintu kamar Lina.
membuat Dinda yang menjadi istri dari Haikal sangat lah marah. Karena untuk apa Haikal begitu memperhatikan Lina, padahal Lina itu sudah besar tak perlu diperhatikan layaknya seperti anak kecil. karena semakin tumbuhnya Lina, semakin berbeda perasaanya jika di perhatikan.
Dinda mulai menepuk punggung sang suami, membuat Haikal langsung membalikkan badan ke arah istrinya," Dinda. Kamu ada di sini."
"Sedang apa kamu di sini, Mas. Aku kira kamu sama tidur, tapi nyatanya kamu malah mengetuk gentuk pintu kamar adikku. Sebenarnya kamu ini kenapa sih," ucap Dinda.
"Kamu jangan salah paham dulu, Dinda. Aku kuatir karna Lina belum makan," balas Haikal.
Membuat Dinda mencambik bibir kesal, Iya tak menjawab lagi ucapan suaminya. Dengan sigap Dinda pergi begitu saja.
"Dinda, kamu mau ke mana." Teriak Haikal.
Dinda semakin cepat, berjalan menjauh dari hadapan Haikal.
"Dinda."
Dinda tak peduli dengan panggilan suaminya yang terus memanggil namanya.
Ia langsung masuk ke dalam kamar. dengan sigap Mengunci pintu kamarnya. membuat Haikal mengetuk-ngetuk pintu kamar sang istri.
"Dinda, buka. Dinda. Kamu jangan salah paham dulu."
Dinda duduk di ranjang tempat tidur menangis, terisak isak. Hatinya sakit akan Haikal yang terlalu peduli pada Lina sang adik. Lina sudah dewasa dia bukan anak kecil lagi. Karna Rasanya tak pantas jika Lina terlalu di perhatikan lebih oleh Haikal.
"Mas Haikal, kenapa dia begitu peduli pada adikku. Aku sebagai istri tak terima semua ini." Gumam hati Dinda. Kesal yang terus di rasakan Dinda. membuat ia mengepal erat tangannya menahan kekesalan pada hatinya.
"Kenapa dengan hidupku, kenapa rumah tanggaku selalu seperti ini. Apa kesalahanku." Gerutu Hati Dinda terus menerus menyalahkan akan masa lalu.
"Aku juga ingin merasakan rumah tangga yang begitu bahagia tanpa ada luka atau pun pihak ke tiga yang mengganggu," gumam hati Dinda.
"Dinda ayo buka sayang. Kenapa kamu tidak membuka pintu, aku hanya ....."
__ADS_1
Belum perkataan Haikal terucap semuanya, Dinda langsung berteriak." sudah cukup. Mas. Aku tak mau mendengar pernjelasan kamu lagi. Tinggalkan aku sendiri."
Teriakan Dinda membuat Haikal tediam. ia langsung pergi dari balik pintu kamar Dinda.
"Dinda, kenapa kamu selalu salah paham dengan apa yang aku lakukan." Gumam hati Haikal.
Haikal mengacak rambut, menahan rasa sedih pada hatinya. Ia ingin melihat Dinda bahagia begitu pun dengan Lina. Karna ia menganggap Lina sebagai adik kesayangannya, ia berpikir jika Lina di matanya tetap anak kecil. Yang harus di beri kasih sayang dan rasa peduli.
Haikal tak mau jika Lina tak nyaman, jadi Haikal berusaha membuat Lina nyaman. Agar Lina tak merasa jika dirinya kesepian.
@@@@@@
Sedangkan Ardi, merasa lega. Karna Haikal sudah pergi dari balik pintu Lina.
"Hah, sepertinya Haikal sudah tidak ada di luar."
Ardi mendekat ke arah Lina, menutup tubuh Lina dengan selimut.
"Sebaiknya kamu istrirahat dulu."
"Aku tidak mau istrirahat."
Dengan sepontan Lina malah memeluk Ardi tiba-tiba, Lina seakan tak tahan dengan obat yang terus menjalar pada tumbuhan. Iya terus mendekat ke arah Ardi, memeluk tubuh Ardi begitu erat.
" tolong aku malam ini."
Lina terus meminta agar Ardi mau melayaninya malam ini," Apa kamu yakin dengan ucapanmu."
"Tolong aku."
Ardi tersenyum kecil entah apa yang ia akan lakukan terhadap Lina.
Lina hanya pasrah dengan apa yang terjadi dengan dirinya, karena obat perangsang itu membuat dirinya tak sadarkan diri. ya tak bisa menahan lagi keinginan.
"Ayolah Ardi."
Ardi mulai membopong tubuh Lina, menidurkan Lina di kasur.
Menelan ludah, menahan setiap rasa pada dirinya. Apa dia mampu menahan semua itu.
"Tahan .... tahan Ardi,"
"Ardi ayolah."
__ADS_1
Ucapan rayuan dari mulut Lina terus terlontar. Membuat Ardi tak bisa mengendalikan nafsunya.
Apa Ardi akan kuat.