Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 185


__ADS_3

Pras menatap kedua pelayannya dan juga Haikal, ia mencoba melihat kejanggalan-kejanggalan dari kedua pelayannya dan juga Haikal.


Siapa yang harus ia percaya dan. Apa bukti dari kedua pelayannya, jika yang bersalah itu adalah Haikal.


Pras kini bertanya kepada kedua pelayannya, "jika kalian menuduh Haikal. Mana buktinya, cepat buktikan kepada saya."


Kedua pelayan itu malah tersenyum sinis dan menjawab,” Tuan, apa tuan tidak bisa membedakan kami dan juga Haikal. Tuan lihat kami berdua memakai baju utuh, sedangkan lelaki itu memakai baju yang sudah robek-robek di depan dan juga belakang, apa Tuan tidak menyadari Nona Alya juga bajunya sudah robek-robek.”


Haikal yang mendengar ucapan kedua pelayan Pras tentulah membuat ia geram, " Apa maksud kalian memfitnahku seperti itu? justru kalian yang sudah membuat bajuku robek seperti ini, dan Kalian juga yang sudah membuat baju Alya robek." Timpal Haikal berusaha menjelaskan semuanya.


Salah satu dari pelayan itu kini menatap ke arah tangan Haikal, yang ternyata Haikal tengah memegang benda tajam.


"tuan lihatkan, laki-laki itu memegang benda tajam. Kemungkinan besar dia masuk pada pintu kamar Nona Aliya, dengan mencokel pintu kamar nona Alya. Bukannya tuan sudah menyuruh kami untuk mengunci pintu kamar Nona Alya. "


"Jaga omongan kalian, justru kalian yang mengunci diri kalian bersama Alya dalam kamar. kalian juga yang mau berbuat senonoh kepada Alya." Hardik Haikal merasa kesal dengan tuduhan yang terus terlontar kepada dirinya.


kedua pelayan itu tetap tenang dan tersenyum sinis, mereka tetap membela diri." Mana mungkin kami berdua tega menodai Nona kami sendiri."


" Cukup, sudah cukup. Saya tidak mau mendengar kalian berdebat terus-menerus, yang aku inginkan adalah kepastian. Siapa yang bersalah, Siapa yang sudah berniat menodai Alya, calon istriku."


Haikal dan kedua pelayan itu kini terdiam setelah Pras menyuruh mereka berhenti berdebat, sedangkan Ardi dan Lina yang baru saja sampai mengikuti Pras, kini melihat ke arah Haikal yang di mana baju Haikal terlihat disobek paksa.


"Haikal. Kenapa kamu ada di sini?" tanya Ardi yang melihat penampilan Haikal seperti gembel.


kedua pelayan yang tak mau kalah dan ingin membela diri mereka sendiri, kini menjawab pertanyaan Ardi. "jelas kami sudah menemukan teman Tuan Ardi, di dalam kamar Nona Alya."


kedua mata Haikal membulat menatap tajam ke arah kedua pelayan itu," apa maksud kalian memfitnah aku seperti itu, bukannya kalian yang ..."


" cukup, saya tidak mau mendengar lagi kalian berdebat. Biar saja nanti aku tanyakan kepada Alya, Siapa yang sebenarnya bersalah"


Para pelayan itu sedikit ketakutan saat Pras mau menanyakan siapa pelaku yang sudah berbuat tak senonoh kepada Alya..


Haikal kini tersenyum kecil berucap pelan kepada kedua pelayan itu," kalian siap-siap saja mati di tangan tuan kalian sendiri."


Pras kini meninggalkan kamar Alya, untuk segera menemui calon istrinya.


Ardi dan Lina segera mungkin menghampiri Haikal untuk segera membantu Haikal berdiri dengan tegak.


sedangkan kedua pelayan itu bergegas pergi dengan rasa kesal yang mereka rasakan pada Haikal.


"Ke mana kalian?" tanya Haikal. Membuat langkah mereka terhenti.

__ADS_1


"Itu bukan urusanmu!" jawab cetus kedua pelayan itu.


"Kalian takut?" tanya Haikal. Tersenyum kecil.


"Kami tidak takut, yang harusnya takut itu kamu!" jawab kedua pelayan itu.


"Aku tidak takut, karna sebentar lagi. Kebenaran akan berpihak pada orang yang tidak berbohong," ucap Haikal seakam menakut nakuti kedua pelayan itu.


Mereka bergegas pergi tak mempedulikan ucapan Haikal.


Lina dan Ardi begitu menghuatirkan Haikal yang terluka parah.


"HaiKal, sebaiknya kita harus segera mungkin mengobati luka kamu, yang begitu terlihat serius."


Haikal tak menyangka jika pukulan kedua pelayan itu begitu menyakitkan, kedua pelayan itu ternyata memegang pisau tajam yang berada di saku celananya, membuat beberapa goresan pada tangan Haikal yang terlihat bersimpuh darah.


"Ayo, jalannya pelan pelan ya."


Lina dan Ardi membantu Haikal berjalan, untuk segera mungkin mengobati luka Haikal yang terlihat begitu parah.


"Pelan pelan."


Haikal mencoba merangkul bahu Ardi, untuk bisa berjalan.


Lina menatap luka Haikal yang terus mengeluarkan darah membuat ia tak tega.


"Kak Haikal. Kenapa kak Haikal bisa ada di kamar Alya?"


Pertanyaan kini di layangkan Lina.


"Kakak berniat menolong Alya, makanya kakak ada di kamar Alya!"


Lina berusaha berpikir positif, tidak mau menuduh kakaknya sendiri. Bagaimana pun Haikal dari dulu bukan orang jahat.


"Apa kamu tidak percaya dengan kakak, Lina?"


Lina menundukkan pandangan dan menjawab," Lona sedikit ragu. Antara percaya dan tidak pada Kak Haikal."


"Kenapa kamu ragu?"


"Jelas, karna baju kakak dan Alya sama sobek sobek!"

__ADS_1


"Hanya karna itu, lantas kamu ragu terhadap kakak kamu sendiri."


Lina menganggukkan kepala, setelah Haikal menjawab pertanyaanya.


saat itulah Ardi berlari menghampiri Haikal dan juga Lina yang membuang muka.


"Haikal. Ayo aku obati dulu luka kamu."


Ucap Ardi sedikit panik.


"Lina kenapa kamu diam, aja cepat bersihkan luka kakak kamu," ucap Ardi kepada Lina yang di mana Lina terlihat gelisa.


"Ya Ardi, aku ambil dulu handuk bersih dan air hangat untuk membersihkan luka kakak Haikal," balas Lina.


Dengan tergesa gesa, Lina kini mengambil air hangat. Akan tetapi ia bingung karna tak tahu dapur di cafe itu.


" sebenarnya di mana sih letak dapurnya, kenapa tempatnya sepi seperti ini, seperti tidak ada orang yang bekerja di sini." ucap Lina sedikit terlihat penasaran dengan isi cafe itu. Karna dari tadi ia tidak melihat ruangan dapur sama sekali.


@@@@@@


Kedua pelayan yang memang merasa kesal terhadap Haikal, kini menatap Haikal dari kejauhan. di mana sebenarnya mereka puas dengan apa yang sudah mereka lakukan terhadap Haikal, apalagi melukai tangannya hingga berdarah.


Tersenyum di atas derita orang lain adalah hal yang indah bagi mereka. Bagaimana tidak, hampir saja kedua pelayan itu menikmati apa yang mereka nantikan, malah gagal begitu saja. Hanya karna Haikal yang datang seperti pahlawan kesiangan.


Akan tetapi mereka juga harus lebih Waspada, karena bisa saja mereka sekarang terancam bersalah karena Pras yang akan menanyakan kejadian yang sebenarnya terhadap Alya.


"Bagaimana ini, apa Nona Alya akan mengakui semuanya. Bahwa kita adalah pelakunya dan si Haikal bebas begitu saja."


"Lu jangan kuatir, gue punya ide cemelang."


"Ide cemerlang apa?"


"Lu enggak usah tahu. Nanti juga bakal tahu rasanya."


Brug ....


Tiba tiba suara itu mengangetkan kedua pelayan itu.


"Lu dengar enggak suara tadi?"


"Ya gue dengar!"

__ADS_1


"Suara apa ya brow?"


__ADS_2