
Pras berharap jika Alya mau mengatakan kesedihannya, dirinya tak tega melihat gadis yang berada di hadapannya terus menangis dengan wajah yang terlihat pucat, karena dinginnya angin malam.
membuat badan gadis itu bergetar kedinginan, Pras perlahan melepaskan tangannya yang memegang pipi gadis manis itu, ia kini membuka jaketnya yang masih menempel dari tubuh kekarnya.
setelah membuka jaket itu, Pras kini memasangkan jaketnya ke badan gadis yang berada di hadapannya." Kamu sepertinya kedinginan sekali. sebaiknya kita masuk ke dalam, untuk sekedar menghangatkan tubuhmu ini."
Pras berharap jika Alya ikut bersamanya ke dalam rumah yang berada di samping Cafe. Iya tak tega melihat Alya bergetar kedinginan karena cuaca malam yang terasa amat dingin.
saat itulah Alya mau menuruti perkataan Pras, yang di mana yakini berdiri berjalan dengan dibantu oleh Pras.
"Kamu pelan pelan jalannya."
Pras, kini membawa Alya ke dalam rumah, dengan sigap Pras menyuruh pelayannya untuk membuatkan teh hangat, agar tubuh Alya setabil.
setelah sampai di dalam rumah, Pras menyuruh Alya untuk duduk di sofa.
Pras mulai menghampiri Alya mendekat dan duduk di samping wanita itu, yang menatap dalam-dalam Alya, yang masih menundukkan pandangan seakan enggan mengatakan hal yang ia pendam dalam hatinya.
" Sebenarnya apa yang tengah kamu pikirkan saat ini, Alya. Kenapa kamu tiba-tiba datang ke cafeku dengan keadaan menangis seperti ini? Apa yang sebenarnya kamu tengah pikirkan saat ini?"
pertanyaan Pras, membuat Alya menggigit jari tangan, iaa berusaha tegar untuk bisa mengatakan semua yang ia rasakan dalam hatinya. " Sebenarnya."
"Ayo katakan."
Pras tak sabar ingin mendengarkan semua kelah keluh Alya.
"Ayo katakan, Alya."
kini Alya mulai memberanikan diri mengatakan isi hatinya kepada Pras, bahwa sebenarnya ia tak ingin melihat Ardi menikah dengan wanita lain.
Karna Alya sudah lama menyukai Ardi.
Deg ....
perkataan Alya membuat hati Pras sakit, Bagaimana bisa Pras mendengar Alya mengatakan bahwa dirinya mencintai Ardi.
"Kamu tahu kan, sebentar lagi Ardi akan menikah dengan wanita pilihannya sendiri. Jujur Saja aku sangat mencintai Ardi, Aku tak ingin melihat Ardi menikah dengan wanita lain selain aku, Pras."
__ADS_1
ucapan Alya membuat Pras diam seribu bahasa, Iya bingung harus menjawab apa kepada gadis yang berada di hadapannya. karena dirinya yang sudah merasa kecewa, karena ucapan Alya yang mengatakan bahwa dirinya mencintai Ardi. Padahal selama ini Pras sudah lama memendam perasaan terhadap Alya, akan tetapi dirinya tak berani mengungkapkan perasaan itu.
Pras takut jika ia mengatakan perasaannya terhadap Alya, Pras akan ditolak mentah-mentah oleh Alya.
tatapan Pras seakan kosong, saat itulah Alya mulai memegang bahu Pras dan berkata?" Pras, apa kamu dengar apa yang aku katakan?"
lamunan Pras seketika membuyar, membuat ia menatap bingung ke arah Alya." iya kenapa Alya."
tentulah Alya kesal saat Ia menceritakan semuanya, Pras malah Diam seribu bahasa, dan melamun begitu saja.
Alya, melipatkan kedua tangannya menggerutu kesal terhadap Pras.
" tadi saat aku diam, kamu terus memaksa aku bercerita, Terus setelah aku bercerita. kamu malah melamun dan diam seribu bahasa."
Pras mengusap kasar wajahnya, meminta maaf kepada Alya.
" Maafkan aku Alya, aku juga masih tak percaya jika kamu mencintai Ardi. keponakanku sendiri, yang sebentar lagi akan menikah."
Alya mengerutkan kedua bibirnya, dengan berkata," kenapa, aku kan bukan saudara sama Ardi, jadi wajar donk aku bisa suka kepada dia."
Rasanya Pras ingin mengatakan semua isi hatinya, akan tetapi itu tak mungkin. Di saat Alya tengah bersedih, Pras harusnya menahan hati untuk tidak mengungkapkan perasaanya, ia sebisa mungkin menghibur Alya.
"Sebenarnya kenapa?"
"Ya, maksud aku! kamu harus menerima semuanya, kalau memang Ardi itu bukan jodoh kamu. mungkin suatu saat nanti akan ada lelaki yang lebih baik dari Ardi!"
bukan kata-kata semangat yang terlontar dari mulut Pras, melainkan membuat Alya sangatlah sedih.
"Kok, kamu ngomongnya gitu sih, Pras."
Kini Alya kembali menangis, ia merasa sedih.
" Alya, kenapa kamu nangis lagi."
Pras tak tahu jika ucapannya itu malah membuat Alya menangis, orang ini saat itulah Pras berusaha menenangkan Alya. Dengan berucap kembali," aku akan bantu kamu, agar bisa bersama Ardi."
perkataan itulah membuat tangisan Alya berhenti seketika, kini Alya mulai mengusap air matanya yang terus mengalir mengenai kedua pipi. ia menampilkan senyuman ke arah wajah Pras.
__ADS_1
"Nah, gitu donk."
terlihat sekali Alya sangatlah bahagia, iya kini Pras.
membuat Pras terdiam kaku, " Terima kasih Pras."
Pras mulai mengambilkan air minum yang sudah tersedia di atas meja untuk Alya, " nih kamu minum dulu."
. Alya kini mengambil air minum itu dan meminumnya hingga habis. terlihat sekali wajah Alya yang merasa lega dengan perkataan Pras.
" jika suatu saat Ardi benar benar menikah dengan orang lain karna aku gagal mencegah pernikahan keponakkan ku. Apa kamu tidak bisa membuka hatimu untuk lelaki lain yang benar-benar mencintaimu, Alya?"
Pertanyaan Pras, tentulah membuat Alya, menatap tajam ke arah Pras.
"Tidak akan, Aku tidak akan membuka hatiku lagi untuk lelaki lain selain Ardi, karena dari dulu aku benar-benar mencintai Ardi, Aku sangat kagum dengan dirinya yang selalu perhatian dan tak pernah membuat aku terluka sedikitpun, karna dulu memang status Ardi dan aku sebagai sahabat."
" Kenapa kamu berbicara seperti itu, Alya. Seharusnya kamu bisa melupakan Ardi jika dan kamu seharusnya membuka hatimu bukan malah membuat dirimu terpuruk sendirian. Karna cintamu terhadap Ardi tak terbalas."
" Sudahlah, Pras. jangan menasehatiku seperti itu, ini adalah jalan satu satunya yang aku tempuh."
" jika aku menjadi kamu Alya, aku tidak ingin berpikir bodoh. pasrah begitu saja, aku akan mencari lelaki lain yang lebih baik dari Ardi."
" itu jalan pikiran kamu, tidak dengan jalan pikiranku. Pras."
Alya yang tak mau berdebat lagi dengan Pras, kini mulai berpamitan. " Aku mau pergi. "
tiba-tiba saja Pras, memegang tangan Alya dengan begitu erat, seakan tak mau melihat Alya pergi begitu saja. Alya kini menatap ke arah Pras dengan berkata," kenapa kamu malah menahan tanganku."
"Aku tidak mau kamu pergi, Alya. Tinggalah di rumah ini."
"Maaf, Pras. Aku tidak mau tinggal dengan orang yang tak mau membantuku sama sekali, jadi aku putuskan untuk pergi dari cafemu."
" setelah kamu datang ke sini, kamu tidak bisa keluar dari sini."
Alya mulai menghempaskan tangan Pras yang memegang erat tangannya, " Lepaskan aku Pras, kamu ini sebenarnya kenapa."
Saat itulah Pras mulai menarik paksa tangan Alya, membuat Alya jatuh.
__ADS_1