
Alya terus memegang perutnya, yang terus terdengar keroncongan.
Membuat Pras berucap," tuh geluduknya kedengaran lagi."
Alya tertohok saat Pras membahas tentang suara geluduk." apa'an sih kamu. Jadi kamu menganggap perut keronconganku ini suara geluduk."
"Seperti itu!" jawab Pras. Tertawa terbahak bahak.
Lelaki berbadan kekar, kini mulai menyuruh Alya untuk turun dari mobil, ia tak lupa memakai topi agar tidak ada polisi yang mencurigainya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Alya, melihat Pras memakai topi dan juga masker.
"Aku mau makan laper, kamu mau ikut enggak?" tanya Pras kepada Alya.
Pras yang baru saja turun kini menyodorkan sebuah masker untuk di pakaikan Alya.
"Kamu pakai ini, biar orang orang tak curiga," ucap Pras.
Alya memutar bola matanya dengan mengambil masker dari tangan Pras dan berucap," ribet banget. Mau makan juga."
Kini Pras mulai berjalan, sedangkan Alya mengekor dari belakang Pras. Panas dan rasa haus terus terasa pada tenggorokan Alya.
Pras ternyata membawa Alya ke sebuah kedai bakso kecil, " Kamu bawa aku ke tempat ginian," ucap Alya, sedikit meledek kedai bakso yang baru saja ia masuki.
Lelaki berbadan kekar tidak menanggapi ucapan Alya." Memang tidak ada tempat yang lain apa, selain ini. Sudah kumuh, panas lagi."
Pras kini memesan dua baso, sedangkan Alya tetap saja dengan tatapan sinisnya. Menatap ruangan di kedai bakso yang ia kunjungi sekarang.
"Apa yang sedang kamu nilai, Alya?" tanya Pras.
"Aku hanya tidak suka dengan tempat kumuh ini. Kotor, bau!" jawab Alya.
Saat itulah pesanan datang, Pras mulai mengambil baso yang ia pesan. Akan tetapi Alya terus memandangi mangkok berisi baso dengan kuas bening dan asap yang beraromakan daging.
Pras mengaduk ngaduk bakso dalam mangkoknya, menuangkan beberapa sendok sambal dan tak lupa tetesan kecap dan saons. Terlihat begitu menggugah selela.
Air liur seakan ingin menetes perlahan, tapi Alya tetap menahan karna ia tak suka dengan ruanganya.
Sesekali Pras menyeruput kuas segar bakso milikinya, hingga terdengar pada telinga Alya.
"Kenapa, Alya?" tanya Pras.
"Aku enggak nafsu, liat tempatnya!" jawab Alya cetus.
Pras menggelengkan kepala menikmati setiap suapan baso yang ia layangkan sendiri pada mulutnya," Mm. Enak Alya, apa kamu tidak mau mecobanya sedikit pun."
Alya memandang satu porsi bakso di hadapnnya, membuat perut terasa perih.
"Ayolah, sekalo kali kamu nikmati baso di pinggir jalan begini, rasanya tidak buruk."
__ADS_1
"Tapi."
"Alya, kecoa."
"Ahkkk."
Happ ....
Pras memberikan satu suapan untuk Alya, membuat Alya kini mengunyah baso yang sudah ada di mulutnya.
"Rasanya tak buruk, ini enak sekali."
Saat itulah Alya mulai meraih baso yang berada di hadapanya, membuat ia perlahan lahan menyantap dengan penuh semangat.
Perut yang tadinya terus meronta ronta, kini kembali tenang, membuat rasa perih tak menganggu lagi.
Saat menikamti bakso, Pras melihat beberapa polisi sedang berkeliling. Membuat ia tentulah kaget.
"Alya."
"Apa."
Pras berusaha memberi kode agar Alya menundukkan wajah, ia tak mau jika polisi sampai menemukan keberadaanya.
"Alya. Cepat menunduk."
"Untuk apa?"
Rasa kesal kian di rasakan Pras, saat ia memberi tahu Alya agar menunduk. Berpura pura dengan santainya menikmati baso.
Pras tak tahu harus berkata apa lagi, kini terpaksa menurunkan kepala Alya dengan sedikit kasar.
"Aw."
"Di depan ada polisi," ucap Pras pelan.
Alya sekilas menatap ke arah yang dikatakan Pras, membuat ia tentu saja kaget dan kini memakai masker.
Pras menyuruh Alya untuk berhenti makan, dan berpura pura memagang ponselnya.
Salah satu polisi itu kini mendekat ke arah Pras, membuat Pras sedikit ketakutan.
"Jangan ke sini, jangan ke sini."
Saat itu salah satu sahabat polisinya memanggil, membuat polisi yang mendekati Pras kini membalikkan badan dan pergi dari hadapan Alya dan Pras.
Pras mengusap pelan dadanya, meresakan rasa tak karuan, karna rasa takut akan di jebloskan kembali ke dalam penjara. Sedangkan rencana yang di berikan Almarhum Burhan belum sepernuhnya di lakukan Pras.
Setelah kepergian polisi itu, Alya mulai menikmati kembali baso yang masih tersisa pada mangkoknya. Akan tetapi Pras malah menarik tangan Alya.
__ADS_1
"Pras. Apa apaan kamu?"
Pras mulai merogok saku celananya, mengambil uang untuk di bayarkan pada penjual baso.
"Ni, bang."
"Pras, lepasin dulu tanganku."
"Sudahlah Alya, tak banyak waktu, sekarang kita harus secepatnya pergi dari sini."
"Ya, tapi tidak harus menarik narik tanganku segala Pras."
"Sudah, kamu jangan banyak bicara, ayo cepat kita masuk ke dalam mobil."
Mereka berdua kini masuk ke dalam mobil, Pras mulai menancabkan gas untuk segera pergi dari kedai bakso yang baru saja ia kunjungi.
Terlihat wajah Alya memerah, menahan rasa kesal karna ia tak bisa menghabiskan makanannya.
Pras yang melihat Alya tersenyum kecil," kenapa kamu, ngambek?"
Alya melipatkan kedua tanganya, mengerutu kesal," siapa yang ngambek."
"Tapi terlihat sekali dari pipi merahmu itu, menandakan kamu kesal karna baksomu tak habis," ucap Pras. Lelaki yang dingin dan pemarah seketika terlihat seperti orang yang begitu romantis.
"Jujur saja, aku heran sama kamu Pras. Terkadang kamu seperti singga yang mau menekram mangsanya, tapi terkadang kamu seperti kelici mungil yang menggemaskan." Gerutu Alya pada hatinya.
"Kenapa kamu diam, Alya?" tanya Pras. Menatap pada kaca mobil.
" Terus aku harus apa?!" cetus Alya.
@@@@@@
Jerry menyadari apa yang ia lihat saat di kedai, hanya saja ia takut jika sasarannya salah, melihat lelaki memakai topi dan masker dan badan kekar membuat ia menatap lekat orang itu.
"Apa yang tadi itu Pras?"
Hatinya terus bergumam, ia tak sempat mengecek orang yang ia curigai di kedai karna dirinya yang di panggil oleh salah satu sahabat kerjanya.
"Kamu kenapa Jer? Kaya mikirin sesuatu?"
Pertanyaan salah satu teman kerja Jerry, membuat lamunan Jerry membuyar.
"Mm, iya. Enggak tadi saya kaya lihat Pras!"
Sang sahabat mengusap pelan dagunya," Pras. Buronan yang kamu cari dari kemarin?"
"Ya, kebetulan aku baru menugaskan beberapa polisi untuk mencari Pras, di sebuah Vila yang aku curigai jika Pras bersembunyi di sana. Tapi nihil, para polisi tidak menemukan dia sama sekali!"
"Kamu harus berhati hati sama dia, dia seperti Mafia yang pintar dalam kejahatan, semenjak sahabatnya meninggal di dalam penjara. Sifatnya benar benar berubah. Padahal dulu Pras. Buronan kamu saat ini, orangnya sangat baik. Tapi seketika sahabatnya meninggal dunia, semua seakan berubah 90 persen."
__ADS_1
"Kita tidak tahu kebaikan orang itu akan berubah seketika karna ada rasa denda merasuki jiwa, hingga ia kini seperti Mafia."