Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 114


__ADS_3

"Jangan pergi, Bu, Lina takut,"


Ucapan Lina membuat Bu Maya, merasa kasihan.. Wanita tua itu mendekat ke arah Lina memeluk kembali, tubuh Lina..


"Ibu tak akan pergi, kamu jangan kuatir." ucap Bu Maya.


Ardi yang sudah terlelap tidur, Tiba tiba mendengar suara ponselnya berdering.


Dreet .....


Ardi terbangun, mengusap ngusap kedua matanya." siapa malam begini nelepon."


Menatap pada layar ponsel, tertera nama Haikal.


"Ada apa Haikal menelepon jam segini." Ucap Ardi pelan.


Ardi langsung mengangkat, telepon dari Haikal.


"Halo, Haikal."


"Halo, Halo, Halo."


Tidak ada suara dalam sambungan telepon, membuat Ardi mematikan ponselnya.


"Ada apa, ya. Haikal. Tumben nelepon jam segini."


Karna Ardi yang penasaran, ia langsung menelepon balik Haikal. Akan tetapi,


Ponsel Ardi, tiba tiba mati.


"Ya elah, malah lowbet." ucap Ardi.


Dengan badan yang terasa lemas, Ardi bangkit, ia mengecas kembali ponselnya.


Sedangkan Haikal begitu panik, karna nomor Ardi tiba tiba tak aktif.


Ia sangat butuh pertolongan Ardi, karna menebus biaya berobat Dinda yang lumayan begitu besar.


"Ardi, kenapa kamu," ucap Haikal.


Rasa kesal, terus menghantui hati Haikal. Ia bingung saat ini, melihat pada mobil. suara panggilan telepon berbunyi.

__ADS_1


" Ini bukanya ponsel Sopir gila itu." ucap Haikal dalam hati.


Haikal melihat pada layar ponsel itu, tertera nama bos.


"Sepertinya, ini orang yang menyuruh supir itu."


Haikal mencoba mengangkat panggilan dari ponsel supir yang ia tinggalkan di hutan, saat itulah Haikal mencoba untuk diam tak berucap satu patah kata pun.


"Halo, bagaimana kerjaanmu sudah beres. Jika beres uang sudah saya transper pada rekening kamu."


Haikal mencoba merubah suaranya," beres. Bos. Terima kasih."


Tut .....


Panggilan telepon pun dimatikan sebelah pihak, yang di mana Haikal langsung mencatat nomor panggilan dari ponsel sang sopir yang ia tinggalkan di hutan.


Haikal terus saja mengoprak-abrik ponsel sang Sopir itu, untuk sekedar mencari bukti yang lebih kuat. dirinya ingin tahu siapa orang yang selalu Dipanggil bos oleh sang supir.


Pemberitahuan terkirimnya uang terlihat oleh Haikal, Haikal berencana untuk mengambil uang itu, membayarkan kepada rumah sakit.


"Hah, untung saja ada uang."


Hati Haikal sekarang tidak terasa panik, karena ia sudah membayar semua biaya rumah sakit Dinda. Iya tinggal menunggu dokter memberi tahu keadaan istrinya.


Haikal bolak-balik ke sana, menunggu dokter keluar dari ruangan Dinda.


hingga beberapa menit kemudian, dokter datang menghampiri Haikal. tentulah Haikal sangat senang Ia dengan terburu-buru menanyakan keadaan istrinya," dok. Gimana keadaan istri saya?


wajah dokter terlihat sedikit muram, mambuat Haikal bertanya kembali." Dok, kenapa dokter diam saja?"


"Maafkan saya, pasien kritis, Saya hanya bisa ...."


belum perkataan dokter terlontar semuanya, Haikal langsung mencengkram kerah baju dokter itu." Dokter bilang istri saya kritis, itu tidak mungkin dokter."


" maafkan kami, kamu sudah berusaha dengan keras. istri bapak terlalu lama untuk segera ditangani."


benar apa yang dikatakan dokter, Dinda terlalu lama untuk ditangani. karena kejadian yang menimpa mereka berdua. membuat Haikal terlalu lambat membawa istrinya ke rumah sakit.


" kami permisi dulu ya pak,"


dokter mulai melangkah pergi, sedangkan Haikal merasa bersalah akan diri yang tak bisa menjaga sang istri.

__ADS_1


" Maafkan aku Dinda, karena diriku kamu sekarang harus masuk rumah sakit."


Haikal kini terduduk di kursi, yang menatap kearah langit-langit rumah sakit. tak terasa air matanya jatuh mengenai pipi. perlahan tangannya mulai mengusap airmata itu, air mata rasa bersalah dirinya kepada sang istri.


malam semakin larut, membuat hawa dingin terasa begitu menyengat pada badan Haikal, rasa lelah menghantui seluruh badan Haikal, membuat kedua mata Haikal tiba-tiba terlelap dan tidur.


Haikal mulai merebahkan tubuhnya di kursi rumah sakit, diyakini tertidur untuk menenangkan pikirannya yang begitu kacau, mendengar sang istri yang sekarang tengah kritis.


@@@@@


Ardi yang masih mencemaskan Haikal menelepon di jam malam, membuat dirinya tak bisa menutup kedua matanya untuk kembali tidur.


Iya menunggu ponselnya hingga terisi penuh, berharap bisa langsung menelpon Haikal di saat itu juga.


perasaan Ardi benar-benar tak karuan, membuat iya. Berusaha tetap tenang tak memikirkan hal-hal negatif tentang keadaan Haikal dan juga Dinda


" Sebenarnya apa yang terjadi dengan Haikal, Kenapa perasaanku menjadi cemas seperti ini."


setengah jam berlalu memikirkan Haikal, Ardi kini meraih ponselnya, yang belum terisi penuh. dia langsung menyalahkan ponselnya. mencari nomor Haikal pada saat itu juga.


dengan Sigap Ardi langsung menelepon Haikal, akan tetapi Haikal tak mengangkat panggilan telepon darinya. membuat dirinya benar-benar sangatlah panik.


Haikal tak mengangkat panggilan dari Ardi, ternyata ia Sudah terlelap tidur, dengan rasa lelah yang ia rasakan, dan juga rasa sok berat karena mendengar sang istri yang sudah kritis.


hingga di mana Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi, Haikal kini terbangun dari tidurnya. Dia merasakan bahwa dirinya masih di dalam rumah, memanggil-manggil sang istri, membuat sang suster mendekat ke arah Haikal dan berkata," Maaf Pak, ini rumah sakit bapak jangan teriak teriak."


Haikal mengira bahwa kejadian tadi malam itu adalah sebuah mimpi, akan tetapi semuanya adalah kenyataan. Haikal beberapa kali mengusap wajahnya dengan telapak tangan kanannya, berharap Kejadian ini benar-benar mimpi.


"Pak, maaf bisa tidak bapak tidak tidur di sini?" tanya sang suster.


Haikal langsung menjawab perkataan Suster itu," Maaf saya kelelahan hingga saya tertidur di sini," permintaan maaf Haikal, membuat sang Suster itu memakluminya.


Haikal yang tidak suka basa-basi, yakini kembali berdiri untuk segera menemui istrinya di ruangan yang sudah disediakan dokter dan juga para perawat.


perlahan Haikal berjalan membuka pintu ruangan yang dimana sang istri tengah dirawat.


kedua air mata Haikal tiba-tiba saja keluar membuat ia tak tahan berlari mendekati sang istri yang terkulai lemah di ranjang rumah sakit dalam keadaan kritis. Haikal mencoba mengambil tangan kanan Dinda, dia mencium tangan istrinya itu beberapa kali," Maafkan aku Dinda."


perkataan Maaf Haikal tidak membuat Dinda bangun sama sekali, Dinda tetap saja menutup kedua matanya dengan dibantu alat-alat rumah sakit.


Haikal mulai mengusap kepala rambut sang istri dan berkata," Dinda, aku tahu pasti kamu kuat. bangunlah. Aku sangat merindukanmu. Aku begitu menyesal karena telah membiarkanmu keluar sendirian dari dalam kamar, Andai saja aku tidak tertidur semalam, mungkin tidak akan terjadi apa-apa dengan dirimu seperti sekarang."

__ADS_1


__ADS_2