Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 232 Percakapan Antara ibu dan anak.


__ADS_3

Haikal memukul bibir Ardi yang asal berucap itu, membuat Nining tertawa dengan menutup bibir oleh telapak tanganya.


"Ya sudah, Nining teh mau pulang, nanti malam mau dibuatkan makanan enggak?"


Pertanyaan Nining membuat, Ardi menggerakan alisnya keatas, dengan senyuman yang tak mampu Nining tahan.


"Apa saja, Ning. Masakan kamu selalu enak di lidah Aa Ardi."


Gombalan dilayangkan oleh Haikal, membuat Ardi, memukul kepala sang sahabat.


"Ngomong asal jiplak aja."


Ardi tertawa dengan guyonan yang dilayangkan oleh Haikal, sang sahabat yang melihat Ardi seperti itu merasa bahagia.


Dari kesedihan yang dirasakan Ardi saat itu, kini perlahan berubah menjadi senyuman kembali. membuat kekhawatiran perlahan hilang dari hati Haikal.


Haikal tahu jika Ardi merasa tertekan dengan cinta yang tengah ia rasakan saat ini, cinta yang benar-benar rumit hingga melibatkan dirinya juga.


Bagaimana bisa Ardi bertahan dengan orang yang ternyata tidak mencintai dirinya.


Nining mulai berpamitan kepada Haikal dan juga, ia melangkahkan kakinya untuk segera pulang ke rumah.


Ada rasa tak tertahankan yang tak biasa dari hati Nining, gadis desa itu merasa bahagia melihat senyuman yang terus terpancar dari wajah Ardi saat menatap dirinya.


"Ya Allah, izinkan aku berjodoh dengan Aa Ardi."


Doa Nining panjatkan dalam hati.


Rasa senang ia bawa ke dalam rumah. Hatinya sudah tak karuan, terlihat Bapak dan Ibunya sudah pulang duluan ke rumah.


"Ning, apa kamu sudah melihat kejadian di rumah kosong itu?" tanya sang ibu, yang mendengar isu akan mayat terbakar.


Nining menganggukkan kepala, hanya saja ia sedikit lebih tenang dari sebelumnya." Ya, bu. Tapi Ibu tak usah khawatir, mayat itu bukan mayat Teteh Lina melainkan mayat seorang lelaki yang entah Nining tak tahu dia siapa."


sang Ibu mengharap nafas panjang, mengusap dadanya yang merasa tak karuan." syukurlah kalau begitu, Ibu benar-benar khawatir jika mayat itu adalah mayat Lina."


" Jadi ibu tenang saja, Aa Ardi dan Aa Haikal akan menyelesaikan masalah ini, karna ada kaitan dengan pembalasan dendam."


setelah memberi jawaban kepada sang ibu, Nining kembali masuk ke dalam rumah untuk segera membersihkan badan.


Iya harus bergegas masak menyiapkan makanan untuk Ardi dan juga Haikal.


sang ibu yang mendengar jawaban Nining sangatlah penasaran.

__ADS_1


"Apa yang dimaksud Si Nining teh." Gumam hati sang ibu.


@@@@@


Nining yang sudah beres mandi, kini mengikatkan rambut panjangnya. Agar tidak terurai mengganggu aktivitasnya memasak.


sang ibu, menghampiri Nining yang tengah memotong-motong sayuran. Masih ada rasa penasaran pada hati wanita tua itu, tentang jawaban yang dilontarkan oleh Nining.


"Ning, tadi teh kamu teh ngomong apa?"


Nining, begitu fokus memotong sayuran dan juga bahan-bahan untuk memasak, ya tak menyadari kedatangan ibunya yang bertanya.


" Ini si Nining ditanya malah nggak ngejawab."


sang Ibu kini memukul bahu anaknya, membuat Nining terkejut dan menatap ke arah ibunya sendiri.


"Aduh, ibu. Nining kira siapa? Main pukul-pukul begitu aja, sakit tahu Bu?"


"Ya, habisnya ibu tanya, kamu enggak ngejawab. Masak sambil melamun itu tidak baik, Nining!"


"Ahk, si ibu. Siapa coba yang melamun, Nining enggak melamun, itu perasaan ibu saja."


"Itu buktinya ibu panggil-panggil kamu nggak ngejawab."


Nining tertawa, dikala ibunya berkata seperti itu.


"Ya terus kamu masak sebanyak itu buat siapa?"


"Hehe, buat Aa Ardi yang tampan!"


sang Ibu kini memukul bahu Nining kembali," hust, kalau ngomong teh di jaga. Bapak dengar gimana?"


"Eh iya ya."


Nining memajukan kedua bibir.


"Ya sudah sini ibu bantu biar cepet."


Nining mulai menyodorkan pisau, agar ibunya memotong-motong sayuran yang belum terpotong semuanya.


saat sang Ibu memotong sayuran, saat itulah wanita tua itu bertanya kembali kepada anaknya.


" Tadi teh kamu, ngomong apa, kok ada balas dendam balas dendam begitu?"

__ADS_1


" Aduh, Nining kira Ibu teh mengerti!


" Mengerti dari mananya maksud pekataan kamu tadi, sudah tahu Ibu ini kan sudah tua. Jadi ibu nggak ngerti masalah anak muda?"


" Ya sudah kalau ibu emang nggak ngerti. Lebih Baik Ibu diam saja!


" Tapi Ibu kepo, Ning. Ibu penasaran maksud perkataan kamu tadi."


" Masalah Teteh Lina yang kabur? Itu semua sudah direncanakan oleh orang jahat yang ternyata orang jahat itu adalah paman Aa Ardi. Di mana sang Paman mempunyai dendam terhadap keluarga Teteh Lina."


" Eh kok jadi ribet gitu sih, ibu belum paham bener, Ning."


" Aduh si Ibu Susah atuh Bu, kalau ngejelasin sama yang udah tua pastinya bawaannya nggak ngerti,"


" Eh Nining kamu teh kalau sama orang tua jangan begitu, bagaimanapun Ibu yang sudah tua ini, masih kuat melayani bapak kamu."


" Jadi Ibu teh gimana sih, itu masalah pribadi Ibu diceritain sama anaknya,"


" Ya habisnya kamu pelit, orang ibu pengen tahu kan Ibu bilang ibu kepo, pengen tahu masalah wanita yang dibawa Haikal ke rumah ini."


"Ya udahlah, ya. Bu. Nanti aja ceritanya, kita siap-siap dulu masak, sebelum keburu maghrib, gak enak juga kita cerita di dapur, nanti kalau bapak denger gimana hay, Nining lagi yang disalahkan."


"Yaelah, Ning. Kalau kamu salah. Ibu juga yang ngebela, jadi jangan kuatir. Masih ada pelindung untuk kamu."


"Iya, iya. Nining percaya sama ibu, ibu itu jagoan Nining, jadi apapun masalah yang dihadapi, ibu selalu ada dan siap membantu Nining bukan begitu ibu."


"Memang kamu itu, anak satu-satunya ibu yang paling pintar."


Saat itulah mereka dengan sigap memasak makanan untuk Ardi dan juga Haikal. Tak lupa untuk diri mereka.


Setelah masakan yang dimasak oleh Nining sudah siap, saat itulah Nining mulai mengantarkan masakan untuk Ardi dan juga Haikal ke rumah.


Nining mengetuk pintu rumah Haikal, akan tetapi tak ada jawaban satupun. Hingga di mana pintu rumah Haikal tidak terkunci, membuat Nining langsung masuk begitu saja.


Hening ....


Tampak seperti tak ada satu orang pun yang berada di rumah Haikal, tinggal di mana pintu dapur terbuka begitupun Nining yang menghampiri pintu dapur.


Betapa terkejutnya Nining melihat Ardi yang memakai handuk dengan badan polos tanpa memakai apapun.


Nining langsung menutup wajahnya, agar tak melihat apa yang ia lihat di depan mata. Haikal yang baru saja membeli suatu barang di warung masuk ke dalam rumah melihat Nining menutup wajah dengan kedua tangan.


"Ning kamu kenapa?"

__ADS_1


Ardi ternyata masih berdiri di belakang punggung Haikal, membuat Nining tak bisa membuka Kedua tangannya. Karena tak sanggup melihat lelaki tak berpakaian.


"Ning kamu ini lihat apa sih? Kok wajah kamu ditutup seperti itu?"


__ADS_2