
Bu Maya hanya bisa memeluk Lina, menahan tubuh Lina sekuat tenanga,
Hati Bu Maya terasa sakit, ketika Lina menangis histeris dan berteriak ketakutan.
" Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan kamu Lina, Siapa yang sudah membuat kamu seperti ini."
tak ada rasa curiga di hati Bu Maya pada orang-orang yang berada di rumahnya," Bu, aku takut."
"Kamu harus tenang, Lina. Di sini ada ibu."
Bu Maya terus berada di samping Lina, menemani rasa takut yang dirasakan Lina.
"Ibu akan tetap di sini, kamu jangan takut ya. Nak."
Anton hanya bisa berdiri melihat Lina dalam pelukan sang istri, kedua tangannya merogok saku celana, matanya tak henti menyelidiki Siapa dalang yang sudah membuat Lina ketakutan.
Pak Anton menatap ke arah para pelayannya di rumah, dia merasa curiga jika ada seseorang yang diperintahkan untuk menakut-nakuti Lina di dalam rumah. saat itulah langkah Anton mulai melangkah dekat ke arah para pelayannya di rumah.
semua para pelayan menundukkan pandangan, seakan takut dengan tatapan sang majikan.
" Aku tanya pada kalian yang berada di rumah ini," tegas Pak Anton.
Deg ....
para pelayan itu seakan ketakutan saat sang majikan mulai tegas bertanya kepada mereka semuah.
"Jawab pertanyaan saya dengan jujur, jika tidak saya bisa membuat kalian masuk ke dalam penjara."
Deg ....
Hati mereka seakan tak karuan, para pelayan itu saling bertatap muka satu sama lain, mereka berusaha mencari dalang semua dari masalah yang terjadi, " apa kalian mengerti."
suasana di kamar Lina nampaklah mencekram, saat pertanyaan kini mulai layangkan satu persatu oleh Anton. para pelayan itu langsung menganggukkan kepala setuju dengan apa yang dikatakan sang majikan.
"Baik, Pak."
"Bagus, sekarang saya mau tanya. Siapa yang bertugas membersihkan kamar ini?" tanya Pak Anton.
Dari banyaknya para pelayan yang berjajar menghadapi Pak Anton. kini ada salah satu pelayan mengangkat tangannya, membalas jawaban sang majikan dengan tangan bergetar.
__ADS_1
"Kamu, apa kamu yang membersihkan kamar ini?" tanya Pak Anton, saat salah satu pelayannya mengangkat tanganya di hadapan pak Anton dengan wajah ketakutan.
"Kamu, jadi kamu yang sudah membersihkan kamar ini," ucap Pak Anton.
lelaki tua itu menyuruh pelayan yang mengangkatkan tangannya, melangkahkan kakinya mendekat ke arah Pak Anton.
Saat langkah kaki pelayan itu dekat berhadapan dengan Pak Anton, saat itulah lelaki tua itu melayangkan sebuah pertanyaan," kamu membersihkan kamar, Lina pada jam berapa."
Pelayan itu terlihat gemetar ketakutan, keringat dingin seakan bercucuran membuat hawa pada tubuh terasa panas.
"Hem, coba kamu jawab dengan jujur."
Pelayan itu menarik napasnya pelan mengeluarkan secara perlahan, berusaha tetap tenang dan menjawab pertanyaan sang majikan dengan baik.
"Saya membersihkan kamar ini, jam 4 sore selebihnya saya tidak datang dan membersihkan kamar ini lagi di jam malam," ucap sang pelayan.
"Hem, aku tanya sekali lagi padamu?" tekan Pak Anton. Membuat wajah pelayan itu gugup, menahan rasa takut.
"Saat membersihkan kamar ini, apa kamu sudah membuat hal yang tak wajar di sini, seperti menulis sesuatu kata kata, atau menaruh barang aneh?" tanya sang majikan.
Membuat pelayan itu tentulah bingung, karna untuk apa dia melakukan hal yang konyol semacam itu.
Pak Anton mengusap pelan dagunya, dan bertanya kembali," ini sapu tangan kamu bukan."
saat menatap ke arah tangan Pak Anton yang memperlihatkan sapu tangan kepada pelayan itu, membuat pelayan itu membulatkan kedua matanya. mengingat orang yang selalu membawa sapu tangan ke mana-mana.
" saya tanya sekali lagi pada kamu, apa ini sapu tangan punyamu?" tanya Pak Anton.
pelayan wanita itu menggelengkan kepalanya dan menjawab perkataan sang majikan," Saya tidak mempunyai sapu tangan seperti itu, Dan saat saya bekerja Saya tidak pernah mengandalkan sapu tangan itu untuk membantu pekerjaan saya."
Pak Anton merasa jika orang yang terus dia tanya bukanlah pelakunya, membuat dia langsung menyuruh pelayan itu untuk balik lagi berdiri berbaris dengan pelayan yang lainnya.
"Tuan." Ucap sala satu pelayan. Mendekat ke arah sang tuan.
"Ada apa?" tanya Pak Anton.
"Maaf sebelumnya, saya mengenal Siapa pemilik sapu tangan itu!" jawab pelayan wanita yang berdiri dengan beraninya menggungkapkan siapa pemilik sapu tangan yang tengah di pegang oleh pak Anton dalam pelastik.
"Cepat katakan, siapa pemilik sapu tangan ini?" tanya Pak Anton.
__ADS_1
" sapu tangan itu milik Nia, dia pelayan yang di tugaskan memasak di rumah ini!" jawab pelayan itu.
"Nia, sekarang dia ada di mana?" tanya Pak Anton.
para pelayan mencari keberadaan Nia, mereka mulai kesana kemari yang di mana ternyata Nia tidak ada.
"Ke mana, pelayan yang bernama Nia itu?" tanya tegas Pak Anton.
mereka semua tidak menemukan keberadaan Nia pada saat itu, " Nia tidak ada tuan."
Pak Anton sudah menebak jika akan ada yang terjadi pada saat ini, yang di mana salah satu pelayan akan kabur dan tak mau lagi bekerja di rumah Anton. Untuk menetupi kejahatanya.
salah satu pelayan berlari tergopoh-gopoh menghampiri sang tuan," maaf tuan, ternyata Nia sudah tidak ada di kamarnya. Ia kabur dengan menbawa barang barangnya.
"Ya, sudah cepat kalian cari keberadaan pelayan yang bernama Nia, jangan sampai dia lolos begitu saja.," printah Pak Anton ke pada para pelayannya.
"Baik, tuan," balas para pelayan.
Mereka kini bergegas untuk mengejar Nia yang mungkin belum jauh dari rumah sang majikan.
Sedangkan Ardi yang tengah menyiapkan mobil, di kagetkan dengan semua mobilnya yang tiba tiba bannya kempes semua.
"Kenapa ban mobil kempes semua. Ada apa ini?"
Ardi memanggil satpam dan juga supir di rumahnya.
Saat itulah kedua lelaki datang menghampiri Ardi, yang di mana mereka adalah supir dan satpam di rumah.
"Ada apa, aden memanggil kami berdua?" tanya sang supir kepada Ardi.
.
Ardi mengacak kasar rambutnya, saat itu ia langsung menunjuk semua ban mobil miliknya. Kepada sang supir dan satpam di rumah.
"Kalian lihat, ban mobil semua," ucap Ardi sedikit bernada tinggi.
Kedua mata mereka menatap ke arah ban mobil," ban mobilnya kempes semua. Aden."
Ardi bergacak pinggang di depan mereka berdua," kalian ini gimana sih, Kenapa ban mobil, semua bisa kempes begini. Memangnya kalian berdua tidak mengecek mobil saat tadi sore?" tanya Ardi. Berusaha tetap tenang tak memarahi ke dua pegawainya.
__ADS_1
kedua pegawai itu saling menatap satu sama lain, heran dengan apa yang mereka lihat. padahal setiap orang mereka selalu mengecek mobil begitupun dengan bannya.