Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 138


__ADS_3

"Tuan, padahal tadi sore kami jelas jelas mengecek setiap ban mobil. Dan kerusakan yang ada pada semua mobil di sini," ucap sang sopir


"Ya terus kenapa, semua ban mobil bisa kempes seperti ini?" tanya Ardi. Kepada kedua pegawainya.


"Kami juga tidak tahu tuan," ucap sang satpam.


"Hah, kalian ini. Bisa kerja tidak ....."


bentakan Ardi tiba-tiba terhenti saat sang ayah memegang bahu kanan anaknya," sudah Ardi, kamu jangan meyalahkan mereka berdua. Mereka tidak salah, ada orang yang sengaja menbuat masalah ini terjadi."


"Maksud ayah?" tanya Ardi.


Ardi melihat para pelayan berlarian keluar rumah, membuat ia heran dan bertanya kepada sang ayah." ke mana mereka semua?"


" mereka tengah mencari dalang yang sudah sudah membuat kekacauan di rumah ini!" balas sang ayah.


"Maksud ayah dalang dari semua ini, siapa ayah?" tanya Ardi.


sang ayah menepuk-nepuk bahu anaknya, dan menjawab pertanyaan sang anak," sepertinya ada yang sengaja memerintahkan pelayan di rumah ini, untuk membuat masalah."


"Siapa itu ayah?"


"Selebihnya ayah tak tahu siapa orang itu, hanya saja Kini pelayan yang menjadi suruhan orang itu tengah di cari. Dia kabur begitu saja!"


"Pantas saja, Lina menjadi depresi tiba tiba, ternyata ada orang yang sudah merencanakan semuanya," ucap Ardi.


Teriakan Lina kini terdengar kembali, membuat Ardi bergegas menghampiri Lina dan sang ibu.


Ardi berlari dan melihat ternyata Lina sudah mendorong sang ibu hingga tersungkur jatuh, ia mulai berlari melewati Ardi. Akan tetapi Ardi berusaha menahan Lina dan mengikat tangan dan kaki wanita itu.


"Maafkan aku Lina," ucap Ardi.


Sesaat Ardi mulai menelepon pihak rumah sakit, untuk segera membawa ambulan ke rumah.


Hingga beberapa menit kemudian. Ambulan datang kini Lina mulai di bawa oleh ambulan menuju ke rumah sakit.


"Aku mau di bawa ke mana, Ardi."

__ADS_1


Lina menangis histeris, tubuhnya bergetar, kini salah satu jarum di suntikan pada tangan Lina.


Membuat Lina seketika tenang di dalam ambulans saat menjaga Lina untuk segera pergi ke rumah sakit, saat itulah Ardi mulai menelepon sang ayah.


Tut ....


Panggilan telepon pun tersambung.


" Ada apa Ardi?" tanya sang ayah kepada anaknya.


"Bagaimana ke adaan ibu sekarang!" jawab Ardi hatinya benar-benar tak karuan karena saat membawa Lina masuk ke dalam ambulans untuk ke rumah sakit,


Ardi tak sempat melihat ke adan sang ibu.


"Kamu jangan kuatir, ibu baik baik saja," ucap sang ayah.


kini Ardi mulai bernafas lega setelah mendengar Keadaan sang ibu yang sudah membaik, saat ia mengantarkan Lina menuju rumah sakit untuk segera di tangani. Ardi bisa dengan fokus menjaga Lina.


Bu Maya yang sudah siuman kini mulai bertanya kepada Pak Anton," Di mana Lina?"


Sang ayah langsung mematikan panggilan telepon yang tersambung dengan Ardi,


"Di mana, Lina? Anton." tanya Maya kepada sang suami, dengan tangan kanan yang memegang kepala.


"Lina sekarang di bawa ke rumah sakit, kamu tenangi dulu hati kamu. Ya," balas Anton. menyodorkan air putih ke pada istrinya.


Saat itulah Maya mulai mengambil air putih yang di sodorkan suaminya, untuk ia minum.


"Bagaiman sekarang kamu sudah enakkan kan?" tanya Anton kepada Maya.


Maya menganggukkan kepala dan menjawab!" terima kasih Anton.


Anton mengusap pelan rambut Maya yang terurai ke arah depan, menatap sang istri begitu dekat. Ia baru akhir akhir ini berdekatan dengan Maya, bertatapan mesra.


" Maaf Anton, kita terlalu dekat. Apa kamu lupa dengan perjanjian kita, berpura pura untuk tidak telalu bermesraan saat tidak ada anak kita."


Napas Anton sedikit terdengar kesal, apalagi dengan perkataan yang terlontar dari mulut Maya, Anton mengira jika Maya membuka isi hatinya kembali, untuk dirinya.

__ADS_1


Namun ternyata itu hanyalah hayalan semata Anton, padahal Anton sengaja membuat janji dengan istrinya hanya untuk bisa kembali di pelukannya.


saat itulah Anton sedikit menjauh dari hadapan sang istri, Anton hanya bisa melihat sang istri dari kejauhan tanpa bisa membelai ataupun memanjakan istrinya itu.


" Ya sudah aku mau kembali untuk segera tidur, kamu jaga kesehatan," ucap Anton berpamitan kepada sang istri.


sebenarnya ia ingin sekali mengungkapkan semua rasa sayangnya yang masih terpendam di hati kepada sang istri, tapi semuanya lah sebuah ilusi sesaat, Percuma saja jika Anton mengatakan perasaannya kepada sang istri, Maya akan menganggapnya biasa saja.


Anton kini mulai berjalan, ke arah pintu keluar kamar, perlahan membuka pintu dengan rasa ragu.


"Anton."


tiba-tiba saja suara Maya terdengar Memanggil nama dirinya, tentulah Anton sangat senang, Iya langsung membalikkan badan dan bertanya kepada Maya," Ada apa Maya?"


Anton tersenyum lebar menatap ke arah Maya, berharap jika Maya memberi kesempatan untuk Anton agar bisa menemani dirinya.


"Tolong, setelah kamu keluar. Jangan lupa tutup pintunya," ucap Maya. Pada Anton.


Deg ....


Anton benar-benar malu saat itu, ia mengira jika Maya berharap ingin ditemani dengan dirinya, Namun ternyata Maya benar-benar mengusir Anton.


"Baiklah, Maya."


Maya menganggukkan kepala tersenyum lebar ke arah Anton, saat itulah Anton mulai membuka pintu dan menutupnya kembali. kesal yang dirasakan Anton pada saat itu, mau tidak mau Anton harus menerima perlakuan Maya saat tidak berada di hadapan Ardi.


Mengepal kedua tangan, Anton larut dalam kekesalan yang amatlah dalam, mengacak kasar rambut dan berkata," ahk, aku sudah ingin bersamamu Maya tapi kamu tidak mengerti mengerti juga."


Anton hanya berjalan, menuju ruang tamu. Ia duduk dengan wajah gusar. " Kapan kamu peka dengan tingkahku, Maya."


sedangkan Maya yang berada di dalam kamar, menangis histeris merasakan rasa sakit pada hatinya. yang ia inginkan adalah Anton yang bertahan saat ia menyuruhnya pergi.


sebenarnya Maya juga masih mengharapkan rasa cinta dari suaminya, karena sandiwara yang mereka permainkan seakan membangkitkanku perasaan yang dulu telah hilang karena keegoisan masing-masing.


Maya sebagai seorang wanita, tentulah tak berani mengatakan perasaan yang sudah ia pendam saat sandiwara itu dimainkan, hatinya benar-benar rapuh saat dirinya mengusir Anton begitu saja.


" dari dulu Kenapa kamu tidak berubah-rubah Anton. Aku sangat mencintaimu, Coba saja kamu lebih peka dari apa yang aku rasakan saat ini,"

__ADS_1


Maya hanya bisa mengusap kasar air mata yang terus saja mengalir mengenai pipinya, Iya tak tahan dengan perasaan yang terus menggebu, Maya terlalu gengsi mengungkapkan perasaannya yang benar-benar cinta kepada Anton, Iya hanya bisa memendam perasaan dalam hatinya dan berusaha menerima semua yang sudah terjadi pada dirinya sendiri.


__ADS_2