
Betapa terkejutnya Alya membaca tulisan pada lembar kertas putih yang baru saja ia buka, kedua matanya membulat membuat Alya ketakutan.
"Surat macam apa ini."
Alya mengulung surat itu, melemparkannya ke tong sampah, seketika badannya merinding. Membuat ia tak bisa berbicara lagi.
Tok ... Tok ... Tok ...
Tiga kali ketukan pintu menyadarkan Alya dari rasa takutnya, ia mulai menatap ke arah pintu kamarnya.
"Alya, apa kamu sudah siap?" Teriak Pras dari balik pintu kamarnya.
Alya mengusap kedua lenganya, masih takut dengan isi dari surat yang baru saja ia baca.
"Alya."
Ketukan pintu kini terdengar lagi. Bibir Alya bergetar ketakutan, ia berusaha menjawab teriakan Pras dari balik pintu.
"i-y-a Pr-as," teriak Alya dengan bibir bergetar ketakutan.
"Kalau kamu belum selesai memakai baju, aku tunggu kamu di mobil," ucap Pras. Yang ternyata sudah siap dengan pakaian gantinya yang terlihat begitu menawan.
Alya mencoba menghilangkan rasa takutnya, yakini berjalan untuk segera mengambil baju yang sudah ia pilih.
dengan terburu-buru dan juga bibir bergetar, Alya kirim memaksakan diri untuk memakai baju yang sudah ia pilih.
Alya sedikit memoleskan wajahnya dengan make up, agar penampilannya terlihat tidak begitu pucat.
setelah selesai memakai baju dan juga make up, saat itulah Alya mulai membuka pintu kamarnya.
hanya saja saat Alya membuka pintu kamarnya sendiri, dirinya begitu terkejut dengan penampakan pelayan yang telah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Astaga."
Alya mengusap kasar dadanya. Betapa terkejutnya ia melihat pelayan itu berdiri dengan membawakan sebuah tas bermerek untuk ia pakai.
"Maaf nona, ini tas yang di pilih tuan, untuk nona pakai." ucap pelayan itu. Menyodorkan tas bermerek yang begitu indah saat di pandang mata.
"Terima kasih, bi," balas Alya mengambil tas itu dengan begitu pelan.
"Ya nona, saya permisi pergi," ucap sang pelayan. Kini pergi dari hadapan Alya.
Alya kini berjalan dengan begitu anggunnya, Iya berusaha menghilangkan rasa takutnya, agar Pras tidak banyak bertanya.
__ADS_1
Pras yang ternyata sudah menunggu, tersenyum melihat Alya dengan penampilannya yang begitu menawan. Padahal mereka hanya pergi ke pemakaman, tapi cara berpakaian mereka begitu terlihat berlebihan.
"Alya, ternyata kamu cantik juga."
Alya memperlihatkan senyumannya yang lebar kepada Pras, yang sudah memuji diri nya.
"Terima kasih, Pras."
Alya mulai mendekat ke arah mobil Pras, yang di mana lelaki itu langsung membukakan pintu mobil untuk Alya.
Kini Alya mulai masuk ke dalam mobil, berusaha bersikap tenang dengan apa yang sudah terjadi pada dirinya.
sekilas Pras menatap Alya yang duduk di sampingnya. Iya benar-benar bahagia bisa bersama dengan sang kekasih yang dulu ia impikan.
akan tetapi Alya masih memikirkan hal yang membuatnya ketakutan." kenapa surat itu sangat menyeramkan, membuat pikiranku seketika membuyar. Alya kamu harus fokus dengan rencanamu sendiri."
tidak butuh beberapa waktu yang lama untuk pergi ke pemakaman, Kini Alya dan Pras sudah sampai di pemakaman. Mereka melihat orang orang sudah berkumpul.
Alya melihat Ardi di pemakaman itu, membuat ia seakan bahagia.
"Itu Ardi, aku baru kali ini lagi melihat lelaki yang aku sangat cintai." Gumam hati Alya.
"Alya."
"Hey."
Beberapa kali Pras memanggil nama Alya, akan tetapi Alya yang tetap saja diam tengah menatap ke arah kaca mobil yang entah Pras tidak tahu. Alya tengah menatap siapa. Hingga panggilan Pras beberapa kali tak di jawab Alya.
"Sebenarnya Alya tengah menatap siapa? Ia begitu serius." Gumam hati Pras.
Pras yang penasaran, kini mencoba menatap ke arah kaca, yang ternyata ada Ardi yang berdiri di dekat Haikal.
"Pantas saja Alya tak mendengar panggilanku, ternyata dia tengah menatap Ardi." Gumam hati Pras. lelaki itu terlihat sangat kesal, melihat kekasihnya menatap Ardi dari kejauhan.
Saya ingin sekali Pras memarahi Alya pada saat itu, akan tetapi itu tidak mungkin. Pras takut malah membuat Alya menangis, dan membuat orang-orang yang berada di pemakaman bertanya-tanya.
Pras berusaha sabar menghadapi Alya yang memang ia tahu bahwa kekasihnya itu masih mencintai Ardi, lelaki di masa lalunya yang tak pernah Alya lupakan.
"Alya."
Alya terlihat bahagia dan tersenyum senyum di dalam mobil saat menatap Ardi dari kejauhan, pandangannya seakan tak ingin lepas, Iya ingin selalu menatap Ardi walaupun dalam kejauhan sekalipun.
"Ardi, apa kamu merasakan kedatangaku. Asal kamu tahu rasa takutku hilang perlahan, hanya dengan melihatmu dari kejauhan," ucap Alya tanpa sadar di sampingnya ada Pras.
__ADS_1
Pras tentulah mendengar apa yang dikatakan Alya di samping dirinya, membuat dirinya seketika emosi. Pras berusaha menahan amarahnya dengan mengepalkan kedua tangan.
Rasanya Pras ingin sekali memukul mulut Alya yang asal bicara di dekatnya.
Pras tak jauh berbeda dengan Burhan, ketika emosi, mereka selalu melayangkan sebuah pukulan. Walaupun Pras masih bisa menahannya. akan tetapi jika amarahnya sudah memucak. Pras bisa saja hilang kendali. Dan menghabisi nyawa orang yang membuatnya kesal.
"Alya."
Alya menutup mulutnya seketika, ia sadar akan apa yang ia katakan. Kedua mata Alya melirik ke arah Pras yang berada di sampinya.
Pras tersenyum lebar tak menampilkan, kekesalanya.
"Pras, kamu memanggil namaku."
"Ya. Aku berulang kali memanggil namamu, tapi kamu begitu mengabaikan panggilanku dari tadi."
"Ya ampun, bagaimana ini. Pras pasti marah dengan ucapan yang tak sengaja aku ucapkan tadi untuk Ardi." Gumam hati Alya.
"Alya, aku kita ke luar dari mobil. Sepertinya acara pemakamanya sudah di mulai."
"Mm, iya. Ayo."
Alya tentulah sedikit gugup dan merasa tak enak hati pada Pras. Yang terlihat sedikit berbeda.
mereka berdua kini membuka pintu mobil untuk segera turun dari mobil, sedangkan Alya yang turun dari mobil sedikit ragu. karena melihat Prans yang dari tadi diam saja.
"Pras, tunggu aku."
Alya kini memegang tangan Pras, yang di mana pas tetap saja diam.
"Pras sepertinya marah kepadaku. Tatapan mata nya begitu dingin." Gumam hati Alya.
Pras yang melihat tangan Alya memegang tanganya hanya berucap dalam hati," aku tahu apa yang kamu pikirkan sekarang Alya. Kamu pasti sedikit takut dengan ke marahanku, maka dari itu kamu memegang tanganku."
"Pras, ayo jalan."
Seketika lamunan Pras membuyar, saat Alya berucap padanya.
"Alya, sekarang aku maafkan kamu. Tapi lain kali aku akan menghukummu." Ucap tegas Pras.
Deg ....
perasaan Alya seakan tak karuan, saat Pras berkata seperti itu padanya. Membuat Alya menelan ludah.
__ADS_1
" Benar apa dugaanku, ternyata Pras bukan lelaki sembarangan. Bagaimanapun aku harus berhati-hati, jika aku salah lagi berucap. Mungkin Prans bisa melakukan hal yang di luar dari yang aku pikirkan kepadaku." gumam hati Alyam