
Lelaki tua itu langsung meminum kopi buatan istrinya.
"Aku berangkat ya." ucap Pak Anton. Mulai menyodorkan tanganya pada sang istri.
Sedangkan Maya hanya diam, membuat Pak Anton menunggu.
"Heh."
Ardi datang melihat mereka berdua, yang di mana Bu Maya langsung mengambil tangan lelaki tua itu.
"Kalau bukan karna Ardi, malas sekali aku melakukan hal seperti ini pada lelaki tua ini." Gerutu Bu Maya mencium punggung tangan sang suami.
Pak Anton tersenyum dan berbisik pada hatinya," Mm, untungnya membuat perjanjian dengan Maya."
Maya mendelik kesal mengerutu lagi pada hatinya," Hah. Dasar tua bangka ini, keenakan sekali."
Pak Anton kini meraih wajah Maya, mencium keningnya seketika. Ardi baru pertama kali melihat pemandangan itu. pemandangan yang tak bisa begitu indah.
Ardi rindu akan pemandangan yang menyejukkan hatinya, dimana kedua orang tuanya akur. entah apa yang menimpa kedua orang tua Ardi sampai Ardi melihat kedua orang tua nya begitu harmonis.
"Jangan terlalu lebay, kamu. Ini kan hanya sandiwara, saja," bisik Maya.
Pak Anton tak mempedulikan semua itu, ia hanya memperlakukan istrinya dengan begitu baik.
saat itulah Pak Anton mulai mengajak Ardi untuk berangkat bersama dengannya, sedangkan Maya menatap ke arah mereka berdua yang sudah berangkat bekerja.
setelah mobil mereka yang sudah melaju menjauh dari hadapan Maya, saat itu juga Maya mulai masuk ke dalam rumah. Dia memegang jidatnya sendiri, ada rasa hal yang berbeda pada hatinya. entah rasa apa itu? tiba-tiba saja membuat bibir Maya melebar perlahan menampilkan sebuah senyuman.
"Aku mikir apa sih, hah. Itukan hanya sandiwara."
Maya sempat lupa, hari ini hari dimana Maya akan mengikuti suaminya yang akan bertemu dengan sosok seorang wanita. Yang bernama Sisil.
__ADS_1
Maya ingin memastikan jika wanita bernama Sisil itu bukanlah wanita yang akan ia jodohkan dengan anaknya sendiri.
wanita tua itu dengan terburu-buru masuk ke dalam kamar mengambil tas, yang menaiki mobil melaju mengikuti mobil Pak Anton.
@@@@
Sedangkan di dalam mobil, Ardi memulai percakapan bersama ayahnya. Iya bertanya kepada sang ayah yang tengah mengendarai mobil.
" tumben ayah bisa mesra bersama ibu, biasanya kalian berdebat dan bertengkar. dan selalu membahas perceraian?" tanya Ardi kepada ayahnya.
Pak Anton tersenyum saat Ardi bertanya membuat ia langsung membalas pertanyaan anaknya sendiri!" kok kamu malah ngomong begitu si Ardi, Harusnya kamu senang dong ayah dan ibu sudah harmonis lagi seperti dulu. Ya setelah dipikir-pikir secara matang berdua, kami memutuskan untuk Rujuk Kembali."
Ardi seakan tak percaya dengan jawaban ayahnya sendiri, ia mulai berucap dengan lantangnya di dalam mobil," Apa kalian tidak membuat sandiwara konyol, supaya aku bahagia."
sang ayah menatap kearah anaknya, tersenyum kecil dan berkata," tak ada kerjaan aja. membuat sandiwara di dalam rumah. Memangnya keluarga kita itu sinetron?!"
"Ya, enggak gitu juga kali. Hanya saja ...."
belum perkataan Ardi terlontar semuanya, sang ayah langsung Memotong pembicaraan anaknya," hanya saja apa? sudahlah sekarang kamu fokus pada pekerjaan dan pernikahanmu yang sudah mulai mendekati. urusan ayah dan ibu biar kami yang mengurus diri kami masing-masing. yang terpenting sekarang ayah dan ibu bisa kembali seperti dulu."
setelah sampai di kantor. sang ayah tak turun dari mobil. membuat Ardi langsung bertanya?" kenapa ayah tak turun dari mobil."
"Oh, ya. ayah ada urusan penting, jadi ayah serahkan urusan kantor kepada kamu ya Ardi." ucap sang ayah.
"Hah, mulai lagi," balas Ardi.
"Heh, kamu kok gak bersemangat begitu si Ardi. ayah kan sudah tua jadi yang seharusnya mengelola perusahaan Itu kamu sepenuhnya, Jadi kalau Ayah mau kemana-mana tak usah lah ayah bilang seperti ini," ucap sang ayah.
Ardi mengeluarkan nafas secara perlahan," ya. terserah ayah."
Ardi mulai menutup pintu mobil, ya berjalan menuju kantor. sedangkan sang ayah tersenyum kecil. ia mulai menjalankan mobilnya kembali.
__ADS_1
lelaki tua itu langsung merogok bajunya, mencari ponsel yang selalu ia andalkan. tangannya mulai mengetik pesan untuk ya Kirim kepada Sisil.
(Sayang, sebentar lagi aku sampai.)
pesan pun terkirim, Sisil yang sudah menunggu dari tadi sangatlah senang. akhirnya dia bisa bertemu dengan pak Anton, dimana dia akan meminta sebuah apartemen.
"Yes akhirnya aku akan bertemu dengan Pak Anton." Ucap Sisil.
Pak Anton tak menyadari jika mobilnya diikuti oleh sang istri dari arah belakang, ya begitu fokus dan senang Tak sabar ingin bertemu dengan gadis yang iya sukai.
Bu Maya yang mengikuti Pak Anton, berusaha agar mobilnya tidak dikenali oleh suaminya sendiri.
setelah sampai di tempat tujuan, saat itulah Pak Anton mulai memberhentikan mobilnya. di sebuah Cafe. sedangkan Bu Maya sedikit menjauh dari mobil Pak Anton. Iya takut jika Pak Anton menyadari dirinya sudah mengikutinya dari tadi.
"Aku harus berhati-hati, kalau lelaki tua itu menyadari keberadaan ku. tidak bisa tahu wanita yang bernama Sisil itu." ucap Bu Maya turun dari mobil secara perlahan.
Bu Maya melihat suaminya masuk ke dalam Cafe, yang di mana suaminya itu ternyata tengah bertemu dengan sosok wanita.
Pak Anton dengan wanita itu saling berpelukan, membuat Bu Maya merasakan rasa cemburu. padahal Bu Maya sudah berusaha melupakan suaminya dari dulu. tapi hatinya tidak bisa dibohongi, ia masih merasakan rasa cemburu dan juga tak ingin melihat suaminya dengan wanita lain.
langkah kaki Bu Maya kini semakin mendekat, hingga Di mana salah satu pelayanan menabraknya. membuat Bu Maya tersungkur jatuh ke atas lantai, Bu Maya mulai bangkit meraih buku menu makanan, agar bisa menutupi wajahnya.
Bu Maya tak mau jika suaminya sampai tahu bahwa dirinya mengikutinya sampai ke cafe, dengan Sigap Bu maya berdiri dengan menutupi wajahnya.
pelayan itu langsung bertanya kepada Bu Maya, dan meminta maaf akan keteledorannya.
Bu Maya hanya tersenyum, dan berucap kepada pelayan itu." sudah lupakan aku sudah memaafkanmu, sekarang Tolong carikan aku tempat duduk. Aku ingin memesan menu makanan di Cafe ini."
pelayan itu merasa tenang, saat wanita yang ia tabrak memaafkannya. pelayan itu langsung menunjukkan kursi yang tak jauh dari kursi Pak Anton.
Bu Maya Tak jelas melihat wanita itu, karena yang terlihat dari kedua matanya hanyalah punggung wanita itu saja.
__ADS_1
wanita tua itu sangatlah penasaran dengan wanita yang tengah ditemui oleh Pak Anton, ia ingin sekali melihat wajahnya.
" Kapan sih wanita itu membalikkan wajahnya, agar aku tahu siapa sebenarnya sosok yang telah bertemu dengan suamiku. kalau aku tahu wanita itu adalah Sisil yang akan aku jodohkan untuk Ardi. Awas saja aku akan memberi perhitungan kepada Sisil setelah Sisil bertemu dengan suamiku." gerutu Bu Maya.