
Setelah mendengar penjelasan yang diceritakan oleh Ardi, kedua mata Ferdi membulat, Ia begitu kaget dengan apa yang terjadi dengan Ardi. Masalah bertubi tubi tanpa ia tahu.
Karna semenjak Ferdi berada di luar negri, ia tak pernah mengabari Ardi atau Pras. Karna dirinya yang begitu sibuk, hingga tak tahu masalah yang dihadapi kedua sahabatnya itu.
"Gue enggak tahu jika masalah lu serumit ini dengan Ardi," ucap Ferdi. Melihat sahabatnya dengan jidatnya yang menyadar pada kedua telapak tangan.
"Lu, enggak usah pikirin masalah gue. Karna memang masalah yang gue hadapi benar benar rumit, apalagi Om gue sendiri Pras," balas Ardi. Mengangkat kepalanya, menatap ke arah Ferdi.
"Sekarang apa rencana, lu. Karna asal lu tahu, Alya sekarang mengalami depresi berat, tubuhnya begitu banyak bekas luka cambukan. Membuat aku heran Siapa yang tega melakukan semua itu terhadap, Alya?" tanya Ferdi.
Ardi menatap wajah Ferdi dalam dalam, ia tak mengerti dengan perkataan Ferdi Kenapa Alya bisa mengalami depresi yang sangat berat, apa jangan-jangan semua ini karena ulah omnya sendiri.
" Tadi kamu bilang Alya depresi?" tanya Ardi. Ferdi menjawab pertanyaan sahabatnya itu," iya saat ia pulang ke rumah, banyak sekali bekas sayatan pisau pada tangan dan juga badannya. Entah siapa penyebab dari semua itu aku benar-benar tak mengerti."
setelah mendengar cerita dari Ferdi Ardi ingin sekali bertemu dengan Alya ia merasa menyesal karena gagal menyelamatkan gadis yang dulu pernah menjadi kekasihnya.
"Aku ingin sekali bertemu dengan Alya, apa kamu boleh mengantarkanku ke sana?" Ardi mengungkapkan keinginanya pada Ferdi.
Ferdi mengganggukan kepala saat itulah mereka mulai bergegas berangkat untuk menemui Alya.
Haikal hanya mengikuti Ardi, kemana pun Ardi pergi, ia kini diperkenalkan Ardi pada Ferdi.
" Oh! ya gue lupa. Kal, perkenalkan dia Ferdi sahabat gue yang baru saja pulang dari luar negri."
Ferdi dan Haikal bersalaman. Dimana Haikal juga ikut serta untuk menemui Alya.
Di dalam perjalanan menuju ke rumah Alya.
Dorrr ....
Suara tembakan kini mengenai kaca mobil Ferdi, membuat ketiga lelaki itu tentulah kaget, karena mendapatkan serangan yang tiba-tiba.
Dorr ....
Tembakan itu langsung mengenai ban mobil, mobil itu hampir saja tak terkendali. Ferdi dengan sigap mengambil pistol yang berada pada saku celananya. Iya sudah menduga jika di dalam perjalanan akan menemui berbagai macam bahaya.
__ADS_1
"kalian harus hati-hati sepertinya ada yang sengaja menyerang kita," teriak Ferdi pada Haikal dan juga Ardi.
"sepertinya anak buah Frans." ucap Ardi, sesekali membukukan kepala. karena tembakan peluru itu terus saja mengenai kaca mobil Ferdi.
Ferdi dengan keahliannya mengendarai mobil, berusaha menghindar, dengan mengendarai mobil berkecepatan tinggi. Ya berusaha menyelamatkan diri dan juga kedua sahabatnya.
"0Ardi cepat kamu ambil pistol yang berada di bawah jok mobil," teriak Ferdi pada Ardi, dengan sigapnya Ardi langsung mencari keberadaan pistol itu, hingga akhirnya pistol itu ditemukan.
Ardi menemukan tiga pistol dalam jok mobil Ferdi, ia memberikan satu pistol pada Haikal.
Ferdi kini menyuruh Haikal untuk mengambil pistol yang berada di tangan Ferdi.
Satu orang masing masing memegang dua pistol. "Apa kamu bisa memakai benda ini?" Pertanyaan Ferdi membuat Ardi sedikit ragu. Karna baru pertama kali ia memegang yang namanya pistol, dirinya tak pernah bermain dengan benda yang bisa membunuh seseorang.
Ardi menyengol, bahu Haikal, membuat lamunan Haijal membuyat." Entahlah aku baru kali ini memegang benda ini,"
Ardi membalikan wajah ke arah Haikal," tenang setelah kamu memegang pistol itu, tangan kamu akan bisa mengendalikannya."
Haikal mengerutkan dahi dan berkata." mungkin, bagaimana jika hanya coba coba saja."
"Apa kalian sudah siap?" tanya Ferdi. Di saat Haikal dan Ardi memesangkan peluru pada pinstol yang mereka pegang.
"Tentu!" jawab kekompakan Ardi dan juga Haikal.
Ardi dan Haikal membayangkan dimana diri mereka tengah bermain game, tembak tembakan tanpa rasa takut sedikit pun.
"Aku pasti bisa." Gumam hati Haikal,
Pada saat itulah, kaca mobil dibuka. Ardi dan juga Ferdi mulai menjalankan aksi tembak dari kedua pistol mereka masing masing.
Melayangkan tembakan, pada orang-orang yang sengaja menembak mobil Ferdi dan.
"Tembak." Teriak Ferdi.
dor dor dor dor
__ADS_1
Beberapa kali tembakan dilayangkan oleh Ardi dan juga Haikal membuat lawan seketika tertembak dan mati di tempat.
Tembakan para suruhan kini terhenti, setelah Ardi dan Haikal melayangkan tembakan yang memuaskan membuat Ferdi merasa senang dengan semua itu, hingga berkata." kalian benar-benar hebat."
perasaan lega kini dirasakan oleh Ardi dan juga Ferdi begitupun dengan Haikal, tidak ada yang menyangka jika kedua orang yang berada di belakang Ferdi begitu pintar memainkan kedua pistol membuat suruhan keras yang begitu banyak mati seketika.
karena keyakinan diri mereka pada akhirnya membuahkan hasil yang sangat bagus.
"Gue enggak nyangka sekali, temen lu namanya Haikal itu hebat, dalam mematikan seseorang dengan pistol yang dipegangnya." Ucapan Ferdi. Membuat tawa menggema.
Mereka seakan menikmati perjalanan menuju rumah Alya, Dimana Ardi membalas ucapan sahabatnya Ardi." ya apapun bisa dilakukan, ketika tengah kepepet, dan hampir mati. Yang tadinya enggak bisa nembak, malah lihai menembak, benar enggak Haikal."
Ardi menepuk bahu Haikal, membuat lamunan Haikal membuyar kembali.
" Haikal juga tak menyangka dengan apa yang sudah ia lakukan, sangatlah membuahkan hasil yang begitu luar biasa. Padahal tangannya itu bergetar setelah menembak beberapa orang yang hampir mencelakai dirinya."
Sedangkan dengan Ferdi, lelaki bergelar dokter itu, sudah biasa dengan semua ini. Ia pasti selalu membawa pistol kemana-mana dan lagi hatinya sudah merasakan, bagaimana dikejar oleh orang jahat saat di luar negeri.
Maka dari itu, Ferdi mempelajari beberapa ilmu bela diri, agar bisa melawan orang-orang yang berbuat jahat kepada dirinya.
"Haikal, dijamin kalau lu berteman dengan si Ferdi ini, lu bakal hebat bela diri deh. Yakin. Ni menurut gue," ucap Ardi. Kepada Haikal, sesekali menyindir sahabatnya itu.
Ferdi tertawa terbahak bahak," benar, kalau lu mau gue ajarin, gue bisa lah pastinya."
Ardi melirik ke arah Haikal," Bahhhhhhaaaa."
Tawa persahabatan memang menyenangkan, apalagi Ardi yang hanya anak desa. Beruntung bisa bersahabat dengan anak kota dan orang kaya,
Karna banyak ilmu dari bisnis dan juga pertahanan diri dari Ardi dan kini membuat wawasan Haikal semakin lebih bayak.
Tak terasa perjalanan begitu sangat melelahkan, mobil benar-benar tak seimbang. Saat itulah Ferdi mulai memberhentikan mobilnya ke arah bengkel kecil, ia berharap setelah mobilnya diperbaiki tidak akan ada lagi halangan apapun.
Setelah beres mengganti ban mobil, Ferdi, Ardi dan juga Haikal mulai melanjutkan perjalanan mereka untuk segera menemui Alya.
Sedangkan Haikal dan juga Ardi terus Waspada. Mereka takut jika seseorang mengikuti mobil mereka. Maka dari itu mereka harus sedikit Waspada, jika nanti ada yang menyerang mereka secara tiba-tiba seperti tadi.
__ADS_1