
Kotak kardus yang terlihat biasa tapi membuat penasaran Dinda, "Sini biar kakak buka isinya," ucap Dinda mengambil kotak kardus itu dari tangan adiknya.
"Kayanya orang yang ngefans sama kakak," balas sang adik sembari tersenyum genit pada sang kakak.
"Apaan sih kamu Lina, mana ada orang yang ngefans sama kakak. Kakak kan udah nikah, kamu ini ngaco," ucap sang kakak.
Dinda mulai membuka kotak kardus yang kini berada di genggaman tangannya. Perlahan kardus itu dibuka, ternyata isi di dalamnya terdapat sebuah cincin dan juga bunga mawar.
"Wah, cincin. Pasti Kak Haikal yang kasih ini untuk kakak," ucap Lina tampaklah terkejut dengan apa yang ia lihat.
"Mana ada sih, Haikal kasih beginian sama kakak," balas Dinda. Tampak tak percaya.
" Ya siapa tahu itu surprise untuk kakak dari ke Haikal," ucap Lina. Memberi selamat pada sang kakak.
Namun tetap saja Dinda masih ragu, ia mulai berjalan ke arah tong sampah dan membuang kotak itu.
"Loh, kak. Kenapa di buang?" tanya sang adik. Menghentikan sang kakak yang akan membuang kotak kardus itu.
"Kakak nggak yakin kalau kotak ini pemberian dari Haikal, Kakak takut jika ada orang yang berusaha jahil!" jawab sang kakak. Perlahan kotak itu terbuang begitu saja.
"Ya, tapi sayang lah kak," ucap Lina. Menyayangkan cincin dan bunga itu.
Tak ....
Suara yang tiba tiba terdengar oleh telinga Dinda membuat Dinda kaget bukan kepalang," Suara apa itu?"
kedua mata Dinda lekat menatap kesana-kemari mencari keberadaan suara yang baru ia dengar.
"Suara motor kali," ucap Lina. Bersikap santai.
suara yang tak asing yang pernah Dinda dengar, membuat Dinda sedikit bergidik ngeri, wanita itu langsung menarik tangan adiknya untuk masuk ke dalam rumah.
"Eh, kak. Kita mau ke mana?" tanya Lina.
Dinda langsung menarik paksa tanggal Lina, hatinya merasa tak karuan. seakan ada sesuatu yang akan terjadi.
"Kak, sakit. pelan pelan lah. Pake acara narik tangan aku." Gerutu Lina.
setelah sampai di dalam rumah, saat itulah jari tangan Dinda mulai ia tempelkan pada bibirnya. Berharap sang adik tidak terus berbicara.
"Ada apa sih kak?" tanya Lina.
Dinda perlahan berjalan, wanita itu menutup gorden. ada rasa takut yang terus menyelimuti hatinya. " Kenapa hatiku tak enak begini?" Gumam hati Dinda.
__ADS_1
"Kak kenapa?" tanya Lina.
Tok .... tok ....
ketukan pintu terdengar kembali, membuat langsung menghampiri pintu depan rumahnya. sedangkan sang kakak menyuruh Lina untuk diam tak membuka pintu rumah.
"Kamu jangan buka pintu," ucap Dinda.
Lina merasa heran dengan tingkah kakaknya yang berbeda dari sebelumnya, " kenapa kak."
"Turuti, apa perkataan kakak." Tegas Dinda.
Lina yang tak tahu dengan apa yang dirasakan katanya, hanya bisa menurut.
Tok .... tok ....
ketukan pintu itu terdengar kembali, Dinda perlahan mengintip pada balik gorden, dan benar saja ia melihat sosok seseorang yang meletakkan kotak kardus di depan rumahnya. sosok orang itu memakai baju berwarna hitam wajahnya memakai masker yang terlihat begitu menyeramkan.
"Lihat kak, ada orang aneh." ucap Lina. sedangkan Dinda langsung membekap mulut adiknya itu agar tidak berisik.
"Kamu jangan berisik Lina."
Lina menganggukkan kepala saat mulutnya dibekam oleh tangan sang kakak, hingga beberapa menit kemudian ketukan pintu itu terdengar kembali. yang ternyata suara Haikal terdengar memanggil-manggil nama istrinya.
setelah mendengar suara Haikal, Dinda kini melepaskan tangannya dari bibir Lina. wanita itu langsung menghampiri pintu rumah.
membuka pintu rumah," sayang. Kenapa lama sekali buka pintunya," ucap Haikal.
Dinda menatap ke sana ke mari, mencari keberadaan orang yang memakai jubah hitam. Hatinya tak karuan, Haikal yang terus bertanya kepada Dinda seakan terabaikan.
"Dinda, hey. Kamu ini kenapa?" tanya Haikal.
Dinda tak menjawab perkataan suaminya, Iya kini mendekat ke arah tong sampah melihat kotak kardus yang berada di dalam Tong sampah itu.
"Kamu cari apa?" tanya Haikal.
"Aku cari kotak!" jawab Dinda.
"Kotak apa?" tanya Haikal.
melihat wajah Dinda begitu panik, lina langsung keluar menjelaskan semuanya kepada sang kakak." Tadi itu ada yang ngirim kotak kardu, berisi bunga dan juga cincin. Lina kira itu surprise dari ke Haikal, tapi nyatanya. Tadi ada orang yang sengaja mengetuk pintu. Dan meletakkan kardus itu di depan pintu."
"Sekarang orang itu ke mana?" tanya Haikal.
__ADS_1
Lina mengangkat kedua bahunya, ya tak tahu lelaki berjubah hitam itu lari kemana. karena mereka berdua langsung berlari ke arah kamar dan menyebunyikan diri.
Haikal kini memegang kedua bahu sang istri, menenangkan setiap ketakutan yang berada pada istrinya itu." ayo Dinda sebaiknya kita masuk ke dalam kamar."
pada akhirnya Dinda mau menuruti apa perkataan suaminya, Dinda dan yang lainnya berjalan masuk ke dalam rumah.
"Kamu jangan takut, kan ada aku dan Lina." Ucap Haikal.
kedua mata Dinda terlihat berkaca-kaca, Haikal mulai menyadari kedua matanya istrinya itu. dengan Sigap tangannya langsung mengusap pelan air mata yang hampir saja jatuh mengenai pipi sang istri.
Haikal memeluk sang istri menenangkan semua keresahan yang dirasakan istrinya itu, sedangkan Lina hanya berdiri mematung melihat pemandangan yang begitu menyakitkan pada hatinya.
"Tenang Lina, tenang. Jangan sampai hatimu ini terluka dan sakit." Gumam Lina dalam hati.
Tok ... tok ...
suara pintu depan rumah terdengar lagi diketuk, Dinda tiba-tiba saja panik ketakutan. " Suara pintu di ketuk lagi mas, aku takut orang yang memakai jubah hitam itu kembali lagi."
Haikal mengusap pelan kepala istrinya," kamu harus tenang, diam dulu di sini biar aku yang membuka pintu depan rumah."
"Tapi, mas?"
"Sudah, jangan takut!"
Kini Lina mulai menemani kakaknya, yang terlihat ketakutan. Lina duduk di samping kiri sang kakak dan berkata," Kakak jangan takut ya di sini ada Lina kok yang akan menemani kakak."
Dinda kini menyenderkan kepalanya pada dada Dinda, berusaha bersikap tenang dan tidak memikirkan hal-hal yang membuat dirinya ketakutan.
saat itulah Haikal mulai membuka pintu depan rumah.
"Hey, Haikal. Hehe, Lina ya. Ada?" tanya Ardi, Haikal mengira orang yang mengetuk pintu itu adalah orang yang diceritakan istrinya.
"Masuk, Lina ada di dalam!" jawab Haikal. mempersilahkan Ardi untuk masuk ke dalam rumah menemui Lina.
"Ardi, kamu datang?" tanya Lina.
Ardi tersenyum saat melihat Lina bertanya padanya.
"Ya, aku mau ngajak kamu jalan. Oh ya. Kenapa dengan kak Dinda kok terlihat ketakutan begitu?" tanya Ardi yang di mana Dinda masih menyenderkan kepalanya pada dada Lina.
Haikal tak menceritakan semua yang terjadi, ia malah mengajak istrinya untuk beristirahat.
"Dinda ayo kita pergi ke kamar, Lina ada urusan dengan Ardi." Ucap Haikal, membopong tubuh Dinda yang terlihat lemas.
__ADS_1