
Sedangkan di rumah sakit.
Hans yang baru saja bertemu dengan teman masa kecilnya, yang tak lain ialah Dinda. wanita yang selalu menemani hari-hari bermain di waktu kecil. Membuat ia merasa kecewa. Akan Dinda yang sudah menikah.
"Dinda, kapan aku bisa mengungkapkan isi hatiku. Sedangkan sekarang kamu sudah mempunyai seorang suami dan sebentar lagi akan mempunyai seorang anak."
Hans, memijit kepalanya. Memikirkan niatnya yang berencana untuk menikahi Dinda. Namun kenyataanya saat berpisah di kelulusan sekolah dengan Dinda, Dinda malah pergi berasama orang tuanya.
"Kenapa aku masih memikirkan Dinda, seharusnya aku berusaha ikhlas dengan semuanya." Guman hati Hans.
Permisi.
Suara seorang wanita datang.
Hans melihat sosok wanita itu ialah Dinda, wanita yang selalu ia kagumi dari dulu.
"Dinda, kamu datang lagi."
wanita itu tersenyum menatap kearah Hans, membuat Hans tersenyum balik.
"Dinda."
Namun, seketika, wanita itu melambai lambaikan tangannya di dekat wajah Hans.
"Maaf pak."
Lamunan Hans dan bayangannya seketika membunyar, wajah Dinda seketika hilang menjadi wajah suster di rumah sakit itu.
"Bapak, kenapa?"
Hans mengusap kasar wajahnya dan berkata," maaf sus."
Suster itu langsung memberikan, satu lembar kertas untuk di tanda tangani Hans.
"Ini dok, saya mau mengantarkan ini."
Hans langsung menandatangani lembaran kertas, dan mengembalikannya kembali ke suster.
"Kenapa dengan pikiranku ini," Gumam hati Hans.
@@@@@
Pagi hari, awal yang sangat cerah, Haikal memanjakan kembali sang istri. Ia merasa bersalah, karna kemarin membuat hati istrinya terluka dengan semua perkataanya.
Sedangkan dengan Lina, ia hanya menatap kesal dengan kemanjaan Haikal untuk istrinya.
"Pemandangan yang membuat hidupku, seakan tak berguna." Gerutu hati Lina.
setelah kepergian Haikal, untuk bekerja ke kantor. Saat itu juga Lina mendekat ke arah sang kakak.
__ADS_1
"Bahagianya di manjakan suami," sindir Lina. Yang tak suka dengan kakaknya sendiri.
"Kamu ini kenapa, Lina? Harusnya kamu itu senang melihat kakak bahagia. Kenapa kamu malah berkata seakan ada rasa iri di hatimu," ucap sang kakak kepada adiknya sendiri.
"Iri, aku Iri sama kakak. Mana mungkin," cetus Lina. Tak ingin kalah dengan kakaknya sendiri.
Dinda mengusap pelan dadanya.
"Kakak heran dengan perubahan sifat kamu yang menjadikan dirimu seakan kesal selalu kepada kakak. Apa kamu menyukai Mas Haikal?"
Pertanyaan Dinda membuat Lina tersenyum tipis.
"Jawab Lina. Kenapa kamu malah diam saja," tekan Dinda kepada sang adik.
"Kalau ia! kenapa?" ungkap Lina. Membuat Dinda membulatkan kedua matanya.
"Kamu ini gila, Lina. Mas Haikal itu ...."
Belum perkataan Dinda terlontar semuanya, Lina langsung menghentikan ucapan kakaknya.
"Sudahlah Kak, berikan aku kesempatan untuk bisa bersama Mas Haikal juga. Aku menyukainya saat perhatian Mas Haikal selalu ada untukku."
Plakk ....
Dinda menampar pipi kiri Adiknya sendiri, menunjuk ke arah wajah Lina." Hentikan Lina. Keinginan kamu itu hanya nafsu, jangan sampai membuat kamu buta dan menghancurkan rumah tangga kakak."
"Aku tidak akan menghancurkan rumah tangga kakak kok. Kakak tenang saja, Aku hanya ingin Kakak berbagi suami kakak denganku."
"Lina, kakak tidak ingin berbagi suami denganmu. Kamu ini belum saatnya untuk menikah dan juga kamu ini masih gadis. Masih banyak lelaki yang mau kepada kamu, tapi kenapa? Kamu malah mengiginkan Mas Haikal."
"Sudah cukup kak, ini masalah hati. Tidak peduli siapa itu laki lakinya. Yang terpenting aku nyaman bersamanya."
Deg ....
saat Lina bertumbuh dewasa, iya menjadi wanita yang sangat keras kepala. tak peduli dengan perasaan kakaknya, yang terpenting hidupnya bahagia dan bisa memiliki apa yang ia inginkan.
"Coba pikirkan lagi, perkataanmu itu. Lina. Jangan sampai apa yang kamu inginkan membuat hati kakak terluka," ucap pelan Dinda dengan penuh air mata.
Tidak ada sang kakak yang tega melukai hati adiknya, sekali pun terluka lebih baik dirinya saja.
"Aku sudah memikirkan baik baik. Kak. Tinggal kakak saja, apa kakak setuju dengan ke inginanku. Apa kakak mau berbagi suami denganku."
"Maaf Lina. Kakak Tidak mau."
Lina semakin mendekat ke arah wajah kakaknya dan berkata," baik jika kakak tidak, mau berbagi. Aku akan mendekati Kak Haikal dengan caraku sendiri."
"Jangan sekali kali kamu Lina, atau kakak akan ...."
Belum perkataan Dinda terlontar kembali, Lina berucap," atau kakak apa?"
__ADS_1
" Kakak akan mengusir kamu dari rumah ini," ancam Dinda. Membuat Lina tertawa dan berkata." usir saja. Jika kak Haikal tahu. Aku di usir kakak. Apa tangapan dia. ya."
"Kakak akan memberitahu Mas Haikal," ucap tegas Dinda.
"Apa Kak Haikal akan percaya dengan perkataan istrinya ini," balas Lina.
"Cukup. Suami mana yang tak akan percaya dengan perkataan istrinya." kecam Dinda.
"Baik kalau begitu, kita buktikan nanti." balas Lina.
Ia bergegas pergi meninggalkan kakaknya.
Berjalan dengan begitu bangganya, tak peduli jika perkataanya menyakiti hati sang kakak. Karna ke egoisan dan keinginannya. Membuat hatinya buta.
Di tengah kepergian, Lina. yang sudah berjalan ke kamar. Dinda mulai duduk perlahan, merasakan perasaan yang begitu tak karuan. Akan perkataan yang terlontar dari mulut sang adik.
"Ya tuhan, apa yang terjadi dengan adikku sendiri. Kenapa dia menjadi wanita pembangkang seperti itu. Ke mana sifat lembut adikku."
Tok .... tok ....
Ketukan pintu terdengar jelas dari depan rumah.
Dinda mengusap air matanya, berjalan melihat siapa yang tiba tiba datang di siang hari begini.
"Siapa?"
Bertapa kagetnya Dinda saat itu, Hans datang.
"Hans, kamu," ucap Dinda kaget melihat Hans datang ke rumah.
"Dinda, maaf. Apa aku ganggu," balas Hans. Terlihat gugup saat berhadapan dengan Dinda.
"Kamu tahu alamat rumahku dari mana?" tanya Dinda. Heran untuk apa Hans jauh jauh dari rumah sakit datang ke rumahnya.
"Maafkan aku sebelumnya Dinda, aku mendadak datang ke sini. Hanya untuk memberikan ini kepadamu!" jawab Hans. Menyodorkan sebuah keresek kecil yang ternyata berisi obat.
"Obat, bukanya obat yang tadi sudah kamu beri padaku?" tanya Dinda.
"Ya, memang betul. Tapi ini obat agar badanmu vit, aku lupa jadi aku sekalian datang ke sini. Mencari alamatmu di ruangan pendaftaran!" jawab Hans
"Terima kasih, Hans. Oh ya, ayo masuk dulu," ajak Dinda pada Hans.
Hans ingin sekali, berlama lama dengan Dinda, tapi ia ragu akan Dinda yang sudah bersuami. Hans takut jika ia berlama lama, suami Dinda akan marah dan salah paham kepadanya.
"Sudah tak usah Dinda, aku masih banyak kerjaan. Jadi sehat sehat." Ucap Hans. Bergegas pergi dari hadapan Dinda.
"Oh ya sudah kalau begitu, sekali lagi terima kasih. Hans," balas Dinda.
"Ya."
__ADS_1
Kedua pipi Hans memerah, melihat senyuman Dinda yang begitu manis.
Membuat ia terburu buru menaiki mobil.