
"Eleh, si Teteh ini ngomongnya ngelantur aja, sudah tahu kan Bu Nunik itu udah punya suami. Masa Rojak suka sama dia, mau tak digorok nih nanti sama suaminya." Gerutu Rojak pada sang kakak.
Sari mencoba menahan tawa, dengan menutup mulutnya, ia langsung menyuruh Rojak untuk masuk ke dalam rumah mengenalkan calon suami Nining kepada Rojak.
"Ayo masuk ke dalam. Aku ingin mengenalkan calon menantuku yang tampan. kepada kamu."
"Calon menantu? Berarti si Nining mau nikah dong?"
Nining yang mendengar Rojak berkata seperti itu dengan bercandanya berkata," Iyalah Nining kan bentar lagi mau nikah, Dari pada mamang belum nikah-nikah jadinya kan bujang tua."
Sindiran Nining membuat Rojak memegang dadanya, "Aduh Neng tega banget Neng bilang mamang bujang tua." Rojak berpura-pura menangis di depan Nining membuat Nining tertawa terbahak-bahak melihat tingkahnya.
Sari menepuk bahu adiknya dan berkata," sudahlah kalau memang udah tua ya udah tua, kalau nggak laku ya udah nggak laku."
Rojak kini menatap sayu ke arah sang kakak dan berkata," ini anak sama emaknya sama-sama aja keterlaluan."
Ardi masih terpaku, melihat tawa Nining yang terlihat bercahaya. Membuat hati Ardi tiba tiba merasakan rasa tak biasa, padahal sudah dua kali ia jatuh cinta. Tapi saat menatap Nining ada kesan rasa yang berbeda.
Haikal melihat sang sahabat, tersenyum senyum sendiri, di kala menatap keponakanya yang tertawa lepas, gadis desa murni tanpa tersentuh laki laki.
Haikal yang memang usil langsung berkata," alah. Ada yang lagi ke semsem."
Ardi kini menatap ke arah, Haikal dan memukul jidatnya dengan telunjuk tangan," so tahu, lu."
Lelaki berbola mata coklat kini tertawa dengan riangnya, ia begitu senang. Melihat Ardi berbeda dari kemarin kemarin. Ardi terlihat bersemangat.
Nining menatap ke arah Ardi dan berkata," eh. Aa Ardi keluar juga?"
"Iya, Ning. Saya penasaran, ada keributan apa di luar!?" jawab Ardi. Tersenyum tipis.
Bu Sari kini menimpal perkataan calon menantunya," Di sinimah jangan heran Nak Ardi, pasti ada aja orang orang yang suka bikin keributan, kaya orang gila tadi."
Rojak memukul bahu kakaknya," hus, si teteh kalau ngomong asal ceplos aja. Bu Nunik itu enggak gila hanya kurang waras saja."
__ADS_1
Sang kakak yang kesal dengan jawaban adiknya kini menjawab, dengan mendorongkan bibir Rojak yang memanjang." Sama aja, Rojak. Adikku sayang."
Rojak memegang bibirnya menatap ke arah sang kakak dan berkata," Yaelah Rojak kira nggak sama."
kini Nining tertawa kembali, membuat Bu Sari sangatlah bahagia melihat kebahagiaan anaknya berpancar kembali tidak seperti tadi pagi Nining terlihat seperti orang yang tak semangat.
Sari hampir putus asa, melihat Nining trauma akan perlakuan Ruslan yang tak menyenagkan, akan tetapi sekarang di desa ini sudah aman, Rusalan sudah masuk ke dalam penjara. Tidak ada yang harus dikuatirkan lagi oleh Sari.
"Ya sudah atuh. Ayo kita masuk, Ibu nanti mau masak, kita makan bareng di sini."
Semua keluarga itu kini masuk ke dalam rumah begitupun dengan Rojak.
Nining dan Sari mulai memasak menyiapkan makanan untuk Ardi dan juga Haikal
"Ning kamu bahagia?"
Pertanyaan sang Ibu membuat Nining tersenyum, menatap ke arah ibunya." Kenapa Ibu bertanya seperti itu? Memangnya wajah Nining tidak terlihat bahagia?"
Senyuman terpancar dari bibir sang ibu, senyuman balasan untuk anaknya, tangan yang sudah berkerut itu kini memegang pipi Nining dan berkata," Kamu benar-benar terlihat bahagia."
@@@@@
Sedangkan dengan Bu Nunik yang baru saja sampai di rumah, wanita tua itu kini berteriak-teriak memanggil suaminya yang berada di dalam rumah.
"Pak, bapak. Kemana si aki aki peot teh, kenapa di panggil, enggak nyahut nyahut."
Teriakan Bu Nunik membuat kuping Pak Hasan terasa sakit, ia dengan rasa kesalnya keluar melihat istrinya ternyata berjalan dengan berjingkat jingkat menahan rasa sakit.
"Ada apa sih, bu. Teriak-teriak, terus itu kenapa dengan kaki ,jalannya kayak gitu."
"kalau sudah datang. Jangan banyak omong cepat bantu ibu masuk ke dalam rumah. Ibu nggak kuat Ini kaki ibu sakit banget."
Pak Hasan kini membantu sang istri untuk masuk ke dalam rumah, tubuh besar Bu Nunik membuat Pak Hasan hampir saja kewalahan, di mana Bu Nunik merangkul bahu istrinya.
__ADS_1
"Sakit pak, ini semua gara gara si Sari dan si Nining."
" Memangnya apa yang mereka lakukan sampai kaki ibu bengkak begini?"
"Mereka menghina ibu!"
"Menghina, kenapa Bu Sari bisa menghina ibu, memangnya ibu ngomong apa sama si Sari, bukannya Bapak nyuruh ibu ke rumah si Nining untuk bisa membebaskan Ruslan dari dalam penjara?"
"Ceritanya panjang Pak, malas Ibu bahas si Nining dan ibunya itu. bikin emosi tingkat Dewa."
"Memang emosi tingkat dewa Seperti apa? Bu ini ada-ada aja."
"Udah lah, pak. Jangan banyak tanya, cepet ini pijit kaki ibu sakit."
"iya, iya, sabarlah Bu. Makanya jadi wanita itu jangan marah-marah melulu jadinya kan kayak begini."
Bu Nunik kini memukul kepala Pak Hasan Seraya berkata," bapak ini bisanya ngomong aja, nggak tahu apa ibu begini tuh buat anak kita biar keluar dari penjara."
"Iya, iya. Bapak juga mengerti, cuman cara ibu itu yang salah, harusnya ibu itu berkata lembut pada Nining dan juga Bu Sari bukan teriak-teriak dan memarahi mereka."
"Iya juga sih, Pak. Tapi kalau ibu melihat wajah Si Sari dan si Nining itu, rasanya Ibu ingin sekali menjambak rambut mereka berdua. kesal"
"Iya kesal, karena Ibu itu sirik sama mereka berdua yang sederhana tapi banyak harta."
Bu Nunik kini kembali memukul kepala suaminya, "Bapak ini, kalau ngomong nggak bisa diajak enak, dukung istri kek, apa kek. Ini malah dukung orang lain, sudah-sudah jangan dipijit lagi, ibu cepat, mau tidur, istirahat, males kalau ngobrol sama bapak."
Pak Hasan hanya menggelengkan kepala merasakan rasa pusing yang tak biasa. melihat istrinya marah-marah dan anaknya juga masuk ke dalam penjara.
Bu Nunik kini mulai berjalan menuju kamarnya merogoh dompet, melihat apakah ada uang simpanan untuk dirinya agar bisa membalas dendam terhadap Nining dan juga Bu Sari, yang sudah mengolok-olok dirinya dan juga membuat dirinya malu.
"sial uang simpanan yang aku simpan selama menipu orang kini sudah habis, gara-gara dipakai foya-foya sama si Ruslan."
Bu Nunik berusaha memikirkan cara agar bisa membuat Nining dan juga ibunya sengsara.
__ADS_1
"Bagaimana caranya aku bisa membuat mereka sengsara, seperti apa yang aku rasakan saat ini?"