Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 112


__ADS_3

Sementara waktu Haikal menuruti perkataan sang sopir yang terlihat begitu licik didepan matanya, Iya menguap memperlihatkan bahwa dirinya benar-benar meminum air minum pemberian sang sopir. Hingga ia terlihat seperti orang yang begitu kelelahan dan tertidur lelap.


Dengan perlahan Haikal merebahkan kepalanya di kursi mobil, perlahan Keduabmatanya Iya tutup. sang supir yang masih fokus mengendarai mobil tersenyum senang melihat keadaan Haikal dan juga istrinya terkulai lemah tak berdaya..


"Akhirnya mereka masuk dalam perangkapku. Bos pasti senang dengan hasil kerjaku saat ini," ucap sang supir.


Sang supir itu langsung maraih ponsel yang tak jauh dari hadapannya, ia mencoba menelepon orang yang sudah menyuruhnya untuk melakukan kejahatan terhadap Dinda dan juga Haikal.


Beberapa detik kemudian panggilan telepon pun terhubung, yang di mana Sopir itu langsung berkata dengan sigap pada ponselnya," semua sudah beres Bos, tinggal mengurus kedua orang yang sudah pingsan."


" Bagus kalau begitu, kamu memang bisa aku andalkan."


"Ya bos, hanya saja bagaimana dengan kedua orang ini apa aku harus mengubur mereka secara hidup-hidup atau membuangnya begitu saja."


.


" sebaiknya kamu bawa Mereka pergi ke dalam hutan. jika nanti mereka terbangun mereka pasti akan tersesat dan mati di dalam hutan berdua."


"Baik kalau begitu bos."


perbincangan yang tak disadari sang supir membuat Haikal mendengar semua percakapan sopir itu, Haikal berusaha menyiapkan diri untuk mengambil peluru yang berada di belakang kursi mobil sang supir..


saat Sopir itu lengah, Haikal langsung mengambil peluru dan mengisikan nya pada pistol yang ditemukan di dalam mobil, dengan pelan-pelan Haikal memasukkan satu-persatu peluru yang akan ia gunakan bila nanti dirinya dalam bahaya.


sang supir itu langsung melihat ke arah belakang yang di mana Haikal langsung berpura-pura tidur. Haikal tak mau rencananya gagal, membuat Dinda harus menderita dalam keracunan makanan.


Haikal terus melihat ke arah jendela depan, dia mengingat jalanan yang terus ditempuh oleh supir. Agar nanti jika Haikal kembali, dirinya bisa selamat.

__ADS_1


" sepertinya Sopir itu mau membawaku dan juga Dinda ke dalam hutan," ucap Haikal dalam hati. Menghelap napas pelan mengeluarkannya secara perlahan.


Haikal Berusaha tetap tenang agar situasi tidak terasa tegang. Ia tak mau jika sopir itu mencurigai gerak geriknya.


"Kamu pasti bisa Haikal, jangan tegang. Oke. Rileks," ucap Haikal dalam hati. mencoba menenangkan dirinya sendiri.


mobil yang sudah masuk ke dalam hutan, membuat Haikal langsung berdiri dan menyekap Sopir itu. Sang sopir tertentu lah kaget


"Stop, jangan kamu jalankan lagi mobil ini," ucap Haikal. Membuat Sopir itu memberhentikan mobilnya dengan begitu mendadak. dirinya tak menyangka jika Haikal menyekapnya secara tiba-tiba. menyodorkan sebuah pistol yang sempat ya taruh di belakang mobil.


sang Sopir itu lupa. Jika dia terlalu ceroboh menaruh pistol-pistol di belakang mobilnya.


"Kamu," balas sang supir, tak menyangka jika orang yang ia sekap ternyata masih segar bugar.


padahal Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Haikal meminum air yang di sodorkan sang sopir.


,lelaki yang menjadi Sopir itu, menatap ke arah depan mobil. Tanganya


Sopir itu berusaha mengambil pisau yang tajam, pisau yang tak jauh dari hadapannya, akan tetapi Haikal yang begitu Sigap langsung mengambil pisau itu dan membuangnya keluar.


" kalau kamu bergerak lagi, Aku tidak akan segan-segan menembakkan pistol Ini ke arah kepalamu hingga hancur." ancam Haikal kepada sang supir.


Sang supir yang mendengar ancaman yang terlontar dari mulut Haikal, membuat Iya sangatlah ketakutan, apalagi saat pistol yang Haikal pegang berada tak jauh dari kepalanya.


Haikal mulai duduk di samping sang sopir, saat itulah Haikal membuka pintu mobil. Iya menyuruh Supir itu untuk meminum air botol yang pernah ia berikan untuk Haikal.


" Cepat minum," tegas Haikal. menyodorkan air yang berada pada botol itu.

__ADS_1


"Maaf."


Belum perkataan sang sopir terlontar, saat itulah Haikal mulai membuka tutup botol dengan perlahan. .


dengan tanpa ampun, Haikal langsung menempelkan botol itu pada bibir sang sopir agar sang sopir mau meminum botol yang berisi obat tidur.


"Ayo minum habisakan," Tekan Haikal.


setelah meminum air dalam botol itu, sang sopir merasakan rasa tidak nyaman pada tubuhnya. apalagi kepalanya yang terasa begitu pusing dan berdenyut semakin sakit. Haikal tak merasa kasihan kepada Sopir itu. Ia membuka pintu mobil mengeluarkan Sopir itu di dalam hutan sendirian.


Sopir itu meminta ampun kepada Haikal, untuk bisa membawanya kembali pulang tak membiarkan dirinya sendirian di dalam hutan, dimana hutan itu begitu terlihat menyeramkan.


" sebaiknya kamu tinggal di hutan ini, karena aku rasa hutan ini begitu cocok untuk orang jahat seperti kamu. Jadi maafkan aku yang tak bisa memaafkanmu dan juga menolong. karena kamu yang mulai duluan."


"Tuan, saya mohon jangan tinggalkan saya di hutan lebat ini, saya takut jika nanti ada hewan yang akan memaksa diri saya. Dan juga membunuh saya secara hidup-hidup, tolong. Beri saya kesempatan agar bisa ikut dengan kalian berdua, Saya janji saya tidak akan melakukan hal seperti ini lagi untuk yang kedua kalinya." ucap sang sopir berusaha meyakini dirinya, bahwa ia akan berubah jika Haikal membawanya pulang dan tidak membiarkan dirinya sendirian di dalam hutan lebat, yang jauh dari pemukiman, apalagi di hutan itu masih banyak hewan-hewan yang buas yang akan memangsa sang supir sendirian.


Akan tetapi, tetap saja ucapan yang terlontar dari mulut sang sopir, tak membuat hati Haikal luruh, ia amatlah kesal dengan kelakuan supir itu, dia yang sudah membuat Dinda pingsan tak sadarkan diri.


"Cukup, Aku tidak akan memaafkanmu, sebelum kamu, memberitahu siapa orang yang sudah membuat istriku menderita dan juga pingsan tanpa sadarkan diri," jawab Haikal dengan begitu tegas.


Haikal tak bisa berlama-lama lagi, Ia mengabaikan permohonan Supir itu, untuk bisa membawanya Kembali Pulang.


Dengan Sigap Haikal masuk ke dalam mobil, Iya menyalakan mesin mobil, untuk segera pergi dari hutan. Haikal tak mau jika Dinda terlambat ditangani oleh dokter, apalagi bayi dalam kandungannya itu masih lah muda dan rentan dengan hal-hal yang membuat ibunya stress ataupun makanan yang akan memicu keguguran.


"Kamu yang sabar ya, Dinda. aku akan membawamu ke dokter sekarang juga," ucap Haikal yang terlihat begitu tak tenang, karena Dinda masih tak sadarkan diri.


Sang supir yang ditinggal pergi, membuat dirinya menggerutu kesal dan menendang pohon yang tak jauh berada di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2