
Ardi dan Lina kini melangkah menemui sang om yang tengah duduk bersantai di meja makan, tidak terlihat wajah yang begitu menyeramkan dari sudut pandangan apapun, sang Om terlihat begitu santai.
" Kenapa wajah orang-orang yang Licik itu, tak terlihat menyeramkan, Mereka lebih terlihat santai," gumam hati Ardi.
sang Om melayangkan sebuah senyuman di hadapan Ardi," bagaimana, toiletnya nyamankan, Lina?"
Lina tersenyum kecil menganggukkan kepala di hadapan sang Om," toiletnya begitu bersih dan nyaman."
Ardi dan Lina mulai duduk, mereka kini menikmati makanan yang tersedia di atas meja, begitu pun dengan sang om.
"Kenapa?" tanya sang Om.
Ardi kini saling memandang satu sama lain pada wajah Lina.
"Kenapa, tadi kalian begitu lama di toilet, padahal hidangan ini begitu nikmat jika di makan saat ke adaan masih hangat," ucap sang Om.
Ardi dan Lina meneruskan drama mereka, yang di mana Ardi mengaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal.
"Ya kami ...."
Lelaki berparas tampan itu mengerutkan dahi dan melihat benjolan di kepala Ardi.
"Kenapa dengan kepalamu?"
Tersenyumnya Ardi membuat Lina menutup mulut," maaf om ini tadi ada."
saat itulah Lina langsung memukul kepala Ardi," palkk."
"Aw."
"Sakit."
tiba-tiba saja Sang Om yang melihat Ardi dan Lina, kini tertawa terbahak bahak.
Membuat Lina dan Ardi menatap ke arah lelaki yang mentertawakan mereka.
"Kenapa Om tertawa?" tanya Ardi.
"Kenapa kalian itu lucu!" jawab sang Om dengan tawa yang terdengar nyaring.
"Om, kami ini ...."
Belum perkataan Lina dan Ardi terlontar semuanya, saat itulah sang om mulai berucap," sudah jangan di teruskan lagi, oh ya. Ardi katakanya ada yang mau kamu katakan?"
Pertanyaan sang Om, membuat Ardi menjawab dengan memainkan drama bersama Lina." Om tahu tidak nomor ini?"
Ardi menunjukan nomor seseorang yang sudah ia lacak, di mana Ardi berusaha mengecohkan omnya sendiri.
Saat itulah kedua mata sang Om menatap tajam pada layar ponsel," nomor ini."
__ADS_1
Ardi malah mengejutkan sang Om, membuat tingkah sang om terlihat sekali ketakutan.
"Akhirnya, aku bisa mengecohkan omku sendiri," geretu hati Ardi.
"Oh ya, Om. Kalau aku bisa menemukan orang ini sekarang juga. Aku akan habisi dia sered dia ke kantor polisi," ucap Ardi. Melayangkan sebuah ancaman.
Hem ....
Tiba tiba saja sang Om batuk, membuat Lina dan Ardi saling bertatapan.
"Kenapa?" tanya Ardi.
"Memangnya kamu bisa menangkap orang yang mempunyai nomor ponsel ini?" tanya sang om.
"Kenapa enggak bisa!" jawab Ardi.
"Sepertinya orang ini bukanlah orang sembarangan," ucap sang Om.
Ardi tersenyum sinis," Emh, sepertinya Om salah berbicara, Om tidak tahu begitu banyak kenalan ayah, yang bisa saja membuat orang yang mempunyai nomor ponsel ini mati kutu dan tidak bisa berbuat apa apa."
Deg ....
Ucapan Ardi membuat sang Om sedikit salah tingkah," kenapa Om, seperti ketakutan begitu.'
"Hem, ketakutan. Kamu ngomong apa, Ardi. Tidak ada yang ketakutan, om hanya senang kalau kamu ternyata pintar," balas sang Om berusaha bersikap santai.
"Terlihat sekali wajah pengecutmu om, aku akan menyelidiki sebenarnya kenapa kamu meneror keluarga Haikal sahabatku." Gerutu Ardi.
Lina dan Ardi mulai menyantap lagi makanan, sedangkan Ardi tersenyum kecil, melihat ketakutan lelaki yang menjado Omnya itu.
Kini acara makan pun berlalu, waktunya Lina dan Ardi untuk segera pulang,
"Ya sudah Om, aku sudah kenyang. Pamit pulang dulu," ucap Ardi.
"Oke. Kapan kapan kalian bisa makan geratis lagi di sini," balas sang om. Masih terlihat raut wajah takutnya.
"Wah, baiklah om."
Ardi mulai berbisik pada telinga sang Om," Om kalau om bisa membantuku, aku yakin orang itu pasti akan kita habisi sama sama."
Sang Om, berusaha bersikap tenang. Walau hatinya ada rasa cemas berlebihan.
Kini tangan sang Om mulai memukul punggung, Ardi dan berkata," kamu tenang saja, Om akan bantu kamu."
"Bagus. Om, aku percaya pada Om."
Lina yang menunggu dari tadi langsung memanggil Ardi yang begitu lama mengobrol dengan sang om.
."Ardi, ayo."
__ADS_1
"Om aku pergi dulu, ya." ucap Ardi.
Tatapan sang Om tak lekas menatap kepergian Ardi dan Lina, mereka berdua kini menaiki mobil dan bergegas pergi untuk segera pulang.
Setelah mobil terlihat menjauh, ada rasa kesal yang meluap luap, membuat lelaki berparas tampan itu menendang meja dan juga kursi cafenya.
"Ahk, sial, kenapa bisa Ardi begitu pintar." Teriak sang Om.
para pelayan hanya bisa diam menyaksikan atasanya meluapkan kekesalan pada meja dan juga kursi di cafe.
"Seharusnya, rencanaku berhasil aku bisa membuat keluarga Dinda hancur sehancurnya," Teriakan itu terus bergeming dan terdengar oleh para pelayan.
"Kalian,"
Para pelayan mendekat dan berkata," ada apa tuan."
"Mana hasil percakapan, Lina dan Ardi saat mereka berada di dalam toilet."
para pelayan itu, langsung menyerahkan beberapa rekaman yang berhasil mereka rekam, saat Ardi dan Lina bercakap.
Kini rekaman di putar.
Mendengarkan hingga selesai, rekaman itu.
Tiba tiba saja para pelayan yang berdiri, kaget dengan aksi sang tuan yang membanting hasil rekaman yang di dapatkan para palayan.
"Rekaman apa ini?" tanya sang tuan pada para pelayannya.
mereka terdiam, tak berani melawan, karna hanya itu yang bisa mereka rekam, selebihnya tak ada lagi.
"Saya tanya, kalian bisa kerja tidak."
Hening, tak ada satu pun yang menjawab." kurang ajar. Kalian ini bisu ya."
"Kenapa kalian diam saja."
Mereka semua seakan takut dengan perkataan sang tuan yang terlihat sangatlah marah, sehingga tak ada satu pun pelayan yang berani mengelak.
Menghampiri pelayan yang berdiri, memegang kerah bajunya dan bertanya," rekaman macam apa ini, sebenarnya kalian ini memgawasi apa saja. Kenapa hanya terdengar rekaman bodoh di sini."
Kegugupan dan ketakutan di rasakan para pelayan yang bekerja di sana, mereka tak bisa berkata apa-apa, seakan takut dengan ke marahan sang tuan yang terlihat mengebu gebu, seperti api yang menyalah tak padam padam.
"Aku tanya pada kamu."
"Maaf tuan, kami sudah melakukan perintah tuan, sesuai apa yang tuan perintahkan kami sudah lakukan, dan saat kami mengawasi kedua Insan itu. mereka hanyalah bertengkar biasa, tidak ada perkataan yang mencurigakan."
"Ahk."
Tangan sang tuan, mulai ia lepaskan dari kerah baju sang pelayan. pelayan itu kini tersungkur jatuh karena dorongan tangan yang begitu keras. semua pelayan benar-benar ketakutan mereka hanya menundukkan pandangan tak berani menatap ke arah sang tuan yang benar-benar marah hanya karna rekaman yang tak memuaskan, hasil yang sangat mengecewakan.
__ADS_1
"Sial, aku ternyata sudah di kelabuhi oleh Ardi."