Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 167


__ADS_3

"Bagaimana sudah di angkat, panggilan teleponnya?" tanya Maya pada Sisil.


Sisil menggenggam ponselnya, merasa kesel dengan pak Anton yang tak mengangkat panggilan telepon.


" sebenarnya ke mana lelaki tua itu, kenapa dari tadi dia tidak mengangkat panggilan telepon, mana panggilan WhatsApp dia blokir lagi," gerutu Sisil.


Sisil menggigit giginya, bingung dengan apa yang harus ia lakukan di depan Maya. Karna ia tak ingin dipermalukan oleh wanita tua yang berada di hadapan.


Maya mulai melayangkan aksinya, di mana ia mengambil ponsel dalam tas, Sisil yang melihat wanita tua itu langsung menggerutu kesal dalam hati," apa yang akan dilakukan wanita tua itu."


Maya mulai menghubungi suaminya. Iya ingin meyakinkan Sisil, kalau dirinya tidak berbohong dengan apa yang sudah ia tulis dari pesan suaminya, yang sengaja ia kirim pada Sisil.


saat itulah panggilan telepon pun terhubung, di mana Suara Pak Anton begitu terdengar jelas dari ponsel Maya.


"Halo, sayang ada apa?" tanya Anton begitu mesra dalam sambungan telepon.


" tidak ada apa-apa kok Sayang? Aku hanya ingin bertanya kepada kamu?" ucap Maya memberi satu pertanyaan untuk suami.


"Pertanyaan apa!?" jawab Pak Anton.


" tapi kamu harus berkata jujur," ucap Maya membuat pantun sedikit terdengar tertawa.


" Apa benar hari ini kamu membuat janji dengan seorang gadis yang bernama Sisil?" tanya Maya pada suaminya itu.


"Mm, kurasa tidak. Soalnya dari tadi ponselku nganggur terus, tak ada yang menelpon ataupun mengirim pesan." ucapan Anton membuat Maya menatap ke arah Sisil.


" yang bener kamu Anton, Soalnya orang yang bernama Sisil itu telah menunggu kedatangan kamu. karena kamu sudah mengirim pesan dengan bertulisan untuk bertemu di taman," balas Maya kepada suaminya itu dalam sambungan telepon.


" Sayang ngapain lagi aku bertemu dengan wanita itu, dia tak lebih hanya sebagai mainanku saja, untuk meyakini kamu bahwa wanita itu tak baik jika menjadi istri untuk anak kita Ardi. dia mau diajak jalan denganku," Ucap pak Anton membuat kedua tangan Maya Mengepal.


" Oh jadi begitu ya sayang. Untung saja aku tidak meneruskan perjodohan gadis itu dengan anak kita ya, Untung saja ada sebuah keajaiban yang datang, yang di mana kedua mata ini terbuka akan kelakuan gadis yang sudah aku pilih sebagai istri Ardi," balas Maya.


" Yang pastinya iya, Makanya kalau pilih cewek itu yang benar-benar baik untuk anak kita kedepannya nanti, jangan pilih cewek yang mau diajak ke mana saja dengan suami orang," ucap Anton.

__ADS_1


Sisil seakan hilangkan kendali. Iya kini mengambil ponsel yang digenggam oleh Maya, dengan beraninya Sisil mulai melemparkan ponsel Maya di hadapan pemiliknya sendiri.


"Sisil, kamu berani ya menghancurkan ponsel saya," ucap Maya.


"Aku tak peduli," cetus Sisil. Gadis itu kini mulai pergi dari hadapan Maya, dia mengusap kasar rambut panjangnya, kedua matanya meneteskan air mata penyesalan yang sudah dilakukan Sisil.


Maya senang dengan apa yang ia lakukan, hanya dengan cara mempermalukan Sisil. Sisil pasti akan menyesali perbuatannya.


sisil berjalan dengan langkah gontai, dirinya tak menyangka, jika keinginannya selama ini menjadi harapan palsu.


apartemen dan uang yang sudah dibayang-bayangkan dari otak Sisil kini sirna sudah, karena ternyata Pak Anton sudah menjebaknya. membuat sebuah omong kosong belakang.


" Rencanaku sekarang gagal, ternyata Pak Anton lebih licik dari apa yang aku bayangkan. Harusnya Pak Anton dan Bu Maya yang menjadi korban, dengan rencanaku. ini malah aku yang jadi korban dari rencana mereka berdua." Gerutu Sisil meninggalkan taman.


padahal Sisil berusaha untuk bisa keluar dari rumah sakit, hanya sekedar ingin bertemu dengan Pak Anton. dan menagih janji yang akan diberikan Pak Anton kepadanya.


Namun ternyata Semuanya hanyalah omong kosong, yang ternyata sudah direncanakan oleh Bu Maya. betapa bodohnya Sisil bisa langsung percaya begitu saja.


hingga Sisil menyadari, darah mengalir dari kakinya. Iya Sedikit panik dengan apa yang ia lihat, pantas saja dari tadi kakinya benar-benar terasa sakit tidak seperti biasanya saat di rumah sakit.


"Mana enggak ada taksi lagi."


rasa sakit itu terus terasa pada kaki Sisil yang baru saja dijait karna ada beberapa robekan.


orang-orang yang melintas melewati Sisil seakan tak peduli dengan keadaan Sisil yang bersipun darah di kakinya.


"Tolong saya pak."


Entah kenapa orang-orang seakan tak memperdulikan jeritan minta tolong Sisil. Yang merasakan kesakitan karna darah yang terus mengalir pada kakinya.


seketika kepalanya terasa sakit, penglihatan Sisil tiba-tiba kabut, Gadis itu kini tergeletak pingsan di pinggir jalan. membuat orang-orang saling melihat dan memvideo Gadis itu tanpa menolong nya untuk membawa ke rumah sakit


Pras dan Alya yang baru saja pulang dari kantor polisi, untuk melihat seseorang di dalam penjara, dia melihat segerombolan orang-orang. Tengah mengerumuni seorang gadis yang tergeletak dengan cucuran darah di kakinya.

__ADS_1


awalnya ia tak mempedulikan segerombolan orang itu, Iya lebih fokus mengendarai mobil membawa Aliya untuk segera pulang.


akan tetapi segerombolan orang itu malah disingkirkan oleh polisi yang baru saja datang, membuat Gadis itu terlihat wajahnya oleh Pras.


" Itukan Sisil."


Pras mulai menyampingkan mobilnya, Iya tiba-tiba saja parkir di pinggir jalan untuk sekedar melihat wanita yang ia rasa kenal.


"Pras, kamu mau ke mana?" tanya Alya.


"Kamu tunggu dulu di sini, aku ingin mengecek ke sana sebentar!" jawab Pras.


lelaki berbadan kekar itu kini membuka pintu mobil, Iya berjalan ke arah gadis yang tergeletak dengan bersimpuh darah di kakinya.


polisi mengamankan orang-orang yang melihat gadis itu, setelah Pras langkah begitu, saat itulah ia tampak terkejut dengan apa yang ia lihat. dugaan yang benar, wanita yang tergeletak di pinggir jalan itu adalah Sisil.


wanita yang baru saja iya kenal karna Bu Maya.


"Sisil, ada apa dengan dia."


Pras mencoba meminta izin untuk membawa gadis itu ke rumah sakit, karena jika menunggu ambulans datang, itu akan lama. maka dari itu Pras ingin menolong Sisil.


di dalam mobil Alya sudah merasa kesal menunggu Pras, yang tak kunjung kembali. dengan terpaksa Ia turun dari mobil untuk melihat keadaan Pras.


"Ke mana Dia?"


Betapa terkejutnya Alya melihat Pras, membopong seorang wanita dengan bersimpan darah di kakinya.


wanita itu terlihat pingsan saat Pras membopongnya.


"Pras, siapa dia?" tanya Alya.


" nanti aku jelaskan, sekarang kita harus cepat-cepat ke rumah sakit. keadaannya terlihat sangat keritis." ucap Pras

__ADS_1


__ADS_2