
"Akh, kenapa ibu susah kalau di bilangin," ucap Sisil. Berlalu pergi menuju kamar, gadis itu membanting pintu kamarnya, kesal dengan sang ibu yang tak mau menuruti perkataannya.
Sisil kini kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang, kembali Menatap layar ponsel. tidak ada hal yang membuat dirinya senang, hanya kekesalan yang terus saja meluap luap pada hati kecilnya.
Tring ....
pesan datang pada ponsel Sisil, gadis itu terburu-buru membuka pesan yang datang pada ponselnya.
( Sisil, tante tak menyangka gadis selugu kamu bisa bermain api. )
Deg, pesan dari Maya.
jadwal mata Sisil membulat, setelah membaca isi pesan dari Maya.
"Apa maksud dari perkataan wanita tua ini?"
Sisil mengacak rambutnya, membantingkan ponsel pada kasur.
"Ahk, kenapa bisa wanita tua itu bertemu dengan ibu. Jadinya kan rencanaku gagal."
Tring ....
( Sisil, ingat ya. Tante bisa saja menghancurkan hidupmu sektika. )
sebuah pesan ancaman dari Maya untuk Sisil.
"Dasar wanita tua, memangnya aku akan takut pada ancamanmu itu apa." Gerutu Sisil.
Maya yang masih berada dalam mobil, tersenyum tipis setelah mengirim pesan untuk Sisil. Hatinya kini memendam rasa dendam pada gadis, Maya tak suka jika orang yang ia percaya kini menghianati dirinya.
"Sisil, lihat saja nanti. Apa yang akan aku lakukan pada kamu."
Maya kini melajukan mobilnya untuk segera pulang ke rumah, ia menahan kekesalanya dengan membanting tas pada sofa.
"Nona, apa ada yang bisa saya bantu," ucap pelayan di rumah.
"Ambilkan aku air putih, aku haus," balas Maya pada pelayan rumah. Ia kini duduk di sofa sembari merebahkan tubuhnya yang terasa pegal.
Sampai dimana terdengar suara pintu di buka, yang ternyata Anton pulang di jam siang.
"Hem, ternyata kamu sedang rebahan Maya," ucap Anton. Memberikan sebuah kartu yang entah Maya tak tahu kartu apa itu.
"Apa itu?" tanya Maya.
Dengan sigap Maya mengambil kartu yang berada di tangan suaminya, yang ternyata kartu ATM yang ia buang.
__ADS_1
"Ini kartu ATMku dari mana kamu dapatkan ini, aku sudah membuangnya sejak lama," cetus Maya. Menatap pada wajah suaminya.
"Aku yang memungut kembali kartu ATM itu, dan membuka belokirannya kembali," balas sang suami. Tersenyum kecil.
Maya yang duduk dengan santainya, kini bangkit berdiri. Menghadapa ke arah Anton.
"Jadi kamu yang sudah membelokir kartu Atmku Anton, pantas saja saat aku belanja kartu ini tidak bisa di gunakan. Kurang ajar kamu," gerutu Maya.
"Ya, itulah rencanaku agar kamu sadar Maya," ucap Anton.
"Picik kamu Anton, apa maksud kamu agar aku sadar," balas Maya bertanya pada suaminya.
"Hah, aku tidak mau istriku ini di bodohi orang lain. Makannya aku menyelamatkanmu dari kebodohanmu sendiri," ucap Anton. Membuka jas bajunya. Melemparkan pada Maya.
Maya terdiam mencerna perkataan suaminya.
"Jadi maksud kamu?"
Anton berlalu pergi meninggalkan Maya, ia berjalan menuju kamar untuk segera beristirahat. Sesaat jas yang berada pada Maya, kini mengeluarkan sebuah kertas kecil dari saku jas Anton.
Membuat Maya langsung mengambil kertas itu, melihat isi dari kertas itu. Sebuah penarikan uang dengan nominal yang lumayan besar.
"Apaan ini, kenapa Anton menarik uang dengan jumlah yang begitu besar, untuk apa uang itu?" tanya Maya dalam hati.
Tok .... tok ....
Anton yang berusaha menutup kedua matanya hanya untuk sekedar tidur, kini terganggu oleh ketukan pintu dan teriakan dari sang istri. Membuat Anton terpaksa bangkit dan membuka pintu kamarnya.
Saat pintu kamar terbuka, saat itu juga Maya jatuh pada pelukan suaminya. Membuat mereka bertatapan mata, sudah lama sekali tatapan mereka saling beradu.
Anton sangat mengiginkan momen itu, dia sudah lama rindu akan wajah istrinya yang menatap sayu padanya. Akan tetapi tiba tiba tatapan Maya berubah derastis menyeramkan. Anton dengan sigap melepaskan Maya dari pelukannya membuat Maya terjatuh ke atas lantai.
"Maya, ada apa?" tanya Anton kesal.
Maya sedikit meringis kesakitan ia menatap ke arah Anton dengan mengusap pelan pingangnya yang terasa sakit.
"Ada apa?" tanya Anton sekali lagi.
Wanita tua itu berusaha berdiri, dengan meraih celana Anton.
Membuat celana Anton seketika merosot," Maya apa yang kamu lakukan."
Anton menahan celanaya agar tak merosot, saat itu juga Maya bangkit dengan melepaskan tanganya yang memegang celana Anton.
"Kamu ini kenapa, kalau mau bilang," ucap Anton.
__ADS_1
Maya mendelik kesal," tak sudi aku. Sudah peyot juga, tak berselera."
Deg ....
Kedua pipi Pak Anton memerah, menahan malu dengan ucapan sang istri yang tak pantas ia dengar.
Anton dengan kesalnya menarik tanga sang istri, menjatuhkanya pada kasur.
"Kamu bilang peyot, kamu akan rasakan setelah ini," ucap Anton.
Maya langsung memukul perut Anton hingga Anton menyingkir dari hadapan Maya.
"Beraninya kamu, dasar lelaki peyot," cetus Maya.
"Sebenarnya kamu mau apa datang ke sini, mengetuk pintu dengan begitu keras, apa kamu tak tahu kalau ini jam siang dimana waktunya aku tidur," pekik Anton.
Sebenarnya hati pak Anton sangatlah marah, saat istrinya mengatakan peyot. Padahal banyak wanita cantik yang sudah ia dekati. Tapi di mata istrinya Anton tetap peyot.
Maya memperlihatkan kertas struk penarikan uang, " Ini apa?" tanya Maya.
Anton langsung mengambil kertas yang disodorkan Maya saat itu, ia melihat struk penarikkan uang yang di mana dirinya sempat lupa membuang struk itu.
"Bodoh kamu Anton, kenapa kamu sampai lupa. Membuang struk itu." Gerutu hati Anton.
"Kenapa diam saja?" tanya Maya pada suaminya.
"Sudahlah jangan bahas hal yang beginian, aku cape mau tidur. Sebaiknya kamu cepat keluar Maya!" jawab Anton pada sang istri.
"Aku belum selesai ngomong Anton, kenapa kamu malah banyak alasan," ucap Maya pada sang suami.
"Ya sudah kalau kamu mau penjelasan dariku, ayo sini," balas Anton.
"Kamu mau apa?" tanya Maya sedikit ketakutan.
Anton langsung menarik tangan Maya lagi, mencoba mendekat dan semakin mendekat. Membuat Maya tak sadar, lelaki tua itu mencium pipi Maya, perlahan melepaskan kain yang menempel pada tubuh istrinya.
Maya langsung sadar, saat tangan suaminya mulai nakal. Membuat ia menjauh dan melepaskan tangan sang suami.
"Kenapa Maya, bukanya kita ini suami istri?" tanya Anton merayu sang istri.
"Mm ...." Maya terlihat tak biasa, ia memegang kedua bahunya dengan tanganya. Seakan rabaan itu begitu asing baginya.
"Ayo Maya sini, sudah lama aku merindukan hal hal momen seperti ini, bukanya kita mengikat perjanjian," ucap Anton.
"Perjanjian itu hanya sementara waktu, sampai Ardi menikah," balas Maya.
__ADS_1