
"Kenapa nyonya malah berkata seperti itu, jelas di sini Adnan. Kalau saja Adnan mengawal Nyonya mungkin keadaan Nyonya tidak akan seperti sekaran?"
Terlihat raut wajah penyesalan dari diri Adnan, ia tak bisa membuat sang Nyonya aman oleh pengawalanya.
Akan tetapi Maya tidak seperti itu, ia tidak suka terlalu bergantung dengan suruhanya. Bagaimana pun ia bisa melakukan apa yang ia mampu, walau sekarang keadaanya terbaring di rumah sakit karna terlalu mengandalkan rasa percaya diri.
Maya masih menampilkan senyumannya yang manis, di depan Anton dan juga Adnan." Aku tidak akan menyalahkan kalian semua, semua sudah menjadi kesalahanku, jadi Ardi kamu tak usah menyalahkan ayah dan juga suruhan ibu. ibu yang sebenarnya bersih kuku untuk pergi sendirian menemui Pras."
Ardi hanya menundukkan pandangan, sebenarnya hatinya masih tetap kesal dengan kedua orang yang berada di hadapan ibunya.
Seharusnya mereka berdua lebih pintar dari apa yang dipikirkan Ardi, bukan malah membiarkan wanita tua sendirian mendatangi adiknya yang terkenal kejam.
Saat membahas tentang Pras, Ardi kini mulai bertanya." Oh ya, kemana Pras? Apa dia ditangkap polisi. Saat aku datang ke Vila. Yang aku lihat hanya Lina dan para pelayan."
Pak Anton dan juga ada saling menatap satu sama lain, mereka juga tidak tahu keadaan Pras yang sekarang. Dan juga dia ada di mana?
"Saat saya masuk ke dalam vila, Pras sudah tidak ada di Vila. Sepertinya dia kabur, dengan para pelayanya yang lain?"
Ucapan Adnan, membuat Ardi mengepalkan kedua tanganya, ia mengandalkan emosi hampiri meninju Adnan yang tak bisa di andalkan.
Ardi menatap ke adaan sang ibu, hanya bisa menahan keiginan dan kekesalan dalam hatinya. maka dari itu ia mengurungkan niatnya untuk meninju wajah Adnan.
"Bukanya kamu mengawasi vila itu dari luar, HAH. Kenapa kamu malah lengah, BODOH."
Perkataan Ardi membuat sang ibu menimpal," Ardi, sebaiknya kamu jangan terlalu menyalahkan Adnan, kamu tahu sendirikan Pras itu orang yang sangat licik.
Setelah sang Ibu membela Adnan, Ardi hanya terdiam kedua tangan yang mengepal. kini ia lebarkan kembali.
"Ardi, dari pada kamu terus menerus menyalahkan ayah kamu dan Adnan. Lebih baik kamu cari keberadaan Lina sekarang, ibu ingin bertemu dengan dia, ibu tak mau antara kalian ada dendam."
Perkataan sang ibu membuat Ardi hanya bisa diam, tak berani melawan, ia kini melangkahkan kaki keluar rumah. Berharap menemukan Lina kembali, karna perintah sang ibu.
"Kamu mau kemana, Haikal?"
__ADS_1
Haikal menatap ke arah Ardi dan berkata," aku mau mencari keberadaan Lina."
Mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Ardi, Haikal kini menahan sahbatnya dan berkata," ngapain kamu cari Lina lagi, bukanya sekarang kamu sudah ada Nining?"
"Bukan masalah itu? Aku ingin mecari keberadaan Lina karna ibuku yang menyuruh!"
"untuk apa ibumu menyuruh kamu mencari keberadaan Lina?"
"Dia merasa kasihan, jika Lina aku putuskan. Bagaimana Lina hidup? Dia sudah tidak punya orang tua dan kakak satu satunya sudah meninggal dunia. Aku menyesal aku tidak memikirkan keadaan Lina."
Haikal mencoba memegang bahu Ardi dan berkata," tidak ada yang harus kamu sesalkan, jika jamu menyesal berarti hati kamu masih ada pada Lina."
Perkataan Haikal memang benar, Ardi masih mencintai Lina. Hatinya tak bisa berbohong. Ia cenderung berat pada Lina dari pada Nining.
"Aku sudah mempunyai Nining."
"Ardi, kamu memang sekarang mempunyai Nining. Tapi hati kamu masih milik Lina."
Deg ....
Sedangkan Haikal merasa kecewa, dengan lelaki yang menjadi sahabatnya. karena pikiran Ardi Yang plin-plan, membuat salah satu dari wanita yang kini berada di kehidupan Ardi salah satu dari mereka berdua akan ada yang terluka.
"Kenapa Ardi, kenapa kamu malah menanam benih cinta pada Nining, jika kamu masih mempunyai rasa cinta pada Lina." Haikal terus mengerutu kesal hatinya. Ia tak tahu harus bagaimana lagi menjelasakan pada sang sahabat.
Ardi kini berada di pinggir jalan, ia terus berjalan menanyakan pada orang orang, menujukkan poto Lina.
Namun, sayangnya tidak ada satu orang pun melihat Lina berjalan. " Kemana aku harus mencari Lina?"
Haikal kini mengejar Ardi, melihat sang sahabat kelelahan mencari keberadaan Lina.
"Ardi. Apa kamu sudah menemukan Lina?" tanya Haikal.
Ardi hanya mengelengkan kepala," belum. Kal, aku bingung, harus mencari keberadan dia kemana lagi?"
__ADS_1
Ardi menepuk punggung Haikal dan berkata," Kenapa kamu tidak menerima cinta Lina. kenapa kamu tolak dia mentah mentah?"
"Kamu sudah tahukan, dari dulu aku sudah menjauhi dia, aku tidak bisa mecitai Lina!"
"Berusahalah Haikal seperti aku berusaha mencintai Nining."
Haikal tak menyangka jika Ardi berkata sedemikian, padahal baru saja tadi ia bertanya tentang perasaan Ardi pada Lina, tapi sekarang Ardi seakan membalikan sebuah ucapanya.
"Aku tetap tidak bisa."
"Kasihan jika Lina kita campakan?"
"Ardi, wanita yang sudah tercampakan, kita jangan merasakan kasihan, biarkan saja dia berpikir dengan akal sehatnya, kenapa dia melakukan hal yang membuat dirinya rugi!"
Ardi hanya bisa mengelus dada," Kamu jangan begitu Haikal. Lina itu masih perlu pendaping untuk menasehatinya, dia terlalu dini untuk di salahkan. Wajar saja dia mencintai lelaki yang membuatnya terpana. Yang terpenting kita harus terus mengigatkan akan kesalahan."
Ardi berusaha menenangkan Haikal. " Sudah sebaiknya kita cari Lina sekarang, kasihan dia. Apalagi Lina pasti tengah kelaparan saat ini. Apa kamu tega, membiarkan adik almarhum istrimu mati kelaparan?"
Haikal mulai terdiam sejenak, apa yang dikatakan Ardi memang benar, ia harus mempunyai rasa simpati, karna Lina masih butuh nasehat dan bingbingan. Apalagi Lina masih remaja.
Jika Lina kenapa kenapa, Dinda mungkin akan sedih. Maka dari itu Haikal harus menjaga amanat kakaknya satu satunya menjaga Lina.
Walau tidak ada rasa dari lubuk hati Haikal, alangkah baiknya Haikal terus menganggap Lina sebagai adiknya sendiri.
"Ayo, kita cari Lina. Kenapa kamu malah bengong."
Ardi langsung membuyarkan Lamunan Haikal, Di mana mereka kini berjalan mencari keberadaan Lina, menanyakan kepada orang-orang.
2 jam mencari keberadaan Lina, Haikal tidak menemukan wanita itu. Ardi benar-benar gelisah. Iya takut jika Lina kenapa-napa karena ia tahu di dunia ini Lina hanyalah seorang diri dia tidak mempunyai teman.
Lina tak pernah bergaul dengan orang lain, ia tetap banyak menghabiskan waktu dengan Ardi dan juga almarhum kakaknya.
hingga di mana Haikal kaget melihat seorang wanita tengah mengorek-ngorek sampah, membuat mereka berlari ke arah wanita itu.
__ADS_1
"Apa itu Lina?"