
Ardi meninggalkan Lina begitu saja, Iya langsung menaiki mobilnya untuk segera pergi dari rumah Haikal. sedangkan dengan Lina, dirinya terus mengejar Ardi yang sudah menaiki mobil. Lina penasaran dengan perkataan Ardi.
"Ardi berhenti." Teriak Lina.
Ardi langsung melajukan mobilnya dengan begitu cepat, membuat Lina yang mengejar mobil Ardi langsung tersungkur jatuh," Ahk, sial. Kenapa dia langsung pergi begitu saja."
Ardi menatap pada kaca mobilnya, melihat Lina yang duduk di atas tanah. membuat ia tersenyum kecil dan berucap," sepertinya Lina percaya dengan pekataanku."
di dalam mobil.
" Lina, Lina. Maafkan aku, ini yang terbaik untuk kamu. Agar kamu sadar dari kelakuanmu."
Lelaki bermata sipit, itu sengaja membuat Lina mempercayai perkataanya. Agar Lina tak mengganggu rumah tangga Haikal sang sahabat.
Hingga beberapa menit kemudia, Sampai lah Ardi pada rumahnya. Bukanya kata sambutan hangat yang di terima Ardi, malah sebuah pertengkaran antara kedua orang tuanya.
Ardi sudah lelah jika tinggal di rumah, lelah dengan keadaan kedua orang tuanya yang selalu bertengkar. entah apa yang dipikirkan kedua orang tua Ardi, mereka selalu mempermasalahkan hal kecil hingga pertengkaran itu terjadi.
"Hah, mulai lagi." Gumam hati Ardi.
lelaki bermata sipit itu langsung menutup kedua telinganya dengan telapak tangan, bergegas untuk masuk ke dalam rumah. merebahkan tubuhnya yang terasa pegal.
namun saat Ardi melangkah menuju tangga, sang Ibu mulai Memanggil nama. membuat ia malas untuk menjawab.
"Ardi, Ardi. Kamu dengar ibu tidak."
Ardi terus saja melanjutkan langkahnya, mengabaikan teriakan sang ibu yang terus memanggil namanya.
sang Ibu langsung mendekat ke arah anaknya, meraih tangan Ardi.
"Ardi, kenapa setiap ibu panggil kamu. Kamu tidak mau menghampiri ibu." Ucap Sang ibu.
Ardi tetap saja diam, bibirnya seakan kaku.
"Ardi, kamu dengar ibu ngomong enggak." bentak Sang ibu.
Ardi langsung melepaskan tangan sang ibu, " aku lelah, cape. Ingin tidur."
__ADS_1
Ardi pergi begitu saja, sedangkan sang ibu. Hanya menangis.
"Ardi, ibu katakan lagi pada kamu. Kamu ikut ibu atau ayahmu." Teriak sang ibu. Membuat suatu pilihan untuk Ardi, agar memilih. anatara ibu atau ayah.
Ardi tak peduli dengan pilihan dari ibunya, ia tetap saja berjalan menuju kamar untuk mengistirahatkan otaknya yang terlalu banyak berpikir.
"Anak itu kenapa sih." Gerutu sang ibu.
Setiap kali pertengkaran itu terjadi, pasti selalu melibatkan Ardi untuk memilih padahal Ardi tak mau jika harus memilih di antara mereka berdua. Ardi ingin keluarga yang selalu harmonis dan untuh tanpa adanya pertengkaran.
Tapi, itu tak mungkin. setatus sang papa yang berkuasa membuat lelaki tua itu gelap mata dan selalu menduakan sang ibu dengan wanita lain.
membuat sang ibu tak tahan dan ingin bercerai.
Ardi tak tahu lagi harus bagaimana, agar bisa menyatukan kedua orang tuanya. Menyadarkan sang papa dari kelakuannya.
Di dalam kamar, Ardi mulai mendengarkan musik begitu keras. Agar tak selalu mendengar kedua orang tuanya bertengkar. Karna dirinya begitu malas.
"Hah, mudah mudahan pertengkaran ibu dan ayah cepat selesai. Aku lelah mendengar mereka bertengkar terus menerus membuat kupingku sakit."
Tapi semua itu ternyata tak seperti yang di bayangkan Ardi. Di rumah Haikal, Ardi juga malah melihat rumah tangga Haikal yang mulai di hancurkan perlahan oleh adik dari istrinya sendiri.
"Ternyata masalah itu selalu ada dalam namanya rumah tangga." Gerutu Ardi. Seakan tak ingin merasakan apa itu rasanya menikah. Karna melihat kedua orang tuanya yang selalu bertengkar. Membuat dirinya trauma.
Tok .... Tok ....
ketukan pintu terdengar begitu keras, membuat Ardi mengabaikan kembali ketukan pintu itu.
"Ardi buka, ini ibu nak."
teriak sang ibu yang terus memanggil nama anaknya.
"Ardi. ayo buka pintunya. Dengarkan dulu ibu, ibu ingin bicara sama kamu, nak."
Ardi seakan tak tahan dengan teriakan sang ibu, membuat dia langsung membuka pintu kamarnya dengan terpaksa.
"Apalagi sih, bu," ucap Ardi.
__ADS_1
Sang ibu langsung menarik tangan Ardi hingga ke luar dari kamarnya.
"Ardi, ibu hanya ingin menegaskan lagi pada kamu. Ikut ibu atau ayahmu."
mengucap kasar wajahnya, selalu itu saja yang dipermasalahkan sang ibu. membuat hati selalu bosan mendengarnya.
Ardi melepaskan tangannya yang masih dipegang oleh sang ibu.
Ia tak menjawab perkataan sang ibu, pergi menuju kamarnya. tapi sang Ibu tak berputus asa, Iya menahan badan anaknya. untuk tidak masuk ke dalam kamar.
"Ardi, ibu mohon jawab."
memang setiap kali sang Ibu berkata seperti itu, Ardi selalu diam tak menjawab. Iya lebih baik menghindar daripada harus menjawab pertanyaan konyol sang ibu.
"Ayolah Ardi, jawab. Satu kali ini saja," ucap sang ibu memohon.
Hati Ardi terasa sangat kesal sekali, ia kini menjawab," jika aku harus memilih. Aku lebih memilih tidak ada di dunia ini. Ibu paham."
sang Ibu perlahan melepaskan tangan anaknya," kenapa kamu berkata seperti itu."
"Kenapa aku berkata seperti ini, seharunya ibu berpikir lebih jerni. Setiap kali ibu memaksa aku harus memilih antara ibu dan ayah. Hatiku sakit bu, aku tak mau jika memilih, untuk apa. Tak ada guna, yang ada jika aku memilih antara ibu dan ayah. Yang ada aku akan semakin menderita. Sudah jelas perkataanku, bu." ucap Ardi.
membuat sang Ibu terdiam keluh, menundukkan Pandangan Kedua matanya berkaca-kaca, menahan air mata agar tak jatuh mengenai kedua pipinya.
"Ardi, ibu tahu. Ini berat untuk kamu. Tapi ibu juga tak mau terus bersama ayah kamu yang ba*j**an itu." ucap Sang ibu.
"Bu, sudahlah. Dari dulu ayah memang seperti itu, kenapa juga ibu tidak bertindak saat aku belum lahir ke dunia ini. Kenapa setelah aku lahir ibu baru bertidak," ucap Ardi.
"Ardi, ibu tidak tahu akan seperti ini jadinya. Ibu juga tidak mau jika harus bercerai dengan ayahmu. tapi Ibu harus bagaimana lagi. Ibu sudah tak kuat hati ibu terlalu sakit, jika melihat ayahmu terus bermain dengan wanita-wanita muda yang begitu cantik. Ibu juga punya hati ibu juga punya perasaan, Sekuat apapun seorang wanita, dia pastinya akan terluka." balas sang ibu.
Ardi seakan mengigat ucapan sang ibu itu percis dengan ucapan Dinda istri dari Haikal sahabatnya.
"Ayolah Ardi, mengerti ibu. Kamu jangan egois seperti ini. Ibu juga ingin bahagia, ibu lelah terus menderita karna ayahmu yang tak pernah berubah." bujuk sang ibu.
" Ardi bingung bu, Ardi ingin tidur Bu. Sudahlah Ibu jangan ganggu Ardi lagi, Ardi akan pikirkan kembali perkataan ibu."
Pintu kamar kini di tutup oleh Ardi, sedangkan sang ibu hanya berdiri mematung.
__ADS_1