Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 65


__ADS_3

"Kakak, berubah seperti ini, karna kakak ingin balas dendam kepadakukan?" tanya Lina, mendekat ke arah Dinda.


"Hah, kamu bilang apa tadi?" tanya Dinda, berpura-pura tak mengerti dengan perkataan sang adik.


"Kakak. Sudahlah jangan seperti ini aku malas sekali berdebat dengan kakak!" jawab Lina.


Dinda tersenyum kecil," siapa mengajak kamu berdebat. Bukannya kamu yang mulai dulu, kamu yang sudah bikin kakak berubah seperti ini."


"Ya, aku minta maaf. Aku salah, aku tidak ...."


" Lina maafmu itu sudah terlambat," cetus sang kakak pergi meninggalkan Lina Sendirian di dapur.


Lina kini mendudukan tubuhnya di kursi, memijat pelan rambut kepalanya." hah. Aku tak menyangka jika sifat kakak Dinda ada sisi seperti itu. Ia seakan bukan kak Dinda yang lemah."


Lina berusaha meminta maaf. Iya sadar akan kesalahannya yang sudah mendekati suami Kakaknya sendiri.


" Apa yang harus aku lakukan, agar kak Dinda berubah seperti dulu." Gumam hati Lina.


Lina berusaha bersikap tenang, mencoba mencari cara agar sang kakak mau memaafkannya.


walau sebenarnya dirinya, susah sekali untuk berubah. Apalagi hatinya masih sangat mencintai Haikal.


"Hah, apa yang harus aku lakukan. Bagaimana agar aku bisa merubah semuanya."


Perut Lina kini kembali terasa lapar, membuat Lina dengan terpaksa memasak. Walau sebenarnya tubuhnya terasa sangat lelah," hah, semua gara gara lelaki bernama Ardi itu."


Dinda mulai mengintip di balik tembok, yang terhubung pada dapur. ia melihat adiknya tengah menggerutu kesal sembari memasak. hatinya benar-benar tak tega melihat sang adik yang kelelahan dan langsung memasak makanannya sendiri. Tapi apa boleh buat, dengan terpaksa Dinda harus melakukan semua ini, untuk bisa menyadarkan kelakuan Lina.


"Maafkan kakakmu ini Lina, ini juga demi kebaikanmu." Gumam hati Dinda.


menghela nafas panjang, mengeluarkan secara perlahan. Dinda langsung dari balik tembok itu, saya bergegas pergi ke kamar untuk segera beristirahat. Mengunci pintu kamarnya, hatinya merasa was-was dengan Lina yang sudah ada di dalam rumah.


Saat Lina tengah memasak, suara ponsel Lina tiba-tiba saja berbunyi. Membuat Lina dengan terpaksa mengangkat panggilan telepon itu.


"Siapa sih, ganggu saja."


Lina melihat layar ponselnya, yang tertera nama Ardi. "Ya ampun dia lagi. Ada apa sih?"


Lina sangatlah kesal dengan Ardi, yang mencoba mematikan panggilan telepon dari lelaki itu. dirinya kembali lagi fokus untuk memasak, Karena perut yang sudah tak tertahankan ingin cepat diisi.

__ADS_1


ponsel Lina kini kembali berdering, membuat Lina terus mematikan panggilan telepon dari Ardi.


"Si cucunguk itu." Gerutu Lina.


Ardi masih saja menelpon Lina, membuat Lina benar-benar semakin kesal. dengan terpaksa lina langsung mengangkat panggilan dari Ardi.


"Halo, sayang kamu sudah makan?" tanya Ardi pada sambungan telepon.


"Hah, apa sih. Ganggu saja, bisa tidak kamu seharian ini tidak ganggu aku, aku lelah cape!" jawab Lina.


Ardi mengerutkan dahi dan menjawab," marah marah terus."


"Ya, aku marah karna sekarang aku lapar, ingin makan kamu Ardi," teriak Lina.


"Huh, kok kaya kanibal aja," canda Ardi. Membuat suasana hati Lina semakin kacau.


"Aku mau lanjut masaka, kamu jangan telepon aku lagi," pekik Lina.


tiba-tiba saja Lina mencium bau gosong, yang di mana ia begitu kaget dan langsung berlari ke arah dapur. benar-benar betapa kagetnya Lina, melihat asap menggumpal keluar dari masakannya sendiri.


"Hah, gosong."


"Halo Lina. Kamu kenapa?" tanya Ardi dalam sambungan telepon yang masih terhubung.


" Kamu tanya aku kenapa, semuanya gara-gara kamu Ardi. masakan ku sekarang gosong. semua ulah kamu, kamu yang selalu mengganggu aku membuat hidupku tak tenang," gerutu Lina.


Ardi yang mulai bergegas pergi ke kantor, kini memutarbalikkan lagi mobilnya. dia berencana untuk membeli sesuatu untuk Lina.


Lina yang semakin kesal dengan Ardi yang selalu menelponnya, kini mematikan panggilan telepon dari Ardi yang masih terhubung.


Lina kembali bergegas ke dapur, melihat masakan yang begitu terlihat gosong. membuat hatinya semakin kacau. begitupun dengan perutnya yang selalu berisik.


"Kenapa sih ini perut tak bisa di ajak kompromi."


Lina memukul perutnya Karena rasa kesal, dia kembali berjalan untuk segera pergi ke kamar. merebahkan tubuhnya untuk menghilangkan rasa lapar yang terus terasa pada perutnya.


" Mungkin dengan cara tidur, rasa lapar di perutku bisa hilang."


Lina berusaha menutup kedua matanya untuk segera tidur, agar cacing cacing di dalam perut tidak terus meronta-ronta meminta jatah makan.

__ADS_1


baru saja Lina mau menutup kedua matanya untuk segera tidur, suara klakson mobil terdengar di depan rumah. membuat dirinya langsung terbangun dan menatap pada jendela kamar.


"Siapa lagi sih."


ternyata Ardi datang lagi ke rumah, Lina melihat di balik jendela. Ardi seperti membawa sesuatu, membuat Lina langsung keluar dari kamarnya bergegas untuk menghampiri Ardi yang berada di luar.


Lina terburu-buru, membuat Dinda yang tengah tertidur lelap terbangun.


" suara apaan sih begitu berisik sekali."


Dinda kini bangun dari tempat tidurnya, melihat di ke luar rumah.


sedangkan Lina langsung membuka pintu rumah. hadits tersenyum dengan menenteng sebuah kotak yang entah apa itu isinya.


Lina berusaha bersikap cetus, agar Ardi tidak berharap jika Lina senang dengan ke datangannya.


"Hai, adikku sayang. Kakak bawakan makanan sepesial untuk kamu." Ucap Ardi menyodorkan makanan yang tercium begitu menyengat membuat Lina ingin langsung menyantapnya sekarang juga.


Lina berusaha bersikap acuh, Karena rasa gengsi pada hatinya. Iya tak peduli dengan kedatangan Ardi. berdiri di balik pintu dan tidak menyuruh Ardi untuk masuk ke dalam rumah.


"Untuk apa kamu datang ke sini?" tanya Lina cetus.


Ardi tersenyum dan berkata," aku hanya ingin mengantarkan ini pada kamu. Apa kamu mau?"


"Tak usah repot repot." cetus Lina.


sebenarnya Lina ingin sekali langsung mengambil makanan yang berada di tangan Ardi yang terbungkus begitu rapi dan juga bau yang begitu menyengat membuat perut Lina semakin perih dan semakin berisik.


" perutku sebenarnya lapar sekali, Aku ingin sekali menyantap makanan yang dibawakan Ardi, tapi aku juga harus bersikap sok tak peduli, agar Ardi tidak terus mengganggu hidupku," Gumam hati Lina.


menghela nafas yang benar-benar terasa berat, tanggal Lina sudah tak sabar ingin mengambil makanan itu.


"Kamu mau tidak. Ini enak sekali loh, kalau kamu tidak mau aku akan bawa lagi makanan ini ke kantor dan membagikan ke orang-orang lain," ucaop Ardi.


Lina menatap tajam kearah makanan, dia benar-benar gengsi untuk menerima makanan itu.


"Ayo Lina, kamu mau enggak."


saat itu juga Dinda muncul dan berkata," Lina kamu ...."

__ADS_1


__ADS_2