Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 12 Kekecewaan Haikal


__ADS_3

#Kau_Buang_Istrimu_Seperti_Sampah_Ku_Pungut_Dia_Seperti_permainsuri


 


 


 


 


Akhirnya Haikal menemukan Perusahaan Tirta Raharja, hatinya merasa senang melihat penampakan perusahaan  yang begitu luas dan besar.


 


Dengan rasa bahagia, dan bangga. Ia segera melangkah pada perusahaan itu, namun langkah kakinya terhenti oleh satpam yang berjaga di perusahaan itu.


 


"Maaf pak, apa pemilik perusahaan ini ada?"


tanya Haikal pada satpam itu.


 


"Tidak ada, beliau sedang dinas di luar kota. Ada apa, apa anda mau melamar pekerjaan!?"jawab Pak Satpam dengan wajah garangnya.


 


"Saya mau mengembalikan tas ini pada  pemilik perusahaan ini!" jawab Haikal menyodorkan tas hitam  yang ia temukan di pinggir jalan pada satpam.


 


"Ya sudah biar nanti saya berikan pada Pak Gani pemilik perusahaan ini!" jawab Pak Satpam langsung mengambil tas itu. Wajahnya begitu terlihat sekali jutek.


 


"Apa di sini ada lowongan pekerjaan pak?" tanya Haikal, penuh keyakinan.


 


"Maaf di sini belum ada pak!" jawaban Pak Satpam membuat semangat Haikal redup. 


Harapan ternyata tidak  sesuai  dengan apa yang kita inginkan,  Haikal terlalu berharap. Menemukan tas dan di terima bekerja.


Padahal tidak, karna Haikal terlalu berharap pada manusia lupa pada sang maha kuasa.


Langkahnya gontai, ia kira dengan menemukan barang milik orang dia bakal mendapat pekerjaan di perusahaan itu. Dan nyatanya sanggatlah Zonk.


 


Haikal mengira dirinya akan sama seperti di sinetron, orang yang menemukan barang langsung mendapat kan  pekerjaan atau uang tanda terima kasih. film pun tamat dan bahagia. 


 


"Hah, susahnya mencari pekerjaan di Jakarta, Sudah melamar ke sana kemari tapi tidak ada yang mau memperkerjakanku."


Jam baru menujukan pukul 9 Pagi, Haikal bergegas ke masjid untuk mengerjakan Shalat pagi. Apa salah ya berdoa minta sama Allah.


Dengan niat semata-mata karna Allah.


 


Dengan mengambil air wudhu, meninggalkan urusan dunia dan berserah diri pada yang maha kuasa. Haikal benar- benar pasrah saat itu.


Dia hanya menjalankan Shalat sunat Dhuha dua rakaat saja. Dengan di akhiri doa.


 


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم 


 


اَللّٰهُمَّ اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ وَالْبَهَآءَ بَهَاؤُكَ وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ


اَللّٰهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسِّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ اٰتِنِيْ مَااٰتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ


 


 


Allahumma innad-duhaa'a duhaa'uka wal bahaa'a bahaa'auka wal-jamaala jamaaluka wal-quwwata quwwatuka wal-qudrota qudratuka wal-'ismata 'ismatuka.


Allaahumma in kaana rizqii fis-samaa'i fa anzilhu, wa in kaana fil-ardi fa akhrijhu, wa in kaana mu'assiran fa yassirhu, wa in kaana haraaman fa tahhirhu wa in kaana ba'iidan fa qarribhu bi haqqi duhaa'ika wa bahaa'ika wa jamaalika wa quwwatika wa qudratika, aatinii maa aataita 'ibaadakash-shalihiin.


 


 


Artinya: "Wahai Tuhanku, sesungguhnya waktu Dhuha adalah waktu DhuhaMu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahanMu, kekuatan adalah kekuatanMu, penjagaan adalah penjagaan-Mu"


 


"Wahai Tuhanku, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran DhuhaMu, kekuasaanMu (wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hambaMu yang sholeh"


 


 


 


Setelah selesai menjalankan Shalat Dhuha, Haikal bergegas pergi lagi untuk mencari pekerjaan. Ia pasrah dengan ketentuan Allah, bagaimana pun rezeki, jodoh , maut sudah di tentukan yang Maha Kuasa.


Ada rasa tenang setelah menjalankan Shalat sunat Dhuha, rasa kesal kembali menjadi rasa tenang. 


 


 


"Pak minta uangnya lapar," ucap pengemis yang meminta-minta pada Haikal.


 

__ADS_1


Pengemis itu hannyalah adik kecil, yang harusnya sekolah dan bermain layaknya anak kecil seperti biasanya.


 


"Ke mana orang tua kamu de?" tanya Haikal membukukan badan.


Kedua matanya mulai berkaca-kaca, ia menundukkan pandangan seakan berat memberitahu ke mana orang tuannya.


 


"Orang tua saya meninggal pak, saya tidak punya siapa-siapa," ucap adik kecil yang menjadi pengemis itu. Ada rasa sesak yang menusuk dalam dada Haikal, seakan ia teringan dengan sang ibu di kampung. Yang jarang ia beri kabar.


 


"Ya, sudah ayo makan sama  kakak." Ajak Haikal  pada anak itu.


 


Haikal merogok saku dalam celananya hanya sekitar uang dua puluh ribu saja.


Jika Haikal, membelikan makanan untuk anak itu. Mungkin Haikal tidak bisa makan dan tidak biasa pulang. 


 


Namun Haikal tidak berpikir sedemikian, ia dengan senang hati membantu adik kecil itu.


Membawa adik kecil itu untuk segera makan di warteg.


 


Dengan rasa senang, bahagia. Anak itu begitu lahap memakan-makanan yang di belikan Haikal.


 


"Gimana kenyang?" tanya Haikal.


 


"Kenyang ka, terima kasih!" ucap adik kecil itu.


 


"Siapa nama kamu de?" tanya Haikal tersenyum ramah.


 


"Aidan!"


 


"Apa kamu mau tinggal bersama kakak?" tawaran Haikal pada Aidan pengemis kecil yang baru saja bertemu dengannya.


 


Anak itu menganggukkan kepala, tersenyum lebar. Matanya menapakkan rasa kebahagiaan.


"Ya sudah habis in makannya, nanti kita pulang setelah ini."


 


 


Mereka berjalan menuju pulang, saat Haikal merogok dompet membukanya secara perlahan hanya tersisa uang  lima ribu rupiah.


 


Perjalanan menuju pulang sangat lah jauh, mengusap pelan wajahnya seraya mengucap Allahu akbar. Hanya engkau penolongku saat ini ya Allah.


 


Tid ... tid ... suara klakson berbunyi dari sebuah mobil berwarna hitam berhenti di hadapan Haikal dan Aidan.  Sosok wanita  membuka pintu mobil menghampiri Haikal.


 


"Pak Haikal, sedang apa kamu di sini?" tanya Nina. Setelah turun dari mobilnya.


 


Deg ... kenapa coba harus bertemu lagi dengan Nina, sudah cukup aku menolaknya. Sekarang dia datang begitu saja. Gumam hati Haikal.


 


"Ya, kebetulan saya lagi cari pekerjaan. Dan mau pulang ke kontrakan!" jawab Haikal terbata-bata.


 


"Kebetulan kita searah, kenapa kita tak bareng saja," tawaran Nina pada Haikal. Ada rasa ragu dan tak enak hati dengan tawaran Nina yang menawarkannya untuk pulang bersama. Tapi mau tidak mau Haikal harus ikut karna tidak mungkin dia harus berjalan kaki membawa adik kecil ke kontrakannya dengan jarak jauh.


 


Harga diri Haikal tahan harga dirimu, gumam hati Haikal.


 


"Maaf bu, saya pulang saja naik bis," ucap Haikal.


 


"Gak papa, ayo naik. Dari pada harus menunggu bis lama lagi, apalagi hari sudah mulai sore," tawaran itu terus terlontar dari mulut Nina.


 


Haikal bingung saat itu, dia terus saja menahan harga diri tapi dirinya benar-benar kesusahan.


 


 


Saat itu Haikal masuk ke dalam mobil Bu Nina bersama Aidan. Haikal lebih nyaman duduk di belakang bersama Aidan, dari pada harus bersebelahan dengan Nina. Ketika mengendarai mobil selalu terlihat betis putihnya.


 

__ADS_1


"Kamu mengajak pengemis ikut bersama kamu pulang  Pak Haikal?" tanya Nina sembari menyetir  mobilnya.


 


"Iya, Bu Nina. Kasihan melihat Aidan harus luntang lantung sendiri tanpa orang tua, saya enggak tega jadi saya ajak saja Aidan ke kontrakan!" jawab Haikal.


 


 


"Hatimu mulia sekali Haikal, membantu orang yang sedang kesusahan. Sedangkan kamu masih kesusahan sendiri," ucap Nina. Menatap raut wajah Haikal pada kaca mobilnya. Hatinya seakan merasakan detakan  berbeda dari  biasanya jika ia memandang wajah Haikal yang tersenyum manis.


Nina sempat berpikir apa dirinya mulai jatuh cinta? pada lelaki beralis tebal berhidung mancung itu, walau Haikal tidak keren tapi dia punya karisma yang berbeda.


 


Siapa pun wanita yang memandang atau melihat kebaikannya mereka akan berdecap kagum dan ingin memiliknya. Lelaki baik seperti Haikal ini sanggatlah langka.


 


"Membantu orang itu tidak harus nunggu kaya dulu, baru kita bantu. Jika kita ikhlas dan mampu insya Allah, pahala menyertai. Semua di dasari dengan niat, insya Allah apa pun tidak akan menjadi beban untuk diri kita sendiri," ucap Haikal.


Mengusap pelan kepala Aidan.


 


Ada rasa tersindir dari hati Nina saat itu. Karna perkataan Haikal yang membuat hatinya melemah, menyadari apa yang sudah ia lakukan pada Haikal.


 


"


 Haikal pun sampai di kontrakan, lelaki berhidung mancung itu berterima kasih sekali pada  Nina yang telah mengantarkannya pulang ke kontrakan.


 


Dinda yang khawatir menunggu ke datangan Haikal saat itu, tapi saat melihat Haikal turun dari mobil. Bersama Nina wanita yang ia lihat tadi pagi, membuat hati Dinda menciut ia masuk ke dalam rumah.


 


"Kenapa ka, katanya mau nunggui Ka Haikal?" tanya Lina yang melihat sang kakak masuk ke dalam rumah mengunci pintu rumah.


 


"Enggak jadi!" jawab Dinda.


 


"Kenapa?" tanya Lina. Mengerutkan jidatnya.


 


"Enggak papa!" Dinda berlalu pergi masuk ke dalam rumahnya.


 


Saat di dalam kamar tidur, hatinya merasakan sakit yang tidak biasa. Ada apa dengan hati ini, apa aku cemburu. Tapi mana mungkin?" ucap Dinda pelan. Ia merebahkan tubuhnya. 


 


Rasa penasarannya semakin terasa, bangkit dari tempat tidur dan melihat di balik jendela.


"Haikal masih mengobrol dengan wanita itu?"


 


"Terima kasih Bu Nina," ucap Haikal.


 


"Iya sama-sama. Pak Haikal jika kamu mau bekerja ke perusahaan saya jangan segan-segan datang," tawaran Nina pada Haikal.


 


Haikal hanya terdiam mulutnya seakan berat untuk berkata. Saat itu Nina  pamit untuk pergi pulang


 


Burhan Mendapatkan info dari sahabatnya kalau Dinda sekarang tinggal di kontrakan kumuh dengan adiknya.


 


"Ternyata kamu bersembunyi di sana Dinda. Lihat saja aku akan menemuimu besok."


 


Burhan seakan tak sabar bertemu dengan istrinya Dinda. 


 


"Dimana pun kamu berada Dinda aku bisa menemukan mu." Gerutu Burhan.


 


 


Fras datang menghampiri Burhan ia memberikan saran agar Burhan tidak ceroboh karna polisi bisa saja datang menangkapnya.


 


"Loe harus berhati-hati, gue takut nanti loe tertangkap," ucap Fras menepuk pundak Burhan.


 


Burhan menujukan jempolnya seraya menjawab," oke."


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2