
"Ning, kamu harus tahu ini. Tadi aku lihat, Bu Nunik dan Pak Hasan mengobrol panjang lebar, begitupun dengan Ruslan, lelaki sok baik itu," ucap Euis. Begitu serius.
"Memangnya apa yang mereka obrolkan?" tanya Nining penasaran, karna ia baru kali ini melihat sahabatnya berkata dengan ekpresi serius.
"Mereka berencana mau mengambil alih sawah dan tanah milik bapak kamu. Dengan cara si Ruslan borokokok itu mendekati dan menikahi kamu!" jawab Euis. Membuat kedua mata Nining membulat, tak percaya dengan apa yang dikatakan Euis.
"Yang benar aja kamu, Is. Padahal tadi itu, ya, si Ruslan datang sama kedua orang tuanya buat melamar Nining," ucap Nining membuat Euis tentu saja syok.
"Terus kamu terima lamaran si Ruslan?"
Pertanyaan Euis membuat Nining menggelengkan kepala.
"Syukurlah, kalau begitu. Euis teh bukan ngelarang kamu dekat dengan Si Ruslan, tapi Euis enggak mau kamu jadi tertipu oleh si Ruslan dan kedua orang tuanya yang licik itu!" jawab Euis. Berusaha membuat Nining sadar dan menjauhi Ruslan.
Ditengah obrolan mereka berdua, Bu Sari ternyata mengintip dan mendengarkan obrolan Nining dan juga Euis.
Bu Sari tak menyangka dengan apa yang dikatakan Euis, saat membicarakan Ruslan dan juga kedua orang tuanya, untung saja saat lamaran itu datang Nining langsung menolak dengan keras.
Bu Sari merasa lega dengan apa yang terjadi tadi siang. Nining menolak dan membantah ucapan Bu Nunik, walau sebenarnya ada rasa takut akan Bu Nunik yang balas dendam.
@@@@@
Euis kini mulai berpamitan kepada Nining.
"Ning. Aku pulang dulu, takut abah dan emak nyari."
"Ya sudah hati hati. Oh ya Euis, makasih. Kamu bela belain datang ke sini, hanya ngasih tahu tentang niat jahat Ruslan."
"Kamu tenang saja Nining, aku pasti akan memberitahu informasi tentang apa saja, yang menyangkut demi keamanan kamu."
Euis tersenyum, dengan memperlihatkan jempol tanganya, dan berlalu pergi.
Nining yang melihat kepergian Euis langsung membalikkan badan untuk segera masuk ke dalam rumah.
Namun betapa kagetnya Nining, saat menmbalikan badan, sang Ibu sudah berdiri di hadapannya.
"Ibu bikin Nining kaget aja."
" Iya. Maaf nig, Nining kan tahu sendiri, ibu itu kepo. Jadi Ibu pengen tahu apa yang kalian obrolkan?"
__ADS_1
Nining mengelas nafas terasa berat, ia melangkah maju masuk ke dalam rumah, sedangkan sang ibu terus mengikuti anaknya dari belakang.
Nining kini duduk di kursi kayu yang terlihat sederhana, membuat sang Ibu menyusul dan ikut serta duduk di samping anaknya.
"Jadi ibu sempat nguping pembicaraan Euis sama kamu Nining. Apa benar Ruslan itu punya niat jahat sama kamu dan keluarga kita?"
Nining menatap sayu ke arah jendela luar rumahnya, saat itulah ia mulai menjawab perkataan ibunya sendiri.
"Yang dikatakan Ibu memang benar, Ruslan sudah berencana menikahi Nining karena harta yang dimiliki Bapak seperti sawah dan juga tanah yang luas yang ingin dimiliki Ruslan."
"Kenapa bisa Ruslan terbuai dengan tanah dan sawah yang dimiliki Bapak? Bukannya dia juga orang kaya?"
Pertanyaan sang Ibu membuat Nining benar-benar berpikir keras, karena selama ini Ruslan terlihat seperti orang kaya, begitupun dengan kedua orang tua nya yang selalu berdandan mewah. Dengan balutan emas di tangan dan di leher.
"Nining juga tak mengerti dengan keluarga Ruslan, bukanya di kampung kita ini, dia orang terkenal paling kaya? Atau bisa saja keluarga Rusalan hanya berpura-pura kaya di desa kita ini, untuk memancing gadis desa agar bisa dikawini dengan Ruslan, dan setelah Ruslan berhasil menikahi gadis desa di sini, dia otomatis bisa menguasai harta kedua orang tua gadis desa ini."
Sang Ibu kini mulai berpikir. Apa yang dikatakan anaknya bener juga. "Apa kata kamu bisa juga benar. karna bisa saja mereka penipu. Siapa tahu mereka sekeluarga berpura-pura kaya hanya untuk menipu orang-orang di sini agar tertarik dengan si Ruslan itu."
" Berarti Nining kamu harus hati-hati ketika si Ruslan mendekati kamu dengan cara membodohi kamu."
"Ibu tenang saja, aku akan kasih pelajaran untuk dia. Siapa suruh Ruslan memulai duluan, dia belum tahu ketika Nining tengah marah."
"Iya Ibu tenang aja. Pastinya Nining akan berhati-hati,"
Tiba-tiba saja Pak Yono datang menghampiri Nining dan juga Bu Sari.
"Aya naond ieteh, weyah kie can sarare."
(Ada apa ini, belum pada tidur.)
Bu Sari yang memang melamun dari tadi memikirkan tentang Ruslan membuat ia terkejut saat suaminya langsung berucap begitu saja
"Ini si bapak ini bikin kaget Ibu aja."
"Maraneh kernaon, kuat tepi ka ngalamun kitu?"
( kalian ini sedang apa sampai melamun seperti itu?)
Nining dan juga Bu Sari sekilas langsung menatap satu sama lain. Membuat mereka berusaha menutupi kejahatan Ruslan, takut jika Bu Sari menceritakan kejahatan, kemungkinan besar Pak Yono akan marah dan mencari keberadaan Ruslan
__ADS_1
Jika semua itu terjadi, keluarga Ruslan akan benci pada keluarga Pak Yono, dan bisa saja mereka balas dendam dan mencelakai Nining.
Dan lagi, semua itu akan gagal, rencana yang sudah disusun Nining, untuk mengerjai Ruslan agar ia kapok dan tak berani lagi menipu seorang wanita hanya untuk mengincar harta bendanya.
"Kamimah tidak melamun, itu perasaan bapak kayanya." Timpal Ibu, menjawab perkataan suaminya bapak yang memang jarang berbicara kini hanya diam sembari menyuruh sang istri untuk membuatkan kopi hangat.
Saat Bu Sari berjalan untuk pergi ke dapur membuatkan kopi. Nining mulai beranjak berdiri untuk segera masuk ke dalam kamar tidurnya.
Akan tetapi saat Nining mulai melangkah kan kaki ke dapur, saat itulah Pak Yono memanggil Nining.
"Ning."
Deg ....
Tak biasanya Pak Yono memanggil Nining, membuat Nining takut akan pertanyaan pertanyaan terlontar dari mulut bapaknya.
Apalagi, Bu Sari masih di dapur.
Nining berusaha berpura pura, mengantuk di depan ayahnya. Berpura pura lemas ingin segera tidur.
"Ada apa pak?"
"Coba maneh diuk ka die!"
(Coba kamu duduk ke sini!)
Dengan langkah gontai, Nining duduk.
"Ning."
Sang ibu yang ternyata sudah membuatkan kopi untuk suaminya, langsung berucap," aduh si bapak. Anak udah menguap nguap gitu juga, malah mau di kasih pertanyaan, memangnya enggak bisa besok lagi apa?"
"Iya nih, bapak. Nining kan cape, besok banyak kerjaan di ladang, pertanyaannya besok ajalah."
Nining mengedip mata ke arah ibunya, tanda di mana ibunya sudah menyelamatkan Nining dari pertanyaan pertanyaan jebakan dari bapaknya sendiri.
"Mm."
Terlihat sekali Pak Yono sedikit kesal, karna anak dan istrinya selalu kompak saling menyelamatkan satu sama lain.
__ADS_1