Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 77


__ADS_3

Sisil memegang tangan Ibunda Ardi, berpura pura menangis karna sakit hati akan perkataan Ardi.


"Tante, aku tidak ada maksud seperti yang di katakan anak tante. Padahal keluargaku juga orang kaya." Ucap Sisil berbohong.


Ibunda Ardi menenagkan Sisil agar tidak menangis lagi," Sisil. Kamu jangan menangis. Ardi tidak sungguh sunggub berkata seperti itu."


Ardi langsung menyingkirkan Sisil dari pelukan ibunya sendiri, membuat Sisil meringis kesakitan akan tangan Ardi yang sedikit menyakiti tangan Sisil.


"Ahk, sakit."


sang Ibu langsung mendengus kesal, memarahi Ardii dengan berkata," kamu ini keterlaluan Ardi. Kamu jangan main kasar terhadap wanita."


"Bu, wanita seperti dia harus dikasari, karena dia itu wanita jahat. Ibu jangan terlalu terpengaruh oleh wanita ini," balas Ardi. Menunjuk wajah Sisil dengan penuh kebencian.


Sisil mengerutkan dahinya, menggigit giginya, menahan kekesalan karena Ardi terus saja menghina dan juga mengatakan bahwa dia wanita jahat.


"Hentikan, Ardi. Sisil bukan wanita yang kamu bayangkan, karena Ibu tahu sendiri bagaimana kebaikan ibunya terhadap ibu," ucap sang Ibu Terus saja membela Sisil.


" semua tidak menjamin Bu, jika ibunya baik belum tentu anaknya juga baik. ibu harus sadar Ibu jangan terpengaruh dengan wanita licik seperti dia," balas Ardi.


" Kamu ini kenapa sih selalu menyudutkan Sisil, Kalau memang dia wanita licik dan juga jahat. Mana buktinya, kamu tidak punya bukti sama sekali," hardik sang ibu.


Ardi sudah merasa bosan terus saja menasehati sang ibu yang keras kepala, pada saat itulah Ardi mulai memegang tangan Lina untuk segera pergi dari hadapan ibunya dan juga Sisil.


"Ardi, kamu mau ke mana lagi," teriak sang ibu.


Orang orang yang tengah berbelanja menatap perdebatan mereka, membuat Ardi sedikit malu. Ada orang yang sengaja merekam perdebatan mereka, membuat video mereka tersebar luas.


Ardi langsung membawa Lina masuk ke dalam mobil, membuat Lina merasa tak enak hati, dengan perdebatan yang terjadi di mall.


"Ardi, apa kamu tidak keterlaluan tadi, aku merasa tak enak hati melihat kamu terus memarahi ibumu sendiri," ucap Lina.


Ardi masih saja diam, ia menundukkan pandangan. Tak terasa air mata Lelaki itu menangis secara perlahan, membuat Lina merasa heran hingga ia dengan berani membalikan badan Ardi.


saat badan Ardi berhadapan dengan Lina. Saat itu pula Lina sangatlah terkejut, melihat air mata Ardi menetes keluar secara perlahan mengenai pipi.


Lina baru pertama kali melihat seorang lelaki menangis dihadapannya, ia mengira lelaki itu begitu kuat jika mempunyai masalah. akan tetapi lelaki juga sama, Jika ia dihadapi masalah besar saat itulah air matanya akan keluar.


tanpa sadar Lina langsung memeluk tubuh Ardi, menenangkan semua kesedihan yang dirasakan Ardi.

__ADS_1


"Ardi, kamu harus tenang. Aku tahu, pasti kamu berat melewati semua ini."


perlahan perasaan Ardi mulai tenang, saat pelukan hangat dari Lina tak lepas begitu saja.


Ardi seakan merasakan ketenangan yang benar-benar membuat hidupnya kembali bangkit.


"Lupakan masalah yang kamu hadapi saat ini, aku ada di sini akan terus menemanimu Ardi. Kamu jangan takut," ucap Lina.


selama Ardi merasa tertekan akan masalah yang terus berada di kehidupannya, yang terus membuat hidupnya menderita. Kini Ardi seakan menemukan sebuah cahaya dari dari Lina yang mampu membuat hatinya tenang.


"Terima kasih Lina."


saat itulah lina langsung melepaskan pelukan Ardi, mengusap perlahan air mata yang keluar dari mata Ardi.


Ardi tersenyum, setelah Lina mengusap perlahan air matanya. Saat itulah keinginannya untuk mencium Lina di rasakan Ardi, begitu pun dengan Lina.


Perlahan Ardi mendekat dan mulai mendekatkan bibirnya, hanya saja Lina menempelkan jari tangannya pada bibir Ardi, menolak secara halus.


Membuat Ardi, langsung meminta maaf.


"Maafkan aku Lina, aku tak sadar," ucap Ardi.


Deg ....


Hati Ardi seakan syok saat Lina berkata seperti itu, Ardi masih tak percaya dengan ucapan Lina. Seakan sebuah mimpi yang ia rasakan.


Ardi mencubit pipinya dengan tangan, berharap jika ucapan Lina bukan dari mimpinya.


Lina merasa heran dengan Ardi dan langsung bertanya?" kamu kenapa, malah mencubit pipi kamu sendiri."


"Aku takut jika ini mimpi, Lina!" jawab Ardi. Terus mencubit pipinya, merasakan rasa sakit.


Lina tertawa dan mencubit keras bibir Ardi dengan tangannya, sampai di mana Ardi sedikit kesakitan.


"Ahk."


Lina tertawa dan bertanya?" Bagaimana rasanya, sakit."


Ardi menganggukkan kepala dan berkata," sakit banget."

__ADS_1


Lina semakin tertawa, melihat wajah Ardi. Ia baru pertama kali melihat keluguan Ardi.


Ardi merasa senang, ternyata yang di ucapakan Lina bukan dari mimpinya melainkan kenyataan yang nyata.


"Akhirnya ini bukan mimpi." Teriak Ardi di dalam mobil, membuat mobil Ardi sedikir bergoyang.


Lina langsung menahan tubuh Ardi, agar tidak terus bergerak. Karna takut jika orang di luar sana salah mengira.


"Ardi hentikan."


"Memangnya kenapa?"


"Kamu mau orang orang salah mengira kita sedang apa!"


"Enggak papa, kan nanti juga kita kawin," ucap Ardi kegirangan, memegang kedua pipi Lina. Membuat Lina memukul bahu Ardi.


"Bukan kawin," balas Lina. Berusaha melepaskan tangan Ardi yang menempel pada pipinya.


Ardi langsung melepaskan kedua tangannya yang menempel pada pipi Lina." Jadi apa?"


Lina langsung mengusap dagunya dan menjawab," nikah."


Ardi tertawa terbahak-bahak dan memukul jidatnya sendiri, berkata pada Lina. Sembari mencubit pipi kirinya," sama aja. sayang."


Mereka langsung tertawa, dan Ardi yang begitu senang langsung memeluk tubuh Lina.


Namun, ada hati Lina yang masih berat. Lina Mencoba untuk bisa mencintai lelaki yang berada di hadapannya, agar dia tidak terus-menerus menyakiti hati Kakaknya sendiri. Iya tak mau dirinya menyesal karena sudah mencintai suami Kakaknya sendiri.


saat itulah Lina berusaha mengubah dirinya agar bisa mencintai orang lain selain Haikal, " Ardi aku akan berusaha mencintaimu." gumam hati Lina.


Pelukan mereka tiba-tiba terlepas saat seseorang menggedor-gedor mobil, membuat Lina dan juga Ardi kaget. saat itulah Ardi mulai membuka kaca mobil dan melihat Siapa orang yang sudah menggedor-gedor pintu mobilnya.


Mereka mengira orang yang mengedor gedor pintu itu mengira bahwa Ardi dan juga Lina sudah melakukan sesuatu yang tak baik di dalam mobil.


"Maaf kami, hanya ...."


belum perkataan Ardi terlontar semuanya, orang itu langsung memperlihatkan lembaran kertas tagihan pada Ardi.


"Maaf pak, tagihan anda. Baju yang anda pilih sudah kami kemas, tinggal anda yang membayar," ucap orang itu.

__ADS_1


Ardi merasa malu dengan dirinya sendiri, ia mengira orang itu mau memarahinya, namun ternyata orang itu menyodorkan tagihan baju yang sudah Ardi beli untuk Lina.


__ADS_2