Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 241


__ADS_3

Nining menyetujui, perkataan sang ibu yang di mana ia akan menemui Ruslan, memberi sebuah kesaksian atas tindakan pel*cehan yang dilakukan Ruslan kepada Nining.


"Baik, bu. Nining akan kebalai desa. Sekarang."


Ucap Nining.


Sang ibu merasa tenang jika Nining mau diajak ke balai desa, untuk mengungkapkan kesaksian atas dirinya yang sudah diperlakukan tidak baik oleh Ruslan.


Pak Yono, masih menunggu penjelasan istrinya, di luar kamar.


Hingga beberapa menit kemudian Nining dan juga Bu Sari keluar dari dalam kamar, terlihat raut wajah lelaki tua itu begitu terlihat gelisa.


kedua matanya menatap ke arah anak gadisnya, dan bertanya?" kumaha Ning, maneh wani ngahadapkeun si Ruslan."


(Gimana Ning, kamu berani menghadapi si Ruslan.)


Nining menganggukkan kepala, ia berkata." Iya pak."


Pak Yono merasa senang dengan keberanian anaknya, saat itulah ia mulai membawa Nining. Menaiki motor bututnya untuk segera Sampai Ke balai desa.


semua orang sudah berkumpul di balai desa, menunggu kesaksian akan Nining yang bercerita.


sedangkan Ruslan masih menunggu pada kursi kayu yang berhadapan dengan kepala desa, terlihat wajah kekesalanya pada Nining.


"Berani juga si Nining datang."


Nining mulai turun dari motor butut ayahnya, kakinya kini melangkah pada anak tangga masuk menuju balai desa.


Terlihat warga saling membicarakan Nining, keburukan dan kebaikanya. Nining yang mendengar semua itu hanya terdiam dan fokus berjalan.


Ruslan tersenyum sinis, menatap tajam ke arah Nining. Bayangan akan perlakuan Ruslan kini terlintas pada kepala Nining, membuat Nining berusaha melawan rasa ketakutan itu.


Kepala desa, mulai menyuruh Nining untuk duduk di kursi kayu yang tak jauh dari samping kiri Ruslan.


Ruslan yang tak menyadari kesalahannya begitu berat, tetap santai.


"Aku ingin tahu, seberani apa wanita di sampingku ini?" Gumam hati Ruslan.


Nining mengepalkan tanganya, ia ingin sekali meninju lelaki yang membuatnya seketika trauma.


"Andai saja membunuh itu tidak terjerat hukum, mungkin aku sudah membunuh dia mencingcang dia seperti semur danging." Gerutu Nining.


@@@@@

__ADS_1


sang ibu yang tak ikut serta Ke balai desa, kini berusaha mencari keberadaan Asih dan juga Euis.


wanita tua itu penasaran, Kenapa Euis dan Asih tiba-tiba hilang.


seperti ada yang sengaja menyekap mereka berdua. Maka dari itu Bu Sari menyuruh Rojak yang tak lain adiknya sendiri, membantu Bu Sari mencari keberadaan Euis dan Asih.


"Kita teh udah cari kemana mana tadi tidak ketemu juga," ucap Rojak.


"Iya Jak, teteh juga bingung," balas Bu Sari.


Rojak mulai mengingat suatu tempat yang jarang disinggahi oleh orang-orang desa.


"Teh."


"Ya, Jak."


"Gimana kalau kita teh cari Euis jeung Asih, di gudang beras."


"Lah, bukanya gudang itu, udah enggak di pake lagi, ngapain kita ke sana."


"Ih. Si tetehmah, te apalleun justru eta kita cari ke sana. Karna itu tempat yang jarang di singahi orang orang desa, siapa tahu Euis jeung Asih di sekap di sana."


"Benar juga kamu, Jak."


kedua adik kakak itu kini mulai berjalan menuju gudang beras yang jarang dipakai oleh para desa dan juga petani, mereka berjalan dengan terburu buru, hingga Di mana mereka melihat Bu Nunik berada di luar gudang itu.


"Iya, ngapain dia sendirian di sana! Biar teteh samperin!" Bu Sari hampir nekad pergi menuju gudang yang di mana Bu Nunik berada di sana.


Bu Sari, hampir saja menghampiri Bu Nunik, akan tetapi tertahan oleh Rojak.


"Teteh teh mau ke mana?" Tanya Rojak. Memegang tangan kakaknya.


"Yeh, teteh mau nyamperin Bu Nunik!" Jawab Bu Sari. Berusaha melepaskan tangan adiknya.


"Jangan atuh teh." Larang Rojak.


"Lah, kenapa?" tanya Bu Sari, heran.


"Kalau kita nanti ke sana. Yang ada kita enggak bakal tahu apa yang Bu Nunik lakukan di sana." Jelas Rojak. Membuat Bu Sari kembali terdiam.


"Bener juga kamu ngomong, Jak." ucao Bu Sari.


"Ya sudah teteh diam aja, kaya Rojak gini." titah Rojak.

__ADS_1


Bu Sari menuruti apa perkataan adiknya, mereka menunggu, dan menunggu dibalik semak-semak untuk melihat apa yang dilakukan Bu Nunik di dekat gudang yang sudah tak terpakai itu,


Tiba-tiba Kedua lelaki keluar dari gudang yang tak terpakai itu, menghampiri Bu Nunik, wanita tua yang menjadi Ibu Ruslan itu merogok tas, mengambil sebuah amplop dan memberikan kepada kedua lelaki yang baru saja keluar dari gudang tak terpakai itu.


"Ngapain Bu Nunik kasih mereka amplop?"


pertanyaan mulai mengelilingi kepala Bu Sari.


wanita tua yang menjadi Ibu Nining itu kini menggenggam erat kerah baju Adiknya sendiri," apa jangan-jangan Euis dan Asih disekap di gudang itu oleh Bu Nunik!"


Rojak berusaha melepaskan genggaman erat tangan Kakaknya sendiri, yang hampir saja mencekik lehernya," bisa saja sih Teh, tapi ini tangan Teteh bisa nggak, nggak harus kayak begini."


Saat Itulah Bu Sari langsung melepaskan tangannya yang memegang erat kerah baju sang adik, wanita tua itu meminta maaf kepada Rojak atas perilakunya yang mengagetkan.


"Terus apa yang harus kita lakukan saat ini, jak."


"Sebaiknya kita tunggu dulu di sini, Teh. kita lihat Kedua lelaki itu apa mereka menunggu di luar gudang atau mereka cabut dan pergi."


Sari hanya mendengarkan apa yang dikatakan adiknya.


"Ya sudahlah teteh mah nurut aja apa perkataan kamu, yang penting Euis dan Asih ketemu. Teteh teh butuh mereka buat menjadi saksi atas perlakuan Ruslan Yang tak menyenangkan terhadap Nining."


"Iya, Teh, tenang aja. Rojak juga pasti bantu kok, Teteh nggak usah khawatir ya, yang terpenting kita cari tahu dulu sebelum bertindak."


@@@@


Beberapa menit menunggu, pada akhirnya kedua lelaki itu pergi menaiki motor setelah menerima uang dari Bu Nunik.


Sepertinya mereka adalah suruhan yang di perintahkan Bu Nunik untuk menculik Asih dan Euis.


"Eleh si Asih teh jeung si Euis pasti ada di dalam gudang."


"Ya udah, teh kita lihat saja nanti. Kalau Bu Nunik sudah pergi dari gudang itu."


"Iya Jak.


Rojak yang menunggu Bu Nunik pergi merasa kesal hingga di mana, Rojak menyuruh Bu Sari untuk memukul punggung Bu Nunik.


"Enggak bakal kenapa kenapa tuh, Bu Nunik kalau Teteh pukul pake kayu punggungnya?"


"Enggak apa apa teh, palingan dia pingsan!"


"Kalau pingsan, teteh tanggung jawab dong?"

__ADS_1


"Enggak perlu, toh enggak ada yang liat ini, teteh mukul tuh si Bu Nunik rese itu."


"Benar juga sih, apa kata kamu. Jak."


__ADS_2