Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 247 Terbakar.


__ADS_3

Kebersamaan dirasakan Ardi dan juga Haikal. Di mana mereka makan bersama, hanya di teras depan rumah, dengan makanan sederhana yang membuat perut mereka merasa kenyang dan puas.


Nining dan Bu Sari, merasa senang melihat Ardi dan Haikal tersenyum dengan rasa puas akan masakan mereka berdua.


Tidak ada yang tak menduga,jika Ardi lelaki kota bisa menyukai makanan kampung yang sederhana. Membuat Nining tentulah semakin terpesona dan kagum dengan kesederhanaan Ardi dan juga wajah tampan lelaki yang sudah melamarnya saat ini.


Bagaimana jika Lina mengetahui semua ini? Apakah dia sanggup menerima? Apalagi kedua orang tua Ardi yang belum tahu jika Ardi melamar seorang wanita berasal dari kampung?


Nining berusaha menyakini dirinya sendiri, semua akan berjalan normal.


Di rumah. Bu Nunik bersiap-siap menjalankan aksinya, di mana ia membeli satu kompak bensin untuk membakar rumah Nining.


Hati wanita tua itu sudah benar-benar dipenuhi dengan rasa dendam dan juga kekesalan. Ia ingin melihat keluarga yang bahagia itu hancur lenyap karena kobaran api yang akan ia nyalakan malam ini.


Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 malam, waktunya Bu Nunik beraksi. Pak Hasan masih tertidur pulas. Dia tak mau mengganggu suamimu, hanya dirinya sendiri yang akan pergi ke rumah Nining untuk menaburkan bensin..


"Mungkin dengan cara ini aku bisa membuat keluarga mereka harus hancur, dan lenyap terbakar. Dan mungkin dengan cara ini, hatiku akan puas dengan semua yang aku lakukan. Walaupun ini adalah hal yang bodoh." Gerutu Bu Nunik dalam hatinya.


Setelah Bu Nunik sampai di rumah Nining di mana ia berada di belakang rumah.


" Sepertinya mereka sudah tertidur pulas, waktunya aku menjalankan aksiku untuk menghanguskan semua isi rumah dan juga rumah gadis tengil itu. "


Saat itulah, ia langsung menaburkan bensin pada sela sela tembok bilik rumah Nining.


Membuat Nining yang belum tidur karena memikirkan Ardi, membuat hidungnya mencium bau yang tak biasa, bau yang tak nyaman. Dengan bau yang terus tercium oleh hidungnya .


"Kenapa? kok terasa bau bensin ya? Masa iya tengah malam begini?" Bau itu terus menyengat pada hidung Nining.

__ADS_1


Nining yang benar-benar penasaran, kini bangkit dari ranjang tempat tidurnya. Iya berusaha mengendus-ngendus bau yang tak biasa tercium oleh hidungnya, seketika saat pintu jendela terbuka. Saat itulah seseorang telah menaburkan bensin membuat Nining langsung berteriak.


. Bu Nunik yang asik menabur bensin, tentulah terkejut dengan jeritan Nining, hingga Bu Musik tak sadarkan diri, membuat ia terjatuh dan bensin menyebur pada badannya.


korek api yang ia pegang dengan spontan, menyala oleh kegugupan tangannya, hingga api itu langsung membakar tubuh Bu Nunik.


wanita tua itu menjerit kesakitan akan kobaran api yang menyelimuti tubuhnya, membuat Nining shock berat dan berlari membangunkan ibu dan bapaknya.


Nining berusaha mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya, berharap mereka langsung bangun.


Beberapa kali mengetuk pintu, kedua orang tua Nining tetap saja tertidur hingga di mana Nining berlari mengambil air dan mencoba mengguyur Bu Nunik, untuk segera memadamkan api yang terus menjalar pada tubuhnya.


Ardi yang menyadari teriakan Nining dan juga Bu Nunik, kini datang, melihat apa yang sudah terjadi. Mereka dengan sigapnya mengambil air membantu memadamkan api pada tubuh Bu Nunik.


"Panas. panas. Tolong saya. "


Bu Sari dan juga Pak Yono yang baru saja bangun karena mendengar teriakan, bergegas keluar dari dalam kamar. Melihat apa yang sudah terjadi?


Sontak mereka Langsung terkejut dengan apa yang mereka lihat.


30 menit berlalu akhirnya Bu Nunik bisa terbantu oleh Nining yang dengan Sigap mengguyur air pada tubuh Bu Nunik terus-menerus begitupun dengan Ardi dan juga Haikal yang membantu memadamkan api di daerah tanah yang hampir melalap ke arah bangunan rumah Nining.


Bu Nunik menangis merasakan rasa sakit pada tubuhnya, Nining mendekat ke arah Bu Nunik dan berkata." Ibu tahu tidak? Apa yang ibu lakukan ini, hampir membunuh diri ibu sendiri."


kedua mata Nining tanpak berkaca-kaca, menahan rasa kesal dan amarah yang mengebu pada hatinya.


Bu Nunik menundukkan kepala menahan rasa sesal yang mendera pada hatinya, saat itulah para warga mulai datang berbondong-bondong melihat apa yang sudah terjadi.

__ADS_1


Mereka saling membisik satu sama lain dengan apa yang mereka lihat, melihat Bu Nunik dengan luka. bakar yang terlihat begitu parah.


Akan tetapi Nining yang masih mempunyai hati nurani, menyuruh para warga untuk segera pergi dan tidak mengelilingi hal yang tidak harus digunjingi.


Nining kini mengambil tangan Bu Nunik untuk diarahkan pada bahunya, berusaha mengangkat Bu Nunik dengan perlahan, akan tetapi Bu Nunik yang merasa kesakitan membuat Ardi dengan sigap, langsung menelepon ambulan untuk segera membawa Bu Nunik ke rumah sakit.


sejahat apapun Bu Nunik, Nining tak bisa membuat Bu Nunik semakin menderita, ia berusaha menyelamatkan Bu Nunik dari rasa sakit yang di rasakan wanita tua itu pada tubuhnya, akibat ulahnya sendiri.


Bu Sari yang semakin kesal dengan tingkah Bu Nunik, kini mendorong kepala Bu Nunik dan berkata," ini akibatnya bagi orang yang tidak pernah menyadari kesalahanya sendiri. Sudah berapa kali saya nasehati kamu dari tadi siang, tapi kamu malah semakin menjadi-jadi. Bu Nunik Seharusnya kamu sadar akan kesalahan dan merubah diri agar lebih baik lagi. "


Nining berusaha memisahkan ibunya dan juga Bu Nunik. Ia tak mau mendengar kemarahan ibunya, yang di mana akan membuat para warga semakin ingin tahu.


" Bu sudah ya, Bu, tahan emosi. Ibu, biarkan nanti ambulans yang membawa Bu Nunik dan mengobati luka yang dirasakan Bu Nunik saat ini."


Mendengar perkataan anaknya yang masih membantu Bu Nunik membuat sari mendengus kesal dan berkata. "Sudahlah Nining, ngapain kamu membantu orang jahat seperti dia. Dia itu tak pantas hidup di dunia ini, Bu Musik benar-benar jahat, licik. Sudah untung kita tidak membuat dia terbakar hangus hingga mati sia-sial."


"Sudah Bu. Tenangkan hati ibu sementara waktu. Bagaimana pun kita tidak boleh menghakimi orang


lain. "


Dada Bu Sari, naik turun. Menahan amarah dan rasa kesal pada Bu Nunik yang kini menangis menahan rasa sakit akibat terbakar karna ulah dirinya sendiri.


Kini ambulans datang.


Di mana Nining, menyuruh Bu Sari untuk diam saja di rumah menunggu.


Begitupun dengan bapak, Nining dan Ardi akan pergi menaiki ambulans membawa Bu Nunik ke rumah sakit. Sedangkan Haikal berlari menuju rumah Bu Nunik untuk memberitahu Pak Hasan akan masalah yang terjadi pada istrinya

__ADS_1


__ADS_2