
"Kakak ini kenapa sih, Lina kan bukan anak kecil lagi," gerutu Lina pada sang kakak.
"Iya kamu bukan nak kecil lagi, tapi kamu harus sering di kasi nasehat agar kamu tidak terlalu kecentilan saat berhadapan dengan lelaki," ucap Dinda mencubit hidung Lina.
"Kakak, kan Ardi sudah jadi ...."
Belum ucapan Lina terucap semuanya, Dinda langsung berkata tegas," sudah jadi apa. Baru aja lamaran belum sah suami istri."
Lina mengerutkan bibirnya," ya. Kak, kan cuma tatapan mata aja."
"Tatapan mata mengundang nafsu, apalagi pegangan tangan. Itu enggak boleh." Ucap Dinda.
"Kamu dengan apa yang kakak ucapkan," tegas Dinda.
"Ya, ya . Lina dengar." balas Lina. Mulai pergi dari hadapan Dinda.
namun Dinda malah menarik tangan adiknya itu," apa lagi sih. Kak."
"Kamu mau ke mana?" tanya Dinda pada sang adik.
"Mau tidurlah kak, ke kamar!" jawab Lina.
"Eeh, jangan dulu masuk ke dalam kamar. Bantu dulu kakak beres beres." ucap Dinda pada Lina.
"Enggak, enggak. Aku enggak mau, aku lelah kak. Mau tidur," balas Lina.
Dinda menjiwir telinga Lina dan berkata," ayo cepat ikut kakak.'
"Aduh kak, sakit," rengek Lina.
"Mau nurut, apa di jewer begini terus menerus," balas Dinda.
"Ya, ya. Aku bakal bantuin kakak," ucap Lina dengan terpaksa.
Lina mulai berjalan mengikuti langkah kakaknya menuju dapur, dengan rasa malas.
"Ayo semangat."
Lina menggerutu kesal pada hatinya," dasar nenek tua."
betapa kagetnya Lina saat itu, melihat tumpukan piring kotor.
__ADS_1
"Buset .... Gunung piramida kenapa ada di sini, kak," ucap Lina.
"Sudah jangan banyak ngomong kamu, Lina. Cepat cuci piring kotor yang menumpuk itu," printah sang kakak.
Lina mulia memegang piring kotor itu, dan berkata," hah. Malasnya."
"Kamu ngomong apa, Lina?" tanya Dinda.
"E .... Enggak ngomong apa apa kok kak!" jawab Lina ketakutan.
Haikal melihat pemandangan yang tak biasa, ia begitu senang melihat kedua adik kakak kembali akur, tidak seperti dulu yang selalu bertengkar hanya karna masalah cinta.
@@@@@
Ardi dan sang ayah, melihat wanita tua berjalan sendirian, mereka seakan mengenal wanita tua itu. Membuat sang ayah menghentikan mobil.
Ardi turun dari mobil, menghampiri wanita tua yang tengah berjalan sendirian. Dan ternyata wanita tua itu adalah ibunya sendiri.
"Ibu, kenapa ibu berjalan sendirian?" tanya Ardi.
Terlihat wajah sang ibu begitu kusut, membuat Ardi tak tega melihat wanita yang sudah melahirkannya. Saat itu juga Ardi membawa sang ibu untuk segera naik ke dalam mobil.
Ardi anak yang engois tetap saja peduli terhadap kedua orang tuanya, ia masih mempunyai rasa belas kasihan walau dirinya dulu selalu terabaikan.
"Ibu, tidak kenapa napa kan?" tanya Ardi. menatap ke arah sang ibu. Berharap tidak ada luka atau pun bekas pukulan orang lain.
"Ardi, ibu baik baik saja!" jawab sang ibu. Kedua tangan wanita tua itu terlihat bergetar. Seakan menahan rasa takut dan rasa trauma.
" Terus. Kenapa Ibu bisa berjalan sendirian saat malam hari seperti ini. Bukannya ibu sudah duluan pulang dari tadi sore?" tanya Ardi, berharap mendengar jawaban yang jelas dari sang ibunya.
"Ibu, kecopetan Ardi saat ibu hendak mengejar Sisil yang ibu lihat dia seperti menunggu seseorang di taman," jelas sang ibu.
Sang suami terdiam keluh, saat istrinya menjelaskan semua kejadian yang menimpa dirinya, apalagi setelah mendengar nama Sisil di sebut.
"Ibu betemu Sisil, kenapa ibu malah mengejar dia, biasanya dia menghampiri ibu bukan?" tanya Ardi. Yang tak paham dengan penjelasan sang ibunda.
"Entahlah, Ardi. Ibu juga tak mengerti dengan gadis itu, kenapa dia lari saat dirinya melihat ibu, makanya ibu mulai mengejarnya. Padahal ibu sudah memberikan perhiasan ibu agar dia mau mengejar cinta kamu Ardi," jelas sang ibu. Berkata jujur pada anaknya.
"Apa, ibu memberikan semua perhiasan ibu kepada Sisil." Ucap Ardi. Kaget.
"Iya," balas sang ibu.
__ADS_1
Ardi mengusap kasar wajahnya, ya bingung dengan jalan pikiran sang ibu. yang begitu percaya dengan gadis yang baru ia temui, dan memberikan perhiasan yang begitu banyak kepada gadis itu.
" Kenapa Ibu bisa bertindak bodoh seperti itu, Kenapa juga Ibu harus memberikan perhiasan ibu kepada gadis itu," ucap Ardi.
"Karna ibu berhutang budi dengan ibunya, yang dulu selalu membantu ibu dalam susah maupun senang," balas sang ibunda.
" Itu kan ibu nya, harusnya ibu itu bisa berpikir dulu sebelum memberikan harta benda yang Ibu miliki, apalagi perhiasan yang begitu banyak pada dia," ucap Ardi.
"Ya, ibu salah. Kalau ibu bertemu lagi dengan Sisil. Ibu akan meminta kembali perhiasan ibu," balas Sang ibunda.
" Sudah aku bilang dari dulu, Sisil itu wanita yang matre. tapi kamu tak percaya apa perkataanku," timpal sang ayah yang duduk di depan.
" Ya, mana aku tahu. Kalau aku tahu aku juga tak akan terlalu percaya pada dia," ucap Ibunda Ardi.
"Mana aku tahu bagaimana, jelas jelas terlihat sekali dia itu matre. Kamunya aja yang bodoh," balas sang suami kepada istrinya.
"Sudah, sudah. Kalian jangan bertengkar lagi, ayah sudah jangan memojokkan ibu lagi, seharusnya ayah bisa mengerti tentang perasaan ibu saat ini," ucap Ardi pada sang ayah.
"Hah, Ardi. Dari dulu ibumu itu egois, susah di bilangin," balas sang ayah.
"Ya sudah bu, sekarang ibu tenangin dulu hati ibu. Ya." Ucap Ardi.
Ayah handa Ardi segera mungkin mengirim pesan pada Sisil, meminta maaf karena dirinya tak datang, di acara pertemuan.
(Maafkan aku sayang. Tidak datang, karna tadi ada acara mendadak.)
sisil yang dari tadi pesan dari lelaki tua itu, kini begitu senang kegirangan.
"Akhirnya, si tua bangka itu mengirim pesan padaku juga. Aku harus balas apa ya. Agar dia mau membelikan kalung berlian yang harganya puluhan juta," ucap Sisil menatap layar ponselnya.
( Aku enggak mau maafin kamu, aku bakal marah sama kamu sayang, kamu begitu lama datang.)
Sisil tertawa saat ia mengetik pesan balasan untuk ayahhanda Ardi.
Lelaki tua itu tersenyum kecil saat melihat balasan dari Sisil yang ia tahu jika Sisil ingin di rayu dan di beri sesuatu. Karna bagi lelaki tua itu wanita matre seperti Sisil sudah banyak ia taklukan hanya dengan di beri keinginan dan apa yang ia mau.
( Kamu mau aku belikan apa sayang. Agar kamu tak marah lagi?)
Pesan terkirim
Sisil sangatlah senang membaca balasan dari ayahhanda Ardi.
__ADS_1