
Sedangkan Ardi yang berada di kota, kini telah sampai di rumah Haikal, ia ingin menemui Haikal untuk menjelaskan sesuatu yang sudah terjadi pada Lina.
beberapa kali Ardi mengetuk pintu, namun tak ada jawaban sama sekali.
"Ke mana, Haikal."
Salah satu Ibu penjaga kontrakan, kini melihat Ardi yang tengah menunggu di depan pintu kontrakan Haikal.
"Maaf den, lagi nunggu den Haikal ya?"
"Iya, bi!"
"Den Haikalnya udah pergi."
"Pergi?"
"Iya, katanya mau tinggal di kampung saja. Udah enggak betah tinggal di kota."
Ardi tak menyangka jika Haikal bergegas pergi dari kontrakannya, setelah apa yang sudah ia lakukan terhadap Haikal.
"Bibi tahu kampungnya ada di mana?"
"Aduh, bibi kurang tahu!"
tiba-tiba saja suara ponsel berbunyi, saat Ardi telah mengobrol dengan ibu penjaga kontrakan.
"Bibi permisi dulu ya den."
"Iya bi."
"Halo, ada apa? Ridwan."
terdengar suara berat Ridwan dari sambungan telepon.
"Anu, tuan. Nona."
"Nona kenapa?"
"Nona kabur dari ruanganya!"
"Apa?"
Ardi mengusap kasar wajahnya, tak menyangka jika Lina Senekad Itu kabur dari rumah sakit.
padahal Ardi ingin menjelaskan secara detail tentang kejadian yang baru saja terjadi di rumahnya.
"Halo Ridwan."
"Iya tuan."
"Kalau begitu kamu pulang saja dulu."
__ADS_1
"Baik tuan."
panggilan telepon pun dimatikan sebelah pihak, Ardi kini bergegas untuk menaiki mobil.
ia tak tahu kenapa Haikal harus pergi dari kontrakannya, padahal urusan dengan Ardi masih begitu banyak.
setelah Ardi menaiki mobil, suara ponsel kini bergetar kembali. Di mana Ardi langsung mengangkat panggilan teleponnya.
"Halo."
"Halo pak, saya hanya ingin memberi tahu bahwa Pak Haikal sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya."
"Apa? kenapa? Apa alasanya?"
"Pak Haikal beralasan ingin beristirahat!"
"Ya sudah kamu urus semua gaji, tunjangan dan yang lainya."
Haikal pergi, dan Lina kabur, apa mereka merencanakan semuanya.
terbesit pikiran negatif dari kepala Ardi, bahwa Haikal memang sudah berkhianat.
Rasa kesal terus menghantui hati Ardi, ia kini melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Tak peduli dengan dirinya sendiri. Apa yang akan terjadi nantinya, jika iya tak berhati-hati dalam mengendarai mobil.
kesal benar-benar kesal yang dirasakan Ardi, saatnya, ia ingin membuktikan bahwa apa yang ada di pikirannya itu salah.
"Halo."
"Iya pak."
"Tolong kamu lihat data data pak Haikal. Setelah ketemu kirimkan kepada saya."
"Baik pak."
setelah sampai di rumah, Bu Maya dan Pak Anton, kini menunggu kedatangan anaknya.
terlihat sekali wajah gelisah pada kedua orang tua Ardi.
"Ardi, kamu dari mana? Ibu dengar kalau Lina masuk rumah sakit? Apa benar itu?"
entah apa yang harus dikatakan Ardi kepada ibunya sendiri, bahwa Lina kamu dari rumah sakit. begitupun dengan sahabat yang ia percaya, sudah pergi jauh dari kota.
"Ardi, Kenapa kamu tidak menjawab perkataan ibu nak? ibu tanya lho sama kamu?"
" Maaf Bu, Ardi capek, pengen istirahat. Nanti saja Ardi jelasin!"
Ardi mulai berjalan melangkah melewati sang ibu, akan tetapi wanita tua itu mulai menarik tangan anaknya.
akan tetapi lelaki tua yang menjadi suaminya kini mencegah sang istri, agar tidak terlalu ikut campur dengan masalah yang kini dihadapi anaknya.
__ADS_1
" kita sebaiknya diamkan dulu Ardi, Sepertinya dia banyak masalah."
sang istri hanya menganggukkan kepala saat suaminya berkata seperti itu.
Ardi mulai membuka pintu kamarnya dengan begitu keras, ia berjalan dengan cepat menjatuhkan tubuhnya begitu saja pada ranjang tempat tidur.
2 menit kemudian ia bangkit, memecahkan gelas yang berada di atas meja dekat ranjang tempat tidurnya. memecahkan dengan melemparkannya begitu saja.
tentu saja kedua orang tua Ardi sangatlah kaget dengan apa yang dilakukan anaknya, sang Ibu ingin sekali memeriksa keadaan anaknya dan bertanya, tentang apa yang sudah terjadi terhadap Ardi?
akan tetapi pencegahan dari sang suami, membuat dirinya tak berani menghampiri anaknya yang tengah dilanda banyak masalah.
"Ibu sangat penasaran dengan anak kita, ayah. tidak biasanya Ardi semarah itu?"
" sudah kita sebagai orang tua, tidak perlu ikut campur masalah anak kita. Biarkan saja Ardi menyelesaikan masalahnya sendiri. Dia kan sudah dewasa tahu mana yang benar dan juga yang salah."
" benar juga apa yang dikatakan ayah, Ardi bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, karena ia sudah dewasa dan sebentar lagi akan menikah, tentulah dia akan menjadi seorang suami yang akan menjaga istrinya. Bertanggung jawab dengan masalah yang terjadi dalam rumah tangganya nanti. Tapi Ibu sebagai orang tuanya, merasa tak tega melihat Ardi dilanda masalah yang tak pernah Ibu tahu."
Anto langsung memegang kedua bahu istrinya, mencium pipi kiri sang istri dengan begitu lembut dan berkata," Sudahlah, kita cukup lihat saja dari kejauhan. Ayah juga yakin pasti anak kita bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, tanpa kita bantu. kalaupun Ardi tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, Ardi pasti akan berbicara dan meminta bantuan kepada kita berdua saat itu juga."
Manghelaf nafas panjang, mengeluarkan secara perlahan. Bu Maya berusaha tidak terlalu ikut campur akan masalah yang dihadapi Ardi. Dia ingin melihat Ardi bertanggung jawab akan masalah yang tengah ia hadapi sendiri.
Walau sebenarnya hati ibu merasa tak tega, tapi bagaimana pun seorang ibu harus tega dan melepaskan anaknya untuk bisa bertanggung jawab sendiri.
Jika sang Ibu tidak melepaskan anaknya yang sudah bertumbuh dewasa akan masalahnya sendiri, kemungkinan besar sang anak akan terus bergantung kepada ibunya, tanpa memikirkan rasa tanggung jawab sedikitpun.
"Ya sudah, kita makan siang dulu." Ucap Anton merangkul bahu sang istri untuk mengajaknya makan.
Sang istri kini menganggukkan kepala tanda akan setuju, untuk segera menikamati hidangan makan siang.
Melangkah, dan duduk di atas meja. Maya melihat pelayan yang terlihat tak asing di depan matanya, membuat ia tentulah memanggil pelayan itu.
"Siapa kamu? Aku baru lihat kamu bekerja di sini.
Pelayan itu tak terlihat gugup, ia tersenyum lebar. Memperkenalkan diri pada Maya dan juga Anton dengan begitu sopan.
"Saya Ika, pembantu baru di rumah ini Nyonya."
"Oh."
Mengerutkan dahi, Maya padahal tidak pernah menyuruh sekertarisnya untuk mencari pembantu baru.
Wanita yang menjadi pembantu baru itu kini membalikkan badan, akan tetapi Maya kembali bertanya," tunggu. Sudah berapa lama kamu kerja di sini."
Wanita itu terlihat memutarkan bola matanya, seakan malas dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut Maya.
"Saya sudah 2 hari ini bekerja di sini!"
"Mm, pantas saja."
Anton merasa ada yang aneh dengan istrinya, karna beberapa kali bertanya pada seorang pembantu baru yang baru bekerja di rumah.
__ADS_1