Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 144


__ADS_3

( Loh, kok kamu berbicara begitu, memangnya kenapa dengan anakmu sendiri?)


Pesan terkirim kembali, di mana Maya menunggu jawaban yang terlontar dari sahabatnya itu.


( Anakku Sisil susah di nasehati, padahal aku berusaha sebisa mungkin menasehati dia.)


Maya sudah mengetahui watak Sisil, maka dari itu ia tak heran jika ibunya berkata seperti itu.


( Padahal kamu ini baik Tia, kenapa bisa anakmu susah di nasehati?)


Pertanyaan dalam pesan semakin di bahas panjang, membuat Maya menunggu balasan sang sahabat.


( Justru itu, sifat Sisil sama dengan ayahnya, apalagi Sisil terlalu di maja oleh ayahnya. Dan saat kita dalam masa sulit seperti ini, anak gadisku tak menerima.)


( Oh pantas saja. Oh ya, tadi kamu ingin mengatakan sesuatu hal. Memangnya apa yang akan kamu katakan Tia? )


Tia berusaha menarik nafasnya secara perlahan, saat itulah ia mengatakan tentang perilaku Sisil kepada Maya.


( Maafkan aku Maya, sebenarnya anakku sekarang tengah menjalani hubungan dengan suamimu.)


Deg ...


pesan yang dikirim Tia, seketika membuat hati Maya hancur berkeping keping. padahal Maya tadinya berpikir jika Sisil adalah wanita yang selalu berbohong, dan tak pernah mengakui ibunya sendiri, yang di mana ialah Tia, wanita yang sekarang menjadi penjual gorengan.


( Apa, apa kamu yakin dengan perkataan kamu, Tia.)


( Maafkan aku Maya, aku sudah mempunyai buktinya sendiri.)


Baru saja Maya merasakan kebahagian, kini kebahagian itu hilang seketika saat sahabatnya sendiri berkata bahwa Suaminya tengah menjalani hubungan dengan Sisil anak sahabat Maya.


( Maya, kamu tidak marah kan?)


Maya tidak menanggapi pesan Tia lagi, ia membiarkan pesan itu datang terus menerus.


( Maya, kamu baik baik saja kan di sana.)

__ADS_1


Tring ...


Tring ...


Suara ponsel Maya terus berbunyi, tanda pesan dari Tia.


Maya malah melemparkan ponselnya, ke atas lantai. Ia duduk dan mencoba tetap tenang. saat mengetahui semuanya,


"Sisil aku tak menyangka jika kamu selicik itu."


Tia berusaha menelepon Maya, akan tetapi Maya tidak mengangkat panggilan telepon dari Tia sama sekali.


Tia merasa kuatir, ia menyesal karna sudah mengatakan semuanya, Tia terlalu terburu buru.


Dengan bulak balik ke sana ke mari, Tia berusaha mengirim pesan pada Maya beberapa kali, Akan tetap tidak ada balasan sama sekali.


"Maya, kamu marah. Balas dong, aku benar benar kuatir dengan keadaanmu sekarang."


Maya yang duduk di atas lantai, hanya bisa mengusap pelan air matanya yang saling berjatuhan. Ia tak tahan dengan apa yang ia baca dari pesan Tia.


Maya berusaha bangkit dari atas lantai, ia kini berjalan mencari ponselnya yang tergeletak tak jauh dari hadapanya.


Melihat ponsel, panggilan telepon beberapa kali dan pesan yang belum ia baca. Saat itulah Maya mulai membalas pesan sang sahabat. Bagaimana pun Tia adalah wanita baik yang mau mengungkapkan kejelekan anaknya, dan berkata jujur akan kelakuan anaknya sendiri.


Jari tangan Maya mulai mengetik dan membalas pesan Tia.


( Aku tidak marah Tia, aku bersyukur mempunyai sahabat seperti kamu, yang mau mengatakan kejujuran walaupun itu terasa menyakitkan pada hatiku.)


Tia merasa senang saat Maya membalas pesannya saat itu.


( Maafkan aku Maya, Aku adalah seorang ibu yang tak becus mengurus anakku sendiri, hingga Aku lengah dan membuat anakku menghancurkan rumah tangga sahabatku sendiri.)


Maya berusaha tetap kuat, akan tetapi hatinya begitu sakit, air matanya terus mengalir. Membuat tangannya tak henti mengusap kedua pipinya sendiri.


balasan Maya begitu lama, membuat Tia langsung menelpon sahabatnya itu. akan tetapi Maya tak bisa menerima panggilan telepon dari Tia. Iya tak mau Jika Tia mendengar Isak tangisnya saat itu juga.

__ADS_1


( Maaf Tia, suamiku sedang tidur. Jadi aku tidak bisa mengangkat panggilan teleponmu.)


Maya membalas isi pesan Tia dengan berbohong, sebenarnya Anton tidak lagi bersama dirinya, Maya sendirian di dalam kamar dengan merasakan rasa sakit yang tak terduga pada hatinya.


sudah 15 tahun Ia tidur sendirian tanpa sang suami, hingga saat Ardi mulai menikah. ia memberanikan diri untuk mendekati Anton dan membuka diri terhadap lelaki yang menjadi suaminya.


akan tetapi, semua itu seakan sia-sia. ternyata suaminya itu telah menjalani hubungan dengan seorang gadis, yang gimana gadis itu adalah Sisil.


Maya tak tahu harus memaafkan Sisil atau membalas semua perlakuannya yang keterlaluan.


( Maya, aku minta maaf. Aku kira kamu tidak sedang di kamar bersama suamimu.)


( Tidak apa apa. Kamu santai saja. )


Maya yang sudah malas membalas pesan dari sahabatnya itu, kini mematikan ponselnya dengan sengaja. Iya tak tahan dengan ungkapan yang dikatakan Tia, kalau anaknya tengah menjalani hubungan dengan suaminya sendiri.


saat itulah Maya mulai duduk dirancang tempat tidur, ia kini merebahkan tubuhnya untuk bisa melupakan segala hal yang membuat hatinya terluka.


Entah kenapa kedua mata Maya, terus mengeluarkan air mata. membuat Maya tak kuat mendengar pengakuan dari sahabatnya sendiri.


" Ayolah air mata Kenapa kamu keluar terus menerus, sudahlah berhenti untuk menangis. besok pagi semua akan baik-baik saja." gumam Maya di dalam kamar sendirian.


rasanya Maya ingin sekali mengaduk kalah kesuhnya saat ini juga, ya tak mau memendam semua rasa sakit yang ia pendam saat ini, mulutnya ingin sekali berbicara kepada orang yang mungkin bisa ia percayai, Maya butuh nasehat dan juga kata-kata semangat. agar hatinya bisa menerima segala hal yang terus ia hadapi saat ini.


@@@@


tentulah Tia semakin panik, saat dirinya mengirim pesan beberapa kali kepada sahabatnya itu, tidak ada jawaban lagi dari Maya.


" ternyata Maya tidak membalas pesanku lagi, kalau aku telepon dia lagi. kemungkinan nanti suaminya akan terganggu, lebih baik besok aku menemui dia segera mungkin, untuk meminta maaf karena kelakuan anakku sendiri."


saat itulah Tia mulai menaruh ponselnya kembali, ia menyembunyikan ponselnya di bawah ranjang tempat tidur, agar Sisil tak mencurigai dirinya yang tengah menyembunyikan ponsel.


"Maya, rasanya aku tak sabar ingin segera menemuimu besok, Aku tak mau kamu sakit hati karena perkataanku yang sudah jujur akan kelakuan anakku sendiri."


kini Tia mulai merebahkan tubuhnya untuk segera tidur, karna hari besok adalah hari yang sangatlah menegangkan untuk dirinya. Di mana ia akan menemui Maya secara langsung dan menunjukkan semua bukti yang Tia simpan.

__ADS_1


"Maafkan Ibu Sisil, semua juga demi kebaikanmu. Ibu tidak mau kamu menjadi wanita perusak rumah tangga orang lain, apa lagi orang itu sahabat ibu sendiri. Ibu lakukan semua ini juga demi kebaikan kamu untuk kedapannya nanti," ucap Tia. Sembari menatap poto anaknya.


__ADS_2