Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 95


__ADS_3

"Ya ampun kakak, kok cetus banget sih," keluh Lina.


Ardi mulai menghampiri Dinda, meminta maaf pada sang kakak. Karna kesalahannya sendiri.


"Kak, maafin Ardinya. Ardi janji tidak akan melakukan hal yang seperti itu lagi, arti akan jaga baik-baik Lina. sampai pernikahan menjelang nanti," ucap Ardi kepada Dinda.


sang ayah tentulah kaget dengan perubahan Ardi, yang biasanya Ia adalah anak yang jarang sekali meminta maaf, apalagi berkata lembut. Sekarang di depan matanya sendiri, ia menyaksikan sendiri anaknya yang terlihat bahagia ketika bersama keluarga Dinda.


"Apa benar itu Ardi? Kakak ragu aja sama kamu," ucap Dinda bertanya tegas pada Ardi.


"Ardi bisa menjamin perkataan Ardi kak, jadi kakak tak usah kuatir. Ardi akan berusaha menjaga Lina tanpa menyentuh dia sedikit pun," balas Ardi. Membuat Dinda melihat ke arah wajanya yang begitu terlihat sungguh sungguh.


"Baiklah, kali ini kakak maafkan, kalau kamu mengulangi kesalahan yang sama, kakak tidak akan memaafkan kamu lagi," ucap tegas Dinda.


"Baik kak."


Dinda mulai mengajak Ayah Ardi untuk menikmati hidangan yang sudah ia sediakan di atas meja.


"Oh ya, bapak. Sebelum pulang dari sini, bagaimana kalau menikmati dulu masakan saya," ucap Dinda.


"Tak usah repot repot, saya ada urusan mendadak," balas Ayah handa Ardi.


saat sang ayah menolak hidangan yang sudah disediakan Dinda, saat itu juga Ardi terpaksa memaksa sang ayah untuk menikmati hidangan yang sudah Dinda masak sendiri.


"Ardi, ada apa lagi. Ayah mau pergi ada urusan," ucap sang ayah. Tangan lelaki tua itu masih di pegang erat oleh Ardi.


"Ayah sebaiknya makan dulu, jangan dulu pergi, ya," balas Ardi memohon pada sang ayah dengan begitu erat memegang tangan ayahnya.


sang ayah mulai merasa kasihan terhadap anaknya yang terus memaksa dirinya untuk segera makan, akan tetapi Ayahanda Ardi sudah mempunyai janji akan bertemu Sisil saat ini juga.


"Ayolah yah, cuman kali ini saja," ucap Ardi.


mau tidak mau sang ayah mulai menuruti keinginan anaknya, Ayahanda Ardi kini duduk di kursi, yang di mana di atas meja sudah terdapat beberapa menu makanan yang sudah di masak oleh Dinda.


lelaki tua itu sudah lama tidak memakan masakan rumah, biasanya ia selalu makan di restoran.


"Oh ya yah, coba deh ayah cicipi masakan Kak Dinda rasanya itu enak banget," ucap Ardi memuji masakan Dinda.


kedua Pipit Dinda merah, dikala pujian itu terlontar dari mulut Ardi.


"Cie cie, kak Dinda di puji sama Ardi," sindir Lina.

__ADS_1


Dinda mencubit tangan adiknya dan berkata," diam kamu."


Ayahanda Ardi begitu menikmati suapan demi suapan yang iya layangkan pada mulutnya, dirinya seakan menemukan rasa yang begitu berbeda. hatinya benar-benar bahagia saat menikmati hidangan bersama anaknya.


"Bagaimana ayah? Enakkan?" tanya Ardi.


"Enak sekali!" jawab sang ayah.


Dinda tersenyum senang saat masakannya dinikmati oleh Ardi dan juga ayahnya, tak sia-sia ia masak dari pagi hingga sore untuk menyediakan sang tamu.


Ayahanda Ardi seakan diberi kejutan yang sangat luar biasa, di mana makanan itu begitu ia rasakan nikmat sekali pada lidahnya. Membuat dirinya mengigat masa lalu. Dimana dulu lelaki tua itu pernah merasakan perihnya kehidupan sebelum menikah.


"Ayah."


Tepukan tangan Ardi membuat lamunan sang ayah membunyar, "ayah melamun?"


Kedua mata sang ayah berkaca kaca, segera mungkin tangannya mengusap pelan air mata yang hampir saja menetes ke luar.


Dret .... Dret ....


Suara ponsel terdengar bergetar di mana sang ayah merogoh saku celananya, menatap pada layar ponsel.


" Sisil menelepon." gumam hati Ayahanda Ardi.


"Siapa ayah, kenapa ayah tidak mengangkat panggilan telepon pada ponsel ayah," ucap Ardi pada ayahnya.


Tangan sang ayah kini mulai mengambil ponsel yang berada di atas lantai, mematikan panggilan telepon dari Sisil.


"Bukan siapa siapa, tidak penting. Sebaiknya kita teruskan untuk makan lagi." Ucap sang ayah nampak terlihat tak tenang. Membuat Ardi penasaran.


@@@@


sedangkan Sisil yang menunggu kedatangan Ayahanda Ardi dari tadi, membuat ia menggerutu kesal dirinya sendiri.


"Sial, ke mana si tua bangka itu. Bukanya dia sudah berjanji akan menjemputku."


beberapa kali menelepon lelaki tua itu, panggilannya selalu dimatikan. membuat Sisil mengurungkan niatnya lagi untuk menunggu ayah handa Ardi.


" daripada aku menunggu terus menerus di sini seperti orang bodoh, sebaiknya aku pulang untuk tidur. Awas aja kalau tua bangka itu meneleponku lagi akan aku biarkan, biar dia membayar rasa lelahku karna menunggu dari tadi," gerutu Sisil.


Gadis itu mulai mencari kendaraan untuk mengantarkannya pulang.

__ADS_1


"Ke mana lagi, taksi. jam segini tak ada satu taksi pun yang lewat."


@@@@


"Itukan Sisil, kebetulan sekali, saya lagi cari gadis itu." Ucap wanita tua yang menjadi ibunda Ardi.


"Sisil. Tunggu, nak." Teriak ibunda Ardi pada Sisil.


Sisil menyadari teriakan wanita tua, ia langsung berjalan untuk menghindar.


"Gawat, ada ibunya Ardi. Aku harus pergi dari sini."


"Sisil, tunggu nak."


Sisil berpura pura tak mendengarkan teriakan wanita tua itu dari kejauhan, Iya sengaja menghindari ibunda Ardi sesegera mungkin.


"Sisil."


karena mengejar Sisil yang sudah terlalu jauh, wanita tua itu sangatlah kelelahan. Iya Berhenti sejenak mengatur nafasnya yang terasa sesak." Kenapa Sisil pergi begitu saja, Gadis itu seperti menghindari saya."


sisir yang sudah masuk ke dalam Taxi, kini bernafas lega. ia menatap kearah jendela belakang mobil, wanita tua itu tak mengejarnya kembali." akhirnya aku bebas dari kejaran wanita itu. aku sudah malas meladeni dia, apalagi mengejar anaknya yang tak jelas."


Ardi dan sang ayah mulai berpamitan untuk pulang.


"Kak Dinda, kami pamit pulang. Terima kasih atas hidanganya," ucap Ardi.


"Iya, Ardi dan bapak hati hati di jalan," balas Dinda.


Ardi mulai menatap kearah Lina untuk segera berpamitan kepada calon istrinya, " Lina, aku pamit pulang dulu. Ya."


Lina hanya menganggukkan kepala, saat itu Ardi menyodorkan tanganya untuk bersalaman dengan Lina.


Hanya saja Lina, dengan gesitnya meraih tangan Ardi dan langsung mencium punggung tangan Ardi. Membuat Ardi merasa senang.


"Mm."


Suara Kak Dinda terdengar, saat itu juga Ardi berhenti menatap Lina. Memalingkan wajah ke arah Sisi kiri.


"Ayo Ardi kita pulang, sudah mau malam," ucap sang ayah. Mengajak Ardi untuk cepat pulang.


Lina menatap Ardi, ia melambaikan tangan ke arah Ardi yang sudah menaiki mobil. Ardi meleparkan sebuah senyuman ke arah Lina. Membuat sang kakak membulatkan kedua matanya.

__ADS_1


"Ayo masuk, sudah malam." Ucap sang kakak menarik tangan sang adik.


__ADS_2