
Langkah kaki adikku Lina semakin cepat, hingga ia tega meninggalkan kakaknya ini yang sudah merasakan kelelahan.
"Lina tunggu kak." Panggilanku ternyata tak didengar oleh Lina, sampai teriakan yang keluar dari mulut ini membuat semua orang berbalik arah pada wajahku. Tapi berbeda dengan Lina ia begitu cuek dan tak peduli.
"Lina, apa kamu masih marah?" Pertanyaanku benar-benar tak didengar oleh kedua telinganya. Apa dia masih kesal?
Berusaha mempercepat langkah kaki hingga aku berlari, agar langkah kakiku beriringan dengan langkah kaki Lina.
Melirik sekilas, adikku begitu murung. Netralnya menerawang jauh. Entah apa yang tengah ia pikirkan, hati ini benar-benar merasakan rasa bersalah yang teramat dalam.
Aku gagal menjadi seorang kakak, menyesal telah membuat luka pada hati Lina. Air mata mulai keluar dari mataku begitu saja.
"Lina, maafkan kakak. Kaka mengaku salah." Ucapku pada Lina, gadis manis di sampingku tetap saja diam.
"Lina, berikan kakak kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Kaka mohon." Berhenti sejenak, menyampingkan badan menatap ke arah Lina.
Namun, adikku masih terus berjalan. Membuat tangan ini segera mungkin meraih lengan tangannya.
"Lina, kenapa kamu diam saja? Semakin kamu diam. Kaka semakin merasa bersalah?"
Bibir Lina begitu rapat, bagaikan terkena lem yang sudah melekat dan tidak bisa dibuka lagi. Aku kaget bukan main Lina malah melepaskan tanganku yang memegang lengan tangannya.
"Lina, kakak mohon. Kaka harus apa biar kamu memaafkan kakak?"
Adikku benar-benar mengabaikan panggilanku, hingga satu angkot berhenti di depan mata. Lina dengan sigap menaiki angkot itu, tanpa menunggu aku sebagai kakaknya.
"Neng naik enggak?" Tanya sopir angkot itu.
Membuat lamunanku seketika membuyar.
Dengan sigap aku berlari sedikit menaiki angkot duduk berhadapan dengan sang adik.
Wajah Lina menunduk, tanpa menoleh sedikit ke arahku.
Aku melihat bulir bening menetes pada tangan Lina.
Lina menangis?
Ingin rasanya menahan air mata yang jatuh dari pelipih mata adikku. Tapi apa daya, memandang pun dan mendengarkan penjelasanku, Lina seakan kesal dan tak memperdulikanku.
Dengan lancang tangan ini meraih kedua tangan Lina yang menempel pada pahanya, hingga tangan kedua adikku. Berusaha ku genggam begitu erat.
"Lepaskan aku."
Apa Lina berbicara?"
Kedua tanganku berhasil Lina singkirkan.
Sebegitu kesal kah Lina kepada kakanya ini.
Setelah sampai di Kontrakan. Haikal menghampiri kami berdua, dengan berjalan kaki sedikit pincang.
"Dinda, maafkan aku yang sudah meninggalkan kamu bersama Lina?"
Aku bingung dengan Haikal yang selalu bertanya. Padahal aku sudah berjanji pada Nina, akan menjauhi Haikal. Saat itu lah tatapan kedua mata Lina begitu menatap penuh arti kebencian pada kami berdua, ia pergi begitu saja tanpa menyapa Haikal sedikit pun.
"Lina." Panggilku, namun tetap saja gadis manis itu tetap mengabaikan panggil kakaknya ini.
__ADS_1
"Ada apa dengan Lina?" Tanya Haika, rasanya bibir ini ingin sekali menjawab. Tapi apa daya, semua percuma dan akan sia-sia, aku takut Nina akan melakukan hal yang lebih keji lagi.
Aku hanya bisa menatap raut wajah Haikal yang mengkhawatirkan kami berdua.
"Dinda kamu kenapa? Kenapa kamu diam saja?" Haikal terus bertanya kepadaku, menggoyang-goyangkan bahuku.
Maafkan aku Haikal! Maafkan aku!
Rasanya mulutku sudah gatal ingin menceritakan semuanya, tapi apa daya perjanjian tetap lah perjanjian.
Tangan kasarku mulai mengibaskan tangan Haikal yang menempel pada bahu. Langkah kaki ini mulai melangkah meninggalkan Haikal yang masih berdiri bagaikan patung.
Tangisan Lina terdengar terisak-isak, suaranya berada di dalam kamar mandi.
Adikku tengah menangis? Aku benar-benar merasa bersalah sekali pada Lina.
Dengan beraninya ku ketuk pintu kamar mandi Lina.
"Lina, kamu kenapa de?"
Tidak ada sahutan dari Lina saat itu. Dinda merasa sangat khawatir.
"Lina, kamu kenapa? Tolong jawab De, kakak tahu, kakak salah. Kamu jangan seperti ini de."
Teriakanku tak mampu membuat Lina membuka kamar mandinya.
Bruggg ....
Suara pintu kamar mandi akhinya terbuka juga, Lina keluar dalam keadaan mata merah bengkak.
Aku meraih kedua bahunya seraya berkata," tolong jangan seperti ini de."
"Lina apa sampai segitunya kamu kesal dengan kaka. Karna masalah sepele."
Ucapan ku pada Lina seketika terlontar tanpa aku sadari.
Lina membalikkan badannya ke arahku, kedua matanya berkaca-kaca, dia sudah berani menajuk-najuk wajahku." Apa kakak bilang? Masalah sepele, begitu mudahnya kakak berbicara seperti itu."
Aku yang mulai kesal, menghardik adikku sendiri." Tapi kan kamu tidak sampai di perkosa ini Lina?"
Plak ....
Sang adik sudah benar-benar berani menamparku," kenapa kamu tampar kakak?"
"Ini pelajaran untuk seorang kakak yang tidak tahu diri. Walau pun aku belum di perkosa, setidaknya kakak harus memikirkan perasaan dan juga rasa traumaku. Ingat ya ka aku tidak sudi mempunyai seorang kakak yang lebih membela lelaki lain dan mengabaikan adiknya sendiri, aku sudah tahu sekarang sifat asli kakak. Pantas saja kakak berjodoh dengan Ka Burhan, karna kalian sama-sama berengsek."
Plak .... Aku menampar Lina seketika. Membuat mulut adikku terdiam.
"Apa aku bilang, kakak memang berengsek sama seperti Ka Burhan." Cecar Lina padaku.
Kedua mata ini melihat pada tangan kananku yang telah menampar Lina adikku.
"Sudah cukup, besok aku akan angkat kaki dari kontrakan ini menuju Panti Asuhan. Aku tidak butuh perlindungan dari seorang kakak seperti kamu."
Perkataan Lina membuat relung hatiku sungguh sangat sakit. Luka yang belum hilang oleh Bang Burhan kini bertambah lagi oleh Lina adikku.
Tok ... tok ... tok ...
Aku segera menghampiri orang yang mengetuk pintu rumah. Dengan tergesa-gesa, saat ku lihat di balik jendela ternyata Haikal datang ke kontrakan.
__ADS_1
"Dinda ... Dinda buka."
Teriakan Haikal aku abaikan, karna pikiranku tertuju pada Lina. Rasa takut karna ancaman Nina padaku.
"Maafkan aku Haikal?"
Tubuhku merosot ke lantai, membuat air mataku jatuh perlahan tanpa aku sadari.
"Begitu juga menangis dasar bucin," ucap Lina padaku. Ia melipatkan kedua tangannya, membuat aku mengusap kasar air mata yang seketika keluar.
"Lina, kakak seperti ini karna kakak takut kamu kenapa-napa. Bagaimana kalau kakak menemui Haikal, bagaimana nasib kamu nanti," jawabku. Saat itu ku bangunkan tubuhku untuk berdiri.
Lina malah tertawa terbahak-bahak. Ia menyingkirkan tubuhku yang membelakangi pintu. Membuka pintu kontrakan, menghampiri Haikal saat itu.
"Lina, ke mana kakak kamu?"
Aku segera menghampiri mereka di luar kontrakan.
"Lina ayo kita masuk," ajakku pada Lina.
Haikal mengerutkan jidatnya.
"Ada apa sebenarnya. Kenapa dengan kalian, kalian itu seakan menjauhiku," ucap Haikal.
Membuat Lina menyingkirkan tanganku yang menarik paksa dirinya.
"Kaka mau tahu alasannya apa?"
Lina mulai berani angkat bicara. Bagaimana ini? Jika Lina membicarakan semuanya aku takut jika nanti Lina dalam bahaya.
"Ya, kaka mau tahu alasannya kenapa?"
"Haikal."
Baru saja mulut Lina mulai berkata sebenarnya Nina datang begitu saja. Entah dari mana asalnya dia datang, tiba-tiba saja dia sudah berada di depan mata.
"Waw, ada apa ini kumpul-kumpul begini?" tanya Nina.
Aku menelan luda membayangkan jika Nina mendengar adikku berkata sebenarnya.
Untung saja Lina belum berkata apa-apa.
"Harusnya saya yang tanya sama Anda. Ngapain ada tiba-tiba datang ke sini." sindir Lina. Membuat bola Nina membulat, aku langsung mencubit tangan adikku.
"Aw, sakit ka. Ngapain coba harus cubit aku, memang kenyataannya. Cewek enggak laku ini tiba-tiba nongol, mengejar-ngejar Ka Haikal, kaya enggak laku aja." Sindir Lina.
Sindiran Lina membuat Nina mengepal kedua tangannya. Hatiku semakin ketakutan.
Bagaimana ini?
__ADS_1