Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 32


__ADS_3

Saat itu Haikal bergegas membangunkan Lina yang terjatuh di atas tanah.


"Lina,'


Lina menghempaskan tangannya yang di mana tangannya Haikal membantu dirinya untuk berdiri. Lina mengusap dengan kasar tanah yang menempel pada tangannya, menatap sekilas kearah Haikal.


" Kamu tidak kenapa-napa?" Tanya Haikal.


Lina memajukan kedua bibirnya ia seakan marah dengan pertanyaan Haikal, Entah kenapa tiba-tiba saja Lina dengan beraninya menyenderkan kepalanya kepada bahu Haikal. menangis dan berkata," Lina sedih. Lina ingat kedua orang tua Lina."


Hampir saja pikiran Haikal berpikir negatif tentang Lina, yang tiba-tiba saja pergi melihat kemesraan dirinya dengan sang istri.


"Kamu tenangnya, kedua orang tuamu tenang di sana."


Dinda yang kuatir, kini mulai menghampiri Haikal. Ia menunggu kedatangan Haikal dan adiknya yang begitu lama.


"Ke mana mereka, kenapa begitu lama?"


Dengan berjalan tergesa gesa, pada saat itulah. Dinda begitu terkejut melihat Suaminya tengah berpelukan dengan sang adik. Walau Lina masih terlihat sangat muda, tapi melihat ia berpelukan dengan Haikal, membuat Dinda sedikit risi.


"Mas Haikal, Lina?"


Haikal langsung melepaskan Lina, yang dimana Lina tersenyum kecil.


"Kenapa kalian masih di luar?" tanya Dinda.


"Ya, kami sebentar lagi mau masuk ke dalam rumah!" jawab Haikal. Merasa tak enak hati dengan sang istri. Ia takut jika Dinda salah paham akan dirinya yang menenangkan sang adik.


Dinda berjalan lebih dulu, membuat Haikal mengejar sang istri.


Sedangkan Lina melipatkan kedua tangannya berucap dalam hati," maafkan aku Kak Dinda."


@@@@@@


Malam yang sudah larut, Dinda membelakangi tubuh sang suami, ada rasa kesal memyelimuti hati Dinda.


Haikal mulai memeluk sang istri dan berkata," tadi itu aku tidak bermaksud memeluk adik kamu. Hanya saja ...."


Belum perkataan Haikal terucap semuanya, " sudahlah mas. Aku tidak mau mempersalahkan tentang itu lagi."


Haikal terdiam. Mendengar ucapan sang istri yang tak biasanya, ia menghela nafas beratnya. Dan mulai menutup perlahan kedua matanya untuk tidur.


Sedangkan Dinda, mengusap terus menerus air mata yang sudah basah, mengenai pipi.


Pagi hari, seperti biasa, Dinda terbangun dengan mata sebab. Ia mulai berjalan ke arah dapur. Bau masakan yang tercium begitu menyengat, membuat ia bergegas datang melihat siapa yang memasak.


Ternyata Lina, begitu sibuk memasak.

__ADS_1


"Tuan putri sudah bangun," ucap Lina cetus.


"Maksud kamu apa Lina berkata seperti itu," balas Dinda.


"Enggak, Lina heran aja sama kakak sudah bersuami malas malasan, mau gimana suami betah di rumah," sindir Lina.


Dinda mengertukan dahi, tak percaya dengan sindirian adiknya sendiri yang membuat relung hatinya tiba tiba terluka.


"Jaga ucapan kamu, Lina. Itu urusan kakak, kenapa kamu yang repot," pekik Dinda. Tak sadar akan ucapannya.


"Kenapa aku repot, aku kasihan sama Mas Haikal. Kak, sudah cape banting tulang. Istrinya malas malasan," balas Lina.


Entah kenapa Lina benar benar berubah tidak seperti biasanya. Ada apa dengan dia?


"Lina, kakak perhatikan akhir akhir ini kamu seakan berubah," ucap Dinda. Menatap ke arah Lina yang begitu sibuk memasak.


Lina tersenyum dan membalas," beda. Itu karna aku sudah dewasa kak. Bukan anak kecil lagi, yang biasanya menurut dengan ucapan kakak."


"Lina kenapa kamu berkata seperti itu," tegas Dinda.


"Memang kenyataannya, aku mempunyai seorang kakak yang lemah." ucap Lina.


Dinda sedikit kesal, entah apa yang di maksud sang adik, dengan begitu tega menyebut kakaknya sendiri lemah.


Padahal dari dulu, Lina selalu menjadi adik yang baik. Apalagi dalam berucap, Lina tak pernah menyakiti relung hati kakaknya sendiri.


ia seakan sengaja menaruh sebuah perhatian Kepada Haikal, agar Haikal suami dari kakaknya bersimpati kepada dirinya.


"Lina, stop."


Lina mengabaikan ucapan Dinda, ia dengan begitu senang menyiapkan sarapan pagi hari untuk Haikal.


Saat itulah Dinda merebut piring yang berisi sayuran yang sudah dimasak oleh Lina, membuat pertengkaran itu tiba-tiba terjadi. Lina dan Dinda saling menarik piring yang berisi sayuran matang.


"Sini biar kakak saja yang menyediakan." Tegas Dinda.


"Sudahlah kak, ini hasil jerih payah aku masak. Biar aku saja, lebih baik kakak masak saja sendiri." ucap Lina.


Dinda dengan rasa kesalnya langsung menarik piring yang tengah dipegang oleh Lina, membuat piring itu terjatuh ke atas lantai.


"Masakanku."


Haikal yang tengah merapikan baju terkejut ia langsung bergegas pergi ke dapur melihat apa yang sudah terjadi.


"Ada apa ini?"


Haikal melihat Dinda dan Lina Tengah bertatapan mata seperti seorang musuh yang tengah bersaing.

__ADS_1


Lina dengan sengaja menusukkan Jari tangannya pada pecahan beling.


"Aw."


Darah mengalir, membuat Haikal. Menghampiri Lina dan membersihkan darahnya.


"Lina kamu tidak kenapa-napa?" tanya Haikal penuh dengan perhatian.


Lina seakan berpura-pura menangis di hadapan Haikal," sebenarnya Lina sedih, kak. Kenapa Ka Dinda malah marah saat Lina menyiapkan masakan untuk Kak Haikal, Lina kasiahan melihat kak Dinda seperti kelelahan."


Deg ....


Dinda begitu kaget dengan ucapan yang terlontar dari mulut Lina. Kenapa bisa Lina berkata seperti orang yang tengah memprovokator kakaknya sendiri.


"Ya, kamu sekarang berdiri. Sudah maafkan kak Dinda ya."


" Mas."


saat Dinda mulai berucap dan ingin membela dirinya sendiri, pada saat itulah Haikal membulatkan kedua matanya menatap tajam kearah istrinya agar tidak berucap dulu.


"Sebaiknya kita ke ruang tamu dulu, obati lukamu." Ucap Haikal, mengajak Lina.


Dinda hanya bisa berdiri mematung, seperti orang yang tak punya tujuan.


"Kenapa, adikku bisa menjadi seperti itu." Gumam hati Dinda.


Lina senang dengan apa yang sudah ia lakukan, seakan puas melihat kakaknya sendiri menangis.


"Ayo kamu duduk di sini, biar aku obati luka kamu." Ucap Haikal.


semakin hari Lina semakin mengagumi tingkah Haikal yang begitu perhatian kepada dirinya, Entah kenapa hatinya begitu merasakan rasa nyaman saat di dekat Haikal. Iya baru pertama kali merasakan perhatian dan juga kasih sayang, semenjak Kakanya sendiri menikah dengan Haikal.


Ada rasa kesal dan Benci di hati Lina kepada sang kakak yang tak lain ialah Dinda, karena Lina iri dengan kakaknya yang menemukan lelaki baik seperti Haikal.


Kenapa bukan dirinya saja yang bersama Haikal, pikiran itu terus saja berputar di kepala Lina. membuat rasa ingin memiliki Haikal begitu penuh.


Entah karena Lina menginjak masa remaja, rasa keinginannya begitu kuat.


membuat Ia lupa akan posisi dirinya yang menjadi seorang adik.


."Lina, Lina."


Seketika lamunan Lina membuyar, saat Haikal. Melabai-lambaikan tangannya di hadapan wajah Lina.


"Kamu melamun, Lina."


"Eh, kak. Maaf."

__ADS_1


Lina terlihat malu, kedua pipinya memerah.


__ADS_2