
"Yes, aku berhasil. Tak sia sia aku mendekati ayahnya Ardi, apa yang aku mau pasti terpenuhi," ucap Sisil memegang erat ponselnya.
Di dalam mobil
Ibunda Ardi tanpa curiga dengan sang suami, ia melihat pada kaca depan mobil, suaminya tengah tersenyum behagia saat melihat layar ponsel.
Karna rasa curiganya, wanita tua itu sedikit berdiri dan melihat layar ponsel sang suami.
"Sisil." Gumam hati Ibunda Ardi.
Itulah nama yang tertera pada layar ponsel suaminya, nama Sisil. Gadis yang selalu dianggap baik.
"Kenapa, nama Sisil dalam layar ponsel suamiku?" gumam hati Ibunda Ardi.
Wanita tua itu tak mau banyak berpikir, ia lebih baik diam sebelum gegabah dan membuat dirinya malu sendiri.
"Ibu, kenapa?" tanya Ardi pada sang ibu yang terlihat melamun.
"Eh, iya Ardi. Kenapa?" tanya balik sang ibu.
"Tuh kan ibu melamun. Apa sih sebenarnya yang ibu lamuni?" tanya lagi Ardi.
Sang ibu memegang kepalanya yang terasa berdenyut, membuat ia menjawab dengan rasa hati tak tenang," ibu hanya pusing saja."
"Ya sudah, ibu tahan dulu ya. Bentar lagi kita sampai ke rumah," ucap Ardi.
Sang ibu hanya menganggukkan kepala.
@@@@@@
Tok .... Tok ....
Gedoran pintu terdengar begitu keras pada kamar Sisil, membuat Sisil mendengus kesal.
"Sisil, buka nak."
Teriakan sang ibu membuat Sisil sangatlah kesal. Gadis itu mulai membuka pintu kamarnya, memarahi sang ibu dengan berucap," Apa maksud ibu, mengetuk pintu tengah malam begini?"
kedua mata sang ibu membulat, menahan setiap amarah yang sudah menumpuk di kepala dan juga hatinya." Ibu ingin bertanya pada kamu, Sisil?"
" mau tanya apa sih Bu, sudah malam begini juga. besok sajalah. Aku cape ingin tidur," ucap Sisil. Mulai menutup pintu kamarnya, akan tetapi sang ibu malah menahan pintu kamar anaknya.
"Ibu ini apa apa sih," gerutu Sisil.
" Ibu ingin berbicara hal penting sekarang pada kamu Sisil," ucap sang ibu. Terlihat wajah sang ibu memerah.
"Apa sih bu, enggak jelas banget," balas Sisil.
saat itulah Sisil mulai melepaskan tangannya yang mulai menutup pintu kamarnya, dia melipatkan kedua tangannya dan mulai bertanya balik kepada sang ibu," ibu mau tanya apa?"
sang Ibu perlahan menahan amarahnya agar tidak terlalu menggebu-gebu," apa benar kamu ada hubungan dengan Pak Anton suami sahabat ibu.
__ADS_1
Deg ...
Sisil menatap ke arah sang ibu dan bekata," dari mana ibu tahu?"
"Ibu melihat kamu jalan dengan pak Anton, kamu ini gila ya Sisil. Dia itu suami dari sahabat ibu. Kenapa kamu tega melakukan semua ini!" jawab sang ibu.
Sisil tanpak biasa saja saat ibunya berkata seperti itu, seakan semua yang di katakan sang ibu bukan lah masalah besar.
"Ya elah bu, cuman masalah begitu saja ibu sewot sih," pekik Sisil.
"Masalah biasa kata kamu, Sisil kenapa kamu menjadi seperti ini," ucap sang ibu.
"Ibu tahu alasannya, kenapa aku menjadi wanita seperti ini. Ini semua karna ibu, ibu miskin," balas Sisil.
Brakk ....
Sisil langsung menutup pintu dengan begitu keras, ia membuat sang ibu menangis, air matanya jatuh seketika. Membuat hati sang ibu terluka.
"Sisil, cepat hentikan semua yang kamu lakukan. Itu tidak akan membuatmu bahagia." Teriak sang ibu.
Sisil yang berada di dalam kamar kini menutup kedua telinganya dengan telapak tangan, berharap suara wanita tua yang menjadi ibunya itu tidak terdengar lagi.
"Sisil." sang Ibu Terus saja mengetuk pintu kamar anaknya.
"Wanita tua itu kenapa selalu mengurusi kehidupanku," gerutu Sisil.
Sisil yang sudah kesal dengan sang ibu yang terus menasehatinya, mengirim pesan kepada Pak Anton yang tak lain ialah Ayahanda Ardi.
pesan pun terkirim, Sisil menunggu balasan dari Pak Anton.
"Ayo balas?"
setengah jam berlalu, tak ada Jawaban sama sekali. Membuat Sisil sengaja menelepon Pak Anton.
@@@@@
lelaki tua itu ternyata sudah tertidur pulas di ranjang tempat tidur, sehingga ia tak membalas atau pun mengangkat panggilan telepon dari Sisil.
Maya yang tak lain ialah Ibunda Ardi, kini terbangun dari tidurnya. wanita tua itu langsung meraih ponsel yang tergeletak di atas meja yang tak jauh dari suaminya.
"Siapa malam malam begini menelepon. Berisik sekali." Gerutu Maya.
Maya mengusap ngusap kedua matanya, melihat pada layar ponsel yang di mana Sisil terus saja menelepon.
"Baru saja aku ingin memperbaiki diri bersama suamiku, dan mau tidur bareng lagi dengannya. Tapi ...."
"Ahk, Sisil. Apa Sisil gadis yang akan aku jodohkan dengan anakku."
Maya mulai menganggkat panggilan telepon dari Sisil.
"Halo."
__ADS_1
Maya terus saja berucap.
"Halo."
"Siapa ini?"
Sisil tentulah kaget dengan suara yang terdengar dari ponselnya.
"Siapa ini. Halo."
sisil merasa ketakutan, dia langsung mematikan ponselnya.
"Sial, aku tak menyangka jika ponsel Pak Anton berada di tangan Tante Maya," ucap Sisil mendengus kesal.
padahal Sisil sengaja menelepon Pak Anton tengah malam, untuk meminta dibelikan apartemen, agar Sisil tidak selalu ribut dengan ibunya di rumah.
" gagal lagi gagal lagi, dari kemarin aku ingin meminta sesuatu pada lelaki tua itu, pasti gagal lagi."
Sisil langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, menutup kedua matanya. Berusaha tetap tenang.
pagi hari pun menjelang, saat itulah suara ponsel Sisil berdering. yang di mana Pak Anton menelponnya pagi sekali.
" Good morning Sayang," ucapan Anton memberi ucapan selamat pagi kepada Sisil.
" sayang, tadi malam aku menelpon kamu. tapi ternyata yang mengangkat ponselmu itu adalah Tante Maya istrimu sendiri. aku nggak nyangka ternyata kamu masih berhubungan dengan istrimu sendiri, bukannya kalian sudah pisah ranjang," balas Sisil bersuara mendayu-dayu.
Deg ....
Pak Anton lupa mematikan ponselnya.
"Sayang kenapa kamu diam aja?" tanya Sisil.
"Iya sayang, maaf. Semalam ponselnya aku taro di meja ruang tamu jadi lupa!" jawab pak Anton.
Sebenarnya semalam Pak Anton dan Bu Maya membuat sebuah perjanjian, mereka berdua ingin melihat Ardi bahagia, apalagi setelah menikah.
Saat itulah mereka berusaha untuk membiasakan diri seranjang kembali dan berkomunikasi seperti dulu.
Bu Maya yang awalnya menolak. kini membiasakan diri untuk menerima. walau bagi dirinya sangatlah berat. ia lakukan hanya untuk Ardi anaknya.
perjanjian itu disepakati.
"Sayang, bagaimana? jadi kan sekarang kita bertemu?" tanya Sisil.
"Ya jelas donk sayang!" jawab Pak Anton. Dengan begitu semangatnya.
Bu Maya yang yang mulai menghampiri suaminya. berniat membawakan secangkir kopi di pagi hari. malah mendengar percakapan suaminya bersama wanita lain di dalam ponsel.
apalagi Pak Anton begitu bahagia saat mengangkat panggilan telepon.
"Yah, ini kopinya." Ucap Bu Maya meletakan kopi hangat di atas meja.
__ADS_1
"Sudah dulu, aku mau sarapan dulu," ucap pelan Pak Anton pada ponselnya.