Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 11 Mencari Dinda


__ADS_3

#Kau_Buang_Istrimu_Seperti_Sampah_Ku_Pungut_Dia_Seperti_permaisuri


 


"Ke mana kamu Dinda, akh. Aku sudah mencari-cari kamu ke mana-mana tapi tak ketemu." Gerutu Burhan, mengacak kepalanya yang botak tak berambut.


 


Menarik nafas pelan sesak yang kian di rasakan Burhan, setiap hari dia di kejar-kejar polisi sebagai buronan. Membuat Burhan  harus menyamar menjadi orang lain.


 


"Ahk, untung saja Fras hebat dalam urusan ini. Dia bisa membuat ktp palsu untukku. Mengganti nama menjadi Rudi." 


Senyum terpancar dari bibir tebal Burhan.


 


"Burhan gue harap loe jangan terlalu menonjolkan diri. Polisi itu cukup hebat, mereka bisa menggali informasi dengan cepat." Perkataan Fras membuat Burhan tertawa kecil.


 


Tangan kekar itu memukul otot besar Fras seraya menjawab," loe tenang saja."


 


Mengeluarkan nafas kasarnya, Fras sedikit ragu. Ada rasa takut menghantui dirinya, jika Fras ikut di penjara, lelaki berambut gondrong itu tidak akan bisa menikah dengan janda warung kopi.


 


Burhan memukul pundak atas Fras, membuat lamunan Fras seketika buyar.


"Loe pasti mikirin kawin ya?" tanya Burhan. Menyipitkan kedua matanya.


 


Fras yang mendengar Burhan seketika mengerutkan jidat seraya menjawab," kata siapa songong lu sok tahu."


 


Jidat Burhan mendekat membuat telunjuk tangan Fras menempel dan mendorongkan pelan.


 


"Sudah gue mau pergi ngopi."


 


Bibir Fras mencabik kesal, melihat  Burhan yang banyak bicara.


 


"Goyang aja sekalian tuh janda, biar bisa kawin ma loe." Teriakan Burhan membuat Fras melempar sandal jepit hingga mengenai mulut Burhan.


 


Fras tertawa terbahak-bahak, melihat sandal jepitnya masuk ke mulut lebar Burhan.


"Makan tu lu, ee kucing."


 


"Ahk, kurang ajah loe Fras. Dasar bujang enggak laku. Bau tanah loe."


 


Burhan mengepal kedua tangan kanannya, memukulkan pada dinding rumah Fras. Darah segar seketika mengalir pada tangan Burhan," awas saja Dinda kamu akan seperti tanganku ini."


 


 


 **************


 


Selama Dinda berada di kontrakan, wanita berbulu mata lentik itu, memikirkan cara untuk mendapatkan uang, karna mana mungkin dia harus selalu mengandalkan Haikal yang masih pengangguran dan belum mendapat pekerjaan.


 


Dengan kemampuan seadanya dia menerima jasa cuci baju di kontrakannya.


Menarik nafas pelan awal yang indah, Dinda yakin rezeki tidak akan ke mana.


 


Benar saja,  baru saja buka sudah banyak pelanggan.


"Wah, ada jasa cuci baju. Lumayan ni, enggak perlu cape-cape nyuci baju, murah lagi."


Ucap salah satu ibu-ibu yang melewati kontrakan yang di tempati Dinda.


 


"Ya, jadi pengen nyoba!" jawab Bu Sumyati.


 


"Alah, paling nyucinya enggak bersih. Mending nyuci di laundry ajah ibu-ibu, bersih. Wangi lagi baju kita. Kalau udah di laundry."


Cetus salah satu ibu yang tengah beriringan dengan Bu Sumyati.


 


"Bu Sarah, apa salahnya sih kita coba. Jangan dulu menilai kejelekan orang lain sebelum kita membuktikannya. Nanti kalau bagus Bu Sarah yang malu sendiri." Satu perkataan dari Bu Jubaedah membuat Bu Sarah menundukkan pandangan pipinya seketika memerah.


 


Bu Sarah berpamitan untuk pergi lebih dulu, karna rasa malu dari omongan Bu Jubaedah.


 


 


"Tuh, Bu Sarah. Maen pergi ajah."


 


"Dia malu kali, sama omongan Bu Jubaedah."


 


"Ya, siapa suruh bibirnya kaya rombeng butut. Udah jelek gak ada manfaatnya lagi."

__ADS_1


 


Ibu-ibu tertawa, seraya meneruskan perjalanan mereka untuk segera pulang ke rumah masing-masing.


 


Sesaat Dinda sibuk mencari pelanggan, Haikal datang menemui Dinda.


"Loh, sekarang buka jasa cuci baju?"


 


"Ya, pak. Dari pada menganggur enggak punya uang! Saya enggak mau menyusahkan bapak,"  jawab Dinda, menundukkan pandangan.


 


"Syukurlah, maafkan saya yang malah membawa kamu ke sini dan membuat kamu susah di sini," ucap Haikal. Dinda yang mendengarnya seperti ini, semakin kagum. Mendengar tutur kata lembut dari Haikal.


 


"Pak Haikal, tidak perlu meminta maaf. Saya malah banyak berterima kasih sama Pak Haikal. Saya bisa bebas sekarang berkat pak Haikal yang menolong saya, bagi saya ini  sudah lebih dari cukup!" jawab Dinda yang masih saja menundukkan pandangan. Seakan berat menatap Haikal.


 


"Ya, sudah saya mau berangkat cari kerja dulu ya Dinda, Assalamualaikum?"


 


"Waalaikumsalam!"


 


Lina sang adik menyenggol lengan sang kakak seraya berkata," cie ... cie ... benih cinta datang."


 


Dinda menatap sang adik seraya menjawab, "hus, ngaur kamu de!" 


 


Dinda terus menatap Haikal yang berjalan hingga pandangan itu terlihat begitu semakin menjauh.  Kedua mata Dinda sayu saat sosok wanita datang menghampiri Haikal, "siapa wanita itu?"


 


 


"Pak Haikal?" panggil Nina yang datang dengan busana seksinya. Membuat Haikal terperanjat kaget, ia berbisik dalama hati." Loh bukanya kemarin Bu Nina memakai kerudung kenapa sekarang berubah lagi tampilannya."


 


 


"Bu Nina, kemana hijab Bu Nina yang melingkar kemarin di kepala ibu?" tanya Haikal. Matanya berusaha memandang ke arah lain, karna tampilan Bu Nina begitu seksi.


 


"Saya ingin bicara dengan kamu Haikal!" jawab Bu Nina.  Begitu serius.


 


"Sudah tidak ada lagi yang harus di bicarakan Bu Nina, masalah kita sudah selesai. Apa belum cukup penolakan saya kemarin?" tegas Haikal pada Bu Nina. Membuat tangan yang hampir meraih jari kekar Haikal terhenti, karna perkataan Haikal yang tegas.


 


 


 


"Bu saya, sudah tidak mau lagi berhubungan kerja dengan Bu Nina. Jadi saya mohon stop untuk temui saya lagi," desak Haikal. Membuat mulut Nina terdiam pilu.


 


Air mata  Nina seketika keluar perlahan dari  matanya, membuat Haikal yang melihatnya mengusap kasar wajahnya.


 


"Loh, kenapa Bu Nina menangis?" tanya Haikal. 


Lelaki yang tak suka jika melihat air mata wanita jatuh begitu saja.


 


Nina mulai berani memegang otot tangan kekar Haikal. Membuat Haikal semakin risi dan menyingkirkan dengan perlahan.


 


"Saya mohon bantu saya Haikal."


Permohonan  Nina kepada Haikal dengan mendudukkan lututnya ke tanah seketika.


 


Haikal sudah tahu dari awal, niat Nina memakai kerudung  merubah penampilannya semata-mata supaya Haikal bisa menolong Nina.


 


 


"Haikal aku mau menikah dengan kamu secara sah dan mengenalkan kamu pada papah."


 


Perkataan Nina, membuat nafas Haikal terasa berat. Nina seakan menganggap Haikal lelaki yang  gampang di bujuk rayu.


 


"Hem, Bu Nina tahu pernikahan itu apa?" tanya Haikal. Membuat Nina melamun sejenak mencari jawaban dari lelaki di hadapannya.


 


"Pernikahan itu adalah sebuah  ikatan antara kedua insan!" jawab Nina. Berharap jawabannya itu benar.


 


"Nah itu anda tahu bu,  terus alasannya kenapa dua insan itu ingin melanjutkan pada jejang pernikahan?" tanya Haikal. Membuat Nina seakan tidak bisa menjawab pertanyaan yang di berikan lelaki berhidung mancung di hadapannya.


 


 


"Kenapa Bu Nina diam? Silakan jawab Bu?"


 

__ADS_1


Tiba-tiba Dinda datang menenteng sebuah keresek putih yang terlihat seperti nasi uduk hangat. Nina berbalik arah menatap Dinda yang baru saja datang.


 


"Dinda." Ucap  Haikal. Tangannya mulai menarik lengan Dinda seraya berkata pada Nina." Ibu mau tahu kenapa dua insan melanjutkan ke jejang pernikahan?"


 


Nina benar-benar pilu tidak bisa menjawab semua pertanyaan Haikal. Nina malah melihat Haikal menggenggam erat tangan Dinda.


 


"Ini alasannya!" Dua insan yang ingin melanjutkan ke jejang pernikahan, adalah mereka yang saling mencintai. Mereka yang ingin terjauhkah dari Zina berpacaran. Mereka yang ingin mendapat keridoan sang Ilahi Robbi. Jadi pernikahan itu bukan perlombaan, pertaruhan, buka seenaknya. Bukan paksaan. Pernikahan itu suci bu, jangan main-main karna itu sudah atas izin Allah. Kenapa saya memegang wanita ini, saya akan menikahi dia, karna saya mencintai  dia begitu pun dengan Dinda?"


 


 


"Iya, Bu." Jawaban Dinda sedikit kaku.


 


 


Bu Nina yang mendengar perkataan semua itu berlalu pergi, seakan dirinya tak percaya. Bahwa Haikal sudah mencintai seorang wanita.


 


Setelah Nina pergi menaiki mobil, Haikal menatap pada raut wajahnya.


"Maafkan saya yang sudah berkata jujur terhadap orang lain."


 


 


"Maksud Pak Haikal?"


 


"Saya menyukai kamu, Dinda!"


 


"Maaf Pak Haikal, saya pamit pergi dulu!"


 


Dinda memberikan keresek berisi nasi uduk itu pada tangan Haikal, tanpa menjawab cinta dari Haikal. Ia berlari dengan keraguan hati, seakan semua seperti mimpi.


 


Hatinya terus bertanya-tanya dan menangis," apa ini semua? Mana mungkin Pak Haikal  menyukai saya!"


 


"Kaka kenapa?" tanya Lina yang tiba-tiba datang. Dinda mengusap kasar air matanya yang keluar dari  matanya.


 


"Kaka enggak kenapa-napa kok de!" jawab Dinda meninggalkan Lina.


 


Ada apa lagi dengan ka Dinda, ucap hati Lina.


 


Lina melihat di jendela dalam rumah, ada  Haikal yang berdiri menatap pada kontrakan Dinda.


 


 


Haikal seakan merasakan keresahan dalam hatinya, tanpa ia sadari air matanya jatuh seketika. Lelaki berhidung mancung itu berjalan dengan penuh keyakinan, bahwa dirinya sudah berkata benar. Mengutarakan perasaan cinta pada Dinda.


 


 


Haikal menaiki bis menuju kota, dengan yakin dia bisa mendapatkan pekerjaan di kota, Haikal melihat pemandangan kota, hingga dalam pikirannya terbayang wajah cantik Dinda yang tengah tersenyum.


 


 


Lelaki yang terduduk di dalam bis, terseyum-seyum sendiri. Ia berhasil mengutarakan perasaan yang telah lama ia pendam.


"Haikal berhasil Mak." Teriak Haikal di dalam bis.


 


 


Membuat para penumpang menatap kearah dirinya. Setelah bis berhenti, Haikal berjalan dengan begitu semangat. Melihat ke setiap perusahaan apa kah ada lowongan pekerjaan, tapi ternyata zonk. 


 


"Begitu susah sekali mendapat pekerjaan."


 


Langkah kakinya terus saja melangkah, tanpa pantang menyerah. Hingga akhirnya, dia menemukan sesuatu di jalan sebuah tas  hitam yang berukuran sedang ia temukan. 


 


"Tas." Meraih tas hitam itu melihat isinya. 


Terdapat berkas penting perusahaan.


 


"Perusahaan Tirta Raharja." Haikal segera mencari alamat perusahaan itu.


Dengan berjalan beberapa meter tidak membuat dirinya merasakan lelah. 


 


 


Dengan berucap bismillah, Lahaula wala quwata illahil aliyil adzim.


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2