
" Kalian lihat, apa kalian mau nasib kalian seperti wanita itu," tegas Pras kepada para pelayan dan suruhannya.
Mereka tentulah takut, saat itu mereka berucap." Tidak tuan."
"Bagus."
Senyum licik terpancar dari wajah Pras.
kini ia menyuruh para pelayannya untuk kembali bekerja, dirinya tak mau melihat sesuatu yang membuat hatinya kesal.
Dreet ....
suara ponsel tiba-tiba bergetar, membuat Pras merogok saku celananya, menatap ke layar ponsel Siapa yang mengirim pesan di malam hari.
saat layar ponsel dibuka dengan jari tangan, Pras membulatkan kedua matanya.
"Pesan sampah."
baru saja tadi dirinya tak ingin di buat kesal, tapi sekarang kekesalan itu datang. Di mana pesan sampah itu datang. pesan ancaman yang menurutnya tak berguna
Pras berusaha tak menanggapi pesan yang datang pada ponselnya, Iya kini menaruh kembali ponselnya ke dalam saku celana.
Akan tetapi ponselnya terus saja berdering, membuat Pras tentulah sangat marah. rasanya ia ingin melemparkan ponselnya. akan tetapi dia mengurungkan niatnya karena, ponsel itu begitu berharga bagi dirinya. setelah kematian sahabat yang selalu menemaninya dalam suka maupun duka.
dengan rasa kesal yang terus mengebu di hati, pada akhirnya Pras mengambil lagi ponsel yang berada di saku celananya, ia melihat pesan yang datang dan saat ia baca .
( Kenapa kamu tidak membalas pesanku, apa kamu tidak takut jika keluarga Pak Anton mengetahui semuanya.)
"Wanita ini membuat aku benar benar muak, bagaimana ada wanita semacam dia."
Dengan terpaksa Pras membalas pesan yang selalu mengganggu hari harinya.
( Apa mau kamu, uang. Berlian. Atau permata?)
( Hahha, kamu tahu juga, apa yang aku inginkan.)
( Aku tahu, karna kamu itu matre. )
( Jelas, semua wanita membutuhkna semua itu, jadi aku tidak munafikkan. )
( Terserah kamu. Belum puas kamu berpacaran dengan bandot tua itu, dan sekarang mendekatiku dengan cara mengancamku. )
( Hahha, asal kamu tahu, aku tertawa saat kamu berkata seperti itu,)
Mengusap kasar wajah, Pras tak tahan dengan pesan wanita yang ia anggap wanita itu sedikit gila.
( kenapa kamu tidak membalas pesanku lagi, Sayang.)
__ADS_1
( Gila kamu, aku malas meladeni wanita gila seperti kamu. )
( Sudahlah, teruti kemauanku, kalau tidak aku .... )
( Hem, aku apa? )
( Sudah jelaskan dari pesanku yang pertama.)
Hampir saja Pras membanting ponselnya itu, akan tetapi ia mencoba menahan dan tetap bersikap tenang.
( Ayolah, aku sudah mengirim semua Vidio itu. Kamu tinggal menuruti kemauanku.)
Pras benar benar sangat muak dengan pesan yang terus bergantian datang pada ponselnya.
"Permisi tuan."
Tiba tiba saja, Pras membalikkan badanya ke arah pelayan itu, tangan kekarnya malah mencekram erat kerah baju pelayannya.
"Maaf tuan."
Badan pelayan itu, tentulah bergetar ketakutan. Membuat hati dan pikirannya tak tenang.
Pras menatap tajam, hampir saja tak sadarkan diri, tangannya mulai melayang memukul pada wajah pelayan di cafenya.
saat melihat wajah ketakutan pelayan itu, Pras perlahan melepaskan kedua tangannya yang menggenggam erat kerah baju pelayan itu.
" Ada apa tiba-tiba saja kamu datang kepadaku?"
"Maaf, saya hanya ingin memberi tahu. Bahwa ada seorang wanita datang ke sini. Dia menunggu tuan di meja cafe."
"Siapa?"
"Entahlah tuan, wanita itu berbadan langsing dengan kulit putih dengan rambut pendek."
"Hem, ya sudah. Saya akan menghampiri dia."
"Baiklah tuan."
"Siapa, wanita yang datang malam hari begini ke cafeku, apa jangan jangan wanita gila itu."
Pras, mulai menghampiri wanita yang datang tanpa ia tak tahu siapa wanita itu.
Pikirannya tak konsen karna ancaman sampah yang terus di layangkan wanita gila itu
langkah kaki Pras semakin dekat mendekati wanita yang tengah duduk di kursi cafenya.
"Siapa kamu?"
__ADS_1
sosok wanita itu kini membalikkan wajahnya ke arah Pras, dengan melebarkan bibirnya, menampilkan sebuah senyuman manis. dan juga air mata yang mengalir deras mengenai kedua pipi wanita itu.
"Alya?"
Alya, wanita yang selalu dekat dengan Pras dan juga Ardi. kini datang menghampiri Pras dengan tangisan yang membuat Pras bingung.
"Pras."
wanita itu memeluk Pras tiba tiba, membuat Pras kaku dan bertanya," kenapa kamu menangis, Alya."
Isak tangis wanita itu tak berhenti, membuat Pras memberanikan diri memeluk Alya dengan penuh rasa cinta.
"Pras."
" coba kamu tenangi diri kamu dulu."
perlahan wanita itu mulai melepaskan peluk tangannya yang memeluk pinggang Pras, punggung tangannya kini mengusap kasar air mata yang terus mengalir mengenai kedua pipinya.
Pras begitu bingung dengan keadaan Alya yang tiba-tiba saja datang dengan menangis. Pras menatap perlahan wajah Alya yang penuh dengan air mata, dia bertanya pada wanita itu," coba kamu tenangi hati kamu dulu, sebaiknya kita duduk di sebelah sini."
Alya kini menuruti perkataan Pras, wanita itu perlahan berjalan duduk di kursi yang Pras tunjukkan. Pras berusaha menenangkan Alya dengan mengusap pelan kepala rambut wanita itu.
" gimana sekarang perasaan kamu, sudah baikan kan?" tanya Pras pada wanita itu, Alya kini menganggukkan kepala menampilkan sebuah senyuman kecil ke hadapan Pras.
" Ayo coba katakan padaku secara perlahan, Kenapa kamu tiba-tiba datang ke sini. apalagi di malam hari seperti ini, dengan keadaan menangis?"
pertanyaan Pras, membuat Alya menarik nafasnya secara perlahan, mengeluarkan dengan pelan. "Ak ... u."
ternyata Alya masih ragu mengatakan semua yang ada pada hatinya. Alya terlihat sangat sedih saat ia ingin menjawab perkataan Pras.
"A ... ku ..."
Pras yang tak tega melihat Alya seperti itu, kini mulai memeluk Alya dengan begitu erat. membuat ayam menangis kembali. kini tangisan Alya makin terdengar keras, membuat Pras berucap," menangislah, selagi tangisan itu bisa menenangkan kamu Alya, Aku tidak akan membuat kamu memaksakan diri untuk bercerita kepadaku."
"Terima ka ... si ... h. Pr ... s."
20 menit berlalu, tangisan Alya kini mulai mereda, perlahan air mata Alya tak turun kembali. Pras masih memeluk wanita itu, ia seakan nyaman sekali saat memeluk Alya.
saat itulah Aliya mulai tersadar dari tangisannya, yakini melepaskan pelukan Pras.
membuat Pras tersenyum lebar dan bertanya?" kamu jangan takut Alya. aku akan siap mendengarkan semua kelak keluh kesah yang kamu rasakan saat ini,"
kedua mata Alya terlihat begitu bengkak, karena terus saja menangis. Membuat Pras tak tega, perlahan tangan Pras memegang pipi Alya yang putih pucat.
@@@@
Pak Anton kini dikagetkan dengan para pelayannya yang berlari tergopoh gopoh menghampiri dirinya." tuan. tuan."
__ADS_1
"Kalian ini kenapa? Bikin kaget saya saja?" tanya Pak Anton mengusap pelan dadanya.
"Maaf, kami tidak berhasil menangkap Nia, Ya sudah lari jauh!" jawab kedua pelayan itu.