Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 213 Marahnya Haikal.


__ADS_3

Sedangkan Lina hanya menundukkan pandangan dan bertanya." kenapa ya kak, seakan aku merasa lelaki tua itu tak menyukaiku?"


Lalaki tinggi dengan kumis tipisnya mengelengkan kepala, merapatkan bibir menatap ke arah Lina.


"Seakan aku enggak di anggap ada, dalam obrolan kalian berdua."


Haikal kini membuka suara dan bertanya pada Lina?" coba kamu lihat pada diri kamu, apa ada yang membuatmu tak nyaman."


Lina memikirkan perkataan Haikal, membuat ia berpikir keras, apa yang membuat ia tak nyaman. Semuanya terasa nyaman jika ada Haikal di sampingnya.


"Kak Haikal tunggu."


Jalanan yang di telusuri, Lina dan Haikal membuat hawa dingin semakin tak tertahankan. Lina yang tak biasa dengan hawa dingin ini membuat kedua kakinya gemetar.


"Kenapa?"


"Dingin, ka!"


"Mm."


Ucapan dingin dari mulut Lina sendiri, membuat ia tersadar akan pertanyaan yang terlontar dari mulut Haikal tadi.


(Apa yang membuat kamu tak nyaman?)


"Kakiku yang tak tertutup, menampakan kulit putih mulus dengan kaki jenjang di sukai lelaki manapun yang melihatnya. Akan tetapi jika lelaki yang tak terbiasa akan menundukkan pandangan. Jadi, laki laki tua itu. Ahk, lemot sekali otakku!"


Langkah Haikal semakin cepat, membuat Lina terasa kelelahan, bagaimana tidaknya Lina kelelahan, Haikal begitu cepat melangkahkan kaki. Seakan sengaja memberi jarak agar tidak berjalan beriringan.


Ada rasa kecewa pada diri Lina, karna Haikal yang tak mau di lihat orang berjalan berduaan denganya, akan tetapi ada rasa bahagianya pula, saat Haikal berusaha menjadi lelaki sejati yang bertanggung jawab. setiap kali berjalan, ia melirik sekilas ke arah belakang.


Walau liriknya hanya sekilas, akan tetapi Lina tahu jika Haikal sangat menjaganya.


Desa yang pernah Lina singgahi di waktu remaja bersama sang kakak membuat kedua matanya berbinar, bibirnya merekah. Seakan menemukan kebebasan dan ketenangan.


Desa itu menjadi saksi bisu akan pernikahan Haikal dengan Dinda.


"Kak, maafkan aku jika aku mengejar cintaku. Mengejar lelaki yang pernah jadi milikmu, aku pernah berkorban perasaan untuk tidak mencintai lagi suamimu, tapi rasanya berat. Apalagi setelah kamu tiada. Semua seperti peluang untuk diriku."


Brugg ....


"Aw."


Haikal yang menyadari Lina melamun, membuat ia menahan tawa.


"Isss, kenapa coba ada pohon di depan?"


wanita berambut pendek dengan switer biru dongker yang ia pakai, mengerutu kesal di depan pohon besar.


Haikal mendekat dan berkata," kalau jalan itu jangan melamun."


Bibir manis Lina, ia tampilkan di depan Haikal, memperlihatkan kegemasan tersendiri.

__ADS_1


Lina memajukkan bibir bawahnya. Membuat Haikal tertawa dan mengusap pelan kepala rambut Lina.


"Dasar anak kecil."


Haikal memperlakukan Lina tak jauh berbeda seperti anak kecil, karna ia menganggap Lina adalah adiknya. Sampai kapan pun.


Berbeda dengan Lina, ia menganggap semua yang di tunjukkan Haikal adalah perhatian seperti seperti sepasang kekasih pada umumnya.


"Ayo, nanti keburu malam."


Lina tetap saja berdiri, membuat Haikal mengerutkan dahi," kenapa?"


"Kakak kan anggap aku anak kecil, makanya gendong!"


Terlihat bibir kecil mungil Lina begitu celoteh di depan Haikal, membuat Haikal mengibaskan kerah baju, gerah di cuaca dingin.


Lelaki normal mana yang tak tertarik dengan penampilan Lina yang nan mengoda, sipapun yang melihat nya pasti akan tertarik.


Hanya saja Haikal mencoba untuk tetap tenang. Ia tak mau terpancing dengan wajah ayu nan menggoda seperti Lina.


"Tahan."


Mengusap pelan dada, Haikal kini berucap tegas," cepat jalan. Kalau tidak aku tinggalkan."


Ucapan Haikal tentulah membuat Lina. Memanjukkan bibir atas bawahanya, ia berjalan dengan rasa kesal, saat Haikal tak mampu mengabulkan keinginannya.


Langkah Haikal semakin cepat, membuat Lina tiba tiba terjatuh.


"Aw."


"Kak Haikal."


Sial, betapa terkejutnya Haikal saat itu, ia melihat Lina jatuh mengenai batu, membuat Haikal merasakan rasa kesal dengan adik almarhum istrinya yang tak hati hati.


Haikal mulai membungkukkan badan melihat darah mengalir dari kaki Lina, membuat ia tak tega.


Segera mungkin Haikal, membuka reseleting tas mencari kain yang bisa menghentikan pendarahan pada kaki Lina.


"Lina. Kakak sudah bilang, kamu harus hati hati?"


Lina tersenyum di kala Haikal memarahi dirinya, seperti anak seorang kakak yang melindungi sang adik.


Lina terus menatap ke arah wajah, Haikal yang begitu semangat mengikatkan kain pada kaki yang terus mengeluarkan darah.


"Pelan pelan, kak."


"Kamu kenapa tidak hati hati."


Suasana semakin terlihat mencekram, perjalanan ke rumah sudah hampir saja sampai, tapi karna ada Lina yang terus mengekor, membuat perjalanan Haikal menuju rumah begitu lama.


"Sudah."

__ADS_1


Kini Haikal mulai berdiri, untuk segera melanjutkan perjalanannya menuju rumah, sedangkan Lina masih terduduk dengan menahan rasa sakit pada kakinya.


Kedua mata Lina menatap ke arah Haikal dengan penuh rasa memelas.


"Kenapa?" Cetus Haikal.


"Aku enggak bisa jalan kak, sakit!" jawab Lina.


Haikal mengusap keringat dingin, dengan telapak tangannya, keringat dari tadi terus berjatuhan, membuat rasa tak nyaman pada tubuhnya.


Haikal mencoba menyodorkan tangan agar diraih oleh Lina, dengan sekuat tenaga Lina mulai meraih tangan Haikal, akan tetapi Kakinya masih terasa sangat sakit.


"Aku nggak kuat kalau berdiri."


"Masa sih. Sampai sebegitunya? Itu kan lukanya juga kecil enggak besar."


" Tapi ini sakit sekali Kak!"


Haikal mengacak rambutnya merasa tak tahan dengan sikap Lina yang sengaja membuat dirinya kesal.


dengan terpaksa Haikal menyuruh Lina untuk naik pada punggung kekarnya.


"Ayo naik."


Lina tersenyum senang dan berkata?" Ini beneran kak?"


"Iya, ayo naik!"


Dengan rasa senang pada hatinya, Lina kini naik pada punggung Haikal, mencium aroma wangi bercampur keringat pada tubuh suami kakaknya.


"Jangan nyender nyender." Cetus Haikal.


Lina memajukkan bibir atasnya, baru saja mau menyenderkan kepala, Haikal sudah melaranganya.


tidak terlalu kecewa bagi Lina, itu awal dari permulaan ia mendekati Haikal. Walau kemungkinan kecil Haikal bisa takluk pada dirinya.


Setelah sampai di sebuah rumah. Haikal langsung mengetuk pintu rumah berdiding bilik dengan desain ala pedesaan.


" Assalamualaikum, Bi."


ketukan pintu terus dilayangkan Haikal, begitupun dengan teriakan memanggil adik dari almarhum ibunya.


Karna terlalu lama memanggil manggil, pada akhirnya Haikal meletakan Lina di kursi kaya di depan rumah.


"Kamu duduk dulu di sini."


Lina hanya menganggukkan kepala dengan bibir cemberutnya.


"Ke mana ya. Bibi?"


"Lina, kamu tunggu dulu di sini. Kaka mau cari Bibi kakak dulu," ucap Haikal. Lina merasa takut jika di tinggal Haikal sendirian di depan rumah bibinya, karna banyak pepohonan yang menjuntai tinggi tak jauh dari rumah, apalagi depan rumah sang bibi banyak pohon runcing tinggi dan besar, membuat hawa takut terasa pada tubuh Lina.

__ADS_1


__ADS_2