
Ardi nampak gelisah, di saat dirinya masih berada di rumah sakit. sedangkan ia mendengar kabar jika sang ibunda datang menghampiri Pras.
Melihat kegelisahan pada diri Ardi, saat itulah Haikal mulai bertanya pada sahabatnya," Kenapa, Ardi? Apa ada yang kamu pikirkan saat ini?"
kedua Mata Lelaki ber bola mata coklat itu terlihat berkaca-kaca, hatinya seakan merasakan jika sang ibunda dalam bahaya.
Haikal mencoba menenangkan keresahan yang dirasakan Ardi," coba kamu tenangin dulu hati kamu?"
Ardi berusaha melawan keresahan dalam hatinya, iya kini menarik nafas mengeluarkan secara perlahan berusaha untuk tetap tenang.
Nining mencoba menyuruh calon suaminya untuk duduk," Aa teh kenapa?"
Ardi menatap ke arah wajah Nining," Saya merasa, terjadi sesuatu dengan ibu saya."
"Memangnya ibu Aa kenapa?"
Nining berusaha bertanya perlahan pada Ardi, agar calon suaminya tak larut dalam kekuatiran.
" Memangnya kamu dapat info dari mana Ardi!"
Haikal kini bertanya dan Ardi langsung menjawab," info itu dari papaku sendiri."
"Jika memang info itu dari papah kamu, sebaiknya kita pulang saja dulu, untuk memastikan semuanya benar apa tidak,"
ucapan Haikal kini disetujui oleh Ardi, dari situlah Ardi mulai bergegas pergi dan berpamitan kepada Nining yang masih menjaga Bu Nunik di rumah sakit.
Sebenarnya hati Haikal tak tega, jika meninggalkan calon istrinya begitu saja di rumah sakit. Ia Ingin sekali membawa Nining sekarang juga ke kota.
Tapi Ardi tak mau melihat Nining nanti, terlibat dari masalah besar yang dihadapi Ardi saat ini.
Ardi kini mendekat pada calon istrinya, ia memegang kedua tangan gadis desa itu. Hatinya masih berat meninggalkan NIning, dan membiarkan Nining terus terusan menunggu.
Namun Nining tak keberatan dengan semua itu, ia tetap akan setia menunggu Ardi membawanya kepelaminan.
" Ning, maafin saya ya, saya harus pergi sekarang juga. Maafin saya sudah meninggalkan kamu di sini, tanpa salah satu teman pun yang menemani kamu."
Nining menggenggam erat kedua tangan Ardi," Aa, enggak usah kuatir, Nining akan menunggu sampai Aa Ardi menjemput Nining di kampung ini."
Rasa bahagia, kini di rasakan Nining dan juga Ardi. Di mana Ardi begitu bangga dengan Nining yang sabar akan masalah dihadapi Ardi saat ini.
__ADS_1
Gadis desa itu rela menunggu, tanpa ikatan tunangan.
Pelukan kini dilayangkan Ardi, hingga di mana Haikal berpura pura batuk." Uhuk, Uhuk. Bukan muhrim, Mm."
Kedua insan itu kini melepaskan pelukan mereka, karna ledekan Haikal, membuat Ardi malu.
Jam menunjukkan pukul delapan pagi, Ardi dan Haikal mulai masuk ke dalam mobil.
Dan Ardi melambaikan tangan ke arah Nining, memberi senyuman manis padanya.
"Hati hati Aa Ardi."
Baru kemarin Nining merasakan rasa bahagia. Kini kebahagian itu hilang sekejap mata, karna Ardi yang terus di liputi setiap masalah. Membuat Nining harus tetap tenang dan sabar, walau sebenarnya ia ingin selalu bersama sang pujaan hati
Bagaimanapun Nining berusaha menjadi seorang wanita kuat menunggu dan sabar dikala sang pujaan hati menyelesaikan masalah, hingga dimana keindahan dan kebahagiaan datang kembali untuk dirinya.
Haikal yang mengendarai mobil hanya bisa menenangkan sahabatnya yang benar-benar terlihat panik.
"lu tenang aja, bentar lagi kita sampai ke kota, jadi tenangin dulu hati dan pikiran lu, jangan terlalu panik, mudah-mudahan Tante Maya baik-baik saja, aku yakin, Tante Maya wanita yang hebat bisa melawan Adiknya sendiri. Dan Pras pasti akan luluh."
Haikal terus melontarkan kata kata semangat, agar Ardi tak terpuruk.
"Aku tidak yakin Haikal, karena Om Pras sekarang berbeda dengan Prans yang dulu."
Pak Anton tak mengangkat panggilan telepon dari anaknya, Ardi sangatlah cemas. Sebenarnya apa yang terjadi?
Saat itulah Ardi mulai mengirim pesan kepada Ayahnya.
(Bagaimana keadaan Ibu Yah? Apakah Ayah sudah menyusul Ibu di rumah adiknya?)
Tidak ada balasan sama sekali, Ardi hampir saja melempar ponselnya, karena sang Ayah yang tak mengangkat panggilan telepon dan juga balasan pesan dari dirinya.
"Ke mana, Ayah. Kenapa ayah tidak mengangkat panggilan telepon Ardi."
Ardi menggerutu kesal dirinya sendiri.
@@@@ Sedangkan di dalam mobil menuju Rumah Sakit, Pak Anton begitu panik dan juga gelisah melihat sang istri sudah bersimpur darah dan sayapan pisau di perutnya.
Tubuh Pak Anton kini merasa sangat lemas. Tak ada kata semangat dalam dirinya, melihat sang istri berjuang mempertahankan nyawa untuk tetap hidup.
__ADS_1
"Maya, bertahan lah. Aku mohon."
kedua mata Maya masih manutup, darah tak henti mengalir.
Adnan merasa bersalah dengan apa yang sudah terjadi pada Maya. Iya menangis mengeluarkan air mata tak tahan melihat darah yang terus mengalir dari perut Maya.
"Nyoya, bertahan lah, jika Nyonya meninggal Andan akan merasa bersalah, karna mengizinkan Nyonya masuk ke dalam vila sendirian." Gumam hati Adnan.
Suara ponsel Pak Anton terus bergetar, di mana Adnan burusaha memberitahu Pak Anton yang terus menangis melihat keadaan istrinya.
"Pak Anton. Suara ponsel Anda berbunyi."
Pak Anton tetap saja tak mendengar perkataan Adnan, ia seakan melamun memikirkan apa yang sudah ia lakukan terhadap Maya karena dirinya Maya sang istri menjadi seperti sekarang, andai saja dari awal Anton tidak mengizinkannya, Maya tidak akan seperti sekarang.
Rasa sesal terus mendera pada hati kecil Pak Anton, hatinya benar benar rapuh saat ini, ia tak berdaya.
"Pak Anton."
Beberapa kali Adnan memanggil Pak Anton yang tengah menangis.
"Sepertinya Pak Anton sangat menyesali semuanya seperti aku yang sekarang." Gumam hati Adnan.
Tring, satu pesan datang dari ponsel Adnan.
(Adnan, kemana ibu. Apa dia masih bersamamu?)
Ardi ternyata pengirim pesan pada Adnan, dimana lelaki muda itu menatap sekilas ke arah Sang Nyonya.
"Apa yang harus aku katakan pada tuan muda, karna Pak Anton juga sekarang tengah menangis,"
Tangan Adnan begitu gemetar, di saat ia mulai membalas pesan dari sang tuan muda yang tak lain ialah Ardi.
(Nyonya bersama saya tuan.)
Adnan tidak berani memberitahu keadaan sang Nyonya, iya takut jika tuan muda Ardi ingin mengobrol dengan sang nyonya yang bersimpuh darah dan tak sadarkan diri.
(Syukurlah. Ya sudah aku ingin mengobrol dengan ibu. Kamu berikan ponselmu pada ibu, beri tahu ibu aku ingin mengobrol dengannya.)
"Bagaimana ini, tuan Ardi ingin mengobrol dengan Nyonya, sedangkan Nyonya dalam keadaan kritis," Gumam hati Adnan dalam kebingungan.
__ADS_1
Adnan menarik nafas mengeluarkan secara perlahan, dimana dirinya masih mengendarai mobil menuju rumah sakit. Yang jaraknya lumayan jauh.
Ia mencari cara agar sang tuan muda tak bertanya lagi.