
Maya menarik nafasnya secara perlahan dia Berusaha tetap kuat dengan apa yang nanti akan terjadi pada Ardi, karena ia tahu adiknya begitu kejam dan bisa saja melakukan hal yang tak diinginkan pada Ardi.
Alya berusaha menenangkan sang tante dan berkata," tante harus tenang Ya, karena Ardi tidak sendirian masih ada Ferdi dan kita. Haikal pasti mereka bisa mengatasi semuanya."
"Tante berharap seperti itu, tante takut jika terjadi apa-apa dengan Ardi, Pras itu sungguh kejam. Bagaimana bisa Ardi seorang anak muda menasehati lelaki tua seperti Pras."
Alya dan juga Lina berusaha menenangkan kepanikan wanita tua yang terbaring lemah di ranjang tempat tidur
Sedangkan Adnan hanya melihat semua kesedihan yang terlihat dari raut wajah sang nyonya, tak bisa membantu wanita tua itu dia hanya seorang suruhan.
Hingga beberapa menit kemudian sang tante kembali tenang dengan berusahanya Alya menenangkan sang tante.
Maya mengikhlaskan semuanya dan berharap jika nanti Ardi pulang dalam keadaan selamat, maka dari itu Maya sepertinya akan meminta pertolongan kepada sahabat anaknya, yang menjadi polisi yang tak lain ialah Jerry.
Maya meminjam ponsel sang suami untuk mengecek lokasi Ardi, sekarang dia selalu tahu tempat-tempat yang disinggahi adiknya itu. karena tempat itu tak asing bagi Maya. Di mana semua tempat yang dikunjungi dan ditempati Pras adalah milik Maya akan tetapi Maya yang begitu baik menyerahkan segala-gala untuk adiknya sendiri, tapi Maya tidak mendapatkan balasan yang baik dari Adiknya sendiri.
Pras menjadi sosok yang serakah, tidak seperti dulu. Semenjak bergaul dengan Burhan ia menjadi lelaki pedendam.
Burhan menjadi sosok sahabat, dan mala peraka untuk kehidupan Pras yang sekarang.
Maya kini menelepon Jerry untuk melaporkan semua kasus yang terjadi pada Pras, dimana ia ingin menyelamatkan anaknya yang menghampiri Pras.
Dengan tangan yang memegang keberadaan Ardi sekarang Maya berusaha dengan keras menelpon Jerry sahabat Ardi. Hingga pada akhirnya telepon pun terangkat oleh Polisi bernama Jerry.
"Halo."
"Halo Jeryy, ini tante Maya." Kepanikan terlihat dari raut wajah Maya. Alya dan Lina berusaha duduk tak menjauhi wanita tua itu.
"Tante Maya, ada apa?" Jerry langsung bertanya dengan sigap.
"Ardi, Jer. Anak tante sekarang dalam bahaya, dimana Ardi menemui Pras. Adik tante yang menjadi incaran polisi!" Maya menjelaskan semuanya.
"Ya sudah, sekarang tante kirim lokasi dimana Ardi berada," Jerry dengan sigap mau menolong Ardi.
Maya langsung mengirim keberadaan Ardi. Dimana tempat Pras sudah terlacak.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu Jerry dan yang lainya akan mengepung keberadaan Pras." Perkataan Jerry tentunya membuat Maya merasa tenang, jika Jerry akan datang ke tempat Pras secepatnya.
"Tante percaya sama kamu, Jer. Tolong tante ya." Balasan Maya membuat Jerry berkata," tante tenang saja."
Sambungan telepon dimatikan sebelah pihak, Maya kini bisa bernapas lega," sekarang aku tenang."
Alya dan Lina menatap Maya dengan penuh kekuatiran." Tante, baik baik saja kan sekarang?"
Maya menganggukan kepala membalas ucapan wanita yang berada dihadapanya." Kalian tenang saja."
Alya dan juga Lina keluar dari ruangan Maya, mereka ingin melihat Sang tante beristirahat.
"Aku berharap Tante Maya, segera sembuh."
"Aku merasa bersalah dengan semua kejadian ini. Gara gara aku tante harus rela merasakan sakit akibat adiknya sendiri." Kaluhan Lina membuat, Alya juga merasa bersalah.
"Jangakan kamu Lina, aku juga merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Tante Maya." Alya ikut bicara. Dengan apa yang terjadi dengan Maya.
"Kita sama sama merasakan kesalahan kita sendiri."
Lina mengerutkan alis melihat Adnan melipatkan kedua tangannya dan berbicara, tak baik di depan mereka berdua.
" kami tidak tersenyum dengan apa yang kamu maksud, Adnan. kenapa dari tadi aku dan Alya berada di ruangan rumah sakit, Kamu seakan akan tak suka menatapku dan juga kamu seperti tak suka jika Tante Maya baik kepadaku, apa kamu iri denganku , karna kamu hanya seorang suruhan."
Adnan yang mendengar perkataan Lina tentulah sangat marah besar, biasakan kau senang dengan apa yang dikatakan wanita di hadapannya.
menunjuk dengan jari tangan," Siapa yang iri sama kamu."
Lina seperti tak senang saat meladeni Adnan, ia mengajak Alya untuk pergi dari hadapan Adnan.
"Ayo Alya kita pergi dari sini."
Lina menarik tangan Alya dan pergi begitu saja dari hadapan Adnan.
"Lina, kamu kenapa dengan Adnan. Kok si Adnan gitu baget sama kamu?" tanya Alya dengan raut wajah penasaran.
__ADS_1
"Entahlah, Alya, aku juga enggak mengerti dengan dia, kenapa dia begitu benci padaku. Padahal aku tidak membuat dia sakit hati, ataupun terluka!" balas Lina dengan wajah bingungnya.
"Ya sudah kamu jangan perdulikan dia, mungkin dia sakit hati karna Tante Maya masuk rumah sakit gara gara kita," ucap Alya, membuat Lina menatap ke arah gadis yang baru saja akur denganya.
"Bisa jadi Alya, karna Adnan terus menyalahkanku saat di Vila itu, dia sepertinya beci sekali denganku," balas Lina menampilkan raut wajah sedihnya.
"Kamu harus tenang, jangan pedulikan Adnan, kita sudah dimaafkan oleh tante Maya."
Lina menarik napasnya pelan, hingga dimana mereka pergi keluar rumah sakit. Alya mengajak Lina untuk tinggal di rumahnya, karna ia tahu bahwa Lina hanya sebatang kara tanpa ayah ibu dan saudara.
"Jika kamu tak mau tinggal di rumah Tante Maya, kamu bisa tinggal di rumahku kok."
Ajakan Alya membuat Lina tersenyum dan berkata," ternyata masih banyak orang yang peduli padaku. Padahal aku sudah jahat dan egois pada mereka."
Lina tiba tiba teringat dengan almarhum Dinda, hingga ia menangis terisak isak dan berkata," aku rindu kak Indah."
Alya yang merasa kasihan kini memeluk Lina dan menenangkan setiap rasa sedih wanita itu.
"Tenang ya, Lina."
Tiba tiba saja, Alya merasakan rasa mual yang tak tertahankan, membuat ia berlari dan mencari kamar mandi terdekat.
"Aku harus ke kamar mandi."
Lina merasa heran, hingga dimana ia mengikuti langkah Alya.
" Alya, kamu kenapa?" Lina bertanya dengan kekuatiran yang tak biasanya ia tunjukan pada orang lain.
"Sebenarnya aku tengah mengandung anak, Pras!" Jawaban Alya membuat Lina tentu saja kaget.
"Kenapa bisa?"
Lina menyuruh Alya untuk duduk, hingga dimana gadis itu menceritakan semuanya. Tentu Lina sebagai seorang perempuan merasa kesal dan marah dengan kelakuan bejad Pras.
"Aku tak tahu jika akhirnya aku di tipu olehnya. Dan di jadikan budak nafsu Pras, aku bodoh dan tolot. Bukanya kabur malah meladeni Pras."
__ADS_1
Tangisan pecah begitu saja, Lina memeluk Alya dengan erat, menenangkan di setiap rasa sakit pada hatinya.