
Setelah ke pulangan dari penjara, Dinda terdiam pilu, Iya berjalan ke arah dapur. dan duduk di kursi menatap ke arah jendela dapur. Dirinyq masih mengigat akan perkataan Burhan yang menyalahkan kedua orang tuanya dan juga dirinya. Hatinya benar-benar rapuh saat ini.
Andai saja Dinda tahu dari dulu bahwa Burhan itu adalah teman masa kecilnya, dan juga Dinda tahu kelakuan sang papah kepada Ibu Burhan, mungkin Dinda akan meminta maaf dan menebus semua kesalahan papahnya di masa lalu.
Tapi semua sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur. tak bisa diulang kembali. Dinda hanya bisa menjalani hidupnya, dengan melupakan semua Masa Lalu pahit bersama Burhan yang tak lain ialah Rama sahabat masa kecilnya.
mengubur dalam-dalam Masa lalu itu, kini Dinda mulai mem buka lembaran baru bersama lelaki yang sudah menolongnya dan mau meminangnya menjadikan dirinya sebagai permaisuri di dalam hatinya yang tak lain ialah Haikal.
Haikal datang menghampiri sang istri, yang ternyata Dinda Tengah duduk melamun di dapur, ia melihat raut wajah kesedihan dari istrinya. semenjak kepulangan dari penjara. perlahan Haikal mulai mendekat ke arah Dinda dan bertanya," apa yang tengah kamu pikirkan, Dinda."
seketika Lamunan Dinda membuyar, saat sang suami mendekat ke arah dirinya. dengan Sigap kedua tangan Dinda mengusap kedua air matanya yang mengalir hampir mengenai kedua pipinya. Ia takut Haikal menanyakan tentang kesedihan yang ia rasakan saat ini.
perlahan Haikal mulai duduk di samping kiri tempat duduk sang istri, mendekat memegang pundak sang istri. saat itulah Dinda menjawab." Aku tidak kenapa - kenapa. Hanya ....."
belum perkataan Dinda terucap semua, ini Haikal memegang tangan sang istri dengan begitu erat. mencium punggung tangan sang istri dan berkata," Jangan pernah memendam kesedihan itu sendiri. Ceritakanlah semuanya. aku sebagai suami ingin selalu berada didekatmu mendengarkan seluruh kesedihanmu. Agar aku bisa membuat kamu selalu nyaman di dekatku. Dinda."
Perkataan Haikal membuat kedua pipi Dinda memerah, semenjak menikah dengan Haikal banyak sekali perlakuan Haikal yang membuat dirinya begitu bahagia tidak seperti saat Dinda menikah dengan Burhan, hanya ada kesedihan yang menyelimuti hari-harinya dan juga hinaan siksaan dari perlakuan Burhan.
"Hey, kenapa melamun. Ayo katakan?"
Haikal terus merayu sang istri untuk menceritakan setiap, rasa sedih dari hatinya.
Dinda kini berusaha menatap perlahan ke arah Haikal, tersenyum kecil dan berkata," tidak ada kesedihan yang aku pendam dalam hatiku Haikal."
Haikal mengerutkan dahi, tersenyum lebar ke arah Dinda Seraya menjawab dengan nada lembut," jangan bohong. Nada bicaramu terdengar begitu pilu. Dinda, aku tahu orang yang merasakan kesedihan dan orang yang tengah merasakan kebahagiaan."
Haikal terus menekan sang istri agar berbicara jujur kepada dirimu, dia tak mau melihat sang istri yang ia sangat cintai selalu merasakan rasa kesedihan akibat masa lalunya yang begitu menyakitkan.
"Ayolah bicara, setelah kamu bicara, pasti hati kamu lega, Dinda." Ucap Haikal.
Dinda menundukkan pandangan, melihat ke arah meja. Jari tangannya terus saja bergerak. Membuat Haikal, menahan jari tangan itu." cepat katakan."
__ADS_1
Dengan terpaksa Dinda mulai mengatakan rasa kesedihan yang ia rasakan saat itu, yang di mana ia menceritakan akan perkataan Burhan di dalam penjara.
"Ternyata karna itu lagi." Ucap Haikal.
"Iya, hatiku terasa tak tenang Haikal, saat Burhan berkata bahwa papah ...."
Belum perkataan Dinda terucap kembali, Haikal menahan bibir istrinya dengan jari tangannya dan berkata." Semua hanya masa lalu, lupakan. Papahmu memang bersalah akan semua ini, tapi Burhan juga tidak berhak balas dendam dengan cara keji terhadap kamu Dinda. Biarkan saja Burhan berkata apa, yang terpenting sekarang, Kamu harus bisa melupakan masa lalu itu."
" aku sudah berusaha melupakan ucapan Burhan, tapi kepalaku terus saja mengingat perkataannya yang begitu menyakitkan."
"Aku akan berusaha membantumu Dinda, agar kamu bahagia bersamaku dan melupakan semua masa lalu menyakitkan itu."
Pelukan Haikal layangkan pada Dinda. Membuat rasa nyaman pada hati Dinda, kini air mata Dinda perlahan turun dengan air mata kebahagiaan.
"Terima kasih, kamu telah menjadikanku seorang permaisuri di hatimu, padahal aku hanya seorang wanita bodoh lemah dan menjijikan."
Perkataan itu membuat Haikal sedikit kesal," jangan pernah menghina dirimu sendiri, apalagi mengatakan perkataan menjijikan. Aku tidak suka Dinda, kamu di mataku tetaplah seorang wanita yang istimewa."
"Terima kasih, Haikal."
Iya begitu kaget melihat Haikal dan juga di tengah, berpelukan. Entah kenapa dalam hati Lina terdapat rasa kesal dengan tiba tiba.
"Hem."
Pelukan itu terlepas, Dinda seakan malu berpelukan di dapur bersama suaminya, dan terlihat oleh sang adik yang tiba tiba saja datang.
"Maaf Lina ganggu, Lina mau minum." Ucap Lina berjalan mendekat ke arah rak piring dapur.
Saat itulah Dinda mulai berdiri, dan berjalan ke luar dapur. Dan di susul oleh Haikal sang suami.
Lina yang melihat mereka pergi, langsung mendelik kesal dan bergumam dalam hati," memangnya tidak ada tempat lain apa."
__ADS_1
@@@@
Sedangkan Haikal langsung menyusul Dinda masuk ke dalam kamar, dan berkata," kenapa dengan kamu Dinda."
"Maaf Haikal, aku sedikit malu, terlihat oleh Lina adikku. Apalagi sekarang di sudah besar, tak pantas kita memperlihatkan kemesraan kita di depan Lina."
"Aku mengerti Dinda. Maafkan aku."
Haikal, yang mencintai Dinda penuh dengan rasa kasih sayang, kini memeluk istrinya kembali. Membuat Dinda tersenyum senang dan memeluk erat sang suami.
@@@@@
Burhan masih dengan kekesalannya, ia tiba tiba mengamuk, memukul salah satu sahabatnya yang berada di dalam penjara dengan begitu sangat keji.
Beberapa pukulan terus dilayangkan Burhan, sampai di mana Fras memanggil polisi untuk mengamankan Burhan yang mengamuk tak terkendali.
"Ahkkkk."
Burhan seperti orang yang benar benar sakit jiwa, ia kesal dengan Dinda. Dan melampiaskan kekesalan itu pada orang lain.
"Stop. Burhan. Sadar, kelakuanmu itu sudah di luar batas."
Burhan tak mendengarkan nasehat temannya, ia lebih mengandalkan nafsu dari pada pikirnnya.
"Persetan dengan semua ini."
Orang yang ia pukul, tiba tiba pingsan, darah bercucuran, hingga dimana polisi datang dan mengamankan Burhan.
"Sebaiknya kamu ikut dengan kami." Ucap Pak Polisi. Memegang tangan Burhan, menyered ke luar, membawa Burhan ke ruangan yang di mana ruangan itu tidak ada orang sama sekali.
"Lepaskan aku," Teriak Burhan.
__ADS_1
Fras tidak menyangka akan sahabatnya yang berubah menjadi arogan dan kejam seperti itu, padahal Burhan harusnya sadar akan dirinya dan kesalahannya yang begitu kejam terhadap Dinda.
"Burah semoga kamu berubah." Gumam hati Fras.