
Sedangkan di dalam perjalanan menuju pulang, Lina kini mulai bertanya kepada Ardi Yang tengah fokus mengendarai mobil. rasa penasarannya tak bisa tertahan lagi, ia memberanikan diri bertanya di dalam mobil kepada Ardi tentang drama yang dibuatnya saat di cafe.
" sebenarnya Kenapa kita melakukan drama seperti tadi. Apakah Ommu melakukan kesalahan padamu, sehingga kita harus berpura-pura berdama di depan Ommu?" tanya Lina kepada Ardi.
sebenarnya Ardi tak ingin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, ya takut jika Lina marah dan tidak mau menikah dengannya.
"Aku ragu mengatakan semuanya kepadamu, Lina."
"Ragu, kenapa ragu, ayo katakan."
"Kalau aku katakan, kamu berjajikan tidak akan marah kepadaku."
"Ya, aku berjanji padamu, aku tidak akan marah."
"kamu yakin, Lina."
"Aku yakin Ardi, yakin sekali. Jadi ayo katakan, sebelum aku menampar bibir kamu itu hingga jontor."
"Sebenarnya, orang yang meneror dan mengambil ponsel kak Dinda adalah Omku sendiri."
"Apa?"
terlihat wajah Lina yang begitu kaget dengan jawaban yang terlontar dari mulut Ardi.
"Maafkan aku Lina, itu juga belum sepenuhnya, karna aku hanya asal menebak."
Lina kini menatap jalanan, tak percaya dengan apa yang dikatakan Ardi pada dirinya.
"Lina, kamu tidak marahkan. Bukanya kamu sudah berjanji tadi padaku."
sebenarnya Lina ingin sekali marah terhadap Ardi, akan tetapi ia berusaha menahan amarah itu karena sudah berjanji di hadapan Ardi.
"Lina."
kini Lina mulai menatap ke arah Ardi dan bertanya," Kenapa kamu bisa menyalahkan ommu sendiri, apa kamu sudah mempunyai bukti."
pertanyaan itu membuatlah Ardi masih ragu, "Sebenarnya aku tidak mempuanyai bukti apa apa. Hanya saja aku yakin, dalang semua ini Omku, karna aku melihat omku ke luar dari gudang yang di mana gudang itu tempat orang yang meneror kamu untuk datang ke sana."
" sebenarnya apa tujuan orang itu, kenapa dia tega berbuat jahat kepada keluargaku, apa salah keluarga kami."
"Kamu tenang dulu ya, Lina. Jika omku benar benar pelakunya, aku akan membuat dia menderita di dalam penjara."
"Apa kamu yakin dengan perkataanmu Ardi, dia kan Ommu sendiri."
"Aku yakin, tidak ada yang tak mungkin karna walau pun dia dari keluargaku, jika dia salah dia harus di hukum."
__ADS_1
"Tapi sepertinya Ommu itu bukan orang yang mudah di kalahkan, buktinya saat kita berdrama, Ommu menugaskan para pelayan untuk mengawasi kita."
"Ya memang benar, tapi omku juga mempunyai titik kelemahan yaitu ayah."
"Maksud kamu ayahmu."
"Ya, ayahku bisa saja membantuku saat ini juga. Akan tetapi aku belum mendapatkan bukti yang kuat. Dan lagi kenapa omku bisa berbuat jahat pada keluargamu,"
"Entahlah, aku juga tak tahu. Padahal musuh aku dan kak Dinda hanya Kak Burhan. mantan suami kak Dinda."
"Burhan?"
"Ya, mantan suami kak Dinda yang pernah aku bicarakan."
"Lalu sekarang dia ada di mana."
"Dia masih membekam di penjara."
"Apa bisa kita menemui kakakmu itu."
"Bisa saja, tapi untuk apa."
"Aku curiga jika Kakku mengenal bekas mantan suami kakakmu."
"Ya sudah, besok kita pergi menemui kak Burhan."
"Loh, kok kita ke rumah kamu lagi."
"Ya, sementara waktu kamu pulang ke rumahku dulu."
"Baiklah kalau begitu."
sebenarnya Lina sedikit risih jika dibawa kembali ke rumah Ardi, karena status Lina dan Ardi yang belum menikah.
setelah sampai di rumah, sang Ibu kini menyambut kedatangan Lina dan juga Ardi.
"Lina, kamu menginap lagi di sini?" tanya sang ibu. terlihat wajah bahagia ketika bertemu dengan Lina.
"Ya bu. sementara waktu Lina tinggal dulu di sini, setelah kakaknya sebuh dari masa kritis!" jawab Ardi kepada sang ibunda.
"Ardi."
langkah Ardi dan Lina kini terhenti karena sang ibu yang tiba tiba memanggil.
Ardi membalikkan badan ke arah sang ibu," ya. Bu kenapa?" tanya Ardi.
__ADS_1
"Apa sebaiknya kalian menikah sederhana dulu, soalnya ibu kuatir tetangga di sini malah menganggap keluarga kita yang tidak tidak, karna sudah membawa seorang gadis ke rumah," ucap sang ibu terlihat wajah kuatir.
Ardi yang mendengar ucapan sang ibu seperti itu, tentulah sangat senang. Apalagi menyangkut tentang menikah dengan Lina. Tentulah hatinya sangat gembira sekali.
Sang ibu menatap ke arah Lina, hanya saja Lina terlihat bingung karna sang kakak yang masih keritis di rumah sakit.
"Bagaimana Ardi, ibu tidak mau kamu dan Lina di anggap jelek oleh orang orang di sini."
Menarik nafas pelan, Lina mulai angkat bicara," ada baiknya seperti itu, Bu. Lina juga tak mau jika Lina terus menginap di sini, sedangkan setatus Lina dan Ardi belum sah menjadi suami istri."
Senyum lebar terpancar dari bibir Ardi, rasanya Ardi ingin meloncat loncat kegirangan saat Lina angkat bicara kepada sang ibu.
"Ide yang bagus, Bu." Ucap Ardi semangat.
Sang ibu tentulah senang, ia mencubit kedua pipi Ardi dan berkata," akhirnya kamu kawin juga Ardi."
Ardi dan Sang ibu menari ke girangan, membuat Lina menahan tawa dengan tingkah anak dan ibu yang terlihat kocak.
"Jadi kawin, jadi kawin."
Suara langkah kaki terdengar, ternyata sang ayah datang dengan tangan yang mengucek ngucek kedua matanya.
"Ada apa ini? Berisik sekali, malam malam begini?" tanya sang ayah. Melangkahkan kaki ke arah istri dan juga anaknya Ardi.
Ardi dengan senang ke girangan menghampiri sang ayah dengan berkata," jadi kawin pak."
"Kawin, maksud kamu Ardi?"
"Ya Ardi dan Lina akan segera melangsungkan pernikahan."
Betapa senangnya sang ayah mendengar Ardi akan melangsungkan pernikahan dengan sangat cepat.
"Ya sudah, besok langsung saja."
"Apaan yang langsung."
mereka terdiam saat sang ayah mulai berucap.
"Ya kawin."
Tawa terdengar dari mulut mereka, seakan kebahagian kini menyelimuti.
Ardi begitu senang melihat kedua orang tuanya tertawa, saat mendengar bahwa acara pernikahan akan di gelar sebentar lagi.
tanpa sengaja kedua orang tua Ardi kini berpelukan, membuat Ardi sangatlah bahagia sekali, ya baru pertama kali melihat momen kebahagiaan kedua orang tuanya yang saling berpelukan setelah mendengar pernikahan yang akan segera digelar dengan waktu yang dekat.
__ADS_1
dengan sengajanya Ardi langsung merekam kedua orang tuanya yang berbahagia dan saling memeluk satu sama lain, Iya tak mau melewatkan momen kedua orang tuanya bertingkah layaknya anak kecil.
"Lina, kamu lihat. kedua orang tuaku, saat kamu hadir di keluargaku. Aku merasakan kebahagiaan yang sangat luar biasa di antara kedua orang tuaku saat ini, Terima kasih Lina, kamu sudah membawa sejuta kebahagian di keluargaku." Ucap Ardi kepada Lina.