
Padahal baru saja 3 hari Ardi pergi sekarang dia sudah kembali lagi ke desa membuat Nining tentulah bahagia.
Apalagai Bu Sari, yang memang selalu mendukung anaknya. Dari segi apapun. Wanita tua itu menghampiri Ardi dan berkata.
"Nak. Haikal bukanya baru kemarin kalian teh pulang ke kota, sekarang udah ke sini lagi? kalau kerjaan ditinggal tinggal gimana nanti dapat duitnya," gerutu Bu Sari mengigatkan keponakanya. Agar bekerja keras dalam pekerjaan.
Ardi langsung membuka kacamata hitamnya, menaruh pada saku kemeja dan berkata." Ibu saja, pekerjaan Haikal dan juga pekerjaan saya sudah di handle oleh asisten. Jadi jika saya kemana-mana. Semua beres, karena saya pemegang perusahaan."
Bu Sari sangatlah kaget ketika, mendengar ucapan Ardi, lelaki tampan yang dicintai Nining, ternyata seorang lelaki kaya, tajir. Mempunyai perusahaan sendiri. Hingga, bisa mempekerjakan Haikal.
Wanita tua itu begitu kagum dengan apa yang dimiliki Ardi, ia kaya raya. Tapi tidak sombong.
Nining menyenggol bahu, ibunya. Mengedipkan mata, merasa malu dengan pertanyaan pertanyaan ibunya. Yang terus bertanya tentang kekayaan Ardi.
"Bu, jangan nanya harta sama tahta dong, malu." Bisik Nining. Pada telinga sang ibu.
"Oh maaf atuh, Nak Ardi, hebat geningan punya perusahaan sendiri, bahagianya kamu Nining punya pacar tampan berduit lagi," ucap Bu sari, tersenyum ke hadapan Nining, membuat kedua pipi Nining memerah menahan malu. Akan ucapan sang ibu yang asal bicara.
Nining menepuk bahu Ibunya kembali, dan berkata "Ngomongnya, pelan-pelan atuh Bu, bikin malu saja Nining."
wanita tua itu, langsung menutup mulutnya. Tak berani lagi mengatakan apa yang membuat anaknya malu.
Karna membahas tentang kekayaan.
Saat itulah Pak Yono langsung menyuruh Haikal dan juga Ardi masuk ke dalam rumah.
"Weya arurang di jero, biar ngenaheun ngobrolna."
(Ayo kita ke dalam, biar nyaman ngobrolnya.)
Ardi dan Haikal, mulai berjalan untuk segera masuk ke dalam rumah.
Mereka mulai duduk, sedangkan Bu Sari mulai mengambilkan cemilan dan juga air minum yang akan disuguhkan kepada Ardi dan juga Haikal.
__ADS_1
Nining masih tersipu malu duduk tanpa berkata apa-apa di hadapan Ardi.
Haikal hanya bisa menutup mulutnya menahan rasa ingin tertawa melihat keponakannya yang baru saja merasakan rasa jatuh cinta.
Haikal menyadarkan punggungnya yang terasa lelah akibat perjalanan yang sangatlah begitu jauh.
Lelaki berbola mata coklat itu, kini bertanya kepada Pak Yono dan juga Bu Sari yang baru saja datang membawakan sebuah minuman dan cemilan.
"Bibi tadi di desa ada apa, kok rame-rame?"
Pertanyaan Haikal. Membuat Bu Sari langsung menatap ke arah anaknya sembari menaruh air teh yang sudah ia buat, dan di suguhkan untuk Haikal, Ardi.
"Iya. benar. Tadi pas kita lihat, kaya demo aja, warga heboh ngumpul di sana?" tanya Ardi dengan raut wajah penasaran.
Nining, sebenarnya bingung dengan apa yang harus ia Jelaskan kepada Ardi dan juga Haikal, yang di mana Ardi mulai berucap kembali.
"Apa ada masalah besar di Balai Desa sampai orang-orang berkumpul dan begitu padat berada di sana?"
Bu Sari bingung harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Nining.
Apalagi yang terjadi tadi pagi itu bukanlah masalah kecil, Nining tak berani menceritakan semuanya.
Hingga di mana ia membahas tentang Lina, berusaha mengalihkan pembicaraan, agar tidak ada pertanyaan-pertanyaan yang akan membuat Nining mengingat masalahnya dengan Ruslan.
" Oh ya gimana dengan Teteh Lina, apa dia sudah ketemu? tanya Nining.
Kedua lelaki berwajah tampan itu saling menatap satu sama lain, mereka menghembuskan nafas yang terasa berat. karena sebenarnya mereka datang ke desa untuk membawa Nining ke kota.
"Loh, diam saja?" tanya Nining.
" Sebenarnya kita belum menemukan Lina, karna kita belum tahu. Siapa orang yang sudah menculiK Lina. Kita sudah melaporkan masalah hilangnya Lina!" jawaban Ardi begitu simpel, seakan ia tak peduli lagi dengan keadaan wanita yang ia cintai dan ia perjuangkan dari dulu.
Haikal menatap benih kekecewaan pada wajah Ardi, Ardi berusaha cuek, dengan ke adaan Lina. Ia hanya menyuruh orang untuk mencari keberadaannya.
__ADS_1
Haikal tahu apa yang dirasakan hati Ardi, pastilah sangat menyakitkan, tapi walau Ardi sudah tersakiti dia tetap mencari keberadaan Lina.
"Oh, ya. Aa Ardi mau jemput Nining sama ibu dan juga bapak," ucap Ardi membuat Nining kaget.
begitupun dengan kedua orang tuanya ini.
"Emang ada apa?" tanya Bu Sari.
Saat itulah Ardi mulai menjelaskan, apa tujuan dirinya membawa Nining ke kota begitupun dengan kedua orang tuanya.
" Tujuan Ardi membawa Nining dan juga ibu bapak ke kota, Ardi sudah berniat ingin menikahi Nining di kota." Ucap Ardi dengan begitu beraninya.
Ibu dan bapak Nining kini saling menatap satu sama lain. Mereka kaget dengan penjelasan yang terlontar dari mulut Ardi.
Membuat Bu Sari berucap dengan nada sedikit terdengar berat oleh orang orang di sana."
Jadi, Nak Ardi teh mau ngelamar Nining gitu. Tapi acara pernikahnya di kota?"
" Iya, makanya saya datang sekarang ke sini saya berniat melamar Nining. Sebelumnya saya minta maaf karena saya tidak membawa kedua orang tua saya datang, karena perjalanannya yang sangat jauh dan jadwal padat kedua orang tua saya, makanya saya datang ke sini bersama Haikal."
Pak Yono berusaha memahami apa perkataan Ardi.
"Bagaimana pak Yono. Apa Bapak setuju dengan lamaran saya yang akan segera menikahi Nining di kota?"
Pak Yono menatap ke arah anaknya yang tersenyum bahagia, dikalah mendengar dirinya akan dinikahi oleh Ardi lelaki tampan yang sangat ia cintai.
Bu Sari langsung menyenggol bahu suaminya agar menerima lamaran Ardi untuk Nining.
"Si bapak malah melamun wae. Hayu atu Pak, jawab"
(Bapak kenapa melamun Ayo jawab.)
Lelaki tua itu kini menghembuskan nafasnya, berusaha bersikap tenang dan menjawab akan lamaran yang keluar dari mulut Ardi. Di mana ia langsung menyetujui pernikahan anaknya dan juga lelaki kota. Yang dulu tak pernah ia sukai.
__ADS_1
Mendengar jawaban sang bapak, membuat Nining sangatlah senang, tanpa sadar gadis desa itu berdiri melompat-lompat seperti anak kecil yang baru menemukan sesuatu yang sangat berharga bagi diringa.
Ardi yang menatap Nining tertawa kecil, Iya berusaha melupakan Lina dengan cara menikahi Nining, walau mungkin terasa berat, tapi itu cara hatinya agar bisa cepat melupakan Lina dan menjauhi keterpurukan akan cinta yang tak terbalas akan pengorbanan yang disia-siakan, oleh wanita yang sangat ia cintai.