Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 78


__ADS_3

Sedangkan Lina yang berada di samping Ardi langsung memukul bahu Ardi dan berkata," Kamu ini kenapa sih, kamu pasti berpikir yang aneh-aneh ya. Ardi."


Ardi tersenyum kecil dan mencuil dagu Lina, membuat Lina mendelik kesal. Menatap tajam ke arah Ardi.


"Memangnya kamu tahu apa yang aku pikirkan, saat ini, Lina." Ucap Ardi. Merayu Lina. Memegang rambut panjang Lina.


Lina langsung mengibaskan tangan Ardi dan berucap kembali," dasar jahil. Belum muhrim.


Ardi hanya tertawa kecil, karna sebelum Lina bicara bukan muhrim. Lina sudah mau di peluk oleh Ardi. Lina melipatkan kedua tangan dan berucap," apa liat liat."


Marah Lina membuat Ardi, semakin suka. Membuat Ardi tak sabar ingin memiliki wanita yang ada di sampingnya. Karna beberapa kali Ardi bergunta ganti wanita, tak ada wanita yang seperti Lina.


Lina seakan menjadi wanita sepecial bagi Ardi, karna sifatnya yang galak dan berbeda dengan wanita wanita yang pernah ia pacari. Karna wanita yang ia pacari, selalu ingin menikmati harta dan banyak meminta keinginan.


Saat itulah Ardi mulai keluar dari mobilnya untuk segera membayar tagihan. Ia mengajak Lina untuk masuk lagi ke dalam mall. Awalnya Lina menolak karna ia tak mau bertemu lagi dengan ibunda Ardi. Dan membuat Ardi menjadi bertengkar dengan ibunya sendiri.


Lina merasa bersalah.


Namun ternyata, saat Lina masuk ke dalam mall, hatinya merasa lega. Ia tak melihat ibunda Ardi dan wanita cantik yang akan dijodohkan ibunda Ardi untuk Ardi.


"Kamu kenapa?" tanya Ardi, melihat tingkah Lina yang aneh. Karna saat masuk ke dalam mall, Lina begitu waspada melihat ke kiri ke kanan. Seperti ada hal yang ia takutkan.


"Sebenarnya aku tak enak hati pada ibumu dan juga wanita yang akan dijodohkan ibumu untukmu, Ardi!" jawab Lina.


Saat itulah Ardi langsung merangkul bahu Lina, dan berkata." Kamu tenang aja. Mereka pasti sudah pulang."


"Apa kamu yakin, tadi aku enggak lihat mereka ke luar dari mall loh," balas Lina.


"Ya, kalau mereka ada juga. Kan aku tenang dan lega," ucap Ardi.


"Tenang lega bagaimana?" tanya Lina.


"Lega, karna setatus kita yang tak jelas, sebentar lagi akan jelas. Setelah kita menikah nanti!" jawab Ardi. Membuat Lina mencubit bahu Ardi.


"Ahk, sakit," rengek Ardi.

__ADS_1


Lina menutup mulutnya menahan tawa," lebay baget kamu. Ardi, di cubit dikit langsung merengek kaya anak kecil."


Ardi langsung mencubit bibir Lina. Membuat Lina memukul pelan tangan Ardi.


para pelayan Mall langsung memberikan satu barang yang dibeli oleh Ardi, yang di mana Lina tak tahu barang apa itu. Di bungkus kecil.


"Apa ini? Bukanya kamu sudah membelikan banyak barang untukku dan ini apa lagi?" tanya Lina.


"Sudah bawa saja, nanti kamu tahu sendiri di rumah saat membuka bingkisan itu!" jawab Ardi.


Lina tak tahu apa yang harus ia katakan kepada Ardi, karena begitu banyak Ardi membelikan baju untuk dirinya membuat Lina sangatlah bahagia dan merasa senang.


Karna semenjak meninggalnya kedua orang tua Lina, Lina tak pernah merasakan rasa bahagia dan keinginannya terpenuhi, kebanyakan yang merasakan semua itu adalah Dinda.


Lina hanya bisa membayangkan semua keinginannya dalam dalam. Dan menguburnya secara perlahan.


tapi sekarang keinginan itu terpenuhi oleh Ardi lelaki yang akan menikahinya.


Lina masih tak percaya, ia merasakan semua itu seperti mimpi.


Sebenarnya Lina merasa ragu dengan pemberian yang diberikan Ardi untuk dirinya.


" kamu yakin ini semua untukku," tanya Lina yang masih tak percaya Ardi sudah membelikan begitu banyak barang-barang mewah untuk dirinya.


" Tentu saja lah, itu semua untuk kamu. Aku sengaja membelikan itu untuk kamu agar kamu tidak malu jika berjalan denganku," jawab Ardi. Membuat Lina menatap sekilas ke arah wajah Ardi.


" Loh kok gitu, harusnya kan yang malu itu kamu. Jalan denganku, wanita kampungan," ucap Lina membuat Ardi tertawa.


" Aku nggak pernah malu, jika berjalan dengan wanita sederhana seperti kamu. Malahan aku senang jika bisa berjalan bersama wanita sederhana seperti kamu Lina. Maafkan aku aku terlalu memperhatikan kamu karena setiap kamu jalan denganku kamu selalu melihat penampilan Kamu sendiri yang merasa diri kamu itu tak pede saat jalan bersamaku," balas Ardi.


Lina tak tahu jika Ardi menyadari gelagatnya, membuat kedua pipi Lina memerah menahan rasa malu.


Ardi menyadari jika Lina malu akan perkataanya, membuat ia berkata." Pipi kamu merah, kaya kepiting rebus."


Lina langsung mencubit pipi Ardi dan berkata," tuh pipi kamu kaya udang rebus."

__ADS_1


Saat itulah Lina langsung berlari, membuat Ardi langsung mengejarnya.


"Aku kejar kamu, ya."


@@@@@


Sedangkan dengan ibunda Ardi dan Sisil. Mereka tengah asik memilih baju mewah, ibunda Ardi sudah memilih banyak baju. sedangkan dengan Sisil masih asyik memilih baju, Sisil begitu banyak membeli baju.


Sisil seakan sengaja membeli baju begitu banyak, dia mencari kesempatan agar orang yang membayar baju-bajunya adalah ibunda Ardi.


saat itulah ibunda Ardi langsung menghampiri Sisil dan bertanya kepadanya?" Bagaimana Sisil, Apa kamu sudah selesai berbelanja?"


Sisil mengaggukan kepala dan berkata," sudah tante."


Ini kesempatannya untuk berpura pura, jika Sisil tidak membawa dompet sama sekali.


Sisil mencoba membuka tasnya dan berpura pura panik." Aduh. Ini gimana ya, dompetku ketinggalan lagi, tante."


Ibunda Ardi langsung tersenyum ramah, dan mengusap pelan bahu Sisil.


"Kamu jangan kuatir, semua biar tante yang bayarin."


Betapa senangnya Sisil saat mendengar ibunda Ardi akan membayarkan baju baju yang ia beli sengaja dengan jumlah yang begitu banyak.


"Janganlah tante tak enak, aku jadi banyak ngerpotin, tante. Harusnya aku yang teraktir tante, bukan malah tante yang teraktir aku," balas Sisil kepada ibund Ardi.


Wanita tua itu seakan senang dengan ucapan Sisil yang menolak, ia begitu yakin jika Sisil bukan wanita matre yang di katakan Ardi. Buktinya sendiri Sisil menolak dengan keras bahwa belanjaannyan tak mau di bayar.


"Sudah tak apa, ibu ingin menelaktir kamu. Nanti aja kali kali kamu teraktri ibu juga kalau kamu mengigikannya," balas Ibunda Ardi. Membuat Sisil tersenyum terpaksa.


"Idih, enak aja. Malas sekali aku menteraktir nenek peot ini nanti, aku memang sengaja melakukan semua ini agar nenek peot ini terus membayarkan kebutuhananku yang begitu banyak dan tak terhitung harganya." Gerutu Sisil.


Saat itulah sang tante langsung merogok tasnya, yang di mana ia mengambil kartu atm miliknya.


Namun ternyata?

__ADS_1


__ADS_2