Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 100


__ADS_3

"Oh ya, aku takut jika kamu bertemu dengan Sisil, anak itu bikin ulah," ucap Ita pada sahabatnya.


"Mm, memangnya anakmu kenapa?" tanya Maya yang sangat penasaran dengan cerita Ita tentang Sisil.


"Semenjak kepergian Mas Dika dengan meninggalkan hutang yang banyak, Sisil berubah menjadi anak yang membangkang, ia tak menerima keadaannya yang sekarang, sering kali Sisil mengamuk karna ia tak tahan ketika hidup dalam keadaan sederhana seperti ini," jelas Ita pada Maya.


Maya menenangkan semua kesedihan yang dialami sahabatnya," kamu harus tetap sabar dan kuat, aku yakin anakmu pasti bisa berubah."


pantas saja Sisil berbohong jika Ibunya sudah meninggal, Iya tak mau jika semua orang tahu bahwa dirinya sekarang Jatuh Miskin dan Ayah yang sudah banyak meninggalkan hutang.


"Terima kasih kamu sudah mengerti keadaanku saat ini, aku tak menyangka kamu masih mengigatku, maya," ucap Ita pada Maya.


Maya memegang kedua tangan Ita dan berkata," sahabat akan tetap jadi seorang sahabat jadi kamu tak usah menghuatirkan semua ini, Ita."


Senyuman terpancar dari wajah Maya, membuat Ita tenang.


Brug ....


Suara pintu rumah terdengar di buka dengan begitu keras, membuat Ita dan Maya langsung kaget.


"Aku pulang."


Deg ....


Ternyata itu adalah Sisil anak Ita, ia kaget saat melihat Maya.


"Tante."


"Sisil, untung saja kamu cepat pulang nak. Ini Tante Maya sahabat ibu yang selalu ibu ceritakan pada kamu, ayo beri salam Sisil," ucap sang ibu pada anaknya.


Sisil terdiam, kedua matanya enggan menatap ke arah Maya. Membuat Maya berusaha tak mengenali Sisil.


"Sisil, kenapa kamu diam saja?" tanya sang ibu kepada anaknya.


Sisil menatap ke arah Maya, yang hanya diam seakan tak mengenalnya.


"Sepertinya tante maya berpura pura tak mengenalku?" gumam hati Sisil.

__ADS_1


"Ayo Sisil." Ucap sang ibu. Menyuruh Sisil untuk memberi salam pada sahabat ibunya.


Saat itulah, Sisil mulai meraih tangan sang tante. Mencium punggung tanganya.


"Aku enggak menyangka ternyata kamu mempunyai anak perempuan, kalau saja aku tahu. Aku pasti akan menjodohkan anakmu pada anakku," ucap Maya. Sedikit terdengar menyindir Sisil.


"Maya, Sebenarnya aku tak yakin jika benar kamu mau menjodohkan anakku dengan anakmu. Karna anakku terbilang wanita pemalas," balas Ita. sisil hanya menundukkan pandangan seakan tak enak hati.


"Hah, hanya saja sungguh di sayangkan Ita. Anakku sudah mau menikah dengan wanita sederhana yang baik hati dan tak pernah berbohong," ucap Maya. Membuat satu sindiran melayang pada Sisil, sindiran itu membuat Ita mengerutkan dahinya dan bertanya?" maksud kamu, May."


"Ya, maksud aku. Selera anakku itu kampungan, jadi enggak kaya anak kamu yang cantik ini dan dandanannya pun begitu terlihat berkelas," balas Maya. Menatap ke arah Sisil dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Maya terus saja menyindir Sisil, hatinya benar-benar kesal dengan gadis yang selama ini ia percayai. yang ternyata sudah berkhianat kepada dirinya.


Maya mengira jika Sisil bisa ber bersifat seperti sang ibu, tapi nyatanya sifatnya begitu jauh berbeda dengan ibunya sendiri. Membuat Maya membenci Sisil saat itu juga.


" Ya sudah dari pada kita berdiri di sini. Bagaimana kalau kita duduk di ruang tengah sembari menikmati gorengan yang hangat," ajak Ita pada sahabatnya itu.


Sisil langsung menolak ajakkan ibunya sendiri," maaf bu. Sisil capek mau istirahat dulu."


langkah kaki Sisil tiba-tiba terhenti, saat Maya mulai memanggil namanya.


Sisil berhenti, hatinya tak karuan ada rasa takut saat Maya memanggil namanya. Gadis itu mulai memberanikan diri membalikkan badannya ke arah Maya," iya, tante ada apa?"


"Oh ya, aku ingin membawa kalian ke tempat yang sedikit layak. Apa kalian mau?" tanya Maya di depan sahabatnya.


Sisil berusaha tidak tergoda dengan tawaran Maya, ia berusaha menolak dengan sebisa mungkin.


"Maaf tante, kami sudah betah tinggal di sini." Tolak Sisil.


Maya hanya tersenyum kecil," apa kamu sama akan menolak, Ita?" tanya Maya kepada sahabatnya itu.


" benar juga apa kata sisil, kami tidak bisa meninggalkan rumah ini. kami berdua juga tidak mau merepotkan kamu Maya," ucap Ita.


Maya memegang kedua tangan sahabatnya dengan berkata," tidak ada yang direpotkan ko Ita. Aku ikhlas membantumu, Aku tidak mau melihat kamu menderita seperti ini."


Ita melepaskan tangan Maya, " sudahlah Maya. kami berdua cukup bahagia di sini."

__ADS_1


Sisil yang mendengar ucapan sang ibu kepada sahabatnya merasa tenang, itulah keinginan Sisil yang di mana ibunya menolak tawaran dari Maya.


karena kebetulan sekali Sisil sudah mendapatkan tempat tinggal yang ia inginkan. di mana Pak Anton sudah membelikan sebuah apartemen yang akan ia tempati besok.


jika ibunya mengambil rumah yang akan diberikan Tante Maya kepadanya, otomatis Ita juga akan tinggal bersama sang ibu.


Tapi jika sang ibu menolak, Sisil akan tinggal besok di apartemen yang sudah dibelikan Pak Anton. Sendirian meninggalkan ibunya di rumah kumuh.


" Ayolah terima tawaran, Ita. Anggap saja ini semua hadiah untuk kamu, karena selama aku menjadi sahabatmu Kamu itu begitu baik dan mau membantuku di saat susah," pinta Maya kepada Ita.


"Maafkan aku Maya, aku tak bisa," balas Ita.


" Kenapa sih wanita itu terus saja menekan ibuku, sudah tahu dia tidak mau. tapi wanita itu tuh tetap memaksa." Gerutu hati Maya.


Maya memberikan kartu namanya kepada Ita, berharap jika Ita mau menelpon nya dan berubah pikiran, kalau dirinya mau tinggal di rumah yang sudah disediakan Maya.


Ita yang tak enak hati, dengan terpaksa menerima kartu nama sahabatnya itu. membuat Maya sangatlah senang, saat itulah mereka berpelukan untuk berpamitan.


"Ya sudah aku mau pulang dulu." Pamit Maya ke pada Ita dan juga Sisil.


"Kamu hati hati, ya."


Maya Melambaikan tangan untuk berpamitan kepada sahabat, Dia segera naik ke dalam mobil untuk pulang.


sedangkan Sisil hanya terdiam menundukkan pandangan, Iya malu saat bertemu dengan Tante Maya.


setelah mobil Maya sudah menjauh dari rumah Ita, saat itulah Sisil mulai merebut kartu nama yang diberikan Maya kepada ibunya.


"Sisil, mau apakan kartu itu?" tanya sang ibu yang kaget dengan Sisil.


" mau aku apakan kartu ini, Ya terserah aku lah Bu!" jawab cetus Sisil.


Semenjak kepergian Maya, sifat asli Sisil kini datang Kembali.


"Tapi itu kartu nama sahabat ibu, jangan kamu buang atau sobek. Ibu butuh sekali kartu itu jika nanti," ucap sang ibu berusaha merebut kartu yang berada di tangan anaknya.


" sudah lah bu, jangan lagi Ibu dekat dengan wanita itu. Sisil tak suka," cetus Sisil.

__ADS_1


"Kenapa kamu malah berbicara seperti itu, semua hak ibu. Jika ibu mau bertemu dengan siapapun," balas Ita sang ibu.


__ADS_2