Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 22 Menelepon emak


__ADS_3

#Kau buang istrimu seperti sampah kupungut dia seperti permaisuri.


"Dinda," ucap Haikal. Di keramaian orang yang tengah menjenguknya. Dinda yang berdiri bersama sang adik, menghampiri Haikal.


"Kenapa Haikal apa ada yang sakit?" tanya Dinda. Panik.


Haikal tersenyum menatap raut wajah Dinda seraya berkata," apa kamu mau menikah denganku setelah masa idah kamu selesai. Aku ingin memperkenalkan kamu pada Emak di kampung."


Kedua mata Dinda terlihat sayu, pertanyaan itu terlontar lagi dari mulut Haikal. Lina sang adik menyenggol pundak sang kakak, megangguk-ngagukan kepala.


"Heem, sudahlah kalau cinta terima saja jangan banyak drama. Nanti di embat orang baru tahu rasa deh," sindir Lina. Membuat kedua pipi sang kakak memerah.


"Bagaimana Dinda?" tanya Haikal.


Lina mendekat ke arah Dinda dan berbisik," sudah terima saja. Udah jodoh tu."


Mendengar perkataan Haikal pada Dinda, ibu-ibu kontrakan seakan ikut senang. Jika semua yang terbaik untuk Haikal, karna mereka suka dengan Dinda wanita sederhana dan lembut.


"Ya, Dinda terima aja," teriak Bu Nunik.


Dinda benar-benar malu saat itu, dengan menghela nafas panjang dan mengeluarkan secara perlahan," baik lah."


Semua bersorak hore, seperti tengah memenangkan dopres.


"Nah gitu dong."


Perasaan Dinda begitu bahagia dikala orang-orang bahagia melihat Dinda bahagia.


Setelah kesembuhan Haikal, lelaki berhidung mancung itu bergegas untuk berangkat mencari pekerjaan. Dengan yakin hari ini bisa dapat pekerjaan dengan semangat dan tekad kuat.


Pada akhirnya Haikal menemukan pekerjaan yang ia impikan, dimana pekerjaan itu sebagai karyawan kantor.


"Alhamdulillah aku di terima kerja."


Bersyukur kepada sang maha kuasa. Haikal bisa langsung bekerja di perusahaan itu. Pekerjaannya begitu menyenangkan membuat dia bisa menguasai bidang perusahaan.


Nina datang tiba-tiba," Haikal?" tanya Nina menghampiri Haikal.


"Bu Nina!" jawab Haikal. Ia terseyum ramah pada wanita berambut panjang itu.


"Kamu sudah sembuh?" tanya Nina. Ada keraguan hati saat Nina bertanya pada Haikal. Karna masalah kemarin yang telah ia buat, membuat dirinya seakan malu.


"Ya!" jawab Haikal.


"Maafkan saya, saya baru tahu kamu. Ternyata kerampokan setelah pulang dari rumah saya, harusnya saya bisa menahan diri. Tidak membuat masalah untuk dirimu Haikal," pinta Nina. Menyodorkan satu bingkisan sedang untuk Haikal.


"Ini apa?" tanya Haikal.


"Coba buka!"


Haikal langsung membuka bingkisan itu, di hadapan Nina. Haikal tampak terkejut dalam bingkisan itu adalah sebuah ponsel, dengan segera Haikal menaruh ponsel itu pada bingkisan yang di berikan Nina. Dan menolak secara mentah-mentah.


"Maafkan saya Bu Nina, saya tidak bisa menerima bingkisan ini," ucap Haikal. Memberikan bingkisan berisi ponsel pada tangan Nina.


Nina sedikit kesal karna penolakan dari Haikal. Mendengkus kesal Nina berusaha bijak dan tetap tenang," tidak apa-apa Haikal. Ini permintaan maaf saya."


"Maaf bu, saya sudah maafkan Bu Nina. Tapi ibu tidak usah memberikan hadiah sebesar ini!"

__ADS_1


Ini yang di suka oleh Bu Nina terhadap Haikal lelaki sederhana yang tidak serakah dalam harta dan juga selalu berusaha bijak dalam segala hal. Mana ada wanita yang menolak cinta dari Haikal.


"Tolong terima ya Haikal?"


Nina terus memohon-mohon, agar Haikal mau menerima hadiah pemberiannya.


"Maaf Bu Nina saya tidak bisa." Tolak Haikal.


Ia bergegas menaiki bis, tapi di tarik paksa oleh Nina. Hingga mereka terjatuh di atas tanah.


"Maaf Haikal, aku enggak sengaja?"


"Hem."


"Gimana kalau gini aja. Kamu kan tidak punya ponsel. Jadi ponsel ini kamu ambil dulu nanti bayar padaku gimana?"


Haikal terdiam sejenak, memikirkan perkataan wanita di hadapannya.


"Tapi."


Nina seakan kesal, hingga akhirnya dia memberikan paksa hadiah ponsel untuk Haikal.


"Terima dulu, oke."


"Tapi bu, ini mahal."


"Seikhlasnya saja kamu bayar. Oke, saya pergi dulu."


"Ya sudah."


Haikal masih ragu dengan pemberian Nina yang memaksa, tapi harus bagaimana lagi sudah menolak tapi di malah memohon-mohon.


Di dalam bis, Haikal memandang ponsel pemberian Nina seraya berkata.


"Kamu itu cantik Nina, tapi kenapa hatiku tidak bisa menyukaimu."


Menyenderkan punggung pada kursi bis, Haikal teringat pada sang ibu." Bagaimana keadaan emak sekarang ya, Haikal kangen sekali mak."


Menarik nafas pelan, Haikal tiba-tiba tertidur di dalam bis.


Ia melihat sosok wanita berbaju putih, membelakangi tubuhnya. Saat itulah ia mulai bertanya siapakah wanita itu?


Tapi tiba-tiba ....


"Mas ... mas ... sudah sampai."


Aku terbangun dan masih dalam bis, siapa wanita yang aku lihat dalam mimpi. Gumam hati Haikal.


"Mas tidak apa-apa kan?"


"Tidak, pak. Saya hanya kaget, bangun tidur. Terima kasih sudah mengingatkan saya!"


Haikal beranjak ke luar dari dalam bis, dengan hati masih di selimuti kebingungan karna wanita yang masuk ke dalam mimpinya, seperti sosok emak, namun tak jelas wanita itu memakai baju berwarna putih dengan membelakangi tubuh Haikal.


"Apa emak baik-baik saja di kampung."


Rindu sungguh rindu menyelimuti hati dan pikiran Haikal saat itu, rasa rindunya berubah menjadi kekhawatiran dalam hati dan pikiran Haikal.

__ADS_1


Ia segera merebahkan tubuhnya, membulak balikan benda pada tangannya. Benda yang bisa membuat Haikal mendengar suara sang ibu.


Dengan yakin Haikal menghidupkan ponsel baru itu, ia segera memasang sim card yang masih ia punya.


"Assalamualaikum?"


Suara sang ibu terdengar oleh kedua telinga Haikal, lelaki berbadan kekar itu menangis layaknya seperti anak kecil.


"Siapa ini?"


Haikal terlarut dalam tangisan hingga ia lupa suara dalam ponsel yang menanyakan dirinya.


"Waalaikumsalam mak!"


"Haikal."


"Ya mak, ini Haikal. Haikal rindu emak?


"Emak juga rindu nak. Kamu sudah lama tidak menelepon emak, apa kamu baik-baik saja."


"Maafkan Haikal mak. Karna sibuk lupa menelepon emak."


"Enggak papah nak."


Tiba-tiba panggilan telepon mendadak mati. Haikal lupa mengisi pulsa.


Hatinya sungguh tenang bisa mendengar suara sang ibu.


"Syukurlah emak baik-baik saja."


***********


Di rumah Bi Suri.


"Mba Sur, kenapa mba enggak terus terang saja. Kalau mba lagi sakit," ucap Bi Sari yang tak lain adalah adik dari Bi Suri.


"Mba enggak mau membebankan Haikal di sana, sudah banyak pengorbanan Haikal untuk Mba sebagai ibunya. Biarkan saja dia bahagia tanpa harus terpikirkan mba yang tengah sakit ini!" jawab Bi Suri, wanita tua yang tak lain ibu kandungnya Haikal.


"Ya we lah, terserah mba. Aku kasian liat Mba sakit-sakitan begini," ucap sang adik.


"Maklum lah, mba sudah tua Sar. Tinggal menghitung beberapa hari," jawab sang Kaka membuat Bi Sari sedikit menyentak.


"Hus, ngomong opo si mba. Jangan gitu jadi orang. Bagaimana pun kita harus kuat sabar sing penting jangan banyak pikiran," nasehat dari sang adik membuat Bi Suri seketika menetes kan air mata.


"Loh ... loh ... mba, iki kenapa. Ko pake acara menangis segala. Sari hanya enggak mau liat mba putus asa, Haikal masih butuh mba," ucap Bi Sari yang duduk di samping kakanya yang terbaring lemah.


"Mba sedih, mba rindu dengan Haikal. Mba ingin melihat dia menikah dan bahagia, tanpa harus terbebankan oleh mba sebagai ibunya," ucap Bu Suri membuat satu sayapan pada hati sang adik.


"Ya sudah sekarang mba harus sehat supanya mba bisa melihat Haikal menikah," ucap Bi Sari.


Bi Sari keluar dengan menahan rasa sesak di hati. Melihat sang kaka sudah satu minggu terbaring lemah, membuat hatinya sungguh khawatir.


**************


Masih ada keresahan dalam jiwa Haikal, Entah kenapa Haikal, selalu bermimpi tentang wanita berbaju putih itu secara berturut-turut.


Sehingga setiap hari dan setiap pulang dari kantor Haikal tak pernah lupa menelepon sang ibu, dadanya selalu merasakan keresahan. Membuat dia selalu melayangkan doa.

__ADS_1


Rabbighfir lii Waliwaalidayya Warhamhumaa Kamaa Rabbayaanii Shagiiran


Artinya: "Tuhanku, Ampunilah dosa-dosaku dan kedua orang tuaku, serta kasihanilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidikku sewaktu kecil."


__ADS_2