
wanita tua itu melangkah turun dari anak tangga, meninggalkan kamar Ardi yang tertutup rapat. Perasaanya tak karuan, rasa sedih menyelimuti hati dan pikirannya.
Tiba tiba saja langkahnya terhenti, saat sosok suami datang dan berkata," bagaimana. Apa Ardi sudah memilih antara kita berdua."
Wanita yang menjadi ibu Ardi itu, langsung menatap tajam ke arah sang suami dan berkata," Ardi tidak memilih siapa siapa di antara kita, dia tak mau kita berpisah."
"Sudah aku duga, Laras. Anakmu ingin kita selalu bersama, jadi kita nikmati saja masa tua kita selalu bersama," ucap Pak Ario yang tak lain ialah ayah kandung Ardi.
"Selalu bersama, aku rasa itu tak mungkin. Karna hatiku sudah terlajur sakit karna kamu yang sudah membuat masalah," balas Laras istri Pak Ario.
"Aku membuat masalah, bukanya hal wajar jika lelaki mapan seperti aku di dekati banyak wanita muda, tidak kaya kamu peot," cetus Ario sedikit menghina fisik sang istri.
"Cukup kamu menghina aku Ario. Wanita muda itu mendekatimu karna kamu banyak uang, setelah kamu tak punya uang pasti mereka sudah meninggalkanmu begitu saja," ucap Laras. Tak ingin kalah dengan Ario sang suami.
"Hahha, kamu tenang saja. Aku hanya main main kepada wanita muda itu, tak ada yang akan aku jadikan seorang istri. Jadi setatus kamu tetap aman Laras," balas Ario dengan segampang itu berucap.
"Enak sekali kamu berucap Ario. " pekik Laras.
"Sudahlah terima saja nasib, Laras. Aku tidak akan mencampakan kamu, aku tetap mempertahankan kamu menjadi istriku sampai sekarang. Hanya saja kamu yang selalu meminta dan memaksa aku untuk berpisah," ucap Ario.
"Terserah kamu, aku lelah. Selalu hidup seperti ini, apalagi kamu seakan menyepelekan aku sebagai seorang istri," balas Laras.
Perlahan Laras berjalan, melewati sang suami. Dengan wajah penuh kekesalan, Ario hanya bersikap santai dan mengerutkan dahinya. Bergegas untuk menemui Ardi di dalam kamarnya.
Mengetuk pintu.
Tok .... tok ...
Ardi yang masih merebahkan tubuhnya, mulai kesal. Ia kira yang mengetuk pintu itu ibunya. Hingga di mana membuka pintu.
"Ada apa lagi, bu. Aku sudah bilang, aku mau berpikir dulu." ucap Ardi. Sedikit membentak.
"Ardi, ini ayah." balas Pak Ario.
"Ayah, ayah mau apa. Apa ayah sama seperti ibu, menekan aku untuk memilih," ucap Ardi.
"Tidak Ardi. Ayah ke sini, untuk memberi tahu kamu. Kalau ayah ada mitting di luar negeri, jadi yang mengurus perusahaan kamu dulu ya. Nak," ucap Pak Ario kepada anaknya.
"Iya iya." balas Ardi seakan malas.
__ADS_1
Sang ayah langsung menepuk bahu anaknya, pergi dari hadapan anaknya.
Ardi merasa tak heran dengan printah sang ayah yang selalu mendadak untuk pergi meeting ke luar negeri.
Dirinya sudah tahu jika sang ayah bukanlah sengaja pergi ke luar nergi untuk metting melainkan untuk bertemu dengan wanita selingkuhannya.
"Yah," panggil Ardi. Membuat Pak Ario menghentikan langkahnya. Lelaki tua itu langsung menghentikan langkah kakinya dan membalikan badan ke arah Ardi.
"Ada apa lagi, Ardi?" tanya sang ayah
"Sebenarnya, Ayah bisa tidak menghentikan kebiasaan ayah yang selalu menemui wanita muda yang hanya memoroti harta ayah!" jawab Ardi.
sang ayah hanya tersenyum dihadapan anaknya, dia melangkahkan kakinya menuju Ardi dan berkata," kamu tak usah ikut campur urusan ayah ya. Sebaiknya kamu menurut saja. Kalau nurut ayah akan kasih apa kemauan kamu."
Ardi terdiam, ia tak bisa melawan perkataan sang ayah. Karna fasilitasnya masih di tanggung semua oleh sang ayah. Jika Ardi melawan fasilitas mewahnya akan musna sekejap mata.
"Hah, aku tidak berani melawan. Ayah. Karna aku masih seperti budak yang hanya bisa menurut, andai saja aku yang berkuasa, aku bisa leluasa memerintahkan semuanya, mengatur semuanya. tidak seperti sekarang, hanya menjadi babu ayah." Gerutu hati Ardi.
"Bagaimana Ardi, apa kamu paham sekarang?" tanya sang ayah.
Ardi hanya menganggukkan kepala menurut dengan perkataan ayahnya.
@@@@@
Lina di rumah, hanya bisa memarahi dirinya sendiri di hadapan cermin.
" Sebenarnya apa yang terjadi tadi malam, kenapa aku sampai lupa kejadian tadi malam itu. Tak ada satu pun yang aku ingat," ucap Lina. Mengerutu kesal, ingin sekali ia meninju cermin di hadapannya saat itu.
"Ardi, apa yang di lakukan Ardi tadi malam. Apa benar dengan perkataanya, bahwa tadi malam aku sudah melayaninya," ucap Lina. Bulak balik ke sana ke mari. Berfikir dengan apa yang di katakan Ardi.
Lina mengacak rambutnya kesal dengan perkataan Ardi yang membuat hidupnya seakan hancur.
Tok .... Tok ....
Ketukan pintu membuyarkan lamunan Lina, membuat ia bergegas membuka pintu kamarnya.
"Kak Dinda, ada apa?" tanya Lina. Melihat sang kakak sudah berdiri di abang pintu. Dengan kedua mata yang berkaca kaca.
"Kakak, ingatkan lagi sama kamu. Stop jangan ganggu rumah tangga kakak!" jawab Dinda.
__ADS_1
"Aku tidak mengganggu rumah tangga kakak, aku hanya minta kakak berbagi suami kakak denganku. Dan lagi jika kakak bersudi membagi suami kakak denganku. Kakak juga tidak akan menjadi wanita yang tercampakan, seperti dulu kakak di campakan oleh Kak Burhan," ucap Lina. Membahas masa lalu yang tak ingin di ingat oleh Dinda kembali.
.
"Kenapa kamu malah melibatkan masa lalu?" tanya Dinda.
"Aku tidak melibatkan masa lalu, hanya saja. Nasib kakak memang sudah takdirnya jelek. Yang ke dua kalinya akan menjadi wanita yang tercampakan oleh Ka Haikal!" jawab Lina.
"Lina kenapa kamu begitu kejam, kenapa kamu tega," ucap sang kakak. kepada adiknya.
"Aku tidak kejam, aku hanya ingin ...."
Belum perkataan Lina terlontar semuanya, Dinda langsung berucap," Hanya ingin apa. Hanya ingin menghancurkan rumah tangga kakak."
"Kakak kenapa kakak berpikir sedalam itu," balas Lina tegas.
"Kakak berpikir sedalam ini, karna kamu yang tidak bisa menahan keinginanmu ingin menikah dengan suami kakak," ucap Dinda.
"Hah, sudahlah kak. Aku malas berdebat lagi. Kakak lihat saja nanti adikmu ini jadi istri muda Kak Haikal," balas Lina.
Menutup pintu kamarnya, dengan begitu rapat. Tak peduli dengan ucapan sang kakak yang tak berhenti berucap.
Lina menutup kupingnya, hingga di mana suara ponselnya berbunyi.
Dreet .... Dreet ....
Satu panggilan dari nomor baru yang entah Lina tak tahu nomor ponsel siapa itu,
"Kenapa ada nomor baru. Aku tidak pernah memberi nomor ponselku kepada orang lain. Apa kak Dinda ya sengaja."
Lina mengabaikan panggilan telepon, sampai suara ponselnya tak henti berbunyi.
"Siapa sih."
Lina penasaran pada saat itulah ia mulai mengangkat panggilan teleponnya.
"Halo."
Tidak ada jawaban hening. Membuat Lina menutup panggilan telepon dari ponselnya.
__ADS_1
Hingga beberapa detik kemudian, suara ponselnya kembali lagi berbunyi.
"Siapa sih."