
Keadaan Pras.
Lelaki berbadan kekar dengan tubuhnya yang tegap, sekarang berada di kursi roda, setelah melewati masa kritis, ia berhasil selamat dari tusukan pisau tajam yang dilayangkan Alya.
Pada kejadian di Villa, Alya tak segan segan melemparkan pisau pada dada bidang Pras. Begitupun tembakan yang ia layangkan mengenai kedua kaki Pras.
Lelaki berbadan kekar seperti Pras, tak meyangka jika Alya, hebat dalam ilmu bela diri. Pras yang terkenal jahat bisa terkalahkan oleh Alya.
Entah Karena ia merasa kasihan terhadap Alya, atau Karena rasa cintanya yang begitu dalam, hingga ia tak tega membuat Alya mati. Pras hanya melayangkan beberapa sayapan pisau pada tubuh Alya.
Membuat ia sebenarnya merasa menyesal dengan apa yang ia perbuat. Pada wanita yang sangat ia cintai.
Pras Masih memikirkan Alya hingga sekarang, ia menyuruh suruhannya untuk membawa Alya ke rumahnya. Akan tetapi sampai sekarang Para suruhan belum juga datang.
Padahal, Pras sangat mengharapkan Alya selamat, walau sebenarnya kekecewaan masih ada pada lubuk hati Pras, sejahat apapun dia, tapi untuk wanita yang ia cintai. Bagi Pras terlalu berharga Alya di hatinya jika Alya dibunuh begitu saja olehnya.
Pras menyuruh suruhannya untuk menelpon orang yang diperintahkan Pras mencari keberadaan Alya. suruhan itu melaksanakan perintah Pras.
Hingga beberapa menit kemudian, sang suruhan yang ternyata diperintahkan Pras, untuk menangkap Alya mati di tengah hutan, Dan Alya melarikan diri.
Mereka mati karna kehilangan banyak darah, mungkin pukulan Alya membuat mereka mati seketika.
"Alya, ternyata kamu bukan wanita sembarangan, kamu begitu hebat melawan kedua lelaki yang aku perintahkan menangkap kamu."
Dari sana Pras sangatlah murka dengan info yang ia dengar. kesal, Alya bisa kabur dengan begitu cepatnya padahal Pras sangat ingin melihat keadaan Alya yang sekarang, ia ingin mengobati luka yang sudah ia buat pada tubuh Alya.
Pras mulai menatap tajam ke arah lelaki yang menjadi suruhannya itu, ia memerintahkan lelaki itu untuk mencari kembali Alya.
"Kamu cepat cari Alya kembali, aku tak ingin membuat Alya berada di tangan orang lain," Printah Pras.
Di saat perintah Pras, ada salah satu informasi dari sang pelayan di rumahnya. Sosok wanita tua yang begitu dekat dengan Alya.
"Tuan maaf jika saya lancang mengganggu tuan." Sang pelayan memberi hormat pada Pras.
Betapa di sajungnya lelaki bernama Pras itu.
__ADS_1
"Ada apa?" Pertanyaan Pras membuat wanita tua ity sedikit ketakutan. Karna suara tegas Pras, membuat siapapun orang yang mendengarnya serasa marah.
"Saya ingin memeberi tahu informasi keberadaan Nona Alya," ucap wanita tua duduk di teras rumah. Dengan bernada lembut.
"Kamu tahu keberadaan Alya?" tanya kembali Pras. Wanita tua itu menganggukkan kepala dan berkata." Saya tahu tuan."
Pras yang hanya mengandalkan kursi roda kini menatap ke arah pelayanya itu. Ia ingin sekali berdiri, tapi kedua kakinya yang tak berdaya membuat ia hanya bisa pasrah.
"Nona Alya, pulang ke rumah kedua orang tuanya!" jawaban wanita tua itu, membuat Pras mengusap kasar dagunya.
"Ke rumah orang tuanya, ini menarik, bisa saja aku langsung melamar Alya, oh ya dari mana kamu tahu?" tanya Pras dengan rasa penasaran.
"Nona Alya sering bercerita tentang tuan. Dan niat hatinya, untuk merencanakan kabur dari rumah ini!" jawab wanita paruh baya. Membuat darah Pras seakan naik ke ubun ubun.
"Lancang sekali dia bercerita kepada orang lain. selain diriku. Harusnya dia itu memayoritaskan aku dari pada orang lain," bentak Pras. Pelayan wanita tua itu. Tak menyangka jika sang tuan akan semarah itu.
"Maaf tuan. sepertinya anda terlalu menekam Nona, hingga Nona ketakutan dan tak nyaman dengan anda." Timpal sang pelayan, membuat Pras semakin kesal.
"Diam, aku tidak suruh kamu mengomentari perkataanku dan sifatku yang sesungguhnya," bentak Pras.
Pelayan tua itu, menundukkan wajah, ia diam tak berani berucap lagi.
Setelah mendengar informasi bukanya mengucap rasa terima kasih, tapi Pras malah mengusir wanita tua itu dengan kasar.
Wanita tua itu merasa menyesal telah menceritakan apa yang ia tahu, tanpa di beri imbalan uang sedikit pun. Ia malah mendapatkan perlakuan tidak baik dari Pra.
Saat pelayan itu sudah keluar dari ruangan Pras, saat itu juga. Pras membanting segala benda yang ada dihadapanya.
"Ahkkkk."
Pras terlihat Prustasi setelah mendengar Alya pulang ke rumahnya. Ia tak bisa berbuat banyak, karna dirinya menjadi buronan polisi.
Pras memijit jidatnya, melihat poto kebersamaan antara Ardi dan juga Alya, begitu pun dengan dirinya.
Ia menjalankan roda pada kursinya agar mendekat ke arah poto yang ia lihat.
__ADS_1
Selama Alya bersama Pras, di waktu dulu. Gadis itu sering bercerita. Tapi semenjak Pras berbuat jahat kepada Alya dan merenggut kesucianya, Pras pada saat itu tidak pernah mendengar Alya mengeluh, biasanya ia lelaki yang selalu dipercaya untuk mendengarkan curhat setiap kali Alya sedang bersedih
Tapi semenjak Pras sering membentak dan juga menyiksa Alya. Pada saat itulah Alya menjadi sosok wanita yang pendiam, ia seakan tak berani bercerita ataupun berkelah kesuh kepada Pras.
@@@@@@@@
"Sepertinya apa yang dikatakan pelayan tua itu ada benarnya tuan, Nona Alya pulang ke rumahnya."
Ucapan suruhan Pras membuat ia, ingin menculik gadis yang sangat ia cinta.
" Kalau begitu aku akan menyuruh suruhanku untuk mencari keberadaan Alya di rumahnya, semoga saja Alya bisa langsung ditemukan di rumahnya karena ada perjanjian yang harus ditepati."
Perjanjian, yang dipaksakan oleh Pras, membuat ia menjadikan semua alasan untuk menekan Alyam
Setelah menemukan informasi dari sang pelayan yang setia menemani Pras hingga saat ini'. Pras kini mengutus para suruhanya, mencari keberadaan Alya dan membawanya ke Sisi Pras lagi.
ketiga suruhan Pras kini datang lelaki berotot dengan tubuh kekar wajah sangar.
"Bos memanggil kami?"
" Ia saya memanggil Kalian bertiga untuk mencari keberadaan Alya!"
Pras menatap ketiga suruhanya, lelaki berotot itu pasti bisa menculik Alya, membawa kepangkuan Pras.
"Jika kalian berhasil menemukan Alya, saya akan memberikan imbalan yang sangat besar untuk Kalian bertiga. Saya ingin kalian membawa Alya langsung ke hadapan saya."
Perintah sang tuan dan hadiah yang dijanjikan membuat mereka tergiur.
Tiga suruhan Pras begitu tertarik dengan hadiah yang diucapkan oleh Pras, mereka terlihat bersemangat.
Ketiga suruhan Pras mulai menjalankan printah sang bos.
@@@@
Hari-harinya kini tak menyenangkan seperti dulu ia kini menghabiskan waktunya hanya duduk di kursi roda karena kedua kaki yang tak bisa berjalan dengan sepenuhnya.
__ADS_1
Iya yang biasanya selalu melakukan aktivitas tak pernah berdiam diri, sekarang hanya bisa menikmati masa-masa hidupnya berada di kursi roda. Entah kenapa dia bisa mengalami kejadian mengerikan dalam hidupnya, padahal saat kejadian itu yang ia sadari hanyalah pisau yang dilayangkan Alya untuk dirinya.
Untung saja beberapa anak buahnya yang setia langsung menolongnya saat itu juga, ia dibawa ke rumahnya yang tak diketahui semua orang.